Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekapan Tangan dan Nenek yang "Ajaib"
Sinar matahari Calapan yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden kayu, menyinari tempat tidur di mana dua manusia sedang terlelap. Karena udara Calapan jauh lebih dingin daripada Makati, tanpa sadar keduanya mencari sumber kehangatan.
Sheena menggeliat pelan. Ia merasa sangat nyaman, seperti dipeluk oleh guling raksasa yang hangat dan beraroma kayu cendana. Sementara itu, Matthias merasa ada beban kecil yang pas sekali di dekapan dadanya.
Mata Sheena terbuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah kancing piyama hitam yang terbuka setengah, menampakkan dada bidang yang kokoh. Ia mendongak pelan dan jantungnya nyaris melompat keluar saat melihat dagu tegas Matthias tepat di atas kepalanya.
Kaki mereka saling melilit di bawah selimut, dan tangan besar Matthias melingkar posesif di pinggang mungil Sheena.
"HMPHH—!!"
Sheena baru saja hendak mengeluarkan teriakan mautnya saat sebuah tangan besar dan hangat langsung menyambar dan membekap mulutnya dengan kecepatan kilat.
"Diam! Kau seisi rumah jantungan kalau mendengar mu berteriak?" Bisik Matthias dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat dalam.
Mata Matthias menatap tajam Sheena, sementara Sheena hanya bisa melotot protes di balik bekapan tangan Matthias. Posisi mereka sekarang sangat intim; Matthias menindih sebagian tubuh Sheena agar gadis itu tidak berontak.
"Aku akan lepaskan, tapi jangan teriak. Paham?" Ancam Matthias.
Sheena mengangguk cepat. Begitu tangan Matthias lepas, Sheena langsung menendang kaki Matthias di bawah selimut. "Aduh! Kau ini benar-benar babi kecil yang liar ya!" Gerutu Matthias sambil memegangi tulang keringnya.
"Kau yang gila! Siapa yang menyuruhmu memelukku sampai aku tidak bisa napas, dasar menyebalkan?!" Balas Sheena dengan wajah semerah tomat, sambil buru-buru membetulkan rambutnya yang acak-acakan.
Ketegangan di kamar itu pecah saat pintu diketuk dengan ceria.
"Matthias, Sheena. Kalian sudah bangun?" Ucap Lee young ae.
"Kapan ibu tiba?" Tanya Sheena.
"Ayo kemarilah untuk sarapan! Nenek sudah pulang dari rumah sakit!" Suara Ibu Lee Young Ae terdengar dari balik pintu.
Keduanya saling pandang. "Nenek sudah pulang?" Gumam Sheena tidak percaya. Kemarin katanya kritis, kenapa pagi ini sudah sampai rumah?
Saat mereka turun ke ruang makan, mereka mendapati Nenek Grace sedang duduk segar bugar di kursi goyangnya sambil mengunyah mangga manis. Tidak terlihat seperti orang sakit sama sekali.
"Oh, cucu-cucuku kalian sudah bangun ya?" Seru Nenek Grace dengan mata yang berbinar jenaka. "Maaf ya membuat kalian repot-repot pulang. Nenek merasa jauh lebih baik begitu nenek mendengar kalian akan datang."
Sheena mendekat, langsung memeriksa denyut nadi Nenek Grace dengan profesional. "Nenek, kemarin kata Ibu, Nenek lemas sekali? Kenapa sekarang sudah bisa makan mangga sebanyak ini?"
Nenek Grace tertawa kecil, melirik Matthias yang berdiri kaku di belakang Sheena. "Itu namanya keajaiban cinta, Sayang. Melihat kalian berdua disini itu sudah membuat penyakit Nenek hilang 90%."
Matthias menyipitkan mata. Ia mulai curiga kalau "sakit"-nya Nenek hanyalah taktik agar dia dan Sheena pulang ke Calapan. "Nenek... Nenek tidak pura-pura sakit kan hanya agar kami datang kemari?"
"Matthias! Jangan bicara begitu pada Nenek!" Tegur Ibu Lee Young Ae, meskipun ia sendiri sedang menahan senyum.
"Sudah, sudah! Ayo sarapan," potong Nenek Grace. "Sheena, piring Matthias harus penuh ya. Dia itu badannya besar, butuh banyak energi untuk 'menjagamu' semalam, kan?"
Sheena nyaris tersedak air putih yang baru saja ia minum. Wajahnya kembali memanas teringat kejadian bangun tidur tadi. Ia melirik Matthias yang sedang memotong sosis dengan ekspresi datar, tapi telinga pria itu terlihat sedikit memerah.
"Aku tidak butuh dijaga olehnya, Nek. Yang ada aku yang harus menjaga diri dari jangkauan tangan panjangnya," batin Sheena.
Meskipun Sheena menggerutu yang nyaris tak terdengar, ia tetap meletakkan sepotong telur dadar ke piring Matthias tanpa diminta. Sebuah gerakan kecil yang membuat Matthias tertegun sejenak, sebelum kembali memasang wajah dinginnya.