Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar menjaga
Lalu lebih pelan lagi ia berkata,
“Kalau kamu di sini… aku nggak akan kenapa-kenapa.”
Kalimat itu menggantung di udara, hangat dan pelan.
Beberapa menit kemudian, napasnya berubah teratur. Tangannya yang tadi memeluk pinggangku perlahan mengendur. Wajahnya masih tersembunyi di dekat perutku, dan aku bisa merasakan berat kepalanya benar-benar bersandar penuh di pahaku.
Ia tertidur.
Aku menunduk, menatap wajahnya.
Masih pucat, tapi jauh lebih tenang.
Tanganku terus mengusap rambutnya pelan, takut kalau berhenti ia akan terbangun. Takut kalau berhenti, hangat itu ikut hilang.
Rumah begitu sunyi. Hanya suara jam dinding dan napasnya yang pelan.
Menjelang sore, cahaya matahari masuk dari jendela ruang tamu, menyentuh wajahnya. Ia sedikit mengerutkan kening, lalu perlahan membuka mata.
Aku tersenyum begitu ia sadar.
Tanpa berpikir panjang, aku menunduk dan mencium bibirnya lembut.
Ia sedikit terkejut, lalu tersenyum.
“Curang banget ya kamu,” katanya pelan, suaranya masih berat karena baru bangun.
Aku tersenyum polos. “Siapa suruh tidur lama.”
“Aku lagi sakit loh.”
“Makanya bangun. Makan dulu, minum obat.”
Ia menatapku beberapa detik.
“Sini wajahnya bentar.”
Aku menurut. Menundukkan wajahku mendekat padanya.
Ia mengangkat sedikit kepalanya, lalu mencium bibirku singkat.
Hangat.
Singkat tapi cukup membuat pipiku memanas.
Aku tersenyum malu. “Udah. Sekarang duduk yang bener.”
Aku membantu ia duduk perlahan di sofa. Ia terlihat lebih segar dibanding tadi, meski masih lelah.
Aku hendak berdiri untuk ke dapur, tapi tiba-tiba tangannya menahan pergelangan tanganku.
“Jangan lama-lama yaa.”
Nada suaranya lembut. Hampir seperti anak kecil yang takut ditinggal.
Aku mengangguk. “Iya.”
Ia baru melepaskan tanganku setelah itu.
Aku berjalan ke dapur, tapi setiap beberapa langkah aku menoleh.
Ia masih duduk di sofa, memandang ke arahku.
Seolah memastikan aku benar-benar tidak pergi jauh.
Di dapur, aku menarik napas panjang.
Entah kenapa, sore itu terasa berbeda.
Seharusnya aku takut.
Takut ia kenapa-kenapa.
Takut sakitnya makin parah.
Takut malam datang dengan kekhawatiran, Tapi justru ada rasa hangat yang aneh di dadaku.
Aku sedang mengaduk sup ketika tiba-tiba—
Sepasang tangan melingkar di pinggangku dari belakang.
Aku terkejut.
“Mas!”
Aku langsung menoleh, dan di saat yang sama ia menyandarkan kepalanya ke pundakku. Gerakan itu membuat wajah kami terlalu dekat, dan tanpa sengaja bibir kami bersentuhan sekilas.
Aku makin kaget.
“Mas ih, ngagetin aja. Tunggu di sana aja, Mas,” kataku setengah malu, setengah kesal.
Ia tidak langsung melepaskan pelukannya.
“Kamu lama,” katanya pelan. “Aku kangen.”
Aku membeku.
“Kangen? Baru lima menit, Mas.”
“Tetap aja.”
Nada suaranya lembut, sedikit manja—sesuatu yang jarang sekali ia tunjukkan.
Aku menoleh sedikit ke arahnya. “Kamu berubah banget ya kalau lagi kayak gini.”
“Kayak gimana?”
“Kayak… butuh aku banget.”
Ia terdiam.
Aku tersenyum kecil. “Tapi aku seneng pas kamu kayak gini.”
Kalimat Ibu kembali terngiang di kepalaku.
“Jangan manja terus. Manjakan juga dia. Kamu tahu kan dia udah nggak punya siapa-siapa selain kamu?”
Tanganku berhenti mengaduk sebentar.
Pelukannya masih hangat di pinggangku.
Ia tidak bercanda.
Tidak menggoda.
Hanya diam, memelukku seperti benar-benar tak ingin jauh.
“Mas…” suaraku lebih lembut sekarang. “Ini bentar lagi juga jadi. Tunggu di ruang tamu aja ya.”
Aku menoleh dan mencium pipinya, sangat dekat dengan bibirnya. Hampir saja menyentuh lagi.
Ia tersenyum tipis.
Pelukannya perlahan terlepas.
“Iya. Jangan lama-lama.”
Aku mengangguk.
Ia berjalan kembali ke ruang tamu, langkahnya masih sedikit pelan, tapi tidak selemah tadi.
Aku mempercepat gerakanku di dapur. Menata makanan dengan rapi, memastikan semuanya hangat dan tidak terlalu berat untuk perutnya.
Beberapa menit kemudian aku membawa nampan ke ruang tamu.
Ia tidak duduk seperti tadi.
Ia berdiri dekat jendela, menatap langit yang mulai gelap.
Lampu-lampu rumah tetangga mulai menyala satu per satu.
Aku meletakkan nampan di atas meja.
“Mas, makan dulu,” ucapku dengan nada panik karena ia berdiri.
Aku langsung menarik lengannya pelan agar ia duduk kembali. Tanganku refleks menyentuh keningnya.
Dan aku terkejut.
“Mas… badan kamu makin panas.”
Ia tersenyum tipis, seolah itu bukan apa-apa. Tapi aku bisa merasakan jelas—hangatnya berbeda dari tadi.
Aku berpikir keras. Tadi di sofa ia sudah terlihat membaik. Sudah tertawa. Sudah bercanda. Kenapa sekarang justru lebih panas?
Ia mengambil mangkuk sup dari meja.
Aku langsung mengambilnya kembali.
“Aku suapin aja, Mas.”
“Aku bisa sendiri kok.”
Aku menatapnya tajam. “Kalau nggak nurut aku gigit bibir kamu.”
Ia terdiam sebentar, lalu justru tersenyum.
“Ancaman yang aneh.”
“Serius.”
Ia mengangguk pelan, menyerah.
Aku duduk lebih dekat, meniup sendok sup agar tidak terlalu panas, lalu menyuapkannya perlahan.
Ia makan dengan tenang. Tidak membantah lagi.
Tatapannya sesekali jatuh ke wajahku, membuatku gugup sendiri.
“Kenapa liatin aku terus?” tanyaku.
“Lucu,” jawabnya singkat.
“Apa yang lucu?”
“Kamu panik tapi sok galak.”
Aku mendengus pelan. “Aku panik karena kamu keras kepala.”
Setelah sup habis, aku memberinya obat dan air.
Ia meminumnya tanpa protes.
Belum sempat aku bicara lagi, suara adzan magrib terdengar dari masjid dekat rumah.
Allahu akbar…
Ia langsung berdiri.
Aku refleks menarik tangannya lagi. “Mau ke mana?”
“Mau ambil wudhu lalu shalat.”
Aku menatapnya khawatir. “Mas…”
“Kamu lagi datang bulan kan?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk pelan.
“Mas. gapapa kan?” tanyaku, masih ragu.
“Iya. Aman aja.”
Nada suaranya tenang. Seolah demamnya tidak mengganggunya sama sekali.
Aku menggigit bibir, lalu mengalah. “Yaudah… nanti kalau udah selesai shalat langsung tidur di kamar ya. Aku mau mandi dulu.”
Ia mengangguk.
Sebelum berjalan ke arah kamar mandi, ia berhenti sebentar di depanku.
Tangannya menyentuh pipiku pelan.
“Jangan khawatir berlebihan.”
“Gimana nggak khawatir…”
Ia tersenyum tipis, lalu berjalan meninggalkanku.
Aku berdiri diam beberapa detik di ruang tamu.
Suara air mengalir terdengar dari arah kamar mandi. Lalu beberapa menit kemudian, ia berdiri di ruang tengah, menunaikan shalat dengan tenang.
Aku duduk memperhatikannya dari jauh.
Gerakannya sedikit lebih pelan dari biasanya.
Tapi tetap khusyuk.
Tetap tegap.
Entah kenapa melihatnya seperti itu membuat dadaku terasa hangat.
Setelah selesai, ia menutup doa dengan mengusap wajahnya pelan.
Aku menghampirinya.
“Mas, langsung ke kamar ya.”
Ia mengangguk.
Kami berjalan berdampingan menuju kamar.
Sesampainya di sana, ia duduk di tepi kasur sebentar, seolah mengumpulkan tenaga.
Aku berdiri di depannya.
“Mas pusing lagi?”
“Sedikit.”
Aku tidak berkata apa-apa lagi.
Aku membantu melepas jam tangannya, meletakkannya di meja. Lalu menarik selimut dan menyuruhnya berbaring.
Ia menurut.
Biasanya ia yang mengatur semuanya.
Sekarang aku.
............