Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Kunci yang Lain
Kertas itu masih ada di tanganku ketika matahari benar-benar naik.
Tulisan sederhana dengan tinta hitam, tanpa hiasan, tanpa ancaman langsung—justru karena itu terasa lebih mengerikan.
“Kamu memang menutup pintu malam ini.
Tapi aku punya kunci lain.” – B
Aku membacanya berulang kali seperti orang bodoh yang berharap kalimat itu berubah kalau dilihat cukup lama. Tapi huruf-hurufnya tetap sama, tenang, percaya diri, seperti pemiliknya.
Dini berdiri di sampingku.
“Dia masuk ke kamar lo?” tanyanya dengan suara hampir marah.
Aku menggeleng.
Tidak ada jendela rusak, tidak ada jejak kaki, tidak ada bau asing. Seolah kertas itu tumbuh sendiri di atas bantal.
Ayah langsung ingin membuangnya, tapi Arga menahan.
“Jangan. Benda begini biasanya jembatan. Kita perlu tahu dari mana dia masuk.”
Pak Karso yang baru hendak pamit kembali dipanggil. Beliau memeriksa kertas itu lama, menyentuh sudutnya dengan ujung jari seperti membaca huruf tak terlihat.
“Ini bukan ancaman kosong,” katanya pelan. “Dia sedang memindahkan medan perang ke tempat lain.”
“Ke mana?” tanyaku.
Beliau menatapku.
“Ke hidupmu yang biasa.”
⸻
Seharian setelah malam penolakan itu aku merasa seperti orang yang baru lolos dari kecelakaan—masih hidup, tapi dunia di sekeliling terasa berbeda.
Tetangga datang silih berganti menanyakan listrik yang padam semalam. Tidak ada yang menyebut suara beduk palsu, tidak ada yang bertanya soal rumah kosong. Bagi mereka, malam itu hanya gangguan teknis.
Hanya kami yang tahu betapa tipis batas antara hidup normal dan jurang gelap.
Aku mencoba beraktivitas seperti biasa: menyapu halaman, membantu Ayah di warung kecil depan rumah, bahkan membuka buku pelajaran yang sudah lama tidak kusentuh.
Tapi pikiranku terus kembali pada satu pertanyaan:
kunci lain itu apa?
⸻
Jawaban pertama datang lebih cepat dari dugaanku.
Sore itu aku memutuskan masuk sekolah lagi setelah beberapa hari izin. Dini menjemputku di rumah, memaksaku pakai seragam rapi seolah kami hendak melawan dunia dengan cara paling normal.
Di gerbang sekolah, suasana terasa biasa—anak-anak bercanda, satpam merokok, bel masuk berdentang.
Namun begitu namaku dipanggil oleh wali kelas saat absen, sesuatu menusuk dadaku.
“Raisa?”
Suaranya bukan suara Bu Tini yang kukenal. Nadanya lebih dalam, seperti berlapis dua.
Aku hampir menjawab sebelum sadar.
Laras, ucapku dalam hati.
Bu Tini menatapku heran.
“Kamu sakit, Sa? Mukamu pucat.”
Aku menggeleng cepat.
Sejak detik itu, hari di sekolah berubah jadi medan ranjau.
Beberapa kali guru memanggil namaku dan suaranya terdengar salah. Teman sebangku memanggilku dari belakang dan langkahnya terasa bukan miliknya. Bahkan speaker sekolah sempat berdengung membentuk satu kata samar:
Rai… sa…
Dini memperhatikan semua itu dengan cemas.
“Dia masuk lewat orang-orang ya?” bisiknya.
Aku hanya bisa mengangguk.
Inilah maksud Pak Karso: medan perang dipindahkan ke hidup biasa.
⸻
Malamnya aku bercerita pada Arga.
“Dia nggak lagi datang sebagai makhluk,” kataku. “Tapi lewat mulut manusia.”
Arga mengangguk.
“Bima pintar. Kalau kamu takut pada hantu, dia kirim manusia. Kalau kamu kuat menutup pintu, dia cari jendela.”
Ayah mengepalkan tangan.
“Kita harus temui dia lagi.”
Tapi Pak Karso melarang.
“Jangan mengejar ular ke lubangnya. Kita harus cari kunci yang lain sebelum dia memakainya.”
“Kunci lain itu apa, Pak?” tanyaku hampir putus asa.
Beliau terdiam lama sebelum menjawab:
“Hubungan darah.”
Kalimat itu membuat ruangan seketika sunyi.
⸻
Menurut Pak Karso, jalur yang mengikatku tidak hanya lewat nama, tapi juga garis keluarga. Bima mungkin mencari orang yang punya ikatan darah denganku untuk membuka pintu dari sisi lain.
Ayah langsung pucat.
“Saudara kita tidak banyak,” katanya pelan. “Hanya Bu Mira dan beberapa sepupu jauh.”
Nama Bu Mira membuatku merinding.
Bukan karena curiga padanya, tapi karena kemungkinan Bima mendekatinya tanpa kami tahu.
Arga memutuskan kami harus memperingatkan semua kerabat.
“Dia bisa pakai siapa saja yang dekat dengan Raisa—bahkan tanpa mereka sadar.”
⸻
Dua hari berikutnya kami sibuk mendatangi rumah-rumah saudara.
Sebagian menertawakan, sebagian mendengarkan dengan wajah takut, sebagian lagi memilih tidak percaya. Bagi mereka, cerita jalur dan simpul hanyalah dongeng kampung yang dihidupkan anak-anak muda.
Hanya Bu Mira yang menanggapi serius.
“Bima pernah datang ke rumahku minggu lalu,” katanya pelan. “Dia tanya banyak tentang masa kecilmu.”
Aku langsung merinding.
“Bu cerita apa saja?”
“Tidak banyak. Hanya soal kamu lahir di hari apa, kebiasaanmu waktu kecil, nama panggilan.”
Nama panggilan.
Aku teringat satu hal yang lama tidak kupikirkan: waktu kecil Ibu sering memanggilku Ica.
Apakah itu salah satu kunci?
⸻
Malam itu aku bermimpi lagi—lebih jelas dari sebelumnya.
Aku berada di halaman sekolah, tapi kosong tanpa murid. Di tengah lapangan berdiri Bima memegang buku absensi raksasa.
Dia memanggil satu nama berulang:
“Ica… Ica… Ica…”
Setiap kali nama itu disebut, tubuhku terasa ditarik maju.
Di belakangku berdiri bayangan diriku—yang pernah kulihat sebelumnya.
“Jangan jawab,” katanya.
Aku terbangun dengan napas terputus.
Jam menunjukkan 02.17.
Di ruang tamu terdengar televisi menyala sebentar lalu mati.
Aku tahu mimpi itu bukan sekadar bunga tidur.
⸻
Esok paginya, kejadian aneh semakin nyata.
Di warung depan rumah, seorang ibu pembeli memanggilku tanpa sengaja:
“Ica, gula satu ya.”
Aku membeku.
Ibu itu langsung meminta maaf.
“Eh maaf, kebiasaan manggil anak saya di rumah juga Ica.”
Tapi matanya menatapku terlalu lama, seperti ada yang lain di balik kata itu.
Sepulang dari warung, aku menemukan tulisan kecil di kaca etalase:
ICA
Padahal tidak ada spidol di sana.
Aku menghapusnya berkali-kali, tapi huruf itu muncul lagi tipis seperti embun.
⸻
Aku mulai sadar bahwa namaku bukan hanya satu pintu, melainkan banyak pintu kecil yang tersebar di hidupku.
Raisa.
Laras.
Ica.
Bima sedang mencoba satu per satu.
Malamnya aku duduk bersama Pak Karso.
“Bagaimana menutup nama panggilan, Pak?” tanyaku.
“Dengan mengembalikan maknanya ke dirimu sendiri,” jawabnya. “Nama hanya kuat kalau kamu takut padanya.”
Aku mengingat semua panggilan itu, mencoba melihatnya bukan sebagai tali, tapi sebagai bagian dari identitasku.
Tapi lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
⸻
Sementara itu, gangguan dari rumah kosong belum berhenti.
Setiap lewat pukul sepuluh malam, lampu di sana menyala merah temaram. Beberapa warga mulai berbisik bahwa Bima memelihara sesuatu di dalamnya.
Suatu malam Arga mengajak kami mengawasi dari kejauhan.
Dari balik jendela rumah kosong terlihat bayangan orang menulis di lantai—mungkin menggambar denah baru. Kadang terdengar suara seperti rapalan, kadang seperti percakapan dua orang padahal hanya ada Bima.
“Ada yang mendampinginya,” kata Arga.
“Gurunya?” tanyaku.
“Bisa jadi lebih tua dari itu.”
Aku semakin yakin bahwa perang ini bukan hanya tentang masa lalu keluargaku, tapi tentang ambisi seseorang yang ingin membuka batas lebih lebar dari seharusnya.
⸻
Di sekolah, keadaan makin berat.
Suatu siang, saat pelajaran olahraga, namaku dipanggil lewat pengeras suara untuk ke ruang BK. Aku berjalan sendirian menyusuri koridor sepi.
Begitu sampai, ruangan gelap dan kosong.
Speaker di sudut ruangan berdengung, lalu suara Bima keluar pelan:
“Terima kasih sudah datang, Ica.”
Aku berbalik hendak lari, tapi pintu tertutup sendiri.
Di papan tulis muncul tulisan kapur tanpa tangan:
KUNCI KEDUA
Aku gemetar.
“Pergi dari hidupku,” kataku keras.
Suara di speaker tertawa kecil.
“Kamu sendiri yang datang. Aku hanya memanggil namamu yang lebih tua.”
Lampu menyala mendadak. Guru BK masuk sambil bingung.
“Kamu kenapa di sini, Sa? Nggak ada panggilan.”
Aku keluar ruangan dengan lutut lemas.
Bima kini bisa menyentuh duniaku tanpa perlu datang langsung.
⸻
Malam itu aku hampir menyerah.
Di kamar, aku menatap kalung Hidup dan bertanya pada diri sendiri berapa lama aku sanggup bertahan.
Bayangan diriku muncul lagi di cermin.
“Kamu capek, ya?” katanya lembut.
Aku mengangguk tanpa sadar.
“Kalau kamu lelah, pintu akan terbuka sendiri.”
Aku langsung tersadar.
“Pergi.”
Dia tersenyum.
“Aku bagian darimu. Bagian yang ingin berhenti berjuang.”
Aku memukul cermin sampai retak kecil.
“Aku nggak akan berhenti.”
Bayangan itu menghilang.
⸻
Besoknya, kejutan lain datang.
Seorang lelaki tua mencari rumah kami—mengaku teman almarhum kakekku yang dulu ikut membangun rumah ini. Namanya Pak Darsa.
Dia membawa sebuah kotak kayu berisi buku catatan kakek.
“Ini titipan lama,” katanya. “Baru berani saya antar sekarang.”
Di dalam buku itu ada gambar denah yang lebih tua dari semua yang pernah kami lihat. Di halaman terakhir tertulis:
“Penutup sejati bukan ritual, tapi kesaksian pertama.”
Aku bertanya pada Arga,
“Kesaksian pertama apa?”
Dia membaca halaman lain dengan mata melebar.
“Ini cerita tentang orang yang pertama kali membuka jalur sebelum Bima lahir.”
Nama di catatan itu membuat kami semua terdiam.
Tertulis jelas:
Bima Darsa.
Ayah menatap Pak Darsa.
“Itu…?”
Lelaki tua itu mengangguk pelan.
“Bima yang kalian kenal sekarang adalah cucu dari orang itu. Kunci lain yang dia maksud mungkin darahnya sendiri.”
Aku merasa dunia berputar.
Berarti lawanku bukan hanya manusia ambisius,
tapi warisan niat yang diturunkan.
⸻
Malam itu kami menyusun rencana baru.
Bukan lagi hanya bertahan, tapi mencari cara menghadirkan kesaksian pertama seperti tertulis di buku: membongkar asal-usul jalur sebelum generasi Bima.
Arga yakin ada tempat di hutan kecil belakang kampung—lokasi sumur tua yang disebut di arsip mushola.
“Akar masalahnya di sana,” katanya.
Aku menatap kalung di leherku.
Perjalanan ini jelas belum mendekati akhir. Justru makin melebar seperti pohon dengan akar terlalu dalam.
Tapi untuk pertama kalinya aku merasa punya arah, bukan hanya bertahan dari serangan.
⸻
Bab ini berakhir pada satu kejadian kecil yang menancap lama di ingatanku.
Saat aku hendak tidur, Dini tiba-tiba memanggil dari ruang tengah.
“Sa, sini deh.”
Di lantai, tepat di atas bekas denah, ada satu garis baru terbentuk dari debu—bukan cahaya, hanya debu yang terseret membentuk huruf:
ICA → RAISA → ?
Tanda tanya itu bergerak pelan, seolah menunggu diisi.
Aku berdiri lama menatapnya.
Kunci lain memang sudah mengetuk.
Dan aku harus menemukannya sebelum dia menemukan aku lebih dulu.