Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pagi itu, koper Alana sudah berdiri tegak di samping pintu utama. Sinar matahari yang masuk melalui celah ventilasi menyinari wajahnya yang tenang, kontras dengan mendung yang masih bergelayut di meja makan.
Ibu duduk membelakangi Alana, jemarinya sibuk menghitung lembaran uang di dalam amplop yang diberikan Alana tadi. Bibirnya mengerucut, sesekali terdengar decakan lidah yang sengaja dikeraskan agar Alana mendengar kekecewaannya.
"Cuma segini, Al? Cicilan motor Rian saja sudah hampir separuh dari ini. Belum uang belanja harian yang makin mahal," gerutu Ibu tanpa menoleh. "Kamu benar-benar tega ya, membiarkan Ibu pusing tujuh keliling begini."
Alana menarik napas panjang, namun kali ini tidak ada sesak di dadanya. Ia tidak lagi merasa perlu meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahannya.
"Itu cukup untuk kebutuhan pokok Ibu dan Ayah, Bu. Kalau untuk cicilan motor Rian, Alana sudah bilang, itu tanggung jawab Rian sendiri," ujar Alana datar. "Alana pamit. Alana ditugaskan kantor ke Bali selama tiga bulan ke depan. Mobil akan Alana bawa dan titipkan di parkiran kantor yang aman."
Mendengar kata "Bali", Ibu langsung berbalik, matanya membelalak. "Bali? Tiga bulan? Terus rumah ini bagaimana? Kamu mau pamer kemewahan sementara keluargamu di sini susah?"
"Ini pekerjaan, Bu. Bukan liburan," potong Alana.
Ia kemudian beralih pada Ayah yang sejak tadi hanya terdiam di kursi rotannya. Ayah meletakkan cangkir kopinya, menatap Alana dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada guratan rasa bersalah yang tertangkap oleh Alana di sudut mata pria tua itu, seolah ia sadar bahwa selama ini diamnya telah membiarkan putrinya hancur perlahan.
"Jaga dirimu baik-baik di sana, Al," suara Ayah berat, hampir berupa bisikan. "Jangan lupa makan. Jangan hanya memikirkan pekerjaan."
Alana mendekat, mencium tangan Ayahnya dengan takzim. "Terima kasih, Yah. Alana berangkat."
Saat Alana menyalami Ibunya, tangan Ibu terasa kaku. "Jangan cari Ibu kalau nanti kamu menyesal sudah jadi anak yang perhitungan," ketus Ibu, masih berusaha menggunakan senjata terakhirnya:
Alana hanya tersenyum tipis. "Alana tidak akan menyesal karena belajar menyayangi diri sendiri, Bu."
Ia menarik kopernya keluar. Di halaman, ia berpapasan dengan Rian yang baru keluar kamar dengan rambut berantakan. Rian menatap koper itu dengan sinis, namun Alana hanya mengangguk kecil padanya tanpa sepatah kata pun. Ia masuk ke mobil, mengunci pintu, dan mulai menjalankan mesin.
Dari kaca spion, ia melihat rumah itu perlahan mengecil. Ia melihat Ibunya berdiri di teras dengan wajah cemberut, dan Ayahnya yang melambai pelan—sebuah lambaian yang terasa seperti pelepasan beban.
Ponselnya bergetar di dasbor. Sebuah pesan dari Pradipta masuk.
Pradipta: "Pesawat berangkat pukul satu siang. Sopir kantor akan mengambil mobilmu di bandara. Fokus pada perjalananmu sekarang, Alana. Biarkan sisa duniamu belajar berjalan tanpa kamu untuk sementara."
Alana memutar radio. Lagu yang tenang mengalun, mengisi ruang kabin yang kini terasa luas dan bebas. Perjalanan menuju bandara bukan sekadar perpindahan kota, tapi perpindahan hidup.
Ia tidak lagi merasa bersalah. Ia tidak lagi merasa berhutang. Di bawah langit Jakarta yang mulai terik, Alana menyetir dengan senyum yang tidak perlu ia latih lagi di depan cermin.
Pagi itu, koper Alana sudah berdiri tegak di samping pintu utama. Sinar matahari yang masuk melalui celah ventilasi menyinari wajahnya yang tenang, kontras dengan mendung yang masih bergelayut di meja makan.
Ibu duduk membelakangi Alana, jemarinya sibuk menghitung lembaran uang di dalam amplop yang diberikan Alana tadi. Bibirnya mengerucut, sesekali terdengar decakan lidah yang sengaja dikeraskan agar Alana mendengar kekecewaannya.
"Cuma segini, Al? Cicilan motor Rian saja sudah hampir separuh dari ini. Belum uang belanja harian yang makin mahal," gerutu Ibu tanpa menoleh. "Kamu benar-benar tega ya, membiarkan Ibu pusing tujuh keliling begini."
Alana menarik napas panjang, namun kali ini tidak ada sesak di dadanya. Ia tidak lagi merasa perlu meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahannya.
"Itu cukup untuk kebutuhan pokok Ibu dan Ayah, Bu. Kalau untuk cicilan motor Rian, Alana sudah bilang, itu tanggung jawab Rian sendiri," ujar Alana datar. "Alana pamit. Alana ditugaskan kantor ke Bali selama tiga bulan ke depan. Mobil akan Alana bawa dan titipkan di parkiran kantor yang aman."
Mendengar kata "Bali", Ibu langsung berbalik, matanya membelalak. "Bali? Tiga bulan? Terus rumah ini bagaimana? Kamu mau pamer kemewahan sementara keluargamu di sini susah?"
"Ini pekerjaan, Bu. Bukan liburan," potong Alana.
Ia kemudian beralih pada Ayah yang sejak tadi hanya terdiam di kursi rotannya. Ayah meletakkan cangkir kopinya, menatap Alana dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada guratan rasa bersalah yang tertangkap oleh Alana di sudut mata pria tua itu, seolah ia sadar bahwa selama ini diamnya telah membiarkan putrinya hancur perlahan.
"Jaga dirimu baik-baik di sana, Al," suara Ayah berat, hampir berupa bisikan. "Jangan lupa makan. Jangan hanya memikirkan pekerjaan."
Alana mendekat, mencium tangan Ayahnya dengan takzim. "Terima kasih, Yah. Alana berangkat."
Saat Alana menyalami Ibunya, tangan Ibu terasa kaku. "Jangan cari Ibu kalau nanti kamu menyesal sudah jadi anak yang perhitungan," ketus Ibu, masih berusaha menggunakan senjata terakhirnya: guilt-trip.
Alana hanya tersenyum tipis. "Alana tidak akan menyesal karena belajar menyayangi diri sendiri, Bu."
Ia menarik kopernya keluar. Di halaman, ia berpapasan dengan Rian yang baru keluar kamar dengan rambut berantakan. Rian menatap koper itu dengan sinis, namun Alana hanya mengangguk kecil padanya tanpa sepatah kata pun. Ia masuk ke mobil, mengunci pintu, dan mulai menjalankan mesin.
Dari kaca spion, ia melihat rumah itu perlahan mengecil. Ia melihat Ibunya berdiri di teras dengan wajah cemberut, dan Ayahnya yang melambai pelan—sebuah lambaian yang terasa seperti pelepasan beban.
Ponselnya bergetar di dasbor. Sebuah pesan dari Pradipta masuk.
Pradipta: "Pesawat berangkat pukul satu siang. Sopir kantor akan mengambil mobilmu di bandara. Fokus pada perjalananmu sekarang, Alana. Biarkan sisa duniamu belajar berjalan tanpa kamu untuk sementara."
Alana memutar radio. Lagu yang tenang mengalun, mengisi ruang kabin yang kini terasa luas dan bebas. Perjalanan menuju bandara bukan sekadar perpindahan kota, tapi perpindahan hidup.
Ia tidak lagi merasa bersalah. Ia tidak lagi merasa berhutang. Di bawah langit Jakarta yang mulai terik, Alana menyetir dengan senyum yang tidak perlu ia latih lagi di depan cermin.
Suara mesin pesawat Boeing 737 itu menderu halus, menciptakan getaran konstan di bawah kursi Alana. Di balik jendela kecil di sampingnya, daratan Jakarta perlahan menjauh, berubah menjadi hamparan kotak-kotak kecil yang padat sebelum akhirnya tertutup oleh gumpalan awan putih.
Alana menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi. Di dalam kabin yang sejuk dan tenang ini, tiba-tiba memori yang selama ini ia kunci rapat mulai terlepas satu per satu, berputar seperti film lama di benaknya.
Ia teringat malam saat ia baru saja menerima gaji pertamanya lima tahun lalu. Ia pulang dengan perasaan bangga, membawa sekotak martabak kesukaan Ayah dan sebuah tas baru untuk Ibu. Namun, alih-alih pelukan atau ucapan selamat, yang ia terima adalah daftar utang keluarga yang diletakkan Ibu di atas meja makan.
"Al, syukur kamu sudah kerja. Ini cicilan motor Bapak yang nunggak tiga bulan, tolong dilunasi ya. Terus Rian mau masuk SMA, butuh uang gedung besar."
Saat itu, Alana hanya bisa mengangguk pelan. Ia menelan kembali keinginannya untuk membeli sepasang sepatu kerja yang layak. Ia tidak berani berkata "tidak", karena baginya, menolak adalah bentuk pengkhianatan terhadap kasih sayang orang tua.
Lalu memorinya melompat ke kejadian dua tahun lalu, saat ia pingsan di kantor karena kelelahan mengerjakan proyek lembur. Ketika ia pulang dengan wajah pucat, Ibu justru mengeluh karena Alana lupa mampir membeli tabung gas.
"Capek itu biasa, Al. Dulu Ibu besarin kamu lebih capek lagi. Jangan manja," kata Ibu waktu itu.
Alana teringat ia lari ke kamar mandi, menyalakan keran air dengan kencang hanya agar isakannya tidak terdengar. Di rumah itu, menangis dianggap sebagai kelemahan yang tak berguna. Menangis berarti tidak bersyukur atas "kesuksesan" yang sudah ia miliki.
Tiba-tiba, sebuah suara lembut memecah lamunannya.
"Permisi, Nona. Ini air mineral yang Anda minta."
Alana tersentak. Ia baru menyadari bahwa jemarinya sedang mencengkeram lengan kursi hingga memutih. Pramugari itu tersenyum ramah, meletakkan botol kecil di atas meja lipatnya. Alana bergumam terima kasih, suaranya parau.
Ia menoleh ke arah kursi di seberang lorong. Di sana, Pradipta sedang duduk dengan santai, membaca sebuah majalah bisnis. Pria itu tampaknya menyadari kegelisahan Alana. Ia menutup majalahnya, lalu menoleh.
"Dulu, saya selalu merasa bersalah setiap kali meninggalkan rumah untuk dinas," ujar Pradipta tiba-tiba, seolah bisa membaca pikiran Alana. "Saya merasa seperti kapten yang meninggalkan kapal yang bocor. Tapi kemudian saya sadar, jika saya tidak keluar dari kapal itu untuk mencari bantuan, kami semua hanya akan tenggelam bersama."
Alana menatap Pradipta. Mata pria itu tidak menunjukkan rasa kasihan, melainkan sebuah pengertian yang mendalam.
"Saya tidak pernah boleh menangis, Pak," bisik Alana jujur. "Sejak kecil, menangis adalah larangan. Saya merasa seperti mesin yang hanya boleh berjalan, tapi tidak boleh panas."
Pradipta mengangguk kecil. "Di ketinggian tiga puluh ribu kaki ini, tidak ada yang mengenalmu sebagai mesin, Alana. Kamu hanya seorang penumpang. Jika kamu ingin menangis, mesin pesawat ini cukup berisik untuk menyembunyikan suaramu. Dan saya cukup sibuk dengan majalah ini untuk tidak melihatmu."
Pradipta kembali membuka majalahnya, memberinya ruang privasi yang sangat ia butuhkan.
Alana memalingkan wajah kembali ke jendela. Setetes air mata akhirnya lolos, lalu diikuti tetesan lainnya. Kali ini, ia tidak menangis karena sedih. Ia menangis karena merasa kasihan pada Alana versi kecil yang selalu berusaha menjadi kuat untuk orang lain. Ia menangis karena ia akhirnya menyadari betapa kejamnya ia pada dirinya sendiri selama ini.
Di bawah langit biru yang tak berujung, Alana melepaskan semua tuntutan itu. Ia membiarkan setiap tetes air matanya menghapus memori tentang daftar utang, wajah cemberut Ibu, dan kebungkaman Ayah.
Saat pesawat mulai menukik turun menuju Pulau Dewata, Alana menyeka wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara kabin yang kini terasa lebih murni. Ia sudah siap untuk mendarat. Bukan sebagai mesin, bukan sebagai batu karang, tapi sebagai manusia yang akhirnya memiliki kendali atas air matanya sendiri.