"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."
Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.
Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wawancara yang Mengguncang Publik
Nicholas tahu bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menuangkan bensin ke dalam api. Dengan bibir yang masih sedikit bengkak dan luka kecil yang tampak jelas, ia menerima undangan wawancara eksklusif di acara talkshow paling bergengsi, "The Late Night Paris".
Valerie awalnya mendukung wawancara ini, mengira Nicholas akan mengklarifikasi bahwa itu hanyalah teknik akting profesional demi menenangkan para pemegang saham. Namun, Nicholas punya rencana lain.
Di bawah lampu studio yang terang, pembawa acara mulai memutar potongan adegan "ciuman berdarah" tersebut di layar besar. Penonton di studio bersorak riuh.
Host: "Nicholas, jujur saja. Seluruh dunia membicarakan adegan ini. Kita melihat darah, kita melihat... yah, intensitas yang tidak biasa. Apakah itu benar-benar hanya tuntutan naskah?"
Nicholas menyandarkan tubuhnya, memberikan senyum tipis yang tampak misterius sekaligus berbahaya. Ia menyentuh sudut bibirnya yang terluka dengan ibu jarinya.
Nicholas: "Naskahnya hanya menuliskan 'ciuman penuh keputusasaan'. Tapi di lokasi syuting, saat aku menatap mata Serena, segalanya berubah. Ada gairah yang tidak bisa dikendalikan. Saat dia menggigitku... aku tidak merasa marah. Aku justru merasa hidup. Rasa perih itu membuatku ingin menciumnya lebih dalam, mencari sesuatu yang nyata di tengah semua kepalsuan ini."
Studio mendadak hening sebelum pecah oleh suara tepuk tangan. Kalimat "mencari sesuatu yang nyata di tengah kepalsuan" adalah tamparan keras bagi hubungannya dengan Valerie.
Host: "Apakah Anda mengatakan bahwa ada perasaan nyata di sana?"
Nicholas: "Sebagai aktor, kita seringkali harus membohongi diri sendiri. Tapi dalam adegan itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak sedang berakting. Aku membiarkan instingku mengambil alih. Serena adalah lawan main yang... sangat provokatif. Dia tahu persis bagaimana cara memancing emosi terdalamku."
Valerie yang menonton dari belakang panggung bersama ayahnya, Tuan Han, hampir pingsan karena malu dan marah. Nicholas secara tidak langsung mengakui bahwa ciumannya dengan Valerie selama ini adalah kepalsuan.
"Dia sudah gila!" teriak Tuan Han. "Dia sedang menghancurkan citra pertunangan ini!"
Namun, di sisi lain, saham perusahaan produksi film tersebut justru meroket karena rasa penasaran publik terhadap drama "Cold Ashes" mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
Inilah yang diinginkan Nicholas, Membuat proyek ini sangat sukses sehingga dia memiliki nilai tawar yang tak tergoyahkan.
Malam itu, Serena menonton wawancara tersebut dari apartemennya. Ia merasa jantungnya berdebar kencang. Nicholas sangat berani. Ia terang-terangan menantang keluarga Han di depan jutaan pasang mata.
Tiba-tiba, pintu apartemennya diketuk. Bukan dengan ketukan sopan, melainkan gedoran kasar. Saat Serena membukanya, Nicholas berdiri di sana dengan napas memburu. Ia masih mengenakan setelan jas dari acara talkshow tadi.
"Kau gila, Nick," bisik Serena saat Nicholas menerobos masuk dan mengunci pintu. "Kau baru saja memproklamirkan perang di televisi nasional."
"Aku lelah bersembunyi, Serena," Nicholas menarik Serena ke dalam pelukannya, menempelkan keningnya ke kening wanita itu. Bibirnya yang terluka hampir menyentuh bibir Serena.
"Tiga bulan itu terlalu lama. Aku ingin dunia tahu bahwa satu-satunya alasan aku bisa mencium sehebat itu adalah karena wanita yang kucium adalah kau. Bukan Valerie, bukan siapapun."
Nicholas mencium Serena lagi, kali ini tanpa kamera, tanpa naskah, dan tanpa darah. Hanya rasa cinta yang murni dan kerinduan yang membara. "Biarkan mereka menyerangku. Aku sudah siap dengan Aegis Core. Dalam 24 jam ke depan, keluarga Han akan menerima surat kejutan dari pengacaraku."
.
.
Drama ini telah mencapai titik didih. Pernyataan Nicholas di televisi nasional bukan hanya pengakuan cinta, melainkan deklarasi perang terbuka. Keluarga Han, yang merasa dipermalukan di depan seluruh dunia, tidak tinggal diam. Mereka memilih cara paling kotor untuk menjatuhkan sang aktor: menghancurkan reputasinya dan mencekik sumber keuangannya.
Valerie yang terluka dan terhina memutuskan untuk membakar segalanya. Jika dia tidak bisa memiliki Nicholas, maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya.
Pagi hari setelah wawancara itu, sebuah situs gosip internasional merilis artikel berjudul "Sisi Gelap Sang Dewa: Foto-Foto Liar Nicholas Feng Sebelum Mengenal Serena."
Di dalamnya terdapat foto-foto Nicholas dari masa remajanya di London, saat ia sedang dalam fase pemberontakan akibat tekanan ayahnya. Foto-foto itu menunjukkan Nicholas di kelab malam, dikelilingi oleh wanita-wanita dengan pakaian minim, botol-botol minuman keras yang mahal, dan bahkan sebuah video pendek di mana Nicholas tampak sedang berkelahi di sebuah kasino bawah tanah.
Media mulai membingkai narasi baru: Nicholas Feng bukanlah pria setia yang sedang mengejar cinta sejatinya, melainkan seorang playboy bermasalah yang hanya menggunakan Serena untuk menutupi masa lalunya yang kelam.
"Lihat ini, Nick!" Serena membanting tabletnya ke meja saat mereka sedang berada di tempat persembunyian.
"Valerie benar-benar ingin membunuh kariermu!"
Nicholas hanya melirik foto-foto itu dengan tenang. "Itu foto tujuh tahun lalu, saat aku mencoba melupakanmu dengan cara yang paling bodoh. Biarkan mereka memanfaatkannya. Reputasi sebagai bad boy tidak akan menghancurkanku, itu justru membuat karakterku di drama semakin laku."
Namun, serangan sebenarnya datang dari ayah Valerie, Tuan Han. Ia tidak peduli pada foto-foto remaja, ia peduli pada uang. Menggunakan pengaruhnya sebagai pemegang saham pengendali, Tuan Han memerintahkan bank-bank rekanannya untuk membekukan semua aset pribadi Nicholas Feng.
"Pemberitahuan resmi sudah keluar," lapor Iris, asisten Serena yang kini ikut membantu mereka. "Semua kartu kreditmu diblokir, rekening bank pribadimu di Prancis dibekukan atas tuduhan pemeriksaan pencucian uang. Mereka mencoba membuatmu tidak berdaya, Nick. Tanpa uang, kau tidak bisa membayar pengacara atau tim humas."
Tuan Han menelepon Nicholas beberapa jam kemudian.
"Kau pikir kau bisa menang hanya dengan modal lidah di TV, Nak? Kau tidak punya apa-apa sekarang. Kembalilah bersujud pada Valerie, atau aku akan memastikan kau tidur di jalanan Paris besok pagi."
Nicholas hanya tersenyum tipis di depan ponselnya.
"Tuan Han, Anda lupa satu hal. Seorang aktor yang baik selalu tahu kapan harus memindahkan hartanya ke panggung yang berbeda."
Tuan Han tidak menyadari bahwa semua rekening yang dia bekukan hanyalah umpan. Sejak tiga bulan lalu, Nicholas sudah mengalihkan seluruh likuiditasnya ke dalam Aegis Core, perusahaan teknologi miliknya yang terdaftar di zona ekonomi khusus yang tidak bisa disentuh oleh otoritas Prancis.
Malam itu, saat saham keluarga Han mulai merosot karena skandal foto Nicholas yang membuat publik ragu akan stabilitas pertunangan mereka, Nicholas memberikan perintah final kepada timnya di London.
"Eksekusi perintah jual massal pada saham Han Group," perintah Nicholas melalui telepon satelit.
"Dan di saat yang sama, luncurkan penawaran akuisisi paksa (hostile takeover) terhadap perusahaan produksi film kita."
Keesokan harinya adalah hari terakhir syuting "Cold Ashes". Lokasi syuting dijaga ketat oleh keamanan karena wartawan mengepung tempat itu. Valerie datang dengan wajah penuh kemenangan, mengira Nicholas sudah hancur karena asetnya dibekukan.
"Masih ingin mencium Serena dengan mulut yang tidak punya uang sepeser pun, Nick?" ejek Valerie di depan kru.
Serena melangkah maju, berdiri di samping Nicholas, memegang lengan pria itu dengan bangga. "Dia tidak butuh uangnya sendiri, Valerie. Dia punya aku. Dan dia punya sesuatu yang tidak pernah kau miliki, otak."
Tiba-tiba, asisten Tuan Han berlari masuk ke lokasi syuting dengan wajah pucat pasi. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Valerie. Wajah Valerie yang tadinya penuh kemenangan berubah menjadi putih seperti kertas.
"Apa?! Tidak mungkin!" teriak Valerie.
"Ada masalah, Valerie?" tanya Nicholas sambil merapikan jasnya. "Oh, apakah itu berita bahwa Han Group baru saja kehilangan 40% nilai pasarnya dalam satu jam? Atau berita bahwa Aegis Core, perusahaanku—baru saja membeli seluruh hutang keluargamu dari bank?"
Nicholas melangkah satu langkah lebih dekat, menatap Valerie dengan mata yang sangat dingin. "Sekarang, akulah yang memegang leher ayahmu. Tiga bulan belum berakhir, tapi aku sudah memutuskan untuk menyelesaikannya lebih cepat."
Sutradara berteriak, "Adegan terakhir! Nicholas, Serena, ambil posisi!"
Di hadapan Valerie yang hancur dan seluruh kru yang terpaku, Nicholas dan Serena berdiri di tengah set. Mereka tidak lagi sedang berakting.
"Kau melakukannya, Nick," bisik Serena.
"Kita melakukannya," jawab Nicholas. Ia menarik Serena dan menciumnya, ciuman yang lembut, penuh kemenangan, dan disaksikan oleh seluruh kru. Kali ini tidak ada darah, tidak ada lidah yang liar, hanya ketenangan dua jiwa yang akhirnya bebas.
Kamera merekam momen itu. Di monitor, sutradara bergumam, "Ini bukan lagi sebuah film. Ini adalah sejarah."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍😍😍