NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1. saat cinta dan kontrak bertemu

Sakira Anindya menatap layar laptop dengan mata yang mulai sembab. Tumpukan dokumen di mejanya tampak seperti gunung yang mustahil untuk didaki. Kantor kecilnya yang hanya berjarak lima menit dari apartemen kontrakannya terasa panas, bukan karena AC yang rusak, tapi karena tekanan hidup yang seolah menekan pundaknya dari semua sisi.

Ia menghela napas panjang. Hidupnya sederhana, tapi penuh perjuangan. Sejak ibunya meninggal dua tahun lalu, Sakira harus menghidupi dirinya sendiri. Ia bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan kecil, selalu disiplin, selalu berusaha. Tapi entah kenapa, rasa hampa selalu menempel di hatinya.

Suara notifikasi dari ponselnya membuatnya tersentak. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal:

"Apakah Anda bersedia menandatangani kontrak… untuk cinta?"

Sakira menatap layar, tak percaya. Apakah ini semacam lelucon? Atau penipuan yang ingin membuatnya panik? Ia mengetik balasan dengan tangan gemetar:

"Siapa ini? Ini maksudnya apa?"

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar lagi. Pesan itu datang lebih cepat dari yang ia duga:

"Nama saya Rafael Pratama. CEO Pratama Group. Jika Anda setuju, kita bisa bertemu besok di kantor saya. Ini bukan lelucon, ini… tawaran."

Sakira menatap pesan itu tanpa percaya. Rafael Pratama—nama itu bukan nama sembarangan. Ia adalah CEO muda yang dikenal keras, cerdas, dan… menakutkan bagi banyak orang. Reputasinya sebagai bos yang perfeksionis membuat banyak karyawan merasa ngeri hanya dengan mendengar namanya.

Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Sakira menutup laptopnya dan menghela napas panjang.

Besok. Ia harus ke sana.

Keesokan harinya, Sakira tiba di gedung pencakar langit Pratama Group. Lobi mewah, lampu kristal, lantai marmer yang memantulkan cahaya—semua tampak seperti dunia lain bagi wanita yang biasa hidup sederhana ini.

Seorang sekretaris muda menyapanya dengan ramah, "Selamat datang, Bu Anindya. Pak Rafael menunggu di ruang konferensi."

Sakira mengangguk, menelan gugupnya, dan melangkah masuk ke ruangan besar yang dipenuhi jendela dari lantai ke langit-langit. Di sanalah dia melihatnya—Rafael Pratama.

Tampan. Tegas. Aura kekuasaan mengelilinginya seperti cahaya yang sulit diabaikan. Rafael menatapnya dengan mata yang tajam, seolah menilai setiap inci dirinya.

"Selamat pagi, Sakira," katanya dengan suara yang dalam, membuat jantungnya berdebar lebih cepat daripada biasanya.

Selamat pagi, Pak Rafael," jawab Sakira, mencoba terdengar tenang. Tapi suara itu sedikit bergetar.

Rafael tersenyum tipis. "Mari langsung ke inti. Saya menawarkan kontrak… khusus. Anda akan menjadi… pasangan kontrak saya selama enam bulan."

Sakira menelan ludah. "Pasangan kontrak?"

Rafael mengangguk. "Benar. Dalam hal ini, Anda akan menemani saya di acara sosial, bisnis, dan publikasi. Tentu saja, semua sesuai aturan yang kita sepakati. Tidak ada kewajiban lebih dari itu. Hanya… penampilan, profesionalisme, dan kehadiran."

Sakira menatapnya tak percaya. "Kenapa… saya?"

"Karena Anda independen, cerdas, dan… menarik," jawab Rafael singkat. "Semuanya harus jelas dari awal. Kontrak ini bukan soal cinta. Tapi kehidupan sering kali tak bisa ditebak, bukan?"

Sakira menunduk, mencoba mencerna kata-kata itu. Hatinya berdebar, antara takut, penasaran, dan sesuatu yang tak bisa ia sebut. Apakah ia bisa menolak? Tapi di sisi lain, ada rasa ingin tahu yang aneh—tentang pria ini, tentang kontrak ini, dan tentang dirinya sendiri.

"Baiklah… saya… saya mau pertimbangkan dulu," katanya akhirnya.

Rafael mengangguk. "Pertimbangkan baik-baik. Tapi ingat, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."

Hari-hari berikutnya, Sakira merasa hidupnya seperti rollercoaster. Setiap kali ia memikirkan kontrak itu, campuran rasa takut dan penasaran terus mengusik pikirannya. Ia tidak bisa tidur nyenyak, tapi ia juga tidak bisa berhenti membayangkan Rafael.

Akhirnya, setelah beberapa hari merenung dan menghitung risiko, Sakira menandatangani kontrak itu. Rasanya seperti melompat ke jurang yang tidak diketahui—menakutkan tapi juga penuh adrenalin.

Hari pertama kontrak dimulai dengan Rafael menjemputnya di apartemennya sendiri. Ia mengenakan jas hitam rapi, rambutnya tertata sempurna, aroma maskulin yang lembut tapi kuat memenuhi ruang mobil. Sakira duduk di sampingnya, menelan gugup, mencoba menenangkan diri.

"Mari kita jalani ini dengan profesional," kata Rafael sambil menatap jalan di depan. "Jika ada batasan, sampaikan sekarang. Kita harus jelas."

Sakira mengangguk. "Baik, Pak Rafael."

Namun, seiring perjalanan ke sebuah acara amal yang mewah, Sakira mulai merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap tatapannya pada Rafael menimbulkan ketegangan di dadanya, dan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu membuat hatinya berdebar cepat.

Saat malam itu selesai, mereka berdiri di balkon gedung tinggi, melihat lampu kota yang berkelap-kelip. Rafael menatap Sakira, serius. "Saya menghargai keberanianmu. Banyak yang takut dengan kontrak ini. Tapi kamu… berbeda."

Sakira menunduk, merasa wajahnya memanas. "Terima kasih, Pak Rafael."

Rafael tersenyum tipis, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Sakira berpikir—apakah ia hanya melihat sekadar CEO yang dingin, atau ada sisi lain yang belum ia ketahui?

Malam itu, ketika Sakira pulang ke apartemennya, hatinya campur aduk. Kontrak ini awalnya terlihat seperti formalitas, tapi ia merasakan getaran yang tak bisa ia abaikan. Ia bertanya-tanya, apakah hati bisa benar-benar dijaga dari rasa cinta jika kontrak ini berjalan lebih lama?

Sementara itu, Rafael menatap kota dari kantornya yang tinggi, memikirkan Sakira. Dia tahu kontrak ini hanyalah permainan, tapi sesuatu tentang wanita ini… sesuatu membuatnya sulit untuk menjaga jarak.

Dan di situlah semuanya dimulai—kontrak yang seharusnya sederhana, ternyata membuka pintu bagi perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Setelah malam itu, Sakira duduk di sofa apartemennya, menatap kontrak yang kini berada di meja. Setiap kata, setiap pasal, terasa seperti rantai yang menahan kebebasannya, namun juga… membuka jalan ke sesuatu yang tak pernah ia duga. Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam.

"Kenapa aku melakukan ini…?" gumamnya pelan.

Tak ada jawaban. Hanya suara jantungnya sendiri yang berdetak keras, seolah menolak untuk tenang. Ia mencoba mengingat semua alasan mengapa ia menandatangani kontrak: uang yang cukup untuk hidup mandiri, kesempatan untuk belajar dari dunia yang sebelumnya tak ia kenal, dan tentu saja, rasa penasaran yang tak tertahankan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan—perasaan yang aneh, campuran takut dan penasaran, yang muncul setiap kali mengingat mata Rafael malam itu.

Keesokan paginya, ponselnya bergetar dengan notifikasi pesan dari Rafael.

Jangan terlambat. Kita ada pertemuan dengan klien penting hari ini. Kenakan pakaian yang rapi."

Sakira menelan ludah. Ia belum terbiasa dengan tekanan ini. Namun, ia tahu menolak bukanlah pilihan. Dengan gemetar, ia memilih setelan formal sederhana—blouse putih dan rok hitam rapi. Saat ia melangkah keluar, rasa gugup masih menyelimuti.

Rafael sudah menunggunya di lobi gedung. Sesuai dengan reputasinya, ia sempurna, mulai dari rambut hingga sepatu yang mengkilap. Saat Sakira berjalan mendekat, Rafael menatapnya singkat, dan sesuatu di matanya membuat Sakira merasakan panas di pipinya.

"Siap?" tanya Rafael, suara datar tapi berwibawa.

Oke! Kita lanjutkan Bab 1 “Saat Cinta dan Kontrak Bertemu” sekitar 1.000 kata tambahan, fokus pada dinamika pertama antara Sakira dan Rafael, konflik batin Sakira, dan ketegangan romansa yang bikin pembaca penasaran di NovelToon:

Setelah malam itu, Sakira duduk di sofa apartemennya, menatap kontrak yang kini berada di meja. Setiap kata, setiap pasal, terasa seperti rantai yang menahan kebebasannya, namun juga… membuka jalan ke sesuatu yang tak pernah ia duga. Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam.

"Kenapa aku melakukan ini…?" gumamnya pelan.

Tak ada jawaban. Hanya suara jantungnya sendiri yang berdetak keras, seolah menolak untuk tenang. Ia mencoba mengingat semua alasan mengapa ia menandatangani kontrak: uang yang cukup untuk hidup mandiri, kesempatan untuk belajar dari dunia yang sebelumnya tak ia kenal, dan tentu saja, rasa penasaran yang tak tertahankan. Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan—perasaan yang aneh, campuran takut dan penasaran, yang muncul setiap kali mengingat mata Rafael malam itu.

Keesokan paginya, ponselnya bergetar dengan notifikasi pesan dari Rafael.

"Jangan terlambat. Kita ada pertemuan dengan klien penting hari ini. Kenakan pakaian yang rapi."

Sakira menelan ludah. Ia belum terbiasa dengan tekanan ini. Namun, ia tahu menolak bukanlah pilihan. Dengan gemetar, ia memilih setelan formal sederhana—blouse putih dan rok hitam rapi. Saat ia melangkah keluar, rasa gugup masih menyelimuti.

Rafael sudah menunggunya di lobi gedung. Sesuai dengan reputasinya, ia sempurna, mulai dari rambut hingga sepatu yang mengkilap. Saat Sakira berjalan mendekat, Rafael menatapnya singkat, dan sesuatu di matanya membuat Sakira merasakan panas di pipinya.

"Siap?" tanya Rafael, suara datar tapi berwibawa.

"Siap, Pak Rafael," jawabnya, menelan rasa gugup.

Perjalanan ke klien berlangsung hening. Rafael lebih banyak diam, tangannya memegang kemudi dengan rapi, tatapannya fokus pada jalan. Tapi Sakira bisa merasakan sorotan matanya yang sesekali menoleh ke arah kursi penumpang. Setiap kali mata mereka bertemu, Sakira merasa tubuhnya menegang, jantungnya berdetak cepat.

Sesampainya di gedung klien, Rafael langsung menunjukkan sisi profesionalnya. Ia berbicara dengan tenang, logis, dan penuh karisma. Sakira yang awalnya takut, mulai memahami cara bekerja Rafael. Ia menyalin catatan, menjawab pertanyaan dengan sopan, dan bahkan menyumbangkan ide kecil yang membuat Rafael menoleh ke arahnya sekilas.

"Bagus," kata Rafael singkat, suaranya rendah. "Kamu cepat belajar."

Sakira menunduk, merasa wajahnya memanas. Kata itu… sederhana, tapi membuatnya merasa… dihargai. Bukan hanya sebagai ‘pasangan kontrak’, tapi sebagai wanita yang mampu berdiri sejajar dengan pria yang tampak sempurna itu.

Hari itu, mereka berjalan melalui gedung-gedung pencakar langit, menghadiri acara makan malam mewah yang diadakan untuk klien besar. Sakira belajar untuk tersenyum, tertawa dengan sopan, dan menyesuaikan diri dengan dunia yang sama sekali baru. Namun, ada satu hal yang selalu menghantui pikirannya—apa yang Rafael pikirkan tentangnya di balik tatapan dinginnya itu?

Saat malam semakin larut, mereka berdua berada di balkon hotel mewah yang menghadap kota yang berkelap-kelip. Rafael menyalakan sebatang rokok, menatap lampu kota dengan tenang. Sakira berdiri di sampingnya, tangan gemetar sedikit.

"Tidak mudah, bukan?" kata Rafael tiba-tiba.

Sakira menoleh. "Apa maksud Pak Rafael?"

"Menjalani hidup seperti ini. Selalu harus tampil sempurna, selalu diawasi, selalu diperhatikan." Suara Rafael terdengar hampir lirih, bukan seperti biasanya yang dingin dan tegas. "Kadang aku ingin berhenti, tapi tidak bisa."

Sakira terkejut. Tidak banyak orang melihat sisi lembut Rafael. Ia menelan rasa kagum dan rasa ingin tahu yang semakin dalam. "Pak Rafael… apakah… apakah semua ini tidak melelahkan?"

Rafael menoleh padanya. Matanya menatap Sakira dengan tajam, tapi bukan tajam yang menakutkan—lebih seperti ingin mengerti. "Tapi ada hal yang… membuat semuanya lebih mudah. Seseorang yang bisa… berdiri di sampingku, walau hanya sebatas kontrak."

Sakira terdiam, jantungnya berdegup kencang. Kata-kata itu… terasa seperti membuka pintu hati yang selama ini ia jaga rapat. Ia ingin berkata sesuatu, tapi suara di tenggorokannya seolah hilang.

Malam itu, ketika Sakira pulang ke apartemen, pikirannya terus kembali pada Rafael. Kontrak ini… awalnya terasa formal, tapi kini ia menyadari ada emosi yang muncul tanpa ia sadari. Tak hanya takut, penasaran, atau rasa ingin tahu—ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang ia tak mau akui.

Beberapa hari berikutnya, rutinitas mereka semakin dekat. Rafael membawa Sakira ke berbagai acara bisnis, makan malam, bahkan rapat yang panjang dan melelahkan. Setiap kali, Sakira belajar lebih banyak tentang dunia yang selama ini terasa jauh darinya. Tapi di setiap kesempatan, ia juga belajar tentang Rafael—pria yang di mata banyak orang dingin dan tak terjangkau, ternyata memiliki sisi yang membuatnya ingin lebih mengenal.

Suatu sore, setelah rapat panjang, Rafael menatap Sakira saat mereka berjalan menuju mobil. "Kamu sudah capek?" tanyanya.

"Ada sedikit capek, tapi… baik-baik saja," jawab Sakira, mencoba tersenyum.

Rafael tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. "Kamu kuat. Aku senang kontrak ini ada kamu."

Sakira menelan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Bagaimana bisa kontrak yang seharusnya formal membuat hatinya berdebar seperti ini? Bagaimana bisa seseorang yang dingin dan misterius membuatnya merasa… hangat?

Di perjalanan pulang, Sakira duduk diam, memikirkan Rafael. Ia tahu kontrak ini hanyalah permainan, tapi hatinya menolak untuk bermain sesuai aturan. Ia merasa dirinya mulai terjerat—bukan oleh kontrak, tapi oleh… perasaan yang semakin sulit diabaikan.

Saat ia membuka pintu apartemen dan masuk, Sakira menatap kontrak di meja.

Kata-kata yang tertulis di sana kini terasa lebih rumit daripada sebelumnya. Apakah hatinya akan tetap aman, atau kontrak ini justru membuka jalan bagi sesuatu yang lebih berbahaya—cinta yang tak pernah direncanakan?

Dan di balik gedung tinggi kota itu, Rafael menatap kota dari kantornya, memikirkan Sakira. Ia tahu kontrak ini hanyalah kesepakatan formal, tapi… ada sesuatu tentang wanita itu yang membuatnya ingin melanggar aturan. Sesuatu yang membuatnya berpikir: mungkin kontrak ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.

bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!