Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Kekonyolan keluarga Lopez mencapai puncaknya justru saat "pasukan badai" datang tanpa diundang. Sore itu, pintu penthouse terbuka dengan kunci cadangan yang hanya dimiliki oleh keluarga inti. Mommy Lopez masuk dengan membawa lima tas belanjaan besar, diikuti Mateo yang tampak pasrah, serta Lionel dan Laxia yang sudah siap dengan kamera ponsel mereka.
"Kejutan! Oma datang membawa bahan baku untuk pesta kebun dalam ruangan!" seru Mommy Lopez, mengabaikan fakta bahwa ini adalah lantai 42 dan tidak ada kebun di sini.
Zion, yang saat itu sedang mencoba memakai masker wajah stroberi milik Cassie (karena kalah taruhan main video game dengan Logan), membeku di tengah ruang tamu. Wajahnya merah muda cerah dan lengket.
"Dad? Mom? Kenapa tidak menelepon dulu?" Zion mencoba menutupi wajahnya, tapi Laxia lebih cepat.
Cekrek!
"Foto ini akan menjadi wallpaper grup keluarga kita selama setahun ke depan," tawa Laxia meledak. "CEO Lopez Group atau member baru girlband Korea, Kak?"
Cassie keluar dari ruang kerjanya dengan kacamata bertengger di hidung, tampak elegan sampai ia melihat kekacauan di ruang tamunya. "Mommy? Opa? Ada apa ini?"
"Kami bosan di mansion, Cassie. Mateo bilang dia merindu cucunya, padahal sebenarnya dia hanya ingin menghindari rapat yayasan," bisik Mommy Lopez jenaka.
Entah bagaimana mulanya, dapur penthouse yang tadinya tenang kini berubah menjadi medan perang kuliner. Mommy Lopez memutuskan bahwa malam ini harus ada kompetisi memasak keluarga.
"Tim A: Zion dan Lionel. Tim B: Cassie dan Laxia. Jurinya adalah Mateo dan Logan!" Mommy Lopez membagi tugas dengan otoritas seorang jendral.
Zion dan Lionel segera memakai apron kembar. "Lihat ini, tim wanita. Kami memiliki kekuatan otot untuk mengocok telur!" seru Lionel penuh percaya diri.
"Otot tidak berguna kalau otakmu tertinggal di garasi, Li," sahut Laxia sambil mulai memotong sayuran dengan kecepatan tinggi, dibantu oleh Cassie yang sangat presisi dalam segala hal.
Logan duduk di meja bar bersama Opanya, Mateo Lopez. Keduanya mengenakan jas , Mateo memang tidak pernah bisa santai, dan Logan memegang peluit wasit yang entah didapatnya dari mana.
"Waktu dimulai... SEKARANG!" Logan meniup peluitnya dengan keras.
Kekacauan pun pecah. Zion mencoba melakukan atraksi flambe dengan api yang terlalu besar di atas wajan steak-nya.
"Zion! Kau akan memicu sensor pemadam api!" teriak Cassie saat lidah api menyentuh langit-langit dapur.
"Tenang, Sayang! Ini adalah teknik searing tingkat tinggi!" balas Zion panik sambil mencoba meniup api tersebut yang tentu saja tidak berhasil.
Sementara itu, Lionel mencoba membuat saus rahasia, namun ia tidak sengaja memasukkan bubuk cabai super pedas, mengira itu adalah paprika manis.
"Tim pria sepertinya sedang mencoba meracuni juri," komentar Logan sambil mencatat di bukunya. "Skor sementara: Tim Wanita 8, Tim Pria minus 5 karena risiko kebakaran."
Setelah dua jam penuh tawa, teriakan, dan bau gosong yang samar, semua hidangan tersaji di meja. Tim Wanita menyajikan Seafood Risotto yang tampak seperti karya seni, sementara Tim Pria menyajikan "Steak Arang" dengan saus yang warnanya mencurigakan.
Mateo Lopez mencicipi steak buatan putranya dengan wajah datar yang legendaris. Ia mengunyah pelan, lalu meneguk air putih dalam jumlah banyak. "Zion... aku bangga kau bisa menjalankan perusahaan, karena jika kau jadi koki, kita semua sudah tinggal di kolong jembatan sekarang."
"Terlalu jujur, Dad," keluh Zion sambil mencoba masakannya sendiri dan langsung terbatuk karena pedasnya saus Lionel.
"Pemenangnya tentu saja Mommy dan Aunty Laxia!" seru Logan dengan semangat. "Hadiahnya adalah... Daddy dan Om Lionel harus mencuci semua piring kotor malam ini tanpa bantuan mesin pencuci!"
"Apa?! Itu ada ratusan piring!" protes Lionel.
"Keadilan harus ditegakkan, Li," sahut Mateo sambil tersenyum tipis, menikmati kemenangan menantu dan putrinya.
Setelah kegaduhan mereda, keluarga besar itu berkumpul di balkon luas yang menghadap ke arah gemerlap lampu Chicago. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma kopi yang diseduh Mommy Lopez.
Logan duduk di pangkuan Mateo, mendengarkan cerita tentang masa kecil Zion yang ternyata jauh lebih konyol.
"Tahukah kau Logan? Dulu Daddy-mu pernah mencoba kabur dari sekolah karena dia ingin menonton balapan mobil, tapi dia malah masuk ke bus yang salah dan berakhir di peternakan sapi," cerita Mateo sambil terkekeh.
"Benarkah, Dad?" Logan menatap Zion yang sedang duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya di lutut Cassie.
"Ya, dan sapi-sapi itu jauh lebih sopan daripada kakekmu sekarang," balas Zion yang langsung dihadiahi cubitan kecil di telinganya oleh Cassie.
Cassie menatap sekelilingnya. Sepuluh tahun lalu, ia merasa Chicago adalah kota paling kejam yang pernah ia injak. Ia merasa kesepian, hancur, dan tidak berdaya. Namun sekarang, melihat keluarga besar yang sangat berisik dan konyol ini, ia menyadari bahwa ia bukan lagi orang asing. Ia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
"Kenapa kau tersenyum?" bisik Zion, menarik tangan Cassie dan mencium punggung tangannya.
"Aku hanya berpikir... kalian semua benar-benar gila," jawab Cassie lembut.
"Gila karena mencintaimu, Cass," sahut Zion dengan nada menggoda yang tidak pernah hilang.
"Ehem! Kode Merah! Daddy mulai lagi!" teriak Logan dari kejauhan, membuat semua orang tertawa serentak.
Malam itu, di lantai tertinggi apartemen mereka, keluarga Lopez membuktikan bahwa kemewahan sejati bukan terletak pada berlian atau gedung pencakar langit, melainkan pada kemampuan untuk menertawakan diri sendiri dan saling memiliki dalam kekonyolan yang paling tulus.
Saat para tamu akhirnya pulang menjelang tengah malam, penthouse itu kembali sunyi, namun kehangatannya masih tertinggal. Zion menggendong Logan yang sudah tertidur ke kamarnya, lalu kembali ke ruang tengah untuk menemui Cassie yang sedang menatap pemandangan kota.
"Jadi, Nyonya Lopez... piringnya sudah bersih semua. Ada hadiah untuk suami yang rajin?" tanya Zion sambil memeluk Cassie dari belakang.
Cassie berbalik, melingkarkan lengannya di leher Zion. "Hadiahmu adalah... tidur tanpa gangguan pinggang sakit malam ini. Aku lelah tertawa, Zion."
"Baiklah, malaikat pelindungku. Tapi besok pagi, jangan salahkan aku kalau ada 'angin kencang' lagi," bisik Zion sebelum mencium kening istrinya dengan penuh kasih.
Dunia mungkin melihat mereka sebagai raksasa bisnis, tapi di bawah sinar bulan Chicago, mereka hanyalah Zion dan Cassie—dua orang yang akhirnya menemukan jalan pulang melalui labirin kekonyolan hidup.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.