Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Membunuh Sang Ahli Qi
Hujan semakin deras, mengubah lantai hutan menjadi rawa lumpur yang menjebak kaki. Petir menyambar di langit, menerangi wajah Kapten Tie yang terdistorsi oleh kemarahan dan sedikit ketakutan.
Di depannya, Ye Chen berdiri dengan aura yang berbeda. Bukan lagi aura budak yang lemah, melainkan aura binatang buas yang baru saja lepas dari kandang. Darah lima bawahannya masih menetes dari ujung pedang rampasan di tangannya.
"Teknik Iblis..." desis Kapten Tie, matanya menyipit menatap kabut merah yang perlahan terserap ke dalam kulit Ye Chen. "Kau bukan hanya budak pemberontak. Kau adalah Kultivator Sesat! Menyerap darah orang mati... Sekte Pedang Darah tidak akan membiarkanmu hidup!"
Ye Chen tidak menjawab. Ia tidak perlu menjelaskan bahwa Sutra Hati Asura bukanlah teknik sesat, melainkan teknik Dewa Perang kuno yang melahap energi untuk keadilan. Bagi dunia ini, apa bedanya? Pemenang adalah raja, pecundang adalah bandit.
"Mati!"
Kapten Tie tidak menunggu lagi. Ia menghentakkan kakinya.
BOOM!
Tanah di bawahnya retak. Tubuh besarnya melesat maju dengan kecepatan yang jauh melebihi pengawal sebelumnya. Ini adalah kecepatan Ranah Pemadatan Qi.
Pedang besar (Dao) di tangannya bersinar oranye terang. Qi api yang panas mendesis saat bersentuhan dengan air hujan, menciptakan uap putih.
"Cepat!" batin Ye Chen.
Ia mengangkat pedangnya untuk menangkis, namun insting Asura-nya berteriak bahaya. Jangan ditangkis!
Ye Chen membatalkan pertahanannya dan menjatuhkan diri ke samping, berguling di atas lumpur.
WUSH!
Sebuah gelombang energi berbentuk bulan sabit oranye terlepas dari ujung pedang Kapten Tie. Gelombang itu—Qi Pedang (Blade Qi)—melesat melewati tempat Ye Chen berdiri tadi dan menghantam pohon besar di belakangnya.
KRAK!
Pohon seukuran pelukan tiga orang dewasa itu terbelah dua dengan mulus, bekas potongannya hangus terbakar.
Ye Chen menelan ludah. Inilah perbedaan antara Penempaan Tubuh dan Pemadatan Qi. Penempaan Tubuh hanya mengandalkan kekuatan fisik otot dan tulang. Pemadatan Qi bisa memproyeksikan energi keluar tubuh untuk serangan jarak jauh yang mematikan. Jika Ye Chen tadi menangkis, pedang biasa di tangannya akan patah, dan tubuhnya akan terbelah.
"Kau gesit juga untuk seekor tikus," ejek Kapten Tie, memutar pedangnya. "Tapi sampai kapan kau bisa lari?"
Kapten Tie menyerang lagi. Kali ini ia tidak memberi jeda.
Tebasan Beruntun Api Liar!
Satu, dua, tiga tebasan energi meluncur.
Ye Chen dipaksa mundur. Ia melompat ke balik batu, batu itu hancur. Ia bersembunyi di balik pohon, pohon itu tumbang.
"Sial," umpat Ye Chen. Napasnya mulai berat. Meskipun ia sudah mencapai Tingkat 9 Penempaan Tubuh, ia tidak punya teknik serangan jarak jauh. Ia harus mendekat. Tapi bagaimana cara mendekati seseorang yang bisa memotongmu dari jarak sepuluh meter?
"Hahaha! Habiskan energimu, Tikus! Saat kau lelah, aku akan memotong kakimu!" tawa Kapten Tie menggema.
Ye Chen menenangkan pikirannya. Di tengah kekacauan itu, Mutiara Penelan Surga di dalam perutnya berputar pelan, memberikan ketenangan dingin yang aneh.
"Analisis..."
Ye Chen memperhatikan pola serangan Kapten Tie. Setiap kali Tie melepaskan Qi Pedang, ada jeda sepersekian detik di mana cahaya oranye di pedangnya meredup sebelum ia mengumpulkan Qi lagi.
Itu celahnya.
Ye Chen mengambil sebuah batu seukuran kepalan tangan dari tanah.
Saat Tie mengangkat pedangnya untuk serangan berikutnya, Ye Chen melempar batu itu. Bukan ke arah Tie, tapi ke arah genangan air di sebelah kiri Tie.
Plung!
Tie, yang sarafnya tegang, secara refleks melirik ke arah suara itu. Konsentrasinya pecah sesaat.
"Sekarang!"
Ye Chen meledakkan kekuatan otot kakinya. Lumpu muncrat saat ia menerjang maju bagaikan peluru. Jarak sepuluh meter dipangkas dalam satu kedipan mata.
"Kau cari mati!" raung Tie. Ia terlambat untuk melepaskan Qi Pedang, jadi ia mengayunkan pedang besarnya secara fisik untuk membelah Ye Chen secara horizontal.
Ini adalah adu kekuatan fisik. Tingkat 9 Penempaan Tubuh melawan Awal Pemadatan Qi.
CLANG!
Pedang Ye Chen beradu dengan Dao Kapten Tie.
Suara logam beradu yang memekakkan telinga terdengar. Getaran hebat merambat ke lengan Ye Chen, membuat tulang-tulangnya terasa nyeri. Pedang biasa di tangannya retak.
Kekuatan Tie jauh di atasnya. Ye Chen terdorong mundur, kakinya terseret di lumpur.
"Senjatamu sampah!" teriak Tie, menekan pedangnya lebih kuat. Dao oranye itu mulai memakan bilah pedang Ye Chen, mendekati lehernya.
Ye Chen menyeringai. Giginya yang putih berlumuran darah terlihat mengerikan.
"Siapa bilang aku mengandalkan pedang ini?"
Ye Chen melepaskan tangan kirinya dari gagang pedang. Dengan gerakan gila, ia menjulurkan tangan kirinya langsung ke arah bilah Dao yang tajam itu.
"Apa?!" Tie terkejut. Bocah ini mau memotong tangannya sendiri?
Tangan kiri Ye Chen mencengkeram punggung pedang Dao itu. Kulit telapak tangannya sobek, darah mengalir deras. Namun, Ye Chen tidak peduli. Ia mengaktifkan Mutiara Penelan Surga dengan kekuatan penuh melalui kontak fisik itu.
"TELAN!"
Vwoom!
Sebuah pusaran hisap yang mengerikan muncul dari telapak tangan Ye Chen yang terluka.
Cahaya oranye yang menyelimuti senjata Kapten Tie berkedip-kedip. Qi api yang seharusnya membakar tangan Ye Chen, malah tersedot masuk ke dalam tubuhnya seperti air yang disedot spons kering.
"Qi-ku?! Apa yang kau lakukan?!" wajah Tie berubah pucat pasi. Ia bisa merasakan energinya terkuras dengan cepat melalui senjatanya sendiri. Ia mencoba menarik pedangnya, tapi cengkeraman Ye Chen sekeras catut besi.
"Kau terlalu banyak bicara," geram Ye Chen.
Memanfaatkan kepanikan Tie, Ye Chen melepaskan pedang retaknya dengan tangan kanan. Pedang itu jatuh.
Tangan kanannya yang kini bebas mengepal. Otot-ototnya membesar, urat-urat biru menonjol. Seluruh sisa tenaga Tingkat 9 dan energi serapan dari Tie dikumpulkan di satu titik.
Tinju Penghancur Batu: Gaya Kedua – Ledakan Inti!
BUMMM!
Tinju Ye Chen menghantam ulu hati Kapten Tie tanpa ampun.
Armor kulit yang dikenakan Tie hancur berkeping-keping. Terdengar suara krak yang basah saat tulang dada Tie remuk ke dalam.
"Huaghh!"
Kapten Tie memuntahkan darah segar bercampur potongan organ dalam. Tubuh besarnya terlempar ke belakang, melepaskan pegangannya pada Dao. Ia menabrak batang pohon di belakangnya dengan begitu keras hingga pohon itu berguncang dan daun-daun berguguran.
Hening.
Hujan masih turun, membasuh darah di Dao yang kini jatuh menancap di tanah di depan Ye Chen.
Ye Chen berdiri terengah-engah. Tangan kirinya rusak parah, tulangnya terlihat. Tubuhnya gemetar karena kelelahan ekstrem dan backlash (serangan balik) akibat menyerap Qi yang tidak murni secara paksa.
Ia berjalan terseok-seok mendekati Kapten Tie.
Pria itu belum mati. Ahli Pemadatan Qi memiliki vitalitas yang ulet. Tie duduk bersandar di pohon, napasnya tersengal-sengal, darah berbuih keluar dari mulutnya. Matanya menatap Ye Chen dengan ketakutan murni.
"Si... siapa kau sebenarnya?" bisik Tie lemah. "Kau bukan... Ye Chen..."
Ye Chen menatapnya dingin. Ia mencabut Dao milik Tie dari tanah. Senjata itu berat, tapi terasa pas di tangannya.
"Aku Ye Chen," jawabnya. "Tapi Ye Chen yang kau kenal sudah mati di dalam tambang itu."
Ye Chen mengangkat pedang itu tinggi-tinggi.
"Tunggu... Tuan Muda Han... dia tidak akan... melepaskanmu..."
SLAASH!
Ye Chen mengayunkan pedang tanpa ragu. Kepala Kapten Tie menggelinding di atas akar pohon.
Akhirnya berakhir.
Ye Chen menjatuhkan pedangnya dan jatuh berlutut. Rasa sakit yang luar biasa menyerang seluruh tubuhnya. Menggunakan Mutiara Penelan Surga secara berlebihan pada musuh yang levelnya lebih tinggi memberikan beban berat pada meridiannya yang baru pulih.
"Uhuk!"
Ye Chen memuntahkan darah hitam. Itu adalah darah kotor—sisa racun dari tubuhnya sendiri yang dipaksa keluar oleh tekanan energi tadi.
Ia menatap mayat tanpa kepala Kapten Tie. Sebuah kantong sutra tergantung di pinggang mayat itu. Kantong Penyimpanan lagi. Dan kali ini, milik seorang Kapten Pasukan Hitam. Isinya pasti jauh lebih berharga daripada milik Pengawas Liu.
Dengan sisa tenaga terakhir, Ye Chen merangkak, mengambil kantong itu, dan juga mengambil Inti Binatang (Beast Core) yang mungkin dibawa oleh Tie.
"Aku tidak bisa istirahat di sini," pikir Ye Chen, matanya mulai buram. "Pasukan lain... mereka akan datang."
Ye Chen memaksakan diri berdiri menggunakan Dao sebagai tongkat. Ia tidak kembali ke jalan setapak. Ia berjalan semakin dalam ke jantung Hutan Kematian. Ke tempat di mana bahkan Pasukan Hitam pun ragu untuk masuk.
Di dalam kegelapan hutan yang pekat, sepasang mata kuning menyala di balik semak-semak, mengamati pemuda yang terluka itu dengan lapar.
Tapi Ye Chen tidak takut. Ia tersenyum tipis.
"Datanglah," bisiknya pada kegelapan. "Aku butuh lebih banyak energi untuk naik ke Pemadatan Qi."
Malam panjang di Hutan Kematian baru saja dimulai. Dan Ye Chen, sang Dewa Asura muda, siap untuk berpesta.
(Akhir Bab 5)