NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENATA HATI DIBAWAH LANGIT YANG SAMA

Siang itu, Bandung sedang gerimis tipis saat Kanaya dan Maya baru saja keluar dari sebuah toko buku. Kanaya yang kini sudah berseragam SMP melangkah di samping ibunya, membawa tas berisi buku latihan soal yang baru saja dibeli. Namun, langkah mereka mendadak terhenti di dekat trotoar menuju pangkalan angkot. Di seberang jalan, di depan sebuah toko perlengkapan bayi, Kanaya melihat sosok pria yang sangat ia kenal—sosok yang selama bertahun-tahun hanya muncul dalam mimpinya.

Itu Bagas. Ayahnya terlihat jauh lebih tua, namun raut wajahnya tampak sangat bahagia. Ia sedang menggendong seorang bayi perempuan yang cantik, sementara di sampingnya, istrinya sedang merapikan selimut bayi tersebut. Mereka tertawa kecil sambil menunjuk ke arah etalase toko. Pemandangan itu begitu hangat, begitu utuh, dan begitu menyakitkan. Kanaya membeku. Jantungnya berdegup kencang, dan untuk sesaat, ia merasa seperti anak kecil kelas 3 SD lagi yang ingin berlari dan berteriak memanggil ayahnya.

Maya yang menyadari perubahan sikap Kanaya segera mengikuti arah pandangan putrinya. Wajah Maya memucat, tangannya gemetar saat melihat Bagas yang begitu dekat namun terasa jutaan kilometer jauhnya. Ia bisa merasakan kesedihan yang menjalar dari tubuh Kanaya. Tanpa membuang waktu, sebelum Bagas menoleh dan melihat mereka, Maya segera merangkul pundak Kanaya dengan erat.

"Naya... lewat sini, Nak. Kita lewat gang samping saja, ya? Sepertinya di depan sana jalannya sedang diperbaiki, macet," ucap Maya dengan suara yang dipaksakan tenang, meskipun matanya berkaca-kaca. Ia mencoba mengalihkan perhatian Kanaya agar putrinya tidak perlu melihat lebih lama betapa bahagianya "kehidupan baru" sang ayah yang telah melupakan mereka.

Kanaya tidak membantah. Ia membiarkan ibunya menuntun langkahnya berbelok masuk ke sebuah gang sempit yang becek, menjauh dari pemandangan yang menghancurkan hatinya itu. Ia menundukkan kepala, menatap ujung sepatunya yang terkena percikan air hujan. Ia tahu ibunya sedang berbohong; ia tahu jalan di depan tidak sedang diperbaiki. Ibu Maya hanya ingin melindunginya dari rasa sakit yang tak tertahankan.

"Ibu..." bisik Kanaya saat mereka sudah berada di dalam angkot yang sunyi.

Maya menoleh, mencoba tersenyum meskipun hatinya hancur. "Iya, Sayang? Ada apa? Naya lapar?"

Kanaya menggeleng perlahan. Ia menatap ke luar jendela, melihat rintik hujan yang semakin deras membasahi kaca. "Enggak, Bu. Naya cuma mau bilang... besok Naya mau fokus belajar buat ujian nasional saja. Naya ingin masuk SMA favorit supaya Mbah Akung bangga."

Maya hanya bisa mengangguk pelan sambil menggenggam tangan Kanaya erat-erat di bawah kursi. Ia tahu, di balik kalimat "fokus belajar" itu, Kanaya sedang mencoba mengubur dalam-dalam rasa perihnya. Kanaya telah memilih untuk tidak lagi mengharapkan sosok yang sudah punya dunianya sendiri. Di usia SMP itu, Kanaya membuktikan bahwa ia bukan hanya cerdas dalam pelajaran, tapi juga sangat cerdas dalam memahami bahwa ada luka yang tidak perlu diperlebar dengan sapaan. Ia lebih memilih berjalan di samping ibunya, melewati jalan yang jauh lebih sempit dan sulit, asalkan mereka tetap bersama dalam kejujuran yang pahit daripada kepalsuan yang manis.

Suasana Lebaran tahun itu terasa sangat berbeda di rumah Mbah Akung. Setelah bertahun-tahun pintu seolah tertutup rapat, akhirnya atas desakan nurani dan keinginan untuk membersihkan hati di hari suci, Maya dan Mbah Akung memutuskan untuk mengizinkan Bagas datang. Pagi itu, sebuah mobil berhenti di depan pagar. Jantung Kanaya berdegup kencang saat melihat ayahnya turun, namun kali ini ia tidak sendiri. Bagas melangkah masuk bersama istrinya, dan di gendongan wanita itu, ada seorang balita perempuan yang lucu, mengenakan baju Lebaran yang senada dengan mereka.

Mbah Akung duduk di kursi kebesarannya di ruang tamu, wajahnya datar namun matanya menyiratkan pergolakan batin yang hebat. Maya berdiri di ambang pintu dapur, tangannya mengepal di balik kain lap yang ia pegang. Saat Bagas melangkah masuk dan langsung bersimpuh di kaki Mbah Akung, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.

"Yah... Bagas minta maaf. Mohon ampun atas semua kesalahan Bagas selama ini," ucap Bagas dengan suara parau. Istrinya ikut bersimpuh di sampingnya, sementara balita itu hanya menatap bingung ke sekeliling ruangan.

Mbah Akung menghela napas panjang, tangannya yang gemetar menyentuh bahu putranya. "Sudah, Gas. Hari ini hari baik. Bapak sudah maafkan, tapi jangan diulangi lagi keegoisanmu itu. Lihat anakmu, dia sudah besar."

Kanaya keluar dari kamarnya dengan langkah yang sangat tenang. Ia kini sudah terlihat seperti remaja yang anggun. Ia mendekat, lalu menyalami ayahnya dan istri barunya dengan sopan—sebuah kesopanan yang terasa berjarak, namun sangat dewasa. Saat matanya bertemu dengan adik perempuannya yang sedang merangkak di karpet, ada getaran aneh di hatinya.

"Naya... ini adikmu, namanya Syifa," ucap Bagas dengan nada ragu, mencoba membangun jembatan yang sudah lama runtuh. "Syifa, ini Kakak Naya. Ayo salim sama Kakak."

Kanaya berjongkok, menatap wajah polos adik tiri yang dulu hanya ia lihat dari kejauhan. "Halo, Syifa," bisik Kanaya sambil menyentuh tangan mungil itu. Tidak ada kebencian di matanya, hanya ada ketenangan yang membuat Bagas merasa semakin bersalah.

Istri Bagas mencoba mencairkan suasana dengan menyodorkan sebuah kotak kado. "Naya, ini ada sedikit hadiah dari Tante dan Ayah buat Naya karena sudah mau naik kelas 3 SMP. Semoga Naya suka ya?"

Maya yang memperhatikan dari kejauhan akhirnya mendekat, mencoba bersikap lapang dada demi kebahagiaan di hari Lebaran. "Terima kasih, silakan diminum tehnya. Naya, ajak adiknya main sebentar di teras biar Ayahmu bisa ngobrol sama Mbah."

Di teras rumah, sambil mengawasi Syifa yang asyik bermain dengan boneka lumba-lumba lama miliknya, Kanaya duduk terdiam. Ia melihat ayahnya sesekali melirik ke arahnya dari balik jendela ruang tamu, wajah ayahnya tampak penuh penyesalan. Namun bagi Kanaya, kunjungan ini bukan tentang kembalinya seorang ayah, melainkan tentang penutupan sebuah bab lama yang penuh luka. Ia menyadari bahwa ia bisa menerima kehadiran adik barunya tanpa harus membenci, namun ia juga sadar bahwa "rumah" sesungguhnya baginya tetaplah hanya berisi dirinya, Ibu Maya, dan Mbah Akung. Ia telah belajar memaafkan, namun ia juga belajar bahwa ada beberapa ikatan yang meski tersambung kembali, tidak akan pernah bisa terasa sama seperti dulu.

Di tengah keriuhan ruang tamu yang dipenuhi suara tawa canggung dan celoteh kecil Syifa, Kanaya merasa seperti sedang berjalan di atas seutas tali yang sangat tipis. Di satu sisi, ada ayahnya yang terus menatapnya dengan pandangan penuh harap—seolah ingin menebus waktu yang hilang hanya dalam satu pertemuan. Di sisi lain, ia sangat sadar bahwa Ibu Maya sedang memperhatikannya dari balik pintu dapur dengan raut wajah yang berusaha tegar namun menyembunyikan luka yang mendalam. Kanaya merasa terjepit; jika ia terlalu akrab dengan ayah dan adik barunya, ia takut Ibu Maya akan merasa terlupakan dan tersakiti. Namun, jika ia bersikap terlalu dingin, ia takut akan mengecewakan Mbah Akung yang sudah berusaha membuka pintu rumah ini kembali.

"Naya, ini Ayah bawakan martabak kesukaanmu yang dulu sering kita beli, ingat kan?" tanya Bagas sambil menyodorkan piring dengan tangan yang sedikit gemetar.

Kanaya menerima piring itu dengan senyum yang terukur—tidak terlalu lebar, namun tetap sopan. "Terima kasih, Yah. Masih ingat saja," jawabnya singkat. Ia mengambil satu potong dan memakannya perlahan, bertindak sewajarnya layaknya seorang anak yang menerima pemberian tamu. Ia tidak mengejar percakapan lebih jauh tentang masa lalu, tidak juga menanyakan mengapa ayahnya baru membawakan martabak itu sekarang setelah bertahun-tahun menghilang.

Saat Syifa, adik kecilnya, tiba-tiba merangkak mendekat dan menarik-narik ujung rok sekolah yang ia kenakan, Kanaya sempat membeku. Ia melihat Ibu Maya tanpa sengaja meremas kain lap di tangannya saat melihat momen itu. Kanaya pun segera mengambil keputusan cerdas untuk menjaga perasaan ibunya; ia tidak menggendong Syifa ke pangkuannya, melainkan hanya mengelus kepala bocah itu sebentar lalu memberikan sebuah mainan agar perhatian Syifa teralih ke lantai.

"Ibu, Naya bantu ambilkan piring tambahan di dapur ya? Sepertinya kuenya kurang," ucap Kanaya sambil berdiri, sengaja menciptakan alasan untuk menjauh dari ayahnya dan mendekati Maya.

Di dapur yang sempit, saat hanya ada mereka berdua, Kanaya sengaja menyenggol bahu ibunya dengan lembut. "Ibu nggak apa-apa kan? Kalau Ibu capek, nanti biar Naya yang bereskan semua gelasnya setelah mereka pulang," bisiknya lirih.

Maya menatap putrinya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, menyadari bahwa anak gadisnya sedang berusaha melindunginya bahkan di tengah situasi yang membingungkan ini. "Ibu nggak apa-apa, Naya. Ibu cuma mau Naya nyaman. Nggak usah dipaksa kalau memang Naya nggak mau ngobrol banyak sama Ayah."

Kanaya mengangguk mantap. Hingga tamu itu berpamitan pulang, ia tetap berada dalam zona "sewajarnya". Ia menyalami ayahnya dengan hormat, mengucapkan terima kasih pada istri barunya, dan melambai kecil pada Syifa. Baginya, menjaga keseimbangan perasaan di rumah itu jauh lebih penting daripada larut dalam reuni keluarga yang terasa asing. Saat mobil ayahnya akhirnya menghilang di tikungan jalan, Kanaya menarik napas lega. Ia telah berhasil melewati hari itu tanpa membuat Mbah Akung merasa gagal dan tanpa membuat Ibu Maya merasa dikhianati.

Waktu terus berjalan tanpa permisi, mengubah Kanaya dari seorang gadis kecil yang gemar berhitung menjadi mahasiswi yang tenang dan tertutup. Kini, suasana rumah di Bandung itu terasa jauh lebih lengang dan sunyi. Dua tahun telah berlalu sejak kepergian Mbah Akung, sosok yang menjadi kompas sekaligus pelindung batinnya. Kursi kayu di teras yang biasanya ditempati sang kakek kini lebih sering kosong, hanya menyisakan kenangan tentang soal-soal matematika dan nasihat bijak yang dulu selalu mengalir di sana. Kanaya tumbuh menjadi pribadi yang sangat mandiri, namun ia tetaplah pengamat yang sunyi; ia masih tidak terbiasa membagi beban pikirannya kepada siapa pun, termasuk kepada Ibu Maya.

Di kampus, Kanaya dikenal sebagai mahasiswi yang cerdas namun irit bicara. Teman-temannya sering menganggapnya misterius, padahal bagi Kanaya, diam adalah caranya untuk tetap kuat. Ia tidak ingin membebani Maya yang kini semakin menua dan harus berjuang sendirian mengelola kebutuhan rumah tangga. Setiap kali ada masalah dalam kuliah atau rasa rindu yang menyesak kepada ayahnya yang masih saja jarang berkunjung, Kanaya lebih memilih untuk menyimpannya rapat-rapat dalam catatan kecil atau sekadar membawanya dalam doa saat ia menatap foto Mbah Akung di ruang tamu.

"Naya, kamu kok sudah rapi? Ini kan hari Sabtu, nggak ada kuliah?" tanya Maya suatu pagi sambil meletakkan sepiring nasi goreng di meja makan.

Kanaya tersenyum tipis, jenis senyum yang selalu ia gunakan untuk menenangkan hati ibunya. "Naya mau ke perpustakaan pusat, Bu. Ada riset buat tugas akhir semester yang harus cepat selesai. Mungkin Naya pulang sore, Ibu jangan nungguin makan siang ya."

Maya menatap putrinya dengan tatapan yang penuh arti, ia tahu ada banyak hal yang disembunyikan Kanaya di balik ketenangannya itu. "Kamu itu persis Mbah Akung, Naya. Apa-apa disimpan sendiri. Kalau ada apa-apa, cerita sama Ibu, ya? Jangan sampai kamu merasa sendirian di rumah ini."

Kanaya hanya mengangguk pelan sambil meraih tas ranselnya. "Naya nggak apa-apa, Bu. Naya cuma mau fokus supaya cepat lulus dan bisa bantu Ibu."

Sebenarnya, di balik rencana ke perpustakaan itu, Kanaya sering kali menyempatkan diri untuk duduk di taman kota yang sepi, tempat yang tidak ada seorang pun mengenalnya. Di sana, ia bisa melepaskan topeng "anak kuat" yang ia pakai setiap hari di depan Maya. Ia merindukan Mbah Akung sebagai satu-satunya orang yang bisa membaca pikirannya tanpa ia perlu bicara. Kepergian sang kakek dua tahun lalu meninggalkan lubang besar yang sulit ditutup. Kanaya menyadari bahwa meskipun ia sudah dewasa dan menempuh pendidikan tinggi, ia masih tetap gadis kecil yang sama—gadis yang memilih untuk menelan pahitnya kenyataan demi menjaga agar dunia Ibu Maya tetap terlihat manis dan tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!