Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hutang menumpuk
Duka adalah kabut yang mematikan logika. Bagi Mirasih, minggu-minggu pertama setelah pemakaman kedua orang tuanya adalah masa di mana dunia terasa tidak nyata. Ia bergerak seperti robot, makan hanya jika disuapi, dan berbicara hanya jika ditanya. Di tengah kerapuhan mental yang sedalam samudera itu, Paman Broto dan Bibi Sumi hadir layaknya malaikat pelindung yang paling setia.
Mereka memboyong Mirasih ke rumah mereka, sebuah rumah yang sebenarnya jauh lebih kecil dan lebih sederhana dibandingkan rumah joglo milik Pak Hardi. Namun, saat itu Mirasih tidak peduli. Ia hanya butuh sandaran. Ia butuh sisa-sisa kehangatan keluarga yang tersisa.
"Istirahatlah, Nduk. Biar Bibi yang masak. Kamu jangan banyak pikiran, nanti luka di kepalamu itu lama sembuhnya," ucap Bibi Sumi dengan nada yang sangat manis, nyaris seperti madu yang membius.
Paman Broto pun tidak kalah peran. Setiap hari, ia akan duduk di samping Mirasih, mengusap bahunya, dan berbicara dengan nada penuh wibawa. "Paman sudah mengatur pengacara untuk mengurus aset Bapakmu. Jangan sampai orang lain mengambil keuntungan dari keadaan ini. Kamu serahkan saja semua berkasnya pada Paman. Biar Paman yang pasang badan melawan mereka yang ingin merebut hakmu."
Mirasih, yang saat itu baru berusia delapan belas tahun dan belum pernah sekalipun berurusan dengan birokrasi harta, hanya bisa mengangguk pasrah. Di matanya, Paman Broto adalah adik kandung Ayahnya yang paling jujur. Ia menyerahkan tumpukan map cokelat yang diambil dari brankas kecil di kamar Ayahnya—map yang berisi sertifikat tanah, surat kepemilikan penggilingan padi, dan buku-buku tabungan yang saldonya cukup untuk membiayai Mirasih hingga sekolah ke luar negeri.
Proses "perampokan" itu tidak terjadi dalam satu malam. Paman Broto dan Bibi Sumi adalah pemain watak yang sangat sabar. Mereka memulainya dengan hal-hal kecil, perlahan-lahan meretakkan topeng kepedulian mereka seiring dengan berpindahnya kekuasaan.
Bulan pertama, suasana masih tampak normal. Namun, memasuki bulan kedua, perubahan kecil mulai terasa.
Suatu pagi, Mirasih terbangun karena suara gaduh di ruang tamu. Ia melihat beberapa orang asing sedang membawa keluar kursi jati ukiran dari rumah lamanya—kursi kesayangan Ayahnya yang dibawa ke rumah Paman untuk "diamankan".
"Paman, kursi-kursi itu mau dibawa ke mana?" tanya Mirasih dengan suara parau.
Paman Broto, yang sedang merokok kretek di teras, menjawab tanpa menoleh. "Oh, itu... Paman sedang menservisnya, Nduk. Kayunya mulai dimakan rayap. Paman tidak mau kursi kesayangan Bapakmu rusak."
Mirasih percaya. Ia tidak tahu bahwa kursi-kursi itu sebenarnya sedang diangkut menuju rumah seorang kolektor barang antik di kota sebelah untuk menutupi hutang Paman Broto pada bandar judi dadu.
Minggu berikutnya, giliran penggilingan padi milik Ayahnya yang menjadi sasaran. Paman Broto datang ke kamar Mirasih dengan wajah yang dibuat-buat sedih, seolah-olah dunia baru saja runtuh di atas pundaknya.
"Mirasih, ada masalah besar di penggilingan. Para pekerja mengeluh karena alatnya banyak yang rusak. Mereka minta uang perbaikan besar-besaran, kalau tidak, mereka akan mogok. Paman bingung, tabungan Paman tidak cukup," keluh Paman Broto sambil memegangi kepalanya.
"Pakai saja uang tabungan Bapak, Paman. Kan ada di buku tabungan itu," jawab Mirasih polos.
Bibi Sumi masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi segelas air putih yang dingin. "Duh, Nduk, buku tabungan itu diblokir pihak bank karena Bapakmu sudah meninggal. Katanya butuh tanda tanganmu di atas materai untuk mengalihkan kuasa kepada Pamanmu agar uangnya bisa ditarik untuk operasional."
Mirasih, tanpa keraguan sedikit pun, menandatangani lembaran demi lembaran kertas putih yang disodorkan padanya. Ia tidak membaca barisan kalimat kecil yang tertulis di sana. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja menandatangani surat kuasa mutlak dan pengalihan hak milik atas seluruh tabungan dan aset bergerak milik ayahnya.
Setelah tanda tangan itu didapatkan, perubahan sikap keluarga Paman Broto menjadi sangat drastis, seolah-olah topeng mereka akhirnya pecah karena tidak sanggup lagi menahan beban kepalsuan.
Pertama, perhatian Bibi Sumi menguap. Tidak ada lagi masakan enak atau usapan di kepala. Mirasih yang masih dalam masa pemulihan mulai diminta untuk membantu pekerjaan rumah.
"Mirasih, mumpung kamu sudah bisa jalan, tolong bantu cuci piring di belakang ya. Bibi pinggangnya lagi sakit," perintah Bibi Sumi suatu pagi. Nadanya tidak lagi manis, melainkan tajam seperti sembilu.
Hari berikutnya, tugas Mirasih bertambah. Mencuci baju, menyapu halaman, hingga mengepel lantai. Sementara itu, Siska—anak perempuan Paman Broto yang sebaya dengan Mirasih—mulai memamerkan barang-barang baru. Siska tiba-tiba memiliki ponsel terbaru, tas bermerek, dan baju-baju mahal yang Mirasih tahu betul dari mana uangnya berasal.
"Itu... tas itu bukannya dibeli dengan uang dari tabungan Bapak?" tanya Mirasih dengan ragu saat melihat Siska bersiap-siap pergi ke mal.
Siska menoleh dengan tatapan menghina. "Heh, anak yatim piatu. Kamu itu sekarang numpang di sini. Uang Bapakmu itu sekarang jadi tanggung jawab bapakku. Anggap saja ini biaya sewa kamar dan makanmu yang mahal itu!"
Mirasih tersentak. Dadanya sesak. Ia mencoba mencari Paman Broto untuk mengadu, namun Paman justru membentaknya.
"Benar kata Siska! Kamu tahu berapa biaya pengobatanmu di rumah sakit kemarin? Uang Bapakmu habis untuk itu! Sekarang jangan banyak tanya, kerjakan saja pekerjaanmu kalau masih mau tidur di sini!" bentak Paman Broto.
Puncaknya adalah ketika Mirasih diajak kembali ke rumah joglo miliknya. Ia berharap bisa mengambil sisa-sisa barang kenangan orang tuanya. Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat papan kayu besar tertancap di halaman depan: RUMAH INI DIJUAL.
"Paman! Kenapa rumah Bapak dijual?" teriak Mirasih dengan air mata yang mengucur deras.
"Rumah ini berhantu! Karena kecelakaan itu, tidak ada yang mau lewat sini. Daripada jadi beban pajak, lebih baik dijual untuk modal usaha Paman!" jawab Paman Broto tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Mirasih mencoba berlari masuk ke dalam rumah, namun Bibi Sumi menjambak rambutnya dengan kasar. "Mau ke mana kamu? Rumah ini sudah bukan milikmu lagi! Sekarang kamu ikut kami pulang!"
Mirasih diseret paksa. Ia melihat rumah masa kecilnya perlahan menjauh dari pandangan mata, membawa serta seluruh kenangan tentang aroma melati ibunya dan tawa ayahnya. Segala kejayaan keluarganya kini telah berpindah ke kantong Paman Broto.
Di rumah Paman, penderitaan Mirasih naik ke level yang lebih kejam. Kamar tidurnya dipindahkan ke bagian belakang rumah, sebuah gudang sempit di dekat sumur tua yang bocor jika hujan turun. Ia tidak lagi diperbolehkan makan di meja makan bersama mereka. Ia hanya diberikan sisa-sisa makanan yang sudah dingin.
Paman Broto, yang merasa sudah memiliki segalanya, semakin menggila di meja judi. Ia merasa uang peninggalan kakaknya tidak akan pernah habis. Ia mulai bermain di kasino-kasino gelap di kota besar, bertaruh dengan angka yang tidak masuk akal.
Namun, seperti kata pepatah, harta haram akan habis dengan cara yang haram pula. Hanya dalam waktu satu tahun, seluruh kekayaan Pak Hardi yang dikelola Paman Broto ludes. Sawah dijual, penggilingan padi disita karena Paman menjadikannya jaminan hutang yang tidak terbayar.
Keserakahan Paman Broto membawa mereka kembali ke garis kemiskinan, namun kali ini dengan beban hutang yang jauh lebih besar. Dan di tengah keputusasaan itu, mata Paman Broto dan Bibi Sumi kembali melirik pada satu-satunya aset yang tersisa—sesuatu yang mereka anggap bisa menghasilkan uang secara instan tanpa perlu bekerja keras.
Aset itu adalah Mirasih.
Bukan lagi tenaganya sebagai pembantu, melainkan kecantikannya yang murni sebagai "persembahan".
Mirasih yang malang, duduk di pojokan gudang yang gelap, memeluk foto orang tuanya yang berhasil ia selamatkan secara sembunyi-sembunyi. Ia tidak tahu bahwa di ruang tengah, Paman dan Bibinya sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar mencuri harta. Mereka sedang merencanakan untuk menjual jiwanya kepada kegelapan.
"Kita harus melakukannya, Pak," bisik Bibi Sumi malam itu di balik pintu yang sedikit terbuka. Mirasih mendengarnya dari kejauhan. "Hutangmu sudah terlalu banyak. Penagih hutang itu akan membunuh kita. Satu-satunya jalan hanya lewat Ki Ageng Gumboro. Mirasih masih perawan, dia pasti suka."
Mirasih menggigil. Ia tidak tahu siapa Ki Ageng Gumboro, namun dari nada suara Bibinya, ia tahu bahwa itu adalah awal dari penderitaan yang tidak akan pernah berakhir dengan kematian sekalipun.
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk