Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 - ujian para elit
Matahari baru menembus kabut pagi ketika arena utama Sekte Batu Awan mulai ramai. Suara langkah kaki, bisik-bisik murid tingkat tinggi, dan dentingan senjata memenuhi udara. Kali ini, ujian bukan lagi untuk murid menengah, melainkan untuk para elit yang menonjol di setiap cabang sekte.
Qing Lin berdiri di tepi arena. Tubuhnya tegak, wajahnya dingin, mata menatap lurus ke depan. Sutra Darah Sunyi di dadanya berdenyut lebih jelas, lebih gelap, namun terkontrol. Dorongan gelap yang sebelumnya samar kini hadir dengan intensitas nyata, menggelitik nalurinya untuk menghabisi lawan secara cepat, tanpa ampun.
“Aku harus tetap terkendali… tapi kali ini, aku harus melangkah lebih jauh,” gumamnya pelan.
Lawan pertamanya adalah Yue Zhan, seorang elit terkenal karena teknik pedang api dan kekuatan qi luar biasa. Aura Yue Zhan menyebar seperti gelombang panas, membuat udara di sekitarnya hampir terasa panas. Ia tersenyum, percaya diri, menganggap lawan di depannya adalah murid lemah biasa.
Qing Lin menatapnya, dingin. Tidak ada rasa takut, tidak ada gugup—hanya ketenangan. Sutra Darah Sunyi mengalir melalui tubuhnya, memberi kekuatan, refleks, dan ketahanan, tapi dorongan gelapnya kini lebih kuat. Ia merasakan bisikan halus: “Hancurkan dia. Jangan biarkan dia mengganggu jalannya.”
Qing Lin menelan napas, menekannya. Ia tidak ingin membiarkan dorongan itu menguasai dirinya sepenuhnya. Ia fokus pada strategi, bukan kekerasan.
Pertarungan dimulai. Yue Zhan menyerang dengan serangan beruntun, pedang api memancarkan cahaya merah yang menakutkan. Qing Lin menggeser kapak kayunya, menghindar, dan menahan beberapa serangan. Dorongan gelap memintanya menyerang balik dengan kekuatan penuh, menghancurkan lawan secepat mungkin.
Namun Qing Lin tetap terkendali. Ia membaca gerakan Yue Zhan, menghitung setiap celah, menyesuaikan langkah. Sutra Darah Sunyi memompa energi ke setiap otot, memperkuat reflek, mempercepat gerakan, tapi tetap tenang.
Dengan satu gerakan presisi, ia menahan pedang Yue Zhan, memutar tubuh, dan menjatuhkan lawan ke tanah. Api di pedang Yue Zhan padam, dan murid-murid lain menatap tercengang.
“Siapa dia? Tanpa akar spiritual… tapi mampu menahan Yue Zhan?” bisik salah satu murid tingkat tinggi.
Qing Lin berdiri tanpa ekspresi, dingin dan tenang, lalu melangkah mundur, memberi ruang bagi lawan untuk bangkit. Ia tidak tersenyum. Tidak ada kemenangan yang dibanggakan—hanya ketenangan dingin yang memancar dari tubuhnya.
Pertarungan kedua lebih berat. Kali ini ia dihadapkan pada dua elit sekaligus, kombinasi murid yang telah dikenal karena kekuatan fisik dan teknik qi mematikan. Arena dipenuhi rintangan, jebakan, dan makhluk latihan tingkat tinggi.
Qing Lin masuk dengan langkah tenang. Sutra Darah Sunyi berdenyut lebih keras, gelapnya terasa seperti api di dalam dirinya. Dorongan gelap semakin kuat, memintanya menyerang lawan tanpa ampun.
“Hentikan… jangan biarkan ini menguasai dirimu,” gumam Qing Lin, menahan dorongan itu.
Pertarungan berlangsung cepat. Qing Lin menggeser kapak, menghindar, dan menahan serangan dengan presisi sempurna. Sutra Darah Sunyi memberinya refleks luar biasa, tetapi ia tetap menekan dorongan gelap untuk menghancurkan lawan. Setiap pukulan diarahkan hanya untuk mengganggu, menahan, atau mengalihkan serangan—tidak untuk membunuh.
Dalam sekejap, Qing Lin menemukan celah di formasi lawan. Dengan kombinasi gerakan defensif dan ofensif minimal, ia menjatuhkan kedua lawan sekaligus. Mereka terlempar ke tanah, terengah-engah, tapi tidak terluka parah.
Murid-murid lain menatapnya dengan takjub. Para elit yang menyaksikan pertarungan itu menunduk, sadar bahwa Qing Lin bukan murid biasa. Sisi dinginnya, ketenangan, dan kekuatan yang terkendali membuatnya terlihat seperti bayangan mematikan di arena.
Malam tiba. Qing Lin kembali ke gubuknya, tubuhnya lelah, tapi pikiran tetap fokus. Bibinya menatap wajahnya yang dingin, ekspresi jauh dari hangatnya Qing Lin yang dulu.
“Lin… kau semakin dingin… apakah kau masih dirimu?” tanya bibinya dengan suara lembut, khawatir.
Qing Lin menatap tangan yang masih terasa hangat oleh Sutra Darah Sunyi. Ia tersenyum tipis, dingin tapi bukan kosong. “Aku masih Lin… tapi aku belajar mengendalikan diriku… dan kekuatan ini,” jawabnya datar.
Mentor Bayangan muncul dari bayangan pintu. “Qing Lin… kau telah menghadapi lawan elit dan tetap terkendali. Itu luar biasa. Tapi ingat, dorongan gelap Sutra Darah Sunyi bisa menyesatkan jika kau kehilangan fokus. Jangan biarkan kekuatan ini menelan dirimu sepenuhnya.”
Qing Lin menunduk sejenak, menatap langit malam. Sutra Darah Sunyi berdenyut di dadanya, dorongan gelap tetap ada, tapi ia telah belajar menahannya.
“Aku harus dingin… tapi tetap manusiawi,” gumamnya. “Jika aku kehilangan kendali… aku tidak akan lagi menjadi diriku. Tapi jika aku bisa mengendalikan dorongan gelap ini… aku akan lebih kuat dari semua orang di Sekte.”