NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:294.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengorbanan Sha Nuo

Cahaya biru hasil teknik penyembuhan Phoenix Biru Ektomi mulai meredup. Api yang sejak tadi berkobar terang, menari liar mengelilingi tubuh Boqin Changing, kini perlahan mengecil. Nyala yang sebelumnya menyilaukan mata berubah menjadi pijar lembut yang berdenyut pelan, seirama dengan detak jantungnya. Cahaya itu tidak lagi memancar agresif, melainkan bergetar stabil, seolah memastikan bahwa setiap serpihan energi terakhir benar-benar terserap sempurna.

Serpihan cahaya tujuh warna yang sebelumnya memenuhi ruang dengan kilau memukau telah sepenuhnya lenyap. Tidak ada lagi bias merah, hijau, ungu, atau emas yang beterbangan. Semua telah menyatu tanpa sisa, mengalir masuk ke dalam meridian dan tenggelam di dantiannya. Tidak ada kebocoran. Tidak ada sisa yang terbuang. Batu Pelangi Surga itu benar-benar telah hancur.

Namun ketika cahaya memudar, sesuatu yang lain justru muncul. Tubuh Boqin Changing mulai berasap. Uap putih tipis keluar dari pori-porinya, mengalir naik seperti kabut pagi di atas danau sunyi. Uap itu membawa bau samar darah hangus dan kotoran energi yang selama ini tersembunyi di dalam tubuhnya.

Asap belum sempat benar-benar menghilang ketika arus petir kecil tiba-tiba menjalar di permukaan kulitnya.

Cretak… cretak…

Kilatan tipis berwarna perak kebiruan melingkar di lengannya, melompat dari bahu ke pergelangan tangan, lalu menyambar halus ke ujung jari. Arus itu tidak besar, tidak menghancurkan, namun cukup untuk membuat udara di sekitarnya bergetar. Petir-petir kecil itu berputar mengelilinginya seperti naga mungil yang setia, melingkar dan berdesis lembut. Rambutnya berdiri karena muatan listrik. Pakaiannya bergetar ringan, kainnya berdesir oleh tekanan arus yang terus bergerak di bawah kulitnya.

Boqin Changing menunduk perlahan. Ia merasakan dirinya sendiri. Ia menggerakkan jari-jarinya.

Ringan. Tidak ada rasa kaku. Tidak ada sisa beban berat seperti sebelumnya. Setiap sendi terasa seperti baru dilumasi, setiap otot seperti baru ditempa ulang. Ia mengepalkan tangan, lalu membukanya kembali. Kekuatan di dalamnya tidak meledak liar seperti badai, melainkan berputar tenang, patuh pada kehendaknya.

Ia menarik napas dalam-dalam. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa berbeda. Lebih murni. Lebih jernih. Seolah partikel di udara dengan sukarela berbaris dan memasuki tubuhnya tanpa perlu dipaksa. Mereka datang sendiri, menyambutnya, tunduk padanya. Bahkan hembusan angin tipis di ruang itu terasa seolah memiliki kesadaran samar yang mengakui keberadaannya.

Tubuhnya kini… berbeda. Meridian yang dulu terasa seperti sungai deras kini seperti samudra luas tanpa tepi. Dantiannya bukan lagi lautan qi biasa yang bergelombang liar, melainkan pusaran raksasa yang berputar stabil di kedalaman. Setiap putaran memancarkan tekanan tak kasatmata yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Namun tekanan itu terkendali. Jinak. Tunduk pada pikirannya.

Ia terdiam beberapa detik. Lalu kesadaran itu menghantamnya seperti petir dari langit cerah. Ia benar-benar telah menembus Ranah Pendekar Langit. Bibirnya bergetar pelan.

“Ini… benar-benar gila…”

Suara itu terdengar serak, hampir tidak percaya. Lalu tawa kecil keluar dari tenggorokannya, tawa yang bercampur lega dan euforia. Setelah berulang kali gagal. Setelah di kehidupan keduanya ini ia harus menunggu bertahun-tahun untuk menstabilkan fondasi, menahan diri dari ambisi berlebihan sebelum berani menyerap Batu Pelangi Surga. Setelah berkali-kali hampir mati dalam kegagalan dan luka yang nyaris menghancurkan meridiannya.

Kini… ia berhasil. Ia benar-benar berhasil menyerap khasiat Batu Pelangi Surga sepenuhnya.

Di kehidupan pertamanya, sumber daya inilah yang mendorongnya naik ke ranah Pendekar Langit. Namun saat itu ia tidak sendirian. Pengikutnya yang paling setia, Zhi Shen, berdiri di belakangnya, menyalurkan kekuatan tanpa ragu demi menopang proses yang nyaris mustahil itu. Kenangan itu melintas sekilas di benaknya.

Kini… di kehidupan keduanya, ia kembali menembus ranah yang sama. Dengan sumber daya yang sama. Dengan risiko yang tidak kalah besar. Hanya saja orang di belakangnya berbeda. Bukan Zhi Shen. Melainkan Sha Nuo.

Boqin Changing tersenyum tipis. Tubuhnya masih sedikit sakit. Tulangnya terasa berat seolah baru selesai ditempa ribuan kali. Meridian di dalamnya masih berdenyut, menyisakan gema tekanan besar yang baru saja ia lalui. Namun rasa sakit itu tidak lagi bertambah. Tidak lagi liar. Tidak lagi mengancam menghancurkannya dari dalam. Itu adalah rasa sakit yang bisa ia terima.

Di belakang punggungnya, ia merasakan kehangatan. Api biru. Hangat. Stabil. Masih menyentuh punggungnya melalui kedua telapak tangan Sha Nuo. Api itu kini jauh lebih lembut dibanding sebelumnya, seperti bara yang menjaga suhu agar tidak turun mendadak setelah badai energi besar berlalu.

Boqin Changing membuka mulutnya. Suaranya serak namun ringan.

“Paman… tarik apinya.”

Arus petir kecil masih berkelip di bahunya saat ia berbicara.

“Prosesnya sudah selesai.”

Tidak ada jawaban. Ia tersenyum samar, mengira Sha Nuo mungkin terlalu lelah untuk segera merespons. Bagaimanapun juga, proses ini berlangsung berhari-hari tanpa henti.

“Sudah selesai,” ulangnya lebih pelan. “Aku sudah menembusnya.”

Hening. Api biru di punggungnya masih ada. Namun tidak lagi menguat. Tidak lagi berubah. Tetap pada intensitas yang sama, seolah membeku dalam satu titik waktu.

Alis Boqin Changing berkerut tipis.

“Paman?”

Kali ini ia tidak hanya berbicara. Ia mengirimkan getaran kesadaran melalui koneksi yang masih terbuka di antara mereka. Jalur kesadaran yang selama beberapa hari terakhir menjadi penghubung utama stabilitas proses itu kini ia sentuh dengan hati-hati.

Tidak ada balasan. Tidak ada suara. Tidak ada gelombang respons. Hanya sunyi yang dalam dan kosong.

Senyumnya perlahan menghilang. Arus petir di sekeliling tubuhnya mulai meredup, seakan merasakan perubahan suasana hati tuannya. Uap putih dari tubuhnya telah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit yang kini lebih keras dan lebih halus sekaligus, kulit seorang pendekar yang telah melampaui batas sebelumnya.

Dengan perlahan, Boqin Changing berbalik. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Paman!!!!!”

Kali ini suaranya tidak lagi ringan. Tidak lagi tenang.

Boqin Changing membeku. Apa yang ia lihat membuat darahnya seolah berhenti mengalir.

Sha Nuo masih duduk bersila tepat di belakangnya. Posisi tubuhnya tidak berubah sedikit pun. Kedua tangannya tetap terangkat ke depan, telapak menghadap punggung Boqin Changing. Api biru masih mengalir dari pusat telapak itu, namun nyalanya kini tipis, nyaris transparan seperti sisa cahaya sebelum padam.

Tubuh Sha Nuo… berlumuran darah. Darah kering menghitam di sudut bibirnya, membentuk garis tipis yang mengalir ke dagu. Darah segar masih menetes perlahan dari ujung lengan bajunya, jatuh satu demi satu ke lantai batu di bawahnya. Jubahnya basah dan melekat pada kulit pucat yang hampir kehilangan warna kehidupan.

Matanya setengah tertutup. Tatapannya kosong. Namun yang paling membuat napas Boqin Changing tersendat adalah kedua tangannya. Dari siku hingga pergelangan… dagingnya hampir tidak ada.

Kulitnya terkelupas, terbakar oleh energi yang terlalu lama dipaksa keluar. Otot-ototnya menghilang, menyusut habis seakan dilahap api dari dalam. Yang tersisa hanyalah tulang-tulang ramping yang terbalut lapisan hitam seperti arang. Retakan-retakan halus menghiasi permukaannya, seperti tanah kering yang hampir pecah sepenuhnya.

Api biru masih menyala dari tulang itu. Masih mengalir. Masih menopang.

“Paman…” suara Boqin Changing bergetar.

Ia langsung memahami apa yang terjadi.

Beberapa hari terakhir… Sha Nuo tidak hanya menyalurkan api Phoenix Biru Ektomi. Ia memaksanya. Terus-menerus. Tanpa henti.

Tanpa memutus aliran sedikit pun, bahkan ketika tubuhnya sendiri sudah mencapai batas. Ia menjaga suhu, menjaga stabilitas, menjaga agar tubuh Boqin Changing tidak runtuh ketika Batu Pelangi Surga mengamuk di dalam tubuhnya.

Sha Nuo mempertaruhkan segalanya. Demi dirinya.

Dada Boqin Changing terasa seperti dihantam palu raksasa. Rasa bersalah dan amarah pada diri sendiri bercampur menjadi satu, menggulung seperti badai di dalam hatinya.

“Kenapa… kenapa kau tidak menghentikannya…” bisiknya lirih.

Ia mengirimkan gelombang kesadaran lagi. Tidak ada jawaban. Ia memperkuat koneksi itu, mendorong lebih dalam ke dalam lautan kesadaran Sha Nuo. Apa yang ia rasakan membuat tenggorokannya tercekat.

Kesadaran Sha Nuo seperti lilin kecil di tengah badai. Redup. Hampir padam. Hanya tersisa percikan tipis yang bergetar lemah, seolah setiap detik berikutnya bisa menjadi yang terakhir.

Ia bahkan tidak bisa lagi merespons panggilan sederhana. Sha Nuo… sudah tidak bisa menjawabnya. Api biru di telapak tangan itu bergetar lemah.

Sesuatu di dalam diri Boqin Changing retak. Di kehidupan pertamanya, Zhi Shen juga pernah berdiri di belakangnya seperti ini. Menopang proses yang sama.

Sejarah seolah berulang. Hanya saja kali ini… lebih kejam. Tanpa berpikir panjang, Boqin Changing bergerak. Api biru kini menyelimuti tangannya, bersiap menyembuhkan.

“Dengarkan aku, Paman…” suaranya berubah. Tegas. Dalam. Penuh tekad yang tak tergoyahkan. “Jika kau berani mati setelah membantuku sejauh ini… aku akan menyeretmu kembali dari gerbang kematian itu sendiri.”

Tangannya menyentuh tubuh Sha Nuo. Energi penyembuh di dalam tubuhnya mulai mengalir perlahan melalui telapak tangannya, masuk ke tubuhnya hancur, menyentuh tulang yang retak, membungkus percikan kesadaran yang hampir padam itu.

Perlahan. Hati-hati.

Ia tahu satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan sisa fondasi hidup Sha Nuo yang rapuh. Ia menahan kekuatannya yang kini jauh lebih besar setelah menembus Ranah Pendekar Langit, memastikan alirannya halus seperti benang sutra, bukan deras seperti banjir.

Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan orang yang berdiri di belakangnya mati demi dirinya. Tidak akan.

1
Mr. Diks
butih crazy up thoor😂😂😂
berasa kurang baca nya...
Zainal Arifin
joooooooosssss 💪💪💪
HINATA SHOYO
cari penyakit ngarahin pedang le bang boqin kelar hidup 🤣🤣🤣🤣lanjut tor crazy up gassssss
☠️⃝🖌️M⃤eko
hahahaha... biasanya yang mengarahkan pedang ke boqin tidak akan berakhir bahagia 🤣🤣
Rinaldi Sigar
lnjut
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Test power... 🔥🌽
Gak tau Siapa
niat ga sih apaan sehari 1 doang bikin males aja
Nanik S
Makin seru Tor
Nanik S
Benar kata Nuo... suka pamer 🤣🤣🤣
Raju
ciri khas permanen.
tidak suka diamcam...
MOANTAP TENAAAAN...
Nanik S
Lanjutkan dan Gas Poool
Nanik S
Sha Nuo bisa mabuk dan Tidur.. enak sekali rasanya bebas tugas🤣🤣🤣
Ipung Umam
lanjutkan
Rusdi Udi
sangat menarik👍
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Frannco
amazing story
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
Minal aidin walfaizin thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ......,...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!