Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nakal
Lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam, digantikan oleh kesunyian yang justru terasa lebih menakutkan. Saat pintu otomatis itu terbuka, aroma besi dan obat-obatan menyeruak keluar. Tim medis mendorong brankar Matthias keluar dengan terburu-buru menuju unit perawatan intensif (ICU).
Sheena terhuyung maju. Ia melihat wajah Matthias yang biasanya angkuh dan dominan, kini tertutup masker oksigen transparan yang berembun setiap kali mesin ventilator memompa udara ke paru-parunya. Kepalanya terbalut perban putih yang mulai merembeskan warna merah, dan tubuh raksasanya tampak tak berdaya di bawah tumpukan selimut rumah sakit.
"Matthias..." Bisik Sheena, suaranya hilang ditelan suara roda brankar yang berderit di atas lantai porselen.
Seorang perawat menghampiri Sheena, membawa sebuah kantong plastik bening berisi barang-barang pribadi pasien yang dilepas saat tindakan darurat tadi.
"Nyonya Smith? Ini barang-barang milik Tuan Matthias," ucap perawat itu pelan.
Sheena menerima kantong itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada jam tangan mewah yang kacanya hancur, ponsel yang layarnya remuk, dan dompet kulit yang basah. Namun, mata Sheena tertuju pada gumpalan kain biru di dasar plastik itu.
Ia merogohnya keluar. Sapu tangan biru itu.
Kain itu kini kaku, kering karena darah yang sudah mengerak dan kotor oleh lumpur sisa hujan di jalanan. Sheena mendekap kain itu ke dadanya, tangisnya pecah kembali tanpa suara. Ia bisa merasakan tekstur kasar dari sulaman SK4 yang tadi malam menjadi pemicu badai besar di antara mereka.
"Kau memegangnya sampai akhir..." isak Sheena, bahunya terguncang hebat. "Kenapa kau begitu keras kepala, Matthias? Kenapa kau tidak membuang kain sialan ini saja jika itu harus membayarnya dengan nyawamu?"
Sheena tersungkur di kursi tunggu depan ICU, masih mendekap sapu tangan berdarah itu. Ia menatap ke arah pintu kaca di mana Matthias terbaring dalam koma. Di dalam pikirannya, ia terus memutar suara pesan suara terakhir dari suaminya.
“Kau adalah anugerah terbaik, terindah yang pernah kumiliki...”
Rasa bersalah itu kini menetap permanen di relung hatinya. Malam itu, Calapan masih diguyur sisa hujan, dan di depan ruang ICU, empat orang tua dan seorang istri muda hanya bisa bersandar pada harapan tipis bahwa sang Tuan Smith akan memilih untuk kembali daripada terus melangkah menuju kegelapan.
20 Hari Kemudian...
Luka robek di pelipis Matthias sudah mengering, meninggalkan bekas kemerahan yang justru menambah kesan maskulin pada wajahnya yang pucat. Namun, selama dua puluh hari itu pula, pria raksasa itu tetap setia memejamkan mata, membiarkan mesin-mesin rumah sakit bernyanyi menggantikannya.
Sheena sudah melupakan dunianya di Makati. Persetan dengan kuliah kedokterannya. Dekan fakultas bahkan sudah menelepon tiga kali seminggu, bingung mencari alasan apalagi untuk memaklumi absennya sang mahasiswi teladan. Tapi bagi Sheena, satu-satunya "pasien" yang berarti hanyalah pria yang terbaring kaku ini.
Pagi itu, Sheena baru saja selesai mengelap tubuh Matthias dengan kain hangat. Ia duduk di sisi brankar, menggenggam tangan besar Matthias yang mulai terasa hangat.
"Matthias... lihat, sapu tangannya sudah bagus lagi. Ibu sudah memperbaikinya dengan sulaman yang sama," bisik Sheena lirih, menunjukkan kain biru yang kini sudah utuh kembali. "Kapan kau bangun? Aku lelah bicara sendirian..."
Kruuuk...
Perut Sheena berbunyi nyaring. Ia meringis. Ibu mertuanyanya sedang dalam perjalanan membawa makanan, tapi terjebak macet total. Karena tak tahan, Sheena memutuskan keluar sebentar ke kantin rumah sakit untuk membeli roti pengganjal.
Namun, saat ia kembali sepuluh menit kemudian...
"Matthias?!" Sheena memekik pelan. Jantungnya hampir copot melihat brankar VVIP itu kosong melompong. Selimutnya tersingkap, dan tiang infus sudah bergeser.
Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Matthias berdiri di sana, bertelanjang dada hanya dengan celana rumah sakit, tampak sedikit limbung namun tetap terlihat dominan.
"Matthias! Kau sudah sadar? Ya Tuhan! Aku panggil dokter ya?" Sheena berlari menghampirinya dengan wajah penuh air mata bahagia.
"Tidak perlu," sahut Matthias pendek. Suaranya serak, namun ada kilatan licik yang tersembunyi di balik matanya yang tajam. Saat melihat wajah khawatir Sheena, sisi nakal Matthias bangkit. Ia ingin tahu seberapa besar Sheena mencintainya sekarang.
Matthias mengerutkan kening, menatap Sheena dengan pandangan asing. "Siapa kau?"
Raut wajah Sheena seketika berubah. Kegembiraannya luntur berganti ketakutan hebat. "K-kau... kau tidak ingat siapa aku? Aku istrimu, Matthias! Aku Sheena!"
"Istri?" Matthias menyipitkan mata, pura-pura berpikir keras. "Oh ya? Aku tidak ingat punya istri sepertimu. Coba kemari, aku ingin tes dulu ingatanku. Mungkin sentuhan bisa membantuku mengingat."
Sheena yang polos dan sangat khawatir pun mendekat tanpa curiga. "Bagaimana cara mengetesnya? Apa aku harus memanggilkan Ibu?"
"Bukan Ibu yang kubutuhkan," gumam Matthias.
Tanpa aba-aba, tangan kokoh Matthias menarik pinggang Sheena hingga menempel pada tubuh panasnya. Ia merunduk dan langsung melumat bibir Sheena dengan rakus. Ciuman itu bukan ciuman orang sakit; itu ciuman penuh rasa lapar, kerinduan, dan gairah yang sudah tertahan selama 20 hari di alam bawah sadar.
"Mmmph..." Sheena terbelalak, namun ia membiarkan suaminya melakukan apa pun asalkan pria itu ingat padanya.
Setelah beberapa saat, Matthias menjauhkan wajahnya sedikit, menatap bibir Sheena yang kini memerah dan bengkak.
"Bagaimana? Sudah ingat?" Tanya Sheena dengan mata berkaca-kaca, sangat polos.
Matthias menyeringai nakal. "Belum. Sepertinya ingatanku masih sangat samar."
Sebelum Sheena sempat protes, Matthias kembali menyerang bibirnya. Kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Dengan kekuatan yang kembali secara ajaib, Matthias menggendong Sheena dan mendudukkannya di atas brankar tinggi itu dalam posisi M-shape—mengapit pinggangnya.
Matthias memperdalam ciumannya, melumat dan menyesap bibir istrinya seolah sedang kehausan di tengah padang pasir. Sheena hanya bisa mengerang halus, melingkarkan tangannya di leher Matthias, bersyukur dalam hati bahwa meskipun "amnesia", suaminya masih memiliki insting yang sangat kuat padanya.
Napas Sheena menderu pendek, dadanya naik turun bersentuhan langsung dengan dada bidang Matthias yang terasa panas—sebuah kontras yang luar biasa setelah dua puluh hari pria itu terasa sedingin es. Posisi M-shape di atas brankar tinggi itu membuat Sheena merasa sangat kecil dan terkunci dalam dominasi Matthias.
"Matthias... kau... kau benar-benar belum ingat?" Bisik Sheena di sela-sela ciuman mereka yang memabukkan. Matanya yang jernih menatap Matthias dengan binar harapan yang tulus. "Aku Sheena. Gadis yang memberimu sapu tangan di halte bus... kau ingat itu, kan?"
Matthias tertegun sejenak. Mendengar Sheena mengakui dirinya sebagai gadis halte bus itu membuat jantungnya berdegup kencang. Rasanya ia ingin langsung memeluknya dan meminta maaf seribu kali. Namun, ego lelakinya yang nakal justru ingin bermain lebih lama. Ia ingin melihat sejauh mana Sheena akan "berjuang" untuk mengembalikan ingatannya.
"Halte bus? Sapu tangan?" Matthias memasang wajah sangsi yang sangat meyakinkan. Ia mengelus pipi Sheena yang merona hebat akibat tamparannya tempo hari—luka yang kini sudah hilang, namun bekasnya masih ada di hati Matthias. "Sepertinya otakku masih kosong. Tapi..."
Matthias mendekatkan bibirnya ke telinga Sheena, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Sheena meremang. "Tubuhku sepertinya meresponsmu dengan sangat baik. Mungkin ingatan itu tidak ada di kepala, tapi ada di sini..."
Tangan besar Matthias berpindah, meremas pinggang Sheena dan menariknya lebih rapat hingga tak ada celah di antara mereka. Ia kembali melumat bibir Sheena, kali ini dengan tempo yang lebih lambat namun jauh lebih menuntut. Lidahnya menyapu deretan gigi Sheena, mengajak istrinya itu dalam tarian lidah yang panas dan penuh kerinduan.
"Mmmph... Matthias..." Sheena mengerang, jemarinya meremas bahu kokoh Matthias. Ia merasa dunianya berputar. Antara rasa syukur suaminya sadar dan rasa frustasi karena Matthias tidak mengingatnya.
"Lagi, Sheena. Berikan aku lebih banyak 'petunjuk' agar aku ingat," gumam Matthias di sela ciumannya yang kini beralih ke leher jenjang Sheena. Ia menyesap kulit lembut itu, meninggalkan tanda merah yang kontras dengan warna kulit Sheena yang pucat karena kurang tidur.
Sheena yang polos benar-benar mengira ini adalah terapi medis yang diperlukan. Ia memejamkan mata, membiarkan suaminya "menjelajahi" tubuhnya di atas brankar rumah sakit. "Apa... apa kau mulai mengingat sesuatu?" Tanya Sheena dengan suara yang sudah serak karena gairah.
Matthias menyeringai di balik leher Sheena. "Sedikit. Aku ingat kalau aku sangat menyukai aroma tubuhmu. Coba cium aku lagi, kali ini lebih berani. Katanya kau istrimu, tunjukkan bagaimana caramu mencintaiku."
Ditantang seperti itu, Sheena yang biasanya pasif pun memberanikan diri. Ia menangkup wajah tampan Matthias dengan kedua tangannya, lalu membalas ciuman Matthias dengan penuh perasaan—seolah ia sedang menyalurkan seluruh rasa takutnya selama 20 hari terakhir ke dalam ciuman itu.
Matthias hampir saja mengerang keras. Sial, taktiknya ini justru menyiksa dirinya sendiri karena ia harus menahan diri agar tidak langsung "menerkam" Sheena di kamar VVIP ini. Ia benar-benar gemas melihat betapa patuhnya Sheena demi kesembuhannya.
"Bagaimana? Sudah ingat?" Tanya Sheena lagi setelah ciuman panjang itu berakhir, napasnya tersengal, menatap Matthias dengan tatapan memohon yang sangat menggemaskan.
Matthias tertawa rendah di dalam hatinya. Kau terlalu manis, Sheena. Aku jadi tidak ingin sembuh kalau terapinya seperti ini terus, batinnya licik.
"Masih samar, sayang. Sepertinya kita butuh 'latihan' yang lebih intensif di tempat tidur yang lebih lebar dari ini," ucap Matthias sambil mengedipkan satu matanya, membuat Sheena terpaku bingung namun pipinya makin terbakar merah.