Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05
Saat koper ditutup dan pintu kamar hendak ditinggalkan, Kay berhenti sejenak. Pandangannya menyapu ruangan untuk terakhir kali. Praha menyimpan wanita itu dengan sempurna. Kay melangkah pergi seolah bebas dari jebakan, menang dalam permainan kekuasaan. Namun sebenarnya membawa kekalahan kecil yang tak bisa ia hitung. Kenyataan bahwa ada satu orang di dunia ini yang datang, menghangatkannya dalam satu malam, lalu lenyap tanpa meninggalkan jejak apa pun.
...****************...
Langit bandara malam itu berwarna kelabu, seolah ikut menanggung keputusan yang baru saja diambil Kay. Di tangannya, tiket pulang ke negaranya terasa lebih berat dari koper yang ia seret sejak sore. Pencarian yang ia mulai dengan penuh keyakinan kini berakhir dengan kelelahan dan luka yang tak sempat sembuh.
Ia menyerah? Tidak! Bukan menyerah, tetapi ia menyerahkan sisa pencariannya pada waktu dan juga takdir. Sebab Kay tidak bisa tinggal di sana lebih lama lagi, tetapi ia masih menempatkan beberapa orang untuk tetap tinggal dan melanjutkan pencarian yang tanpa petunjuk apapun itu.
...****************...
Di sisi lain kota, aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit. Lampu-lampu putih menyala terlalu terang bagi Axlyn yang duduk terpaku di ranjang pemeriksaan. Tangannya gemetar saat menerima selembar kertas dari dokter dimana hasil pemeriksaan yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami, meski kata-kata di dalamnya begitu jelas.
Hamil.
Usia kandungan: 4 minggu.
Janin: kembar.
Dua nyawa kecil, kini tengah tumbuh di dalam perutnya. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih rata, napasnya tercekat. Bayangan satu malam itu… malam panas sebulan lalu datang tanpa izin dalam ingatannya. Malam ketika pertahanan terakhirnya runtuh. Ketika cinta lama yang ia kira telah mati ternyata hanya tertidur, menunggu satu sentuhan untuk kembali bernapas.
Cinta masa lalunya. Pria yang pernah menjadi segalanya. Rumah. Luka. Rindu. Penyesalan. Air mata mengalir pelan di pipinya. Ia tertawa kecil di antara isak tawa yang rapuh, nyaris patah.
Siapa sangka, dari satu malam yang penuh kerinduan dan kesalahan, takdir menanam dua kehidupan. Dua bibit cinta yang berasal dari pria yang baru saja, entah di belahan kota mana, memutuskan untuk menyerah mencarinya dan kembali ke negaranya serta mungkin… kembali melupakan segala tentangnya.
Axlyn tahu bahwa Kay berusaha mencarinya, tapi ia tidak ingin muncul hanya sebagai orang baru dalam hidupnya, sebagai wanita yang hanya menghabiskan malam panas bersamanya. Axlyn ingin kembali sebagai Axlyn yang dulu, Axlyn yang telah tidak terlupakan.
Axlyn menelan ludah. Kepalanya berputar, dadanya sesak oleh campuran rasa takut, kaget, dan perasaan hangat yang tak bisa ia tolak. Air mata Axlyn jatuh, bukan karena sedih semata, tapi karena kenyataan yang kini mengetuk hatinya dengan keras.
Kay menyerah dan memilih pergi, sementara di rahimnya, bagian dari Kay justru memilih tinggal. Berpikir malam itu, akan menjadi pertemuan terakhirnya lagi rupanya membuahkan hasil yang jela tak terduga.
Ia menatap perutnya yang masih datar, lalu tersenyum lirih di sela tangis. “Sepertinya… kalian datang di saat yang salah,” bisiknya pelan, “atau mungkin di saat yang paling tepat sebagai penyalur rinduku kepada ayah kalian. Terima kasih telah hadir untuk menemaniku, menggantikan ayah kalian.”
Di kejauhan, suara mesin pesawat mulai meraung, membawa Kay menjauh dari Praha tanpa tahu bahwa sebagian dirinya tertinggal. Tanpa tahu apa yang ia khawatirkan sudah menjadi kenyataan. Namun, dalam hatinya Kay tidak akan pernah melupakan tentang malam itu, malam yang membuatnya nyaman seolah telah menemukan rumah yang sesungguhnya.
...****************...
Setelah menghabiskan satu infus, Axlyn akhirnya diijinkan ulang dari rumah sakit. Axlyn tidak langsung memberitahukan kepada Kakaknya, dua hari ia memilih diam seolah menunggu waktu yang tepat.
Akhirnya Axlyn memilih sore itu saat hujan turun tipis dan rumah terasa lebih sunyi dari biasanya untuk mengatakan semuanya. Kakaknya, Sherin, duduk di seberang meja makan dengan secangkir teh yang mulai mendingin, sementara Axlyn memainkan ujung lengan bajunya, gugup seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.
Sejak kejadian lima tahun yang lalu, Sherin berhenti menjadi artis dan memilih menjadi penulis novel daring. Tidak ada alasan khusus, Sherin hanya ingin selalu ada di sisi adiknya yang selalu murung saat mengetahui bahwa Kay melupakan segala tentangnya.
Meski sampai detik ini, keluarga Xavier masih bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Secara teratur keluarga Xavier akan mengirimi Sherin uang untuk biaya hidup mereka tanpa sepengetahuan Axlyn tentunya. Sherin sendiri tidak pernah menggunakan uang tersebut ataupun menolaknya. Membiarkan begitu saja uangnya terkumpul di akun rekening banknya yang lain.
“Kak,” ucap Axlyn akhirnya, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi hujan di atap, “aku hamil.”
Sherin mengangkat wajahnya. Alisnya berkerut, lalu matanya membesar. “Apa?” Ia tertawa kecil, refleks. “Kamu bercanda, kan?”
Axlyn hanya mampu menggeleng. Ia mendorong map cokelat berisi hasil pemeriksaan rumah sakit ke arah kakaknya. Tangannya gemetar. “Bukan satu,” tambahnya pelan. “Dua. Aku benar-benar sedang hamil dan itu anak kembar.”
Teh di tangan Sherin berhenti di udara. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang tebal, sebelum cangkir itu akhirnya diletakkan kembali ke meja. Sherin membuka map itu, membaca cepat bahkan terlalu cepat. Lalu menatap Axlyn lagi, kali ini dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan antara kaget, khawatir, dan… marah.
“Jadi ini alasan sebenarnya,” katanya pelan namun tajam. “Kejadian sebulan lalu. Skors selama dua bulan itu.” Ia menarik napas panjang. “Kamu sama sekali tidak bilang apa-apa pada Kakak, Axlyn.”
Axlyn menunduk. “Aku takut, Kak. Aku bahkan belum bisa berdamai dengan diriku sendiri.” Ia tersenyum pahit. “Aku pengawal, aku selalu dituntut kuat dan terkendali. Tapi malam itu… aku ceroboh. Dan aku menyembunyikannya karena aku pikir aku bisa menanggung semuanya sendirian. Aku tidak tahu kalau akan hamil seperti ini.”
Sherin berdiri. Axlyn refleks ikut berdiri, bersiap menerima apa pun baik teguran, kemarahan, atau kekecewaan. Namun yang datang justru pelukan.
Sherin memeluknya erat, terlalu erat, sampai Axlyn tak kuasa menahan air mata. “Kamu bodoh,” gumam Sherin dengan suara bergetar, “tapi kamu bukan sendirian.” Ia melepas pelukan, menangkup wajah adiknya. “Kembar, ya?” Senyum kecil muncul, ragu tapi hangat. “Berarti aku akan punya dua keponakan.”
Axlyn terisak, kali ini karena lega. “Kak… kamu nggak marah?”
“Marah,” jawab Sherin jujur. “Karena kamu menyembunyikannya. Karena kamu terluka sendirian.” Ia menghela napas. “Tapi lebih dari itu, aku bahagia kamu selamat. Dan apa pun yang terjadi, anak-anak ini… mereka tidak melakukan kesalahan apapun.”
“Makasih, Kak!” ucap Axlyn pelan.
“Boleh Kakak tahu siapa ayahnya?”
Bersambung….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌