NovelToon NovelToon
Under The Purple Pine Blossoms

Under The Purple Pine Blossoms

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan / Perperangan / Penyelamat
Popularitas:834
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali

Setelah sepuluh tahun kepergiannya, Ibu Chen Li merasa sudah lebih baik. Dia mengenal Yun Xiao, seorang gadis dari bekas keluarga ningrat. Dia sangat akrab dan merasa dekat dengannya. Sudah banyak cerita yang mereka bagikan dan berbagai makanan saling ditukar. Akhirnya, pojok desa itu mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dua rumah akhirnya berpenghuni, sementara rumah yang lainnya masih dipenuhi kesunyian dan kegelapan. Ini adalah tempat bekas pemukiman pasukan pemberontak kekaisaran, dan tidak ada orang lain di sana selain dua keluarga itu.

Pagi-pagi sekali, asap muncul dari atap rumahnya. Ibu Chen Li sedang memasak nasi untuk dirinya, ibu Yun Xiao, dan gadis itu sendiri. Dia meniup api, menghangatkan air, dan memotong kayu bakar. Daun-daun musim gugur berjatuhan lagi dan angin dingin dari selatan bertiup kencang.

Setelah memotong kayu, dia segera masuk dan menutup pintu. Karena tangannya penuh kayu bakar, dia menutup pintu dengan kakinya. Api membesar dan air mulai bergejolak. Dia meniup bara dan menunggu dengan sabar. Rasanya mungkin tidak sama seperti ketika anaknya masih ada, tetapi dia merasa hidup karena ibu dan anak di sebelah rumahnya—tetangga yang ramah dan baik hati.

Setelah beberapa saat, dia mengangkat panci, menjauhkan wajahnya dari uap, dan menepuk-nepuk nasi. Setelah dirasa matang, dia segera mengangkatnya. Dia memasukkan nasi itu ke dalam kotak kayu, menutupnya, dan menyelimutinya dengan kain abu-abu bersih. Dia mulai membayangkan senyuman gadis itu dan ibunya, serta bagaimana mereka akan berterima kasih. Dia sangat senang membayangkan itu dan berpikir bahwa salah satu pemberian tak terlihat yang paling indah hanyalah dua kata: "Terima kasih".

Dia lalu berbalik mendekati pintu dan membukanya.

Seketika itu, kedua pupil matanya terbelalak. Dia terkejut, bukan karena ada bahaya, melainkan karena melihat seorang anak muda yang telah lama dirindukannya berdiri di sana memakai pakaian abu-abu keputihan.

Dia segera berlari dan memeluknya erat-erat. Pada saat itulah Chen Li akhirnya kembali ke pelukannya, namun sikap pemuda itu jauh lebih dingin. Sang ibu banyak bicara kepadanya, tetapi Chen Li tidak banyak menyahut dan tidak mau menceritakan apa yang dialaminya selama ini. Bagi Ibu Chen Li, anaknya kembali saja sudah merupakan syukur yang luar biasa. Dia menariknya ke dalam dan menghidangkan makanan.

Chen Li makan, namun sikapnya benar-benar sudah berubah. Ibunya hanya bisa menghela napas dan membenci orang-orang yang dulu membawanya pergi. Dia lalu berkata, "Li'er, ibu pergi sebentar ke tetangga untuk mengantarkan ini." Dia sedikit mengangkat kotak yang dipegangnya.

Dia lalu pergi dan menutup pintu.

Pada hari kedua puluh kepulangannya, sang ibu melihat Chen Li mengambil pedang milik ayahnya yang sudah berkarat. Anak itu mengasahnya pada malam hari, menimbulkan suara gesekan yang cepat dan menyeramkan. Ibunya tidak suka mendengar suara itu. Dia perlahan bangkit dan melihat anaknya berdiri di dapur, membuka pintu, dan akhirnya keluar.

Dia ingin bertanya ke mana anaknya pergi, tapi entah mengapa hatinya dipenuhi ketakutan melihat Chen Li memegang pedang seperti itu.

Dia tidak bisa tidur malam itu. Pada tengah malam, suara langkah kaki yang lemah terdengar dan pintu diketuk. Dengan rasa takut, Ibu Chen Li segera membukanya. Dia melihat wajah anaknya terdapat bercak darah. Pedang yang dibawanya pun berlumuran darah. Dia terkejut, lalu Chen Li menjatuhkan pedangnya dengan suara berdenting. Sang ibu membawanya masuk dan membaringkannya di kamar.

Keesokan harinya, terdengar kabar ada seseorang yang terbunuh. Hati sang ibu menjadi galau dan pikirannya melayang ke mana-mana. Meskipun anaknya makan seperti biasa dan keluar memotong kayu bakar, pada saat itulah dia perlahan-lahan mulai menyadari seperti apa kepribadian anaknya sekarang.

"Aku tidak boleh menangis, tidak boleh." Ibu Chen Li segera mengusap air matanya. Tapi itu tidak membuat kedua matanya kembali normal; matanya tetap kemerahan. Dia berusaha berdiri. Ibu Yun Xiao dan gadis itu memegang bahunya dan membantunya bangkit.

Dia sangat sedih dengan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, namun sepertinya dia sudah terlalu sering bersedih karena kehilangan orang-orang terdekatnya. Suaminya ditangkap dan dibunuh karena menjunjung keadilan, sementara anaknya—karena menjadi pembunuh—mungkin sedang mendapatkan balasannya sekarang. Dia merasa selama ini terlalu mengkhawatirkan hidup orang lain dan tidak punya pendirian sendiri. Dia merasa harus kuat untuk segala situasi dan tidak boleh goyah lagi.

Yun Xiao menatap rumah yang hancur itu, berpikir sebentar lalu berkata, "Dia tidak akan mati semudah ini."

Yun Xiao mengenal Chen Li sejak kepulangannya dan tahu bagaimana kepribadiannya. Yun Xiao yakin pemuda itu tidak mudah dihancurkan. Ibunya hanya bisa diam sambil memegang bahu Ibu Chen Li. Dia tidak terlalu mengenal pemuda itu, selain fakta bahwa dia terlihat dingin dan membawa aura kematian.

Mereka bertiga hanya memandang dalam diam beberapa saat, hingga akhirnya mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Ketiganya menoleh dan melihat seseorang yang bersiul sembari meletakkan kedua tangan di belakang kepalanya.

Yun Xiao tidak menyangka pemuda itu bisa terlihat sesantai ini, begitupun dengan ibunya.

Ketiganya memandang ke arah pemuda itu.

Chen Li menyadari keberadaan mereka, menatap balik, lalu bertanya, "Kenapa kalian memandangku seperti itu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!