NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.

Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.

[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Drama Pelat Nomor

[Showroom McLaren Jakarta - VVIP Lounge]

Setelah sesi "perkenalan" tombol di dalam kokpit yang sempit dan intim tadi, sikap Clarissa Wijaya berubah drastis.

Jika sebelumnya dia adalah Manajer Cabang yang dingin dan berjarak, kini dia bertransformasi menjadi personal concierge kelas dunia.

"Pak Raka, silakan kopinya," Clarissa datang membawa nampan berisi secangkir Artisan Cold Brew dan beberapa potong macaron premium.

Dia tidak menyuruh staf junior. Dia melakukannya sendiri.

Saat meletakkan cangkir di meja, Clarissa sedikit membungkuk. Posisi ini, sekali lagi, memamerkan lekuk tubuhnya yang dibalut kemeja sutra ketat dan rok pensil. Raka yang duduk di sofa kulit bisa melihat betapa effort-nya Clarissa melayaninya.

"Gimana, Pak? Ada lagi yang dibutuhkan sebelum kita jalan?" tanyanya dengan senyum manis yang jarang dia perlihatkan ke orang lain.

"Cukup, Clarissa. Kamu jangan terlalu kaku gitu dong. Panggil Raka aja kalau nggak ada orang," kata Raka sambil menyeruput kopinya.

"Saya harus profesional, Pak," jawab Clarissa, namun matanya berbinar jenaka. "Kecuali di luar jam kerja."

Kode keras.

Setelah semua dokumen serah terima selesai ditandatangani, Clarissa menyerahkan kunci fob McLaren yang futuristik itu ke tangan Raka.

"Unit sudah siap, Pak. Asuransi All Risk sudah aktif per detik ini. Sekarang tinggal satu hal: Pelat Nomor."

Clarissa melanjutkan, "Biasanya klien VVIP kami menyerahkan urusan pelat nomor ke tim biro jasa kami. Bapak tinggal duduk manis, terima beres. Tapi Bapak tadi bilang mau ikut?"

"Iya. Gue mau ngetes hoki," jawab Raka santai. "Kita ke Samsat Polda Metro sekarang."

"Baik. Kalau begitu, izinkan saya menemani Bapak."

Clarissa memberi instruksi pada stafnya, lalu mengambil tas kerjanya. Raka berjalan keluar menuju McLaren 720S merah yang sudah dipanaskan mesinnya di depan lobi.

"Silakan, Bu Manajer," Raka membukakan pintu penumpang yang naik ke atas.

Clarissa tersenyum, lalu dengan gerakan anggun yang sudah terlatih, dia masuk ke dalam mobil ceper itu tanpa sedikitpun terlihat kesulitan dengan rok sempitnya.

[Jalan Arteri Pondok Indah - Menuju Polda Metro Jaya]

Siang itu lalu lintas Jakarta cukup padat, tapi tidak macet total.

Begitu Raka membawa McLaren 720S keluar dari showroom, jalanan seolah terbelah.

VROOOOM!!!

Suara knalpot ganda McLaren yang meraung rendah membuat semua kepala menoleh. Warna Memphis Red yang menyala di bawah terik matahari Jakarta membuat mobil itu terlihat seperti pesawat alien yang salah mendarat.

Di dalam kabin yang kedap suara dan sejuk, Raka menyetir dengan santai (terima kasih skill [Raja Jalanan]). Sementara di luar sana, kekacauan terjadi.

Di belakang mobil Raka, sebuah Toyota Avanza keluarga sedang melaju.

"Ayah! Rem! REM!!" Teriak sang istri yang duduk di kursi penumpang Avanza.

"Kenapa, Bun?! Ada kucing?!" Sang suami panik, menginjak rem mendadak.

"Bukan kucing! Liat depan mata kamu itu!, Yah!" Si istri menunjuk pantat seksi mobil Raka yang hanya berjarak 5 meter. "Senggol dikit, kita jual rumah, jual tanah warisan, sama jual ginjal anak-anak juga nggak bakal cukup buat ganti rugi!"

Sang suami memucat melihat logo McLaren di depannya. Keringat dingin mengucur. "Astagfirullah... Jauh-jauh, Bun. Mundur. Biarin dia jalan duluan."

Avanza itu langsung melambat drastis, menciptakan jarak aman 50 meter, membuat mobil-mobil di belakangnya mengklakson marah. Tapi begitu mobil belakang melihat McLaren di depan, mereka pun ikut mengerem.

Efek domino. Raka menciptakan zona eksklusif di jalan raya tanpa perlu sirine atau strobe light. Aura kemiskinan pengendara lain secara otomatis membuat mereka menjauh.

"Mereka takut banget kayaknya," kekeh Raka melihat spion.

Clarissa tertawa kecil, suara tawanya elegan. Dia membuka dashboard laci, lalu meletakkan sebuah kartu nama hitam dengan tulisan emas di sana.

"Pak Raka," ucapnya lembut. "Itu kartu nama pribadi saya. Bukan nomor kantor. Nomor itu aktif 24 jam."

Raka melirik kartu itu. Clarissa Wijaya - Private Line.

"Kalau ada masalah dengan mobilnya, atau Bapak butuh bantuan 'teknis' lainnya... jam berapapun, telepon saja. Saya bisa datang ke tempat Bapak untuk home service."

Kata "Home Service" itu diucapkan dengan intonasi yang sedikit berbeda. Sedikit lebih lambat. Sedikit lebih... serak.

Raka menoleh sebentar. Clarissa sedang menatapnya, kakinya yang berbalut stocking hitam disilangkan dengan anggun.

"Noted, Clarissa. Nanti saya coba service-nya kalau lagi butuh," jawab Raka sambil menyeringai.

|Kantor Bersama Samsat - Polda Metro Jaya|

McLaren 720S merah itu terparkir anggun di area VIP. Begitu Raka dan Clarissa turun, mereka langsung menjadi magnet perhatian.

Kombinasi yang mematikan: Seorang pemuda tampan dengan gaya santai Old Money dan seorang wanita karir super cantik dengan blazer dan rok pensil yang berjalan di sampingnya seperti asisten pribadi.

Clarissa dengan sigap berjalan mendahului Raka sedikit untuk membukakan pintu kaca gedung Samsat.

"Silakan, Pak."

Raka melenggang masuk. Hawa dingin AC menyambut mereka, bercampur dengan keriuhan birokrasi khas Indonesia.

Clarissa tidak membawa Raka ke loket umum yang antreannya mengular. Dia langsung mengarahkan Raka ke Loket Khusus Nomor Pilihan (NOPIL) di lantai 2. Di sini, suasananya lebih tenang, karpetnya lebih tebal, dan petugasnya lebih ramah.

"Pak Raka," bisik Clarissa saat mereka duduk di hadapan petugas. Aroma parfum mahalnya menyerbu indra penciuman Raka. "Untuk Supercar sekelas McLaren, saya sangat menyarankan kita ambil Nomor Pilihan (NOPIL). Tiga angka atau satu angka."

"Bapak mau nomor berapa? Biar saya cek ketersediaannya di database Dirlantas sekarang," tanya petugas NOPIL dengan hormat setelah melihat KTP Raka.

Raka berpikir sejenak. "Gue suka angka 7. Angka hoki. Coba cek B 777."

Petugas itu mengetik cepat di keyboard. "Sebentar ya, Pak... B 777..."

Mata petugas itu berbinar. "Statusnya Available (Tersedia), Pak! Ini nomor cantik 3 angka dengan seri huruf Request. Biaya PNBP-nya Rp 20 juta, belum termasuk biaya administrasi pengurusan cepat."

"Ambil," kata Raka singkat. "Bungkus sekarang."

Clarissa tersenyum puas. "Pilihan bagus, Pak. 777. Jackpot number."

Petugas itu mengangguk dan mulai mencetak formulir pemesanan. "Baik, saya kunci dulu di sistem supaya tidak diambil orang la—"

"TUNGGU SEBENTAR!"

Sebuah suara bariton yang berat dan berwibawa memotong pembicaraan. Pintu ruangan VIP terbuka lebar.

Seorang pria paruh baya berjalan masuk diikuti dua orang asisten. Penampilannya adalah definisi Old Money Jakarta: Kemeja Batik sutra lengan panjang yang licin, celana bahan, sepatu pantofel Bally mengkilap, dan sebuah clutch bag kulit ketiak yang tebal.

Di jari manisnya melingkar cincin batu akik bacan yang besarnya sebiji salak, bersanding dengan jam tangan Patek Philippe Nautilus.

Pria itu berjalan lurus ke meja petugas, mengabaikan antrean.

"Pak Budi!" panggil pria itu pada petugas. "Saya mau nomor B 777. Pokoknya depannya 777. Saya baru dapet wangsit, angka 7 itu angka keberuntungan saya tahun ini."

Petugas bernama Budi itu tampak pucat dan serba salah. Dia berdiri kikuk. "Waduh... Selamat siang, Pak Haji Herman. Mohon maaf Pak Haji, nomor seri B 777 baru saja... detik ini juga... dipesan oleh Mas ini."

Petugas menunjuk Raka.

Pak Haji Herman menoleh perlahan. Dia menatap Raka dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menilai khas pengusaha senior. Tatapannya meremehkan saat melihat Raka hanya memakai kaos polos dan celana jeans.

"Anak muda," ucap Pak Haji tenang tapi mengintimidasi. "Saya Herman. Orang panggil saya Pak Haji Herman. Saya dengar kamu mau ambil B 777?"

Raka menyandar santai di kursinya, memutar-mutar kunci mobil di jarinya. "Betul, Pak Haji. Udah di-input juga."

Pak Haji tersenyum tipis. Dia mengeluarkan buku cek dari tas clutch-nya.

"Saya nggak mau ribet. Saya butuh nomor itu buat mobil baru saya. Kamu ngalah aja ya? Cari nomor lain. B 888 atau B 999 kan bagus juga."

Pak Haji menulis sesuatu di kertas cek.

"Sebagai ganti rugi waktu kamu, saya kasih kamu Rp 50 Juta. Cash.

"Sebagai ganti rugi waktu kamu, saya kasih kamu Rp 50 Juta. Cash. Sekarang juga. Kamu tinggal bilang 'Batal' ke petugas, biar nama saya yang masuk."

Clarissa, yang duduk di samping Raka, langsung menegakkan punggungnya. Naluri protektifnya menyala. "Maaf, Pak Haji. Klien kami sudah memutuskan—"

Raka mengangkat tangan, memberi kode pada Clarissa untuk diam. Raka tersenyum miring.

"Pak Haji," panggil Raka santai. "Lima puluh juta? Bapak kira saya calo tiket?"

Wajah Pak Haji memerah sedikit. "Kurang? Oke. Anak muda jaman sekarang emang transaksional. Seratus Juta. Itu udah cukup buat beli motor Ninja 4 silinder. Ambil uangnya, pulang, main game."

Suasana di ruangan VIP menegang. Petugas loket menahan napas.

"Pak Haji," Raka berdiri perlahan. Tingginya 183 cm, sedikit menjulang di atas Pak Haji Herman. "Bukan soal duit. Masalahnya, nomor B 777 itu inisial nama saya. Kalau saya kasih ke Bapak, nanti mobil saya pake pelat apa? Masa mobil saya pake pelat B biasa? Kebanting dong, Pak."

Pak Haji Herman mengernyit. Wajahnya memerah karena merasa diremehkan oleh bocah ingusan.

"Heh? Kebanting?" Pak Haji tertawa sinis. "Kamu tau mobil saya apa? Saya baru ambil Mercedes-Benz S-Class S450 President Edition. Mobil pejabat! Mobil konglomerat! Harganya 3 Miliar lebih!"

Pak Haji menunjuk dada Raka dengan telunjuknya yang memakai cincin akik.

"Mobil kamu emang apa? Palingan Fortuner modif cumi-cumi kan? Atau Pajero Sport yang asepnya ngebul? Sayang Dek kalau pelat 777 dipake di mobil gituan. Nggak matching!"

Clarissa sudah tidak tahan lagi. Wajah cantiknya dingin sedingin es kutub. "Jaga bicara Bapak. Mobil Bapak Raka adalah British Engineering Masterpiece."

Pak Haji mendengus. "Halah, banyak istilah Inggris. Mana mobilnya? Saya mau liat mobil apa yang berani nolak tawaran Seratus Juta saya. Kalau mobilnya cuma kaleng kerupuk, saya ketawain kamu di sini."

Raka menatap Pak Haji dengan tatapan kasihan. "Bapak mau liat? Boleh. Yuk, ke parkiran VIP. Kalau mobil Bapak lebih mahal dari mobil saya, saya kasih pelat B 777 itu GRATIS buat Bapak."

Mata Pak Haji berbinar. "Deal! Saksi ya semua! Awas kamu kabur!"

1
:)
harus banget ya king scuma sungkem
Jujun Adnin
ngopi dulu mas raka
ABIMANYU CHANNEL
kasih yg banyak....
rani: siap kak. paling nanti pindah ke max kalo nda lolos.
total 5 replies
Gege
kereen...ditunggu adegan kulit ketemu kulit dan bulu ketemu bulunya...kan udah gede..🤣🤭
Gege
kereen alurnya.. meski banyak mainkan durasi...lanjuuttt thoor..
rani: wkwk. tau aja kak. 🤭
total 1 replies
Arya Rizki Sukirman
mana ini Thor updatenya
rani: besok lagi kak, sehari 3 bab.
makasih sudah baca.
total 1 replies
rani
besok lagi kak. saya updatenya jam 00.00 😁
ellyna munfasya
lanjut Thor 😤
ellyna munfasya
up lagi Thor nanti siang pokoknya 😤
Monchery
kalau ini menurut ku terlalu berlebihan
rani: apanya yg berlebihan kak?. 🤭
total 1 replies
ellyna munfasya
alur nya seru
ellyna munfasya
gak mau tau nanti pagi harus up Thor 😤😤😤
rani: siap kak, sebntar saya upload. 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!