NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Malam itu, dewi fortuna sepertinya sedang tersenyum lebar memihak pada Citra.

Jalanan ibu kota yang biasanya macet mendadak bersahabat, membiarkan taksi online yang ditumpanginya melaju mulus menembus dinginnya angin malam. Ia berhasil menyelinap masuk ke dalam Mansion Aditama melalui pintu samping dapur yang biasa digunakan oleh para pelayan tepat tiga puluh menit sebelum deru mesin mobil sports Putra terdengar memasuki gerbang utama.

Adrenalin masih berpacu liar memompa jantungnya saat ia berlari kecil menaiki tangga belakang. Dengan napas terengah-engah dan tangan yang sedikit gemetar, Citra membersihkan sisa riasan tipisnya kilat di kamar mandi tamu bawah. Ia segera mengganti seragam pelayan catering yang sedikit berbau makanan itu dengan piyama katun lusuhnya, lalu menyembunyikan amplop cokelat tebal berisi uang lembur tunainya di bagian paling dasar kopernya terselip aman di antara tumpukan baju tuanya.

Ketika knop pintu kamar utama akhirnya diputar kasar dan Putra melangkah masuk, Citra sudah berbaring memiringkan tubuhnya, membelakangi area suaminya di sisi paling ujung ranjang. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menahan napas sejenak, lalu mengatur ritme napasnya sehalus mungkin seolah sudah tertidur lelap sejak berjam-jam lalu.

Dari balik kelopak matanya yang terpejam, Citra bisa mendengar bunyi decak lidah suaminya. Aroma red wine mahal, asap cerutu, dan campuran parfum wanita sosialita langsung menguar tajam memenuhi kamar yang dingin itu. Putra sama sekali tidak menaruh curiga. Pria arogan itu bahkan tidak sudi melirik ke arah istrinya yang meringkuk di pinggir kasur. Ia hanya melempar jas tuxedonya sembarangan ke sofa, mandi kilat, lalu membanting tubuhnya ke atas kasur dengan dengusan lelah yang berat. Putra sama sekali tidak menyadari ironi malam itu: bahwa pelayan rendahan yang menyodorkan nampan champagne padanya di ballroom mewah tadi, kini terbaring hanya berjarak beberapa jengkal darinya.

Keesokan paginya.

Sinar matahari Minggu yang cerah menerobos masuk lewat celah gorden sutra raksasa. Citra baru saja selesai mandi dan sedang menyisir rambutnya yang masih setengah basah di depan meja rias. Letak meja rias itu cukup jauh dari lemari pakaian Putra, area "aman" yang tidak melanggar batas imajiner suaminya. Pak Aditama pagi ini sedang pergi bermain golf bersama kolega bisnisnya, sehingga suasana rumah terasa sangat lengang.

Dari pantulan cermin, Citra melihat Putra keluar dari walk-in closet dengan setelan kasual rumahannya yang tetap terlihat mahal. Pria itu berjalan menghampiri Citra. Bukan dengan langkah santai seorang suami di hari libur, melainkan langkah tegap yang penuh intimidasi.

Tanpa basa-basi, Putra melemparkan sebuah amplop putih tebal dan sebuah kartu debit berwarna hitam eksklusif ke atas kaca meja rias, tepat di hadapan Citra. Bunyi plak yang cukup keras membuat Citra tersentak dan otomatis menghentikan gerakan sisirnya.

"Apa ini, Mas?" tanya Citra bingung, melirik amplop yang dari ketebalannya saja sudah bisa dipastikan berisi tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu dalam jumlah besar.

"Gunakan matamu yang utuh itu. Itu uang," jawab Putra amat dingin, bersedekap dada menatap Citra dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Di dalam kartu itu juga ada saldo yang lebih dari cukup untuk orang sepertimu. Pin-nya tanggal lahir Papa."

Citra mengerutkan kening. Harga dirinya yang selama ini ia jaga perlahan terusik. Sejak menikah, ia memang tidak pernah diberi nafkah sepeser pun, dan ia pun tak pernah merengek meminta.

"Untuk apa, Mas? Saya tidak minta uang pada Mas Putra," tolak Citra tegas. Ia mendorong pelan amplop dan kartu itu menjauh darinya. "Saya masih punya sedikit tabungan untuk kebutuhan dasar pribadi saya."

Putra mendengus sinis, tawa sumbang yang sangat menyakitkan telinga keluar dari bibirnya.

"Tabungan? Tabungan dari hasil menjadi pelayan rendahan yang mengelap sisa makanan orang?" hina Putra tanpa ampun, matanya memancarkan kilat ketidaksukaan yang pekat. "Jangan membuat saya tertawa, Citra. Kamu pikir saya memberikan uang ini karena saya peduli padamu? Atau karena saya sedang pura-pura menjalankan kewajiban sebagai suami yang baik?"

Putra mencondongkan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja rias, mengurung Citra dengan auranya yang menekan kuat. Hembusan napas pria itu menerpa puncak kepala Citra.

"Dengar baik-baik," desis Putra, setiap kata yang meluncur dari bibirnya diasah setajam silet. "Papa kemarin menceramahi saya habis-habisan karena mengira saya menelantarkanmu secara finansial sampai kamu harus terus bekerja memelas di restoran. Saya tidak mau Papa jantungan hanya karena melihat menantu kesayangannya ini terlihat seperti gembel."

Citra menahan napas, dadanya terasa nyeri mendengar kata "gembel", tapi ia menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan ekspresinya agar tetap datar dan tak terbaca.

"Ambil uang itu," perintah Putra mutlak, tak menerima bantahan. "Beli baju yang layak. Beli skincare mahal atau pergi ke salon. Hilangkan kulit kusam dan wajah kucelmu itu. Setidaknya kalau ada kolega Papa atau keluarga besar yang datang berkunjung, penampilan kampunganmu tidak membuat saya malu."

Citra mendongak, menatap lekat mata elang suaminya dari pantulan cermin. Tidak ada setitik pun rasa cinta, penyesalan, atau kasih sayang di sana. Pria ini murni hanya peduli pada gengsi selangitnya dan ketakutannya pada sang ayah.

"Jadi... ini semacam biaya untuk menutupi aib Mas Putra di depan orang lain?" tanya Citra membalas tatapan itu tanpa gentar sedikit pun.

"Anggap saja ini biaya maintenance," jawab Putra dengan senyum miring yang sangat kejam dan merendahkan. "Sama seperti saya membayar mahal untuk memoles mobil sport saya ke salon mobil agar tetap enak dilihat di jalanan. Kamu adalah properti di rumah ini sekarang. Dan saya benci melihat properti saya terlihat rongsok, murahan, dan berbau asap dapur."

Tangan Citra yang berada di pangkuannya mengepal kuat hingga ujung kukunya menancap perih ke telapak tangan. Kata-kata Putra benar-benar merobek sisa harga dirinya. Disamakan dengan benda mati, dianggap gembel, dan direndahkan sedemikian rupa layaknya barang loak.

Namun, di tengah rasa sakit hati yang mencoba membakar dadanya, otak pragmatis Citra tiba-tiba bekerja jauh lebih cepat.

Ia teringat amplop cokelat hasil kerjanya semalam. Ia teringat rencananya untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin agar suatu saat nanti, jika neraka ini tak lagi bisa ditoleransi, ia punya modal untuk kabur dan hidup mandiri tanpa harus kembali membebani ibunya yang sakit-sakitan. Egonya memang terluka, tapi egonya tidak bisa memberinya makan jika ia harus kabur dari rumah ini esok hari.

Uang adalah kekuatan, batin Citra berteriak logis. Kalau aku menolak karena sok gengsi, aku yang rugi. Kalau aku terima, egonya yang sebesar gunung ini justru akan menjadi mesin ATM-ku untuk mempercepat rencanaku pergi dari pria brengsek ini.

Dengan raut wajah yang mendadak tenang, dingin, dan tanpa emosi, Citra melepaskan kepalan tangannya. Ia meraih amplop putih tebal dan kartu debit hitam itu, lalu memasukannya ke dalam laci meja riasnya dengan gerakan santai.

"Baik, Mas. Kalau ini memang biaya maintenance untuk menjaga nama baik Mas Putra, saya terima dengan senang hati," jawab Citra lugas, tanpa nada memelas, tanpa nada marah, apalagi sedih. Suaranya terdengar sangat profesional.

Putra sedikit terkejut melihat Citra yang tiba-tiba menurut tanpa menangis atau berdebat lebih lanjut seperti biasanya. Ada kilatan kekecewaan yang tak bisa disembunyikan di mata pria itu karena tidak berhasil membuat istrinya memohon, hancur, atau menangis meraung-raung hari ini.

"Bagus kalau kamu akhirnya sadar diri ada di kasta mana," ucap Putra ketus, mencoba menutupi rasa herannya yang mengganggu ego machonya. Ia menegakkan tubuhnya kembali dan melangkah menjauh. "Jangan gunakan uang itu untuk hal-hal kampungan. Beli barang yang bermerek. Saya akan pantau semua mutasi tagihannya."

Putra berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Citra sendirian.

Begitu pintu jati itu tertutup rapat, Citra membuka kembali laci meja riasnya. Ia menatap amplop tebal dan kartu black card itu. Tidak ada sebulir air mata pun yang jatuh dari mata Citra hari ini. Yang ada hanyalah sebuah senyum tipis di sudut bibirnya senyum seorang wanita yang tahu bagaimana memanfaatkan keadaan tersudut menjadi sebuah keuntungan absolut.

"Terima kasih atas dana tambahan untuk tabungan pelarianku kelak, Mas Putra," bisik Citra pelan pada pantulan dirinya sendiri di cermin yang memantulkan ketegaran.

Sebelum lanjut mohon klik suka ❤🙏

1
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!