Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Rina baru saja mencapai trotoar di luar rumah sakit, mencoba mencari taksi atau ojek yang lewat di tengah malam. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di sampingnya. Rina sempat berharap itu adalah Bian, namun harapannya hancur seketika saat kaca mobil itu turun.
Di dalam sana, duduk Gus Azkar dengan wajah yang gelap dan tenang—ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan.
"Masuk," ucap Azkar singkat. Suaranya dingin, nyaris tanpa emosi.
"Nggak mau! Mas jahat! Tolong!" Rina mencoba lari ke arah berlawanan, namun dua orang pria berbadan tegap—santri kepercayaan Azkar—sudah berdiri di belakangnya, menghalangi jalan.
"Saya sudah memberi kamu kesempatan untuk patuh dengan cara baik-baik, Rina," ucap Azkar sambil turun dari mobil. Ia berjalan perlahan menghampiri istrinya yang ketakutan.
"Tapi sepertinya, kamu lebih suka cara yang keras."
Azkar langsung menyambar tangan Rina yang terluka, menatap darah yang mengering di sana dengan tatapan benci sekaligus khawatir yang aneh. Tanpa aba-aba, ia memanggul Rina masuk ke dalam mobil.
"Kita pulang ke Pesantren malam ini juga. Tidak ada rumah sakit, tidak ada sekolah. Kamu akan saya kunci di dalam kamar sampai kamu paham siapa pemilikmu sebenarnya," tegas Azkar sambil mengunci pintu mobil secara otomatis.
Rina memukul-mukul kaca mobil, "Maaaas! Lepasin! Rina mau sekolah!"
Gus Azkar hanya diam, ia mengeluarkan sapu tangan dan membebat tangan Rina yang berdarah dengan kasar namun erat. "Diam, Rina. Atau ancaman saya di rumah sakit tadi akan saya wujudkan sekarang juga di dalam mobil ini."
Mendengar itu, Rina seketika membeku. Ia meringkuk di pojok kursi mobil, menangis tanpa suara, menyadari bahwa pelariannya kali ini justru membawanya ke dalam "penjara" yang lebih ketat.
Laju mobil hitam itu membelah kesunyian jalan raya menuju kompleks pesantren. Di dalam kabin yang dingin, suasana terasa mencekam. Gus Azkar masih mengatur napasnya yang memburu karena amarah, matanya menatap tajam ke arah jalanan di depan.
Namun, perlahan ia menyadari sesuatu. Suara isakan Rina yang tadi memenuhi mobil tiba-tiba menghilang. Suasana menjadi terlalu sunyi.
Azkar menoleh ke samping. Ia melihat kepala Rina terkulai lemas ke arah jendela. Wajah istrinya yang mungil itu kini tidak lagi pucat, melainkan seputih kertas. Sapu tangan yang tadi ia bebatkan di tangan Rina sudah basah kuyup oleh darah merah pekat yang merembes hingga ke jok mobil.
"Rina?" panggil Azkar. Suaranya sedikit bergetar.
Tak ada jawaban.
Azkar menyentuh pipi istrinya. Dingin. Ia segera meraih pergelangan tangan Rina untuk mencari denyut nadi, namun yang ia temukan hanyalah denyutan yang sangat lemah dan tidak beraturan. Rina telah kehilangan terlalu banyak darah akibat luka infus yang dipaksa lepas dan aktivitas larinya yang nekat.
"Rina! Bangun, Dek! Jangan bercanda!" Azkar menepuk pipi istrinya dengan lebih keras, namun Rina tetap tak bergeming. Tubuhnya lunglai seolah tak bertulang.
Antara Ego dan Rasa Takut
"Cepat! Putar balik ke rumah sakit terdekat! Jangan ke pesantren!" teriak Azkar pada santri yang menyetir.
"Tapi Gus, tadi Gus bilang—"
"SAYA BILANG RUMAH SAKIT SEKARANG!" bentak Azkar dengan urat leher yang menonjol.
Keyakinan dan ketegasan yang tadi ia tunjukkan runtuh seketika. Azkar segera menarik tubuh Rina ke dalam pelukannya. Ia mendekap kepala istrinya erat di dadanya, mencoba memberikan kehangatan. Ia bisa merasakan sisa-sisa napas Rina yang pendek dan dangkal.
"Maafkan Mas, Dek... Mas mohon, bertahanlah," bisik Azkar lirih. Nada suaranya bukan lagi seperti ustadz yang menghukum santrinya, melainkan seperti seorang pria yang hampir gila karena ketakutan kehilangan miliknya yang paling berharga.
Egonya yang ingin mengurung Rina di pesantren seolah menguap. Melihat Rina yang meregang nyawa karena ulahnya sendiri dan paksaan pernikahan ini membuat hati Azkar seperti disayat sembilu. Ia menatap tangannya yang kini berlumuran darah Rina—darah istrinya yang baru berusia 17 tahun, yang seharusnya masih duduk di kelas 2 SMA dan tertawa bersama teman-temannya.
"Cepat sedikit!" teriak Azkar lagi pada sopir, sementara tangannya menekan kuat luka di tangan Rina agar darahnya berhenti mengalir.
Di tengah kepanikan itu, Azkar sadar; jika terjadi sesuatu pada Rina, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri, dan ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hati gadis itu selamanya.