Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengantin baru
Danu mendatangii istrinya dengan gestur tubuh orang linglung.
Istrinya yang sedang berbaring dan ditemani kerabatnya mendudukkan dirinya perlahan dengan dibantu kerabatnya.
"Sudah bicaranya dengan Pak Angga?"
Danu malah duduk di samping istrinya. Kerabatnya yang menemani juga menatap Danu serius karena tidak tau yang sudah terjadi.
Danu menggenggam tangan istrinya, menatapnya resah. Dia merasa sangat gugup karena harus mengatakan yang sebenarnya pada istrinya.
"Febi sudah menikah."
Wajah pucat Marlena mulai tampak bercahaya lagi.
"Cakra datang? Syukurlah. Tapi kenapa tidak menunggu aku datang?"
Danu menghela nafas lagi.
"Cakra tidak datang." Suara Danu mengandung kekesalan yang amat dalam.
Marlena terkejut Jantungnya berdebar keras. Firasat buruknya muncul.
"Ta tadi kamu bilang Febi menikah? Dia .....dia menikah dengan siapa?" tanyanya dengan suara bergetar.
Danu mengeratkan genggaman tangan istrinya.
"Ini semua di luar rencana, Len. Angga dan Febi pasti sudah sangat malu karena Cakra belum datang juga."
Marlena mengangguk dengan jantung makin berdebar cepat. Menunggu kelanjutan omongan suaminya. Dia juga merasa sangat bersalah, terutama terhadap Febi, mantu yang sangat dia inginkan.
"Anak tunggal Kalandra Wisesa langsung melamar Febi. Aku ingin mencegah, tapi jarakku masih terlalu jauh. Dan.... Pak Angga menerimanya."
Dada Marlena bergemuruh. Dia merasakan kehilangan yang nyata. Tangisnya tumpah dan Danu memeluknya.
"Kita jangan salahkan Pak Angga. Yang salah anak kita. Tapi untunglah Febi sudah diselamatkan. Bahkan calon suaminya anak konglomerat," bujuk suaminya menenangkan.
"Iya, aku tau. Aku tidak marah dengan Febi. Aku malah bersyukur karena dia tidak terlalu dipermalukan oleh anak kita yang ngga tau diri itu."
Danu Sumirat menganggukkan kepalanya. Nanti dia akan menghajar putranya yang sudah membuat hubunganya dengan sahabatnya dalam bahaya.
"Maaf, pak, ijin melapor."
Danu dan istrinya menoleh.
"Kamu sudah tau dimana posisi Cakra dan dua orang anak buahnya?"
Pengawalnya mengangguk dengan tatapan ragu.
Danu merasa ada yang tidak beres. Dilepaskan perlahan pelukannya, kemudian mendekati pengawanya yang juga maju mendekati bosnya.
Pengawalnya kemudian berbisik.
Tubuh Danu Sumirat menegang. Tangannya mengepal dengan wajah mengelam marah.
'"Pengawal akan mengantar kalian pulang. Aku akan menjemput anak kita."
Marlena menganggukkan kepalanya. Melihat wajah tegang suaminya, dia tau ada yang tidak beres pada putranya.
*
*
*
Fiola memegang pinggiran kursi yang dibiarkan kosong oleh para tamu, untuk menumpu tubuhnya yang sudah hilang kekuatannya.
Para tamu berbondong bondong mendekati tempat akad untuk melihat proses pernikahan yang tidak mereka sangka sangka.
Hatinya tambah panas ketika melihat Jetro yang mencium kening Febi.
Dia sulit untuk percaya dengan apa yang sudah dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Ngga mungkin Jetro lebih memilih Febi.
Pasti dia hanya merasa kasian, decihnya dalam hati, menyangkal keras.
Ponsel.
Dia kemudian mencari ponselnya yang berada di dekat heelsnya. Dia tidak mempedulikan keadaan ponsel yang kotor, masih berusaha menelpon Cakra sambil terus memaki, mengumpat laki laki bodoh itu.
*
*
*
"Akhirnya aku yang berhasil menikahimu, kan?" bisik Jetro setelah berhasil menci um kening Febi.
Febi masih tertegun, tidak percaya yang sudah terjadi dengannya.
Sementara itu Kalandra dan Adriana mengajak Anggareksa menjauh dari pasangan yang baru sah itu. Mereka harus bicara serius.
"Memangnya kita saling mencintai?" Febi mengalihkan tatapnya setelah mengatakan hal itu. Pipinya merona. Jantungnya kian cepat berdebar.
Jetro tersenyum lebih simpatik.
"Tentu."
"Jangan jangan kamu sudah merencanakannya, ya," tuduh Febi berdasarkan instingnya sebagai poli si. Pasti Jetro sudah mengaturnya.
"Ketahuan, ya?" Jetro mempertahankan senyum simpatiknya.
"Sekarang orang itu dimana?"
"Lagi tidur. Dia terlalu banyak mengkonsumsi alkohol," bisik Jetro.
Oooh....
"Dia memang ngga niat datang. Ya, sudah, aku aja yang jadi pengantinnya," jawab Jetro ringan.
Sudut bibir Febi berkedut tipis mendengarnya.
"Warna pakaianku match, kan, dengan gaunmu?"
Febi baru ngeh dan memperhatikan, ternyata Jetro mengenakan jas berwarna putih tulang, serasi dengan warna gaunnya.
Kok, bisa?
Seakan tau apa yang dipikirkan Febi, Jetro segera menjelaskan.
"Gaun pengantinmu dipesan di butik kerabatku, jadi aku tinggal mencocokkan warnanya saja. Tapi modelnya aku ngga mau sama, ya."
Kedutan di bibir Febi makin tampak jelas dengan rona merah yang juga kian jelas di pipinya. Penjelasan Jetro agak menggelitik hatinya.
Jetro berdebar melihatnya. Untung Karla mengabarinya kalo gaun pengantinnya dipesan di butik yang sudah menjadi milik Haykal-suaminya.
Mami Haykal juga punya koleksi jas terbaru, jadi Karla memberikannya untuknya.
"Bahannya lebih bagus dari yang ini," kata Karla waktu itu, membandingkannya dengan milik Cakra. Karena itu Jetro mengenakannya sekarang.
"Kamu cantik," puji Jetro dengan tatap elangnya. Sejak gadis itu berjalan menuju tempat akad tadi, Jetro sebenarnya sudah tidak sabar untuk mendekatinya. Langsung menikahinya tanpa perlu lagi menunggu laki laki mabok itu.
Febi tambah canggung. Dia pun tau sekarang dirinya sudah jadi fokus utama tatapan para tamu.
"Keluarga besarku hampir semuanya datang," ucap Jetro lagi.
Ooh...., batin Febi dalam hati.
Aku kenalkan kamu pada mereka, ya. Juga sepupu sepupuku. Mereka sudah ngga sabar mau kenalan dengan kamu."
Febi menunduk menperhatikan cincinnya. Sebenarnya dia makin salah tingkah. Kupu kupu di dalam perutnya pun sudah mengepakkan sayapnya, bersiap membawanya terbang.
Bisa bisanya dia sudah bawa cincinnya sendiri. Ukurannya juga pas, batinnya ngga percaya kalo Jetro seeffort ini menyiapkan semuanya. Seyakin itu Jetro akan menikah dengannya. Padahal beberapa hari kemarin tidak ada kabar dari laki laki ini. Febi sudah berprasangka buruk. Tapi ternyata....
Dada Febi ingin meledak rasanya dengan kebahagiaan yang dia rasakan. Dia tersanjung karena diusahakan sebegitu besar.
"Cincinnya pas? Kalo longgar atau ketat, kita bisa menukarnya. Tenang saja, cincinnya garansi seumur hidup," ucap Jetro ketika melihat Febi memperhatikan cincin yang tadi dia sematkan di jari manis lentik gadis yang sudah sah jadi istrinya.
Dia membeli koleksi terbaru cincin ini dari toko perhiasan ekslusif milik keluarganya. Dan menggunakan jari Nathalia untuk mengepaskannya.
Febi menggeleng.
"Ngga usah. Emm... Cincinnya bagus banget. Terimakasih." Febi merasa terharu. Dia yakin pasti Jetro tidak sembarang memilihnya.
Beda kalo dia jadi menikah dengan Cakra. Kakaknya pasti yang memilihkan cincinnya. Itu pasti yang terburuk.
"Syukurlah kamu suka. Untungnya tempat tanteku ada koleksi terbaru. Ini hanya ada satu satunya, jadi kamu ngga usah khawatir akan ada yang sama," jelas Jetro lagi membuat Febi mendongak, menatapnya dengan kilau bintang di mata beningnya.
Febi merasa sangat beruntung karena dia sudah bersama orang yang memang menginginkannya. Juga yang dia inginkan.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,
jalan bareng aja jetro enggan ini malah berharap jadi istri keduanya 😂