Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sisa Nyala di Trotoar
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, tapi bagi Hana, kegelapan itu justru terasa mengendap di dalam dadanya. Ia duduk di atas bangku beton di sebuah taman kecil yang remang-remang, tak jauh dari stasiun kereta. Di sampingnya, sebuah tas kain besar berisi pakaian mereka tampak seperti gundukan beban yang sia-sia. Putranya, Gilang, sudah tertidur lelap dengan kepala bersandar di paha Hana, meringkuk kedinginan di balik jaket tipisnya.
Hana mengusap pipi Gilang yang sedikit kasar karena debu jalanan. Rasa sakit akibat ucapan Aris di kamar tadi masih terasa seperti sayatan segar yang ditaburi garam.
"Kamu itu cuma istri, bisa dicari lagi."
Kalimat itu berputar-putar di kepalanya, menghancurkan sisa-sisa kenangan manis yang pernah ia simpan tentang suaminya. Hana menatap telapak tangannya sendiri yang memerah dan kasar. Selama lima tahun, tangan ini mengabdi tanpa henti. Mencuci baju Ibu Salma yang tebal-tebal, mengulek bumbu sampai sendinya linu, dan membersihkan setiap sudut rumah sampai mengkilap demi pujian yang tak pernah datang.
Kini, tangan yang sama hanya memegang selembar uang lima puluh ribu rupiah yang lecek.
Hana merogoh saku tasnya, mengeluarkan kalung emas tipis peninggalan ibunya. Di bawah lampu taman yang berkedip-kedip, emas itu tampak pucat. Ini adalah benteng pertahanan terakhirnya. Ia tahu, esok pagi, hal pertama yang harus ia lakukan adalah menjual kalung ini agar Gilang bisa makan dan mereka punya tempat berteduh sementara.
"Maafkan Mama, Nak," bisik Hana pelan. Suaranya pecah, namun ia segera menggigit bibirnya kuat-kali. Ia tidak boleh menangis. Menangis adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli malam ini.
Keesokan paginya, Hana berdiri di depan sebuah toko emas di pinggiran pasar. Ia merasa kerdil. Daster kusamnya yang sudah diganti dengan kemeja lama yang sedikit kusut tetap tidak bisa menyembunyikan penampilannya yang berantakan.
"Dua juta seratus ribu, Mbak. Ini harganya sudah bagus karena kalungnya tipis dan ada bagian yang hampir putus," ucap pemilik toko sambil menimbang kalung itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Dua juta seratus ribu. Nilai itu bahkan tidak sampai separuh dari harga satu meter keramik teras yang dibanggakan Aris semalam. Namun, bagi Hana, angka itu adalah oksigen.
"Terima kasih, Pak," ucap Hana pelan saat menerima lembaran uang itu. Tangannya gemetar saat memasukkan uang tersebut ke dalam dompet kecilnya.
Langkah pertama adalah mencari tempat tinggal. Hana tahu ia tidak bisa pulang ke desa. Ibunya sudah tua dan ayahnya hanya buruh tani. Ia tidak ingin menambah beban mereka dengan drama rumah tangganya yang hancur. Ia harus bertahan di kota ini, di tempat di mana Aris pikir ia akan mati kelaparan.
Setelah berjalan berjam-jam di bawah terik matahari, Hana akhirnya menemukan sebuah kontrakan petak di gang sempit yang pengap. Ruangannya hanya berukuran tiga kali tiga meter, tanpa ranjang, hanya ada kamar mandi kecil di sudut yang berbau semen.
"Seratus ribu seminggu, bayar di depan," kata pemilik kontrakan, seorang wanita paruh baya dengan daster yang tak kalah kusam dari milik Hana dulu.
Hana membayar. Ia masuk ke ruangan kosong itu dan meletakkan tasnya. Gilang menatap sekeliling dengan mata polosnya. "Kita tinggal di sini, Ma? Tidak ada TV-nya?"
Hana berlutut, memeluk anaknya erat. "Sabar ya, Sayang. Sementara di sini dulu. Mama janji, nanti kita punya rumah yang lebih bagus dari rumah Ayah. Rumah yang isinya cuma ada kita berdua, tanpa ada yang marah-marah."
Sore itu, setelah membelikan Gilang nasi bungkus sederhana dan sebuah kasur lantai tipis, Hana duduk di lantai dingin sambil membuka sebuah map plastik yang ia bawa dari rumah. Isinya bukan surat cinta atau foto pernikahan, melainkan ijazah sarjana akuntansi dan sertifikat pelatihan audit yang pernah ia ambil sebelum menikah.
Ia menatap ijazah itu. Kertasnya sedikit menguning di bagian pinggir. Selama lima tahun, ijazah ini terkubur di bawah tumpukan taplak meja dan kain lap di gudang. Aris selalu bilang, "Ijazah itu cuma kertas, Han. Tugasmu di sini adalah menjaga Ibu dan aku. Itu pengabdian yang lebih mulia."
Hana tersenyum pahit. Mulia? Pengabdian itu hanya membuatnya menjadi keset kaki yang dibuang saat sudah kotor.
Hana mengeluarkan ponsel tuanya. Ia masih memiliki sedikit paket data. Dengan jemari yang kembali lincah, ia mulai mencari lowongan pekerjaan. Ia tidak mencari posisi manajer atau kepala bagian; ia tahu ia sudah tertinggal jauh. Ia mencari posisi staf administrasi, asisten pembukuan, apa pun yang bisa memberinya gaji tetap.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Itu adalah pesan dari grup WhatsApp keluarga Aris yang lupa ia tinggalkan.
Maya: "Ibu, lihat ini! Kak Aris benar-benar beli keramik Italia untuk teras. Bagus banget, ya! Akhirnya rumah kita kelihatan mewah, tidak kumuh lagi karena daster-daster robek yang digantung sembarangan."
Ibu Salma: "Alhamdulillah, Nak. Sekarang rumah jadi bersih. Tidak ada lagi yang bermuka masam di meja makan. Aris, jangan lupa nanti malam kita syukuran, undang tetangga, bilang kalau istrimu sedang pulang kampung karena rindu orang tuanya."
Hana meremas ponselnya sampai sendi jarinya memutih. Pulang kampung? Mereka bahkan tidak punya rasa malu untuk berbohong pada tetangga demi menjaga nama baik Aris. Mereka merayakan kepergiannya dengan pesta di atas penderitaannya.
Hana mengetikkan sesuatu di kolom chat, namun kemudian ia menghapusnya. Tidak, pikir Hana. Memaki mereka lewat chat hanya akan membuatku terlihat lemah.
Ia keluar dari grup itu. Ia mematikan ponselnya.
Malam itu, Hana tidak bisa tidur. Ia membayangkan Aris yang mungkin sedang tertawa di atas keramik barunya, sementara Gilang tidur di atas kasur lantai yang tipis. Rasa dendam itu mulai mengkristal di hatinya, berubah menjadi bahan bakar yang dingin namun mematikan.
Ia harus kembali ke dunia profesional. Ia harus membuktikan pada Aris bahwa "barang yang bisa dicari lagi" ini adalah aset yang paling berharga yang pernah pria itu miliki, dan sekarang pria itu telah menghilangkannya untuk selamanya.
Dua hari kemudian, Hana mendapatkan panggilan wawancara di sebuah perusahaan distributor material bangunan kecil di pinggiran kota. Ia mengenakan satu-satunya kemeja kerja yang ia miliki, yang ia setrika menggunakan panci berisi air panas karena tidak punya setrikaan.
Kantor itu tampak sibuk dan sedikit berantakan. Manajernya, seorang pria paruh baya bernama Pak Baskoro, menatap ijazah Hana dengan dahi berkerut.
"Kamu lulusan terbaik sepuluh tahun lalu, tapi kenapa vakum lima tahun? Dan kenapa lamar jadi staf admin biasa dengan gaji serendah ini?" tanya Pak Baskoro heran.
Hana menatap pria itu lurus-lurus. Tidak ada lagi tundukan kepala seperti saat di depan Ibu Salma. "Saya baru saja menyelesaikan 'pelatihan kesabaran' di rumah tangga selama lima tahun, Pak. Sekarang, saya butuh tempat untuk membuktikan bahwa otak saya masih bekerja jauh lebih cepat daripada kalkulator mana pun di kantor ini."
Pak Baskoro terdiam, lalu sedikit tersenyum. "Kamu punya keberanian. Tapi di sini, kami butuh orang yang bisa merapikan pembukuan kami yang berantakan karena staf sebelumnya korupsi. Kamu yakin bisa?"
"Kasih saya waktu satu minggu. Jika saya tidak bisa menemukan selisih satu rupiah pun di buku Anda, Anda boleh memecat saya tanpa bayaran," jawab Hana tegas.
Malam itu, Hana pulang ke kontrakannya dengan senyum pertama yang tulus. Ia diterima kerja. Meski gajinya kecil, itu adalah modal awalnya.
Saat ia sedang menyuapi Gilang, Aris menelepon. Hana mengangkatnya, ingin mendengar apa yang ingin dikatakan pria itu.
"Hana! Kamu di mana?! Jangan kekanak-kanakan! Ibu sakit kepalanya kumat karena tidak ada yang memijitnya! Cepat pulang, aku maafkan kelakuanmu kemarin!" suara Aris terdengar penuh perintah, seolah-olah Hana masih menjadi pelayannya.
Hana terdiam sejenak, mendengarkan deru napas Aris yang emosi di seberang sana.
"Mas," ucap Hana pelan. "Bilang pada Ibu, suruh dia memijit kepalanya sendiri menggunakan keramik baru yang kamu beli. Katanya keramik itu mahal, kan? Pasti rasanya sangat dingin dan menenangkan."
"Hana! Kamu berani bicara begitu?!"
"Aku tidak hanya berani bicara, Mas. Aku juga berani memulai hidup tanpamu. Jangan telepon lagi, kecuali kalau kamu ingin membahas surat cerai."
Hana mematikan sambungan telepon dan langsung memblokir nomor Aris. Ia menatap Gilang yang menatapnya dengan bangga.
"Mama hebat," ucap Gilang polos.
Hana memeluk anaknya. Air mata akhirnya jatuh, tapi kali ini, itu adalah air mata kemenangan kecil. Perang panjang baru saja dimulai, dan Hana tidak akan berhenti sampai ia berdiri di puncak, melihat Aris dan keluarganya merangkak di bawah kakinya.