Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Malam Penuh Luka, Fajar Penuh Tekad
Heras pulang diantar oleh pasukan, membawa serta kursi roda baru yang lebih ringan dengan desain modern. Saat ia melintasi ambang pintu, matanya menangkap pemandangan keluarganya yang berkumpul di ruang tamu. Namun, sambutan yang ia harapkan tak kunjung datang; mereka hanya memandangnya dengan acuh tak acuh, seolah kehadirannya tak berarti apa-apa.
Dari arah dapur, ibunya muncul. Wajah wanita itu dipenuhi amarah saat ia mulai memarahi Heras karena tidak pulang selama ini. Kata-kata tajam terus meluncur dari mulutnya—ia menghina Heras yang seolah tidak punya rumah, atau bahkan mungkin memang tidak ingin tinggal di sana. Ancaman pun terlontar: ibunya berniat mengusirnya dari rumah itu.
Heras mengepalkan tangannya erat-erat, jemarinya memutih karena menahan emosi yang meluap. Wajahnya memerah menahan marah dan sakit hati. Ia tidak tahan lagi dengan tekanan yang terus-menerus diberikan oleh keluarganya. Tanpa berkata apa-apa, Heras memutar rodanya dengan cepat, meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang, namun kini terasa lebih seperti penjara yang menyakitkan.
Ia bergegas menuju sebuah taman lokal. Di bawah tiang lampu jalan yang menerangi sepotong jalanan sepi, Heras duduk termenung. Hatinya terasa remuk redam. Kepedihan yang ia rasakan bukan sekadar karena dihina atau diancam, melainkan karena kenyataan bahwa orang-orang yang seharusnya mencintainya justru menjadi sumber luka terbesarnya. Ia merasa terasing di tengah keluarganya sendiri, seolah ia adalah beban yang tidak diinginkan. Setiap kata hinaan ibunya bergema di kepalanya, menusuk-nusuk hatinya seperti jarum tajam. Ia bertanya-tanya dalam diam, apakah kesalahannya begitu besar hingga ia tidak pantas mendapatkan kasih sayang? Rasa kesepian dan ketidakberhargaan menyelimuti dirinya, membuat dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. Air mata hampir menetes, namun ia menahannya—ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan mereka yang sudah meremehkannya.
Heras berdiam diri di sana hingga malam semakin larut, menyelimuti langit dengan kegelapan yang pekat. Akhirnya, ia menggelengkan kepalanya perlahan, seakan mengusir semua rasa sedih dan putus asa yang menghantuinya. Matanya menatap lurus ke depan, dan di sana, terlihat tekad yang membara begitu kuat. Ia sudah membuat keputusan bulat: ia harus berjuang. Bukan untuk keluarganya yang tidak menghargainya, tapi demi masa depan umat manusia.
Ia memandang sekeliling taman yang sunyi, tidak ada satu pun orang yang terlihat. Suasana sepi ini justru menjadi kesempatan baginya. Heras memutuskan untuk mulai berlatih.
Beberapa jam berlalu, langit yang tadinya gelap gulita perlahan berubah menjadi sedikit kebiruan, tanda fajar akan segera tiba. Namun, Heras masih terus berlatih, fokus mengasah kemampuan kompresi kakinya yang memiliki efek ledakan saat dilepas. Ia berusaha meningkatkan kecepatan gerakannya, memperkuat kekuatan serangan, serta meminimalkan energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan kompresi yang maksimal.
Keringat bercucuran deras dari tubuhnya, membasahi pakaiannya hingga basah kuyup. Nafasnya terdengar tidak teratur, tersengal-sengal seiring dengan usaha keras yang ia lakukan. Tubuhnya sudah terasa sangat lelah, otot-ototnya menjerit meminta istirahat, namun ia terus menggertakkan giginya, menolak untuk menyerah.
Hingga akhirnya, tubuhnya tak lagi sanggup menahan beban. Heras terjatuh dari kursi rodanya, energinya benar-benar habis, fisiknya sudah mencapai batas kemampuan. Saat itulah, sebuah notif muncul di hadapannya: Mendapatkan Skill: Luapan Energi Raga.
Dengan nafas yang masih terengah-engah, Heras memandang notif itu dengan pandangan yang samar. Kemudian, ia perlahan menutup matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kelelahan, namun dengan hati yang kini penuh dengan tekad baru.