Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jurnal Sang Ayah
Sumiati, istriku. Kamu adalah Pengorbanan yang tak kamu pahami. Tapi, kamu akan menjadi Cahaya. Karena:
“Sumiati tidak mengerti, tapi Tanah Yalimo harus dilindungi. Biar aku saja yang menanggung kebenarannya.”
Tangan Yohan gemetar. Itu bukan kata-kata cinta dari seorang suami, melainkan justifikasi yang kejam dari seorang pewaris spiritual yang merasa dipilih takdir. Kata-kata itu beresonansi dengan nada fanatisme yang Yohan ingat ia benci dari masa kecilnya. Ayahnya selalu lebih peduli pada ide-ide kosmik dan pusaka abadi daripada istrinya yang masih bernapas.
“Melindungi apa, Ayah? Melindungi batas tanah untuk tambang?” bisik Yohan. Matanya berbinar marah. “Atau melindungi kegilaanmu dari kritikan?”
Dia memaksa dirinya membuka halaman demi halaman. Jurnal Yosef bukan hanya catatan harian; itu adalah studi mendalam, nyaris antropologis, tentang spiritualitas Yalimo, diselingi sketsa ritual rumit yang dibuat dengan tinta hitam tebal.
Dua belas halaman pertama dipenuhi catatan tentang geologi dan geomansi lokal. Yosef mendokumentasikan simpul energi, letak mata air, dan perbatasan tanah leluhur. Dia meramalkan, dengan akurasi yang mengerikan, ancaman dari ‘Kota Baja’—korporasi yang akan datang dari luar, mencoba membeli ‘Lapis Emas’ Yalimo.
“Aku sudah melihat itu di masa lalu,” gumam Yohan. “Ancaman korporat ini nyata. Tapi cara Ayah menanganinya…”
Di bagian tengah jurnal, tulisan tangan Yosef tiba-tiba menjadi lebih kecil dan padat. Ia menemukan kata kunci yang selama ini ia cari. Bab itu berjudul, Upacara Perisai Darah (Awal).
Yosef menulis: “Suku lain menyebutnya 'Janji Darah'. Aku menyebutnya Upacara Perisai. Pusaka adalah hati tanah, dan hati tanah harus dilindungi oleh Perisai Darah terkuat: jiwa yang paling murni, tetapi juga yang paling lemah terhadap obsesiku, agar ikatannya abadi. Aku telah melihat betapa berharganya harta yang disembunyikan di bawah lapisan batu itu. Untuk mempertahankan Yalimo dari malapetaka baja dan hukum kota, jiwa harus dikunci di perbatasan. Jiwa Sumiati.”
Yohan tersentak ke belakang, menarik napas seolah ada tangan spiritual mencekiknya. Ia harus mengakui satu hal, terlepas dari metodenya: Ayahnya tahu batas suci Yalimo berada di bawah ancaman. Inilah mengapa Sumiati menjadi Penjaga Ikatan di area Kamboja yang berada tepat di perbatasan tanah.
“Ayah. Jadi kamu memilih Ibu. Korban?” Yohan berbicara langsung pada teks dihadapannya.
Jurnal itu melanjutkan, mencantumkan alasan Yosef. “Aku telah menghitungnya. Untuk Janji Darah, aku tidak bisa memilih diriku sendiri. Ikatan yang dibuat harus datang dari cinta sejati, dari keterikatan jiwa yang kuat pada alam Yalimo, agar Pusaka bersedia mengikat. Sumiati, wanita kotaku, telah jatuh cinta pada ketenangan gunung. Dia tidak mencintaiku sebesar ia mencintai Pusaka yang kutunjukkan padanya, dan itulah pengorbanan terbesarku. Jika aku mengikatnya, ikatan itu akan sempurna.”
Sebuah pukulan telak menghantam logika Yohan. Jika itu adalah cinta sejati, kenapa ritualnya melibatkan pengikatan paksa? Dan mengapa Ibu bersedih di cermin itu?
Yohan membalik beberapa halaman dengan cepat, tangannya mulai terasa lengket oleh minyak alami dari kulit tua jurnal itu. Ia mencari mekanisme pembebasan, tetapi yang ia temukan hanya detail prosedur ikatan. Masing-masing diilustrasikan dengan sketsa mengerikan: titik-titik akupunktur ritual, ramuan yang diminum, dan bagian tubuh mana yang digunakan untuk "darah abadi."
“Aku nggak mengerti, Ayah. Kalau tujuannya begitu mulia, kenapa ritualnya tampak sangat menjijikkan?” tanya Yohan, suaranya naik sedikit. Ia menatap ke pintu kamar ayahnya yang terbuka. Tidak ada yang menjawab, tetapi suasana rumah terasa semakin padat oleh kenangan yang terbangkitkan.
Yohan membaca sebuah kalimat lain dari Ayahnya yang penuh obsesi, bertanggal seminggu sebelum Sumiati meninggal:
“Semua sesepuh meragukanku, bahkan Marta. Mereka tidak mengerti. Mereka ingin negosiasi, kompromi, agar kita mendapatkan uang tanpa mempedulikan nyawa Yalimo di masa depan. Upacara Perisai Darah adalah satu-satunya jalan mutlak. Jika aku mengikat Sumiati, energi Pusaka akan diarahkan padanya dan dialah yang menjadi Penjaga Abadi, melenyapkan ancaman luar selamanya.”
Pengakuan Yosef bahwa dia melawan para sesepuh—termasuk Marta—menyuntikkan kompleksitas yang luar biasa pada hubungan Yohan dan masa lalunya. Selama ini, Yohan menganggap Ayahnya gila, seorang yang bertanggung jawab atas trauma ibu dan kehancuran rumah tangga mereka. Sekarang, ia menemukan Ayahnya mungkin adalah pahlawan yang fanatik dan kesepian.
Tuhan, jangan buat aku berdamai dengan masa lalu ini! Ayah mengorbankan Ibuku! protes Yohan dalam hati, meskipun tubuhnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan saat konflik batin ini menguasainya. Perlawanan internalnya menguji kemampuannya untuk tetap pragmatis. Dia tidak membenci Ayahnya, tapi membenci metodenya. Yosef kini bukan sekadar penjahat; dia adalah seorang martir dengan kerusakan psikologis parah.
Yohan memutuskan mengambil napas, meletakkan jurnal itu di atas lututnya. Matanya melihat sekilas jimat perunggu dan gulungan lontar kering yang diletakkan bersama jurnal itu. Mereka berdua dikorbankan demi Yalimo, demi warisan Pusaka.
***
Tiba-tiba, mata Yohan menangkap detail aneh di tengah jurnal. Di balik halaman yang penuh sketsa, ada robekan diagonal yang tajam. Seperti seseorang mencoba mencabut beberapa baris tulisan dengan tergesa-gesa.
Dia kembali fokus pada tulisan itu. Halaman itu tampaknya menjadi refleksi terakhir Yosef yang diselamatkan. Kertasnya sangat tipis, dan tulisannya meluber oleh kelembapan tua.
Yohan mengerjap, menekan jurnal itu ke permukaan meja, mencoba membaca sisa-sisa kata yang selamat.
“Ritual... gagal. Sumiati. Dia menangis. Janji Darah terlalu besar. Mereka semua... menyuruhku.” Tulisan tangan Yosef mulai tidak stabil di sini.
Lalu, tulisan itu terputus. Yosef rupanya menulis entri lagi di halaman terpisah, beberapa waktu kemudian. Yohan harus membacanya dengan hati-hati karena sebagian tulisannya sudah hilang total.
“… tidak terkejut Sumiati sekarang membenci, dia… bukan ditujukan padanya. Itu dimaksudkan untukku. Kami tidak cukup… ”
Pikiran Yohan berputar liar. Apakah Sumiati bunuh diri? Itulah cerita yang dia bawa selama dua dekade, cerita yang dijajakan sesepuh dan orang tuanya. Yohan selalu menduga ibunya depresi karena fanatisme Ayahnya. Tetapi jika ritual itu gagal…
Ia menyibak satu halaman terakhir yang sedikit retak, yang berisi kata-kata final yang disimpan Yosef.
Yohan memejamkan mata. Udara terasa dingin dan menusuk. Ia merasakan kemarahan Yosef terpancar melalui teks, sebuah konfrontasi yang brutal. Jurnal itu menjatuhkan semua asumsi Yohan. Dan tiba-tiba, fokus Yosef tidak lagi tentang pusaka atau Yalimo, tetapi tentang sang istri.
Tepat di bawah entri terakhir yang tercabut, hanya dua baris teks yang terbaca sangat jelas, seolah sengaja ditekankan untuk bertahan dari pembusukan waktu.
“Dia tewas... bukan karena kecemburuan.
Mereka salah. Aku yang diburu.”
Yohan kaku. Kebenciannya terhadap Ayahnya menguap, digantikan oleh pertanyaan tunggal yang menggelegar: Siapa ‘Mereka’ yang disebut Ayahku? Dan siapa yang membiarkan kisah bunuh diri Ibuku disebarkan, sementara yang mereka incar adalah Ayah?
Siapa yang,,,