Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Sangkar Emas dan Hasrat Yang Terpenjara
Setelah keributan berdarah di kantor Edward Vaughn, Jerome tidak membawa Valerie kembali ke apartemennya yang biasa. Ia mengarahkan Rolls-Royce hitam itu menuju sebuah mansion pribadi yang terletak jauh di pinggiran kota, sebuah bangunan megah yang tersembunyi di balik barisan pohon cemara dan pagar besi setinggi tiga meter. Mansion ini terasa seperti sangkar emas yang jauh lebih terisolasi, di mana Jerome memerintahkan penjagaan ganda di setiap sudutnya.
Bagi Jerome, dunia di luar sana terlalu berbahaya untuk Valerie. Namun bagi Valerie, larangan Jerome untuk keluar gerbang tanpa izin mulai terasa mencekik, seolah ia hanya berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya.
Malam itu, Jerome pulang dengan aura yang sangat berat. Begitu melihat Valerie berdiri di ruang tengah, ia langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya tanpa sepatah kata pun. Pelukan itu begitu erat, seolah Jerome sedang memastikan bahwa wanita di depannya tidak berubah menjadi abu seperti dalam mimpi buruknya.
"Tetaplah di sini, Valerie," bisik Jerome di ceruk leher Valerie, suaranya parau oleh ketakutan yang dalam. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, atau aku akan memastikan kau tidak bisa berjalan keluar dari pintu itu lagi."
Valerie bisa merasakan getaran di tubuh Jerome—sebuah obsesi yang lahir dari trauma kehilangan. Namun, sisi posesif pria itu mulai membuat Valerie bertanya-tanya: apakah ia benar-benar sedang dilindungi, atau sedang dijinakkan?
...****************...
Di sudut lain kota, atmosfer yang berbeda menyelimuti sebuah rumah tua yang suram. Aiden tersungkur di lantai ruang tamu dengan wajah hancur. Harga dirinya lenyap, hartanya dibekukan, dan kakeknya telah mencoret namanya dari silsilah keluarga pusat. Di sampingnya, Serena menangis tersedu-sedu sembari memeluk Hiro yang tampak bingung melihat kekacauan di sekitarnya.
"Ayah, Tolong kami..." rintih Serena pada pria paruh baya yang duduk di depan mereka sembari menyesap cerutu.
Edward Vaughn, ayah Valerie yang baru saja kehilangan kendali atas perusahaannya, menatap Aiden dengan pandangan jijik. Namun, ia tahu Aiden masih memiliki kartu as yang bisa digunakan.
"Jerome Renfred benar-benar sudah gila karena wanita itu," gumam Edward dingin. "Dia bahkan berani menentang ayahnya sendiri demi membela Valerie."
"Ayah, Valerie sekarang memegang semua rahasia keuangan kita," timpal Aiden dengan suara parau. "Jika Jerome membantunya menelusuri dana warisan ibunya, kita semua akan berakhir di penjara."
Edward menyeringai gelap, sebuah ekspresi licik yang menyeramkan. "Lalu apa rencanamu, Aiden? Kau sudah tidak punya apa-apa."
"Kita gunakan kelemahan Jerome," sahut Aiden, teringat bagaimana Jerome merintih kesakitan saat Valerie dicambuk tempo hari. "Jerome bisa merasakan sakitnya Valerie. Jika kita tidak bisa menyentuh Jerome secara langsung, kita hancurkan dia melalui tubuh Valerie."
Serena mendongak, matanya berkilat jahat. "Aku tahu satu hal tentang Valerie. Dia sangat benci tempat sempit dan gelap sejak kecil. Bagaimana jika kita memberinya sedikit trauma?"
Edward Vaughn mengangguk setuju. "Siapkan orang-orangmu. Kita tidak perlu membunuhnya sekarang. Kita hanya perlu membuat Jerome lumpuh karena rasa sakit wanita itu, lalu kita paksa dia menandatangani penyerahan seluruh asetnya."
...****************...
Kembali di mansion pribadi, Jerome masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu rapat-rapat. Tangannya gemetar saat membuka kompartemen rahasia di laci meja, mengeluarkan sebuah foto Valerie saat ulang tahunnya yang ke-17.
"Hanya tinggal sedikit lagi, Val..." bisiknya sembari mengelus permukaan foto itu dengan obsesi yang dalam.
Tiba-tiba, rasa mual menghantam perut Jerome. Ia tahu ini bukan rasa sakit fisiknya. Valerie sedang merasa sangat tertekan di kamarnya. Sumpah yang pernah ia ucapkan di liang lahat dalam mimpinya kembali berdenyut—ia akan menjaga wanita ini, meski harus mengurungnya dari seluruh dunia.
"Raka!" teriak Jerome melalui interkom. "Perketat keamanan! Jika seekor lalat pun masuk tanpa izinku, kau tahu konsekuensinya!"
Jerome berdiri mematung di depan jendela besar yang terhubung dengan kamar utama. Ponsel masih menempel di telinganya, mendengarkan laporan Raka tentang pergerakan Aiden dan Edward Vaughn. Setelah memutus sambungan, ia membalikkan badan, bermaksud mengambil berkas di atas meja. Namun, langkahnya terhenti seketika.
Jantung Jerome berdentum kencang. Valerie baru saja keluar dari kamar mandi.
Wanita itu hanya mengenakan handuk putih tipis yang melilit tubuh mungilnya, berakhir tepat di tengah paha mulus yang masih lembap. Rambut panjangnya yang basah tersampir di satu bahu, meneteskan sisa air yang mengalir lambat melewati tulang selangka yang indah.
"Jerome..." suara Valerie lirih, sedikit serak karena uap air panas. "Aku... aku tidak tahu di mana piyamaku disimpan. Lemarinya terlalu besar."
Jerome tidak menjawab. Matanya terpaku pada tetesan air yang jatuh dari ujung rambut Valerie, mendarat di bahu yang kini bersih dari luka, lalu mengalir turun. Hasrat liar yang telah ia pendam selama sepuluh tahun meledak seketika. Perutnya melilit—bukan karena rasa sakit dari Valerie, melainkan karena gairah yang menyiksa.
Ia berjalan mendekat dengan langkah berat, mengambil sebuah kotak berisi piyama sutra berwarna merah marun yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.
"Pakai ini," ucap Jerome serak tanpa berani menatap mata Valerie terlalu lama.
Valerie menerimanya, lalu dengan polos mulai mengenakan atasan piyama itu. Meskipun membelakangi Jerome, bayangan tubuh Valerie di cermin membuat tangan Jerome gemetar hebat. Obsesi gelap di kepalanya berteriak agar ia mengurung wanita itu di bawah tubuhnya saat ini juga.
Setelah Valerie selesai berpakaian, mereka berbaring di ranjang yang sama dalam keheningan yang menyesakkan. Jerome memunggungi Valerie, namun seluruh sarafnya terfokus pada wanita itu. Wangi sabun dan aroma manis Valerie memenuhi indra penciumannya, membuatnya nyaris gila.
"Jerome... kau sudah tidur?" bisik Valerie lembut. Tangannya nyaris menyentuh lengan Jerome.
Jerome menegang, mengepalkan tangan di balik selimut. Gairah ini terasa menyakitkan, berdenyut selaras dengan ikatan yang menghubungkan mereka.
"Tidur, Val," potong Jerome dengan suara berat yang tertahan. "Besok pagi kita harus ke kantor catatan sipil untuk meresmikan pernikahan kita. Jangan membuatku kehilangan kendali malam ini."
Valerie terdiam dan menarik kembali tangannya. Ia tidak tahu bahwa di balik punggungnya, Jerome sedang berperang hebat dengan dirinya sendiri agar tidak menjadikannya miliknya secara paksa. Jerome bersumpah, mulai besok, seluruh dunia akan tahu bahwa Valerie adalah miliknya sepenuhnya.
...****************...