NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 GETARAN YANG MENYEBAR

Aula Latihan Timur tidak segera dilupakan.

Kabar tentang pemuda yang membuat platform penyerap frustrasi menyebar tidak seperti api—melainkan seperti air yang merembes, diam-diam, ke celah-celah istana yang tidak terlihat. Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada laporan tertulis. Namun di setiap sudut latihan, di setiap meja teh para pejabat, nama Chen Long disebut dengan nada yang berbeda.

Chen Long sendiri tidak mendengarnya.

Atau lebih tepatnya, ia memilih untuk tidak mendengar.

Pagi setelah ujian, ia kembali ke halaman belakang penginapan dengan batu besar yang sama namun sebuah batu dari dasar sungai yang tidak stabil, tidak rata, tidak sempurna. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia berdiri di atasnya.

Sebelumnya, ia berdiri untuk menahan.

Kini, ia berdiri untuk… merasakan.

Dua arus di tubuhnya berputar tidak lagi hanya di dalam melainkan merembes, sangat halus, ke permukaan kulitnya. Bukan keluar, tidak sepenuhnya. Melainkan… bergetar. Seolah setiap pori-pori menjadi saluran kecil yang bisa membaca dunia di sekelilingnya.

Ia menutup mata.

Angin pagi bertiup pelan dari arah barat—ia merasakannya tidak hanya di kulit, melainkan di dalam, sebagai bagian dari putaran Yin yang dingin. Matahari di atasnya memberi hangat—bukan hanya di bahu, melainkan di pusat putaran Yang yang dalam. Dan di bawah kakinya, batu yang tidak stabil bergetar dengan frekuensi yang unik tidak beraturan, namun penuh dengan… informasi.

Chen Long menggerakkan kaki kanannya sedikit, menggeser pusat berat.

Batu bergeser di bawahnya, miring ke kiri.

Secara naluri, tubuhnya ingin menahan, ingin melawan, ingin menegakkan kembali. Namun ia menahan dorongan itu bukan menahan tubuh, melainkan menahan… kebiasaan.

Ia membiarkan batu miring.

Dan tubuhnya mengikuti.

Bukan jatuh.

Melainkan… berputar.

Satu putaran penuh, lengan terentang, batu di bawah kakinya kini menghadap arah berbeda, namun ia tetap berdiri. Dua arus di dalamnya berputar lebih kencang sejenak Yin menurun ke kaki yang lebih rendah, Yang naik ke tangan yang terentang lalu kembali seimbang.

Ia membuka mata.

Dunia terlihat… miring.

Bukan karena ia pusing.

Melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa "tegak" bukan satu-satunya cara untuk berdiri. Bahwa keseimbangan bisa ditemukan dalam gerakan, dalam putaran, dalam ketidakpastian yang terus berubah.

Sore hari, sesuatu yang tidak diundang datang.

Bukan pejabat.

Bukan penguji.

Melainkan… seorang anak.

Anak itu berdiri di ambang gerbang penginapan, mengenakan pakaian sederhana yang terlalu besar untuk tubuh kurusnya. Usianya sekitar sepuluh tahun dan lebih muda dari Chen Long ketika ia pertama kali membunuh iblis di zona abu-abu.

"Pangeran Utara," kata anak itu, suaranya tidak gemetar namun ada ketegangan yang disembunyikan dengan buruk. "Saya… saya ingin belajar."

Chen Long menurunkan beban latihan batu kecil yang ia gunakan untuk menyeimbangkan di bahu. "Belajar apa?"

"Berdiri," jawab anak itu, menatap batu besar di tengah halaman dengan mata yang berbinar. "Seperti yang kau lakukan. Di atas batu yang tidak stabil. Tanpa… tanpa Qi."

Chen Long mengamati anak itu lama.

Bukan karena ia ragu.

Melainkan karena ia merasakan sesuatu—getaran yang aneh, sangat halus, dari arah anak itu. Bukan aura kuat. Bukan bakat tersembunyi. Melainkan… kekosongan yang sama. Seolah anak ini juga memiliki sesuatu di dalamnya yang tidak bisa mengalir seperti orang lain.

"Kau belum membuka nadi," kata Chen Long. Bukan pertanyaan.

Anak itu menunduk. "Tidak bisa. Tiga kali mencoba. Tiga kali… gagal."

Chen Long mengangguk. Ia mengenal rasanya. Kegagalan yang bukan karena lemah, melainkan karena… sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak cocok dengan cara biasa.

"Namamu?"

"Xiao Feng. Anak… anak penjaga gudang arsip."

Chen Long mengenali nama itu. Bukan karena terkenal, melainkan karena arsip tempat di mana ia membuat "kesalahan" yang memicu penyelidikan. Anak ini mungkin melihatnya. Mungkin mendengar sesuatu. Atau mungkin… hanya merasakan getaran yang sama.

"Naik," kata Chen Long, menunjuk batu besar di tengah halaman.

Xiao Feng melangkah dengan hati-hati. Ia melepas sandalnya terlihat kaki kecilnya pucat, belum pernah berlatih keras. Ia naik ke batu besar dengan susah payah, berdiri dengan dua kaki, lengan terentang ke samping.

"Berpindah ke satu kaki," perintah Chen Long.

Xiao Feng mencoba. Batu bergeser. Ia terhuyung, melambai, lalu jatuh tetapi bukan ke tanah, melainkan ke tangan Chen Long yang sudah menunggu di samping.

" lagi."

Xiao Feng naik kembali. Jatuh lagi. Naik. Jatuh. Lima kali. Sepuluh kali. Kakinya memar. Tangannya lecet. Namun ia tidak menangis. Tidak mengeluh. Hanya… naik kembali.

Chen Long melihat sesuatu yang familiar sebuah tekad yang sama yang ia miliki di Benteng Utara, ketika ayahnya mengikatnya dengan rantai besi dan memintanya bertahan.

"Berhenti," kata Chen Long akhirnya.

Xiao Feng berdiri di tanah, napas terengah, kaki gemetar. Namun matanya… masih ingin.

"Bukan karena kau lelah," lanjut Chen Long. "Tapi karena kau belum siap untuk latihan ini."

Ia berlutut, menatap mata anak itu setara. "Kau punya sesuatu di dalammu. Sesuatu yang tidak bisa dibuka dengan cara biasa. Aku juga punya. Tapi cara kau menanganinya… akan berbeda dari caraku."

Xiao Feng menelan ludah. "Bagaimana… bagaimana cara menemukannya?"

Chen Long berdiri, mengambil batu giok hitam dari saku. Ia menatapnya sejenak batu yang Sunxin berikan, kunci yang membuka resonansi Yin di dalamnya.

"Dengan merasa," jawabnya. "Bukan dengan memaksa. Setiap hari, berdiri di batu ini. Tidak untuk bertahan. Tidak untuk menahan. Hanya untuk… merasa bagaimana batu ini bergerak di bawah kakimu. Bagaimana tubuhmu ingin menahan. Bagaimana… kau bisa membiarkannya."

Ia meletakkan batu giok hitam di tangan Xiao Feng dan anak itu mengerjap, merasakan dingin yang tidak menusuk, melainkan… menenangkan.

"Jika suatu hari kau merasa sesuatu berputar di dalammu," lanjut Chen Long, "jangan takut. Jangan pikir. Biarkan berputar. Itu… awalnya."

Xiao Feng menatap batu giok itu, lalu menatap Chen Long dengan mata yang berbeda. Bukan lagi kekaguman buta. Melainkan… pengakuan. Bahwa orang di depannya bukan guru yang sempurna, melainkan seseorang yang juga sedang mencari, juga sedang merasakan, juga sedang… belajar.

Malam itu, Chen Long duduk di atap penginapan.

Bukan untuk berlatih.

Melainkan untuk… mengamati.

Dari ketinggian ini, ia bisa melihat pola istana yang tidak terlihat dari bawah. Cahaya lentera di jendela-jendela. Bayangan yang bergerak di koridor. Getaran Qi yang berbeda-beda beberapa terlihat stabil seperti danau, beberapa bergolak seperti sungai deras.

Dan di tengah semua itu, ada satu titik yang… kosong.

Bukan gelap.

Melainkan tidak terbaca.

Chen Long menyipitkan mata. Ia mengenali pola itu juga sama seperti dirinya, seperti Xiao Feng. Seseorang yang memiliki sesuatu yang tidak bisa dideteksi oleh cara biasa.

Ia melompat turun dari atap bukan dengan teknik melayang, melainkan dengan… jatuh yang terkontrol. Dua arus di tubuhnya berputar berlawanan, Yin menurun ke kaki untuk mendarat lembut, Yang naik ke tangan untuk menyeimbangkan. Ia mendarat di tanah tanpa suara, seolah berat tubuhnya bisa ditempatkan di mana pun ia mau.

Ia berjalan menuju titik kosong itu sebuah taman kecil di antara dua bangunan istana, tempat yang seharusnya tidak istimewa.

Namun di sana, di bawah pohon willow yang rantingnya menjuntai, seseorang duduk bersila.

Seorang wanita tua.

Bukan pejabat.

Bukan kultivator yang ia kenal.

Namun auranya… tidak ada.

Bukan lemah.

Melainkan… terlalu penuh, seolah seluruh kehadirannya telah menyatu dengan lingkungan, menjadi bagian dari getaran alami pohon, angin, dan tanah.

Chen Long berhenti tiga langkah darinya.

Wanita tua itu membuka mata tidak tajam, tidak menyilaukan. Melainkan… tenang, seolah telah melihat segalanya dan tidak lagi terkejut dengan apa pun.

"Kau merasakannya," kata wanita itu. Bukan pertanyaan.

"Getaran yang tidak cocok," jawab Chen Long.

Wanita tua itu tersenyum dengan senyum yang membuat kerut di wajahnya menjadi pola yang indah, seolah setiap garis adalah jejak dari tahun-tahun berlatih.

"Anak-anak yang belum membuka nadi," katanya, "sering kali lebih peka terhadap getaran. Karena mereka tidak memiliki… dinding."

Ia menunjuk tempat di depannya. "Duduk."

Chen Long duduk bersila, menghadap wanita itu. Dua arus di tubuhnya berputar tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Hanya… waspada.

"Kau punya dua arus," kata wanita itu, menatap dada Chen Long seolah bisa melihat ke dalam. "Yin dan Yang. Berputar. Tidak bertemu. Itu… berbahaya."

Chen Long mengangguk. "Aku tahu."

"Tapi juga… berharga."

Wanita itu mengangkat tangan kanannya. Di telapak tangannya, sesuatu muncul—bukan cahaya, bukan api. Melainkan… getaran. Seolah udara di sekitar telapak tangannya berputar, sangat cepat, sangat kecil, menjadi pusaran yang tidak terlihat namun bisa dirasakan.

"Ini yang kumiliki," katanya. "Satu arus. Yang. Murni. Aku membuka nadi di usia dua belas tahun. Sejak itu, aku tidak pernah merasakan… kekosongan yang kau rasakan."

Ia menatap Chen Long dengan mata yang… iri?

"Kekosongan itu," lanjutnya, "adalah ruang untuk sesuatu yang lebih besar. Jika kau bisa menahannya. Jika kau tidak membiarkannya hancur sebelum waktunya."

Chen Long mengepalkan tangan di pangkuannya. "Berapa lama? Berapa lama aku harus menahan?"

Wanita tua itu tertawa kecil suara yang tidak keras, namun membuat daun willow di atas mereka bergoyang. "Itu pertanyaan yang salah," katanya. "Bukan berapa lama. Melainkan… sampai kau tidak lagi perlu bertanya."

Ia berdiri, mengelap pakaiannya yang sederhana. "Aku datang bukan untuk mengajari," katanya, berjalan melewati Chen Long. "Aku datang untuk melihat. Untuk mengonfirmasi apa yang kudengar dari cucuku."

Chen Long menoleh. "Cucumu?"

"Xiao Feng," jawab wanita itu, tersenyum ke belakang bahunya. "Anak yang kau beri batu giok hitam. Batu itu… milikku dulu. Aku berikan kepada Sunxin, untuk diberikan kepada seseorang yang… cocok."

Ia melangkah pergi, menghilang ke bayangan koridor istana bukan dengan teknik penyembunyian, melainkan dengan… menyatu, seolah ia tidak pernah ada.

Chen Long berdiri di taman willow, sendirian.

Batu giok hitam di saku kanannya berdenyut sekali sinkron dengan detak jantungnya, dengan putaran dua arus di dalamnya, dengan getaran pohon willow di atasnya.

Semuanya terhubung.

Bukan dengan tali yang terlihat.

Melainkan dengan… resonansi.

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Benteng Utara, Chen Long merasa… tidak sendirian dalam perjalanannya.

Bukan karena ada guru yang mengajari.

Melainkan karena ada orang lain beberapa orang lain yang juga berjalan di jalan yang tidak punya nama.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!