Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sains Adalah Pedangnya
Jam dinding kayu jati di dinding berdetak berat.
Pukul 02.00 dini hari.
Suara jangkrik dan kodok dari arah kolam teratai di halaman belakang terdengar bersahut-sahutan, menciptakan simfoni malam khas pedesaan Yogyakarta yang seharusnya menenangkan.
Namun bagi Sekar, malam ini terasa mencekik.
Udara di dalam kamar itu berbau minyak urut dan bedak dingin, aroma khas wanita paruh baya tradisional.
Sumber aroma itu sedang berbaring di atas dipan kayu kecil di sudut ruangan, hanya berjarak tiga meter dari ranjang Sekar.
Bu Sasmi.
Wanita itu tidak tidur di kamar tamu. Dengan alasan "menjaga keselamatan calon keluarga keraton", dia bersikeras tidur sekamar dengan Sekar.
Alasan yang konyol.
Sekar tahu, ini adalah bentuk surveillance 24 jam. Panoptikon modern tanpa CCTV, hanya bermodal mata tua yang tajam dan telinga yang sensitif.
Sekar berbaring miring memunggungi Bu Sasmi. Matanya terbuka lebar dalam kegelapan.
Punggungnya masih terasa pegal akibat latihan duduk selama enam jam hari ini.
Namun, bukan nyeri otot yang membuatnya terjaga.
Tanda lahir berbentuk bulir padi di jari manis tangan kirinya terasa panas. Berdenyut.
Itu sinyal alarm biologis.
“Stok menipis,” batin Sekar, menganalisis inventaris dalam ruang spasialnya.
Di dalam Ruang Spasial, tanaman melon varietas Golden Aroma yang dia tanam tiga minggu lalu sudah memasuki masa panen puncak. Kadar Brix pasti sudah mencapai angka 18%.
Jika tidak dipanen malam ini, fermentasi alami akan dimulai.
Melon-melon itu akan membusuk, meledak, dan mengotori tanah hitam dengan etanol.
Masalahnya, dia tidak bisa masuk.
Sekar memejamkan mata, memusatkan pendengaran.
Suara napas Bu Sasmi terdengar teratur.
Inhale dalam, exhale panjang dengan sedikit bunyi 'ngik' di ujungnya.
Indikasi mild obstruction pada saluran napas atas. Tidur nyenyak fase Non-Rapid Eye Movement.
Ini kesempatannya.
Sekar menyentuh tanda lahir di jarinya dengan ibu jari.
“Masuk.”
Sensasi tarikan gravitasi itu selalu sama.
Seperti jatuh dari gedung tinggi, lalu mendarat di atas tumpukan bulu angsa.
Detik berikutnya, Sekar sudah berdiri di atas tanah hitam yang gembur.
Udara di sini jauh lebih segar, kaya akan oksigen murni yang dihasilkan oleh fotosintesis tanaman super-subur.
Tidak ada bau minyak urut. Hanya aroma tanah basah, vanila, dan manisnya buah matang.
Sekar menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paru astralnya dengan energi.
Di hadapannya, hamparan tanaman melon merambat pada lanjaran bambu.
Buah-buahnya menggelantung berat, berwarna kuning keemasan, memancarkan cahaya redup yang magis.
“Oke, mode kerja cepat,” gumam Sekar.
Dia tidak punya banyak waktu.
Rasio waktu di sini memang menguntungkan, 1 jam di sini \= 6 menit di dunia nyata, tapi dia tidak boleh mengambil risiko.
Sekar berlari kecil ke gubuk peralatan.
Dia mengambil keranjang rotan dan gunting pangkas.
Snip. Snip. Snip.
Tangannya bergerak cekatan, memotong tangkai buah dengan presisi bedah.
Dia menyisakan 2 cm tangkai berbentuk huruf T, standar estetika untuk melon grade premium.
Satu keranjang penuh.
Dua keranjang.
Keringat mulai membasahi keningnya.
Adrenalin memacu fokusnya.
Dia bekerja mungkin selama dua jam waktu ruang spasial.
Membersihkan lahan, menabur benih baru, dan meminum seteguk Air Spiritual dari mata air untuk memulihkan kelelahan mentalnya.
Rasanya segar.
Seperti minum air kelapa muda yang didinginkan, tapi dengan aftertaste mint yang membersihkan pikiran.
Sekar merasa bugar kembali.
Lelah fisiknya di dunia nyata seolah tidak pernah ada.
"Cukup untuk hari ini," putusnya.
Dia meletakkan hasil panen di gudang penyimpanan, zona vakum waktu di mana benda tidak akan busuk.
Sekar menatap pintu keluar visualisasinya.
“Keluar.”
Gelap kembali menyergap.
Sekar membuka matanya di atas ranjang paviliun.
Dan saat itulah, teror yang sebenarnya dimulai.
Dia tidak bisa bergerak.
Tubuhnya terasa seberat beton. Jari-jarinya kaku. Kelopak matanya terasa seperti direkatkan dengan lem super.
Sleep Paralysis? Tidak, ini berbeda.
Otak Sekar, kesadarannya, sudah bangun sepenuhnya, waspada, dan tajam.
Tapi sistem saraf motoriknya masih offline total, gap yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya.
Dia mendengar suara langkah kaki terseret.
Srek. Srek.
Bu Sasmi bangun.
Jantung Sekar berdegup kencang, tapi dia tidak merasakan detak itu di dadanya.
Dadanya hening. Terlalu hening.
"Mbak Sekar?" suara serak Bu Sasmi terdengar dari jarak dekat.
Sekar ingin menjawab.
Dia ingin sekadar berdeham atau mengubah posisi tidur untuk menunjukkan bahwa dia sedang tidur normal, tapi sinyal dari korteks motorik tidak sampai, atau belum sampai ke otot.
Analisis Cepat: Saat kesadaranku berada di Ruang Spasial, tubuh fisikku masuk ke mode hibernasi ekstrem.
Kondisi ini ditandai dengan Bradikardia, detak jantung melambat drastis. Hipotonia, hilangnya tonus otot. Dan Hipoventilasi, napas yang sangat dangkal.
Bagi orang awam, kondisi ini tidak terlihat seperti tidur.
Ini terlihat seperti mati.
Atau koma.
Cahaya senter menyilaukan menembus kelopak mata Sekar yang tertutup.
Bu Sasmi menyalakan senter ponselnya, mengarahkannya tepat ke wajah Sekar.
Sekar bisa merasakan hawa panas tubuh Bu Sasmi mendekat.
Wanita tua itu membungkuk.
"Napasnya..." bisik Bu Sasmi.
Nadanya curiga bercampur panik.
Tangan kasar Bu Sasmi terulur, menyentuh leher Sekar. Mencari denyut nadi karotis.
Sekar berteriak dalam diam.
Ayo, tubuh bodoh! Bangun!
Pompa adrenalin!
Detik terasa seperti abad.
Di dalam ruang spasial, waktu berjalan cepat. Tapi rupanya transisi kembali ke tubuh fisik membutuhkan waktu "reboot" sistem saraf sekitar 10-15 detik.
Dan 15 detik itu adalah celah keamanan fatal.
Jika Bu Sasmi menyadari nadinya berdetak di bawah 40 bpm, detak per menit dan napasnya nyaris tak terdeteksi, besok pagi seluruh Keraton akan gempar.
GKR Dhaning akan mengirim tim medis istana. Mereka akan mengambil darahnya. Mereka akan menemukan anomali.
Rahasia Ruang Spasial akan terbongkar bukan karena sihir, tapi karena diagnosis medis:
Mati Suri Berulang.
Ujung jari Bu Sasmi menekan arteri leher Sekar.
Satu... Dua...
Sekar mengerahkan seluruh kekuatan tekadnya untuk memicu respons fight or flight.
Dia membayangkan bahaya. Dia membayangkan wajah ibunya yang menangis.
SENTAK!
Sistem saraf simpatik akhirnya merespons.
Sebuah kejutan listrik biologis menjalar dari batang otak ke seluruh tubuh.
"Hah!"
Sekar tersentak bangun dengan kasar.
Tubuhnya mengejang seperti orang yang baru saja lolos dari mimpi buruk jatuh ke jurang.
Dia membuka mata lebar-lebar, langsung menatap wajah Bu Sasmi yang hanya berjarak lima sentimeter.
Bu Sasmi melompat mundur saking kagetnya.
Ponselnya nyaris terlempar.
"Astaghfirullah!" pekik Bu Sasmi, memegangi dadanya.
Sekar terengah-engah.
Kali ini sungguhan.
Jantungnya memompa keras, mencoba mengejar ketertinggalan oksigen.
Keringat dingin membasahi punggungnya.
"Bu... Bu Sasmi?" suara Sekar parau, lemah, dan gemetar. Akting yang sempurna karena didukung kondisi fisik yang shock.
"Kenapa... kenapa Ibu ada di atas saya?"
Bu Sasmi mengatur napasnya yang memburu. Matanya menatap Sekar dengan tatapan aneh. Selidik.
"Njenengan..." Bu Sasmi menelan ludah.
"Njenengan tadi tidak bernapas. Saya panggil tidak menyahut. Badan Njenengan dingin sekali seperti mayat."
Sekar memijat pelipisnya, berpura-pura pusing. Otak jeniusnya berputar cepat menyusun alibi logis.
"Saya... saya punya Tekanan Darah Rendah saat tidur nyenyak, Bu," dusta Sekar dengan istilah medis yang terdengar meyakinkan.
"Kadang kalau terlalu lelah, saya tidur seperti orang pingsan. Efek samping kelelahan saraf."
Sekar menatap Bu Sasmi dengan mata sayu yang dibuat-buat.
"Maaf kalau membuat Ibu kaget. Apa saya ngelindur?"
Bu Sasmi masih menatapnya curiga.
Tapi penjelasan "tekanan darah rendah" dan fakta bahwa Sekar baru saja menjalani penyiksaan fisik seharian cukup masuk akal baginya.
Lagipula, sekarang dada Sekar naik turun dengan jelas.
Kulitnya mulai memerah kembali. Hangat kehidupan sudah kembali.
"Lain kali kalau tidur jangan seperti orang mati," gerutu Bu Sasmi, menyembunyikan rasa takutnya sendiri.
"Bikin jantungan orang tua saja."
Wanita itu mematikan senter ponselnya dan kembali ke dipannya dengan langkah menghentak kesal.
"Tidur lagi. Besok jam 4 pagi sudah harus bangun. Kita belajar jalan pakai kain jarik," perintah Bu Sasmi dari kegelapan.
Sekar berbaring kembali.
Dia menarik selimut sampai ke dagu.
Di balik selimut, tangannya mengepal erat hingga kuku menancap ke telapak tangan.
Itu tadi terlalu dekat.
Sekar menyadari kesalahan kalkulasinya.
Ruang Spasial memang memberinya keuntungan waktu dan sumber daya.
Tapi mekanisme masuk-keluarnya memiliki lagging fisik yang berbahaya jika ada pengamat.
Dia tidak bisa terus-menerus "mati suri" di malam hari. Bu Sasmi bukan orang bodoh. Sekali dua kali mungkin dianggap kelelahan.
Tapi jika setiap malam dia terlihat seperti mayat?
Wanita tua itu pasti akan melapor ke Dhaning bahwa Sekar mempraktikkan ilmu hitam atau punya penyakit mematikan.
Keduanya sama-sama berbahaya.
Sekar menatap langit-langit kamar yang gelap.
Dia butuh privasi mutlak.
Dia butuh pintu kamar yang terkunci dari dalam, di mana tidak ada satu orang pun, bahkan Bu Sasmi, yang boleh masuk.
Tapi bagaimana caranya mengusir "anjing penjaga" resmi yang ditugaskan oleh Putri Raja?
Sekar tersenyum tipis dalam kegelapan. Dingin.
Jika sains adalah pedangnya, maka medis adalah perisainya.
Dia butuh penyakit.
Bukan penyakit sembarangan, tapi penyakit orang kaya. Penyakit modern yang terdengar rumit, membutuhkan ketenangan total, dan sulit dibuktikan secara fisik oleh orang awam.
Insomnia Kronis dengan Hipersensitivitas Sensorik.
"Bu Sasmi," batin Sekar, matanya berkilat tajam.
"Besok, Njenengan akan memohon untuk tidur di luar."
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄