Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan Yang Menyakitkan
Qais masih berdiri di depan pintu, sementara Aiza dipegangi oleh Sarah agar tak kabur. Warih tak berkutik, ia hanya bisa menatap sedih sang cucu.
“Mbah, iki ono opo to, Mbah? Jelasin sama Aiza."
Aiza tak membentak, tapi suaranya terdengar penuh luka.
“Maafkan si Mbah, Nduk. Si Mbah juga ndak tau, bibimu juga baru datang, terus bilang mau bawa kamu ke Jakarta. Dan mereka ini mau melamar kamu, Nduk."
Qais tertegun, begitu juga dengan Aiza. Gadis itu menggeleng kuat. Dia tak percaya Sarah melakukan itu sementara dia tahu sendiri bahwa Qais baru saja mengkhitbahnya.
Aiza mengusap dadanya untuk menenangkan hatinya bergejolak. Ia pun menatap Sarah, namun masih terlihat sopan saat berbicara.
“Ngapunten, Bi Sarah, tapi Bibi tau sendiri kalau Aiza sudah menjadi tunangan Gus Qais, Aiza ndak mungkin menerima lamaran ini."
“Ini? Pria ini yang kamu maksud?”
Sarah mendekat pada Qais sambil menunjuk pria itu. Namun Qais hanya menunduk. Bukan karena takut, tapi sebagai yang lebih muda, Qais menghormati Sarah dan tidak menatap balik.
"Apa hebatnya dia? Yang dia tahu hanya sekitaran agama. Kolot!” ketus Sarah.
"Bibi!"
Tanpa sadar Aiza sedikit membentak. Mendengar calon suaminya dihina, tentu saja dia refleks, namun sungguh Aiza bukan sengaja ingin kurang ajar terhadap Sarah. Perkataan Sarah memang keterlaluan, wajar jika Aiza refleks marah.
Namun Qais langsung mengangkat kepalanya, menatap Aiza lembut, tapi penuh peringatan.
“Aiza," panggilnya lembut. Pria itu juga menggeleng pada Aiza, menasehati lewat isyarat agar Aiza tetap sabar.
“Astaghfirullah hal adzim." Aiza segera mengusap dadanya sambil memejamkan mata.
"Oh, udah berani kamu bentak Bibi? Karena pria ini?! Sarah menunjuk tajam pada Qais yang hanya diam.
“Sekarang kamu lihat! Baru jadi calon suami aja kamu udah berani bantah Bibi, besok dia pasti berhasil bikin kamu nggak ngakuin Bibi lagi," ketus Sarah sambil melirik tajam Qais yang menunduk.
“Bibi, maafkan Aiza, Bi, Aiza khilaf. Tapi kekhilafan Aiza ndak ada sangkut pautnya sama Gus Qais kok, jadi Bibi jangan salahkan Gus Qais ya. Aiza mohon sama Bibi," mohon Aiza. Cadar gadis itu sampai basah oleh air mata. Warih di sudut sana juga tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menangis pilu melihat cucunya yang tampak hancur.
"O…ndak bisa. Gara-gara pria ini kamu berani melawan Bibi, jadi dia harus tanggung akibatnya," tekan Sarah seperti tak main-main dengan ucapannya.
“B-bibi mau ngelakuin apa?..... Jangan, Bi, Aiza mohon!"
Namun darah tampak acuh. Dia hanya mengedikkan bahunya.
Namun fokus Aiza beralih pada dua orang berbadan besar dengan pakaian serba hitam itu. Dua pria itu mendekat pada Qais hanya dengan anggukan kecil dari orang tua Arjuna.
Aiza dan Warih tegang, begitu juga Qais yang bingung karena tiba-tiba tangannya dipegangi oleh salah satu pria bertubuh besar itu.
Sarah juga ikut turun tangan. Dia mendekat pada Aiza dan memegangi Aiza agar tak ikut campur.
"Bibi mereka mau apakan Gus Qais? Bibi tolong suruh mereka pergi.”
Aiza panik. Dia hendak menolong tapi Sarah menahannya. Ketika Warih berdiri pun, salah satu anak buah orang tua Arjuna langsung menghadangnya.
"Pu*ul dia!” titah Dirga, papa Arjuna.
Qais langsung syok, namun sayangnya dia tidak bisa melawan atau sekedar kabur, sebab kedua tangannya ditahan oleh salah satu pria itu.
Satu pu*ulan mendarat di perut Qais. Pria itu terbatuk parah. Sekuat apapun Aiza menggeleng dan memohon, pu*ulan itu tetap mendarat beberapa kali di perut Qais.
Qais hanya bisa pasrah menerima pu*ulan demi pu*ulan sampai tubuhnya terkulai lemah.
Dia bisa saja memberontak dan melawan kedua orang itu, hanya saja dia tidak mau. Karena dia tahu, jika itu terjadi, maka Sarah akan kembali menyalahkan Aiza, dan dia tidak mau terjadi apa-apa pada gadis itu.
"Sudah, Bi…..cukup! Aiza mohon….." Aiza meratap, sampai-sampai tubuhnya ikut luruh ke lantai usang itu.
“Sekarang kamu masih mau ngelawan? Kamu pilih nurut sama Bibi, atau dua anak buah majikan Bibi itu terus mu*ulin Qais sampai dia lewat?"
Dengan sisa tenaganya itu, Qais menggeleng, seolah tak membiarkan Aiza menyerah begitu saja hanya karena dirinya.
Namun Aiza, tanpa menoleh pada Qais, gadis itu langsung mengangguk dengan batin perih.
"Bibi….. Aiza setuju buat ikut Bibi dan nikah sama anak majikan Bibi itu,” kata Aiza sambil melirik sekilas pada Arjuna yang tampak acuh.
"Aiza jangan…… Kamu berhak bahagia. Saya….. ukhukkk…. saya ndak papa. Jangan pikirkan saya. Kamu ndak boleh mengorbankan hati kamu hanya karena dian*am."
Aiza menunduk sambil terisak perih. “Maaf, Gus. Tapi Aiza ndak bisa lihat Gus terluka. Hiks…..”
"Qais! Kamu mau ngajarin Aiza ndak baik dengan melawan saya sebagai Bibinya? Kamu itu Gus, seharusnya kamu lebih tau kalau melawan keluarga itu dosa! Kamu dengar ya! Aiza ini saya yang biayain setiap bulan. Saya yang kirim uang ke kampung buat Aiza dan ibu saya, kamu tau! Sedangkan ayahnya? Ayahnya ndak pernah ada kabar, apalagi untuk sekedar ngirim uang….. dan sekarang, bisa-bisanya kamu melarang Aiza buat nurutin saya. Kamu itu orang luar, kamu ndak pantes ikut campur tentang keluarga kami! Ngerti?”
Kali ini Qais hanya bisa menunduk. Ucapan Sarah seperti belati yang mencabik hatinya. Jika sudah seperti ini, Qais tidak bisa berbuat banyak. Sarah benar, dia tidak boleh melarang Aiza untuk berbakti pada keluarganya. Dia tidak boleh egois hanya karena perasaannya terhadap Aiza.
“Baiklah Aiza…..”
Hening untuk sesaat setelah Qais berucap. Pria itu memejamkan mata, mempersiapkan hati untuk ucapan yang akan menyakitkan.
"Hari ini…. Saya, Qais, akan memutuskan hubungan yang sempat terjalin." Qais mengangkat kepalanya, menatap Aiza meskipun perih.
“Aiza…. saya belajar bahwa cinta yang paling tinggi adalah saat kita mampu melepas karena ingin mencari ridha Allah. Jika keberadaan kita hanya menciptakan keretakan di keluargamu, maka pernikahan kita tidak akan pernah menemukan barakah. Aiza, saya melepaskan ikatan pertunangan ini. Saya mengembalikanmu kepada keluargamu dengan utuh, sebagaimana saya meminta izin kepada mereka dulu. Semoga Allah memberikan kita ketabahan untuk saling melupakan. Pergilah, turuti kehendak Bibimu….. jangan pernah membantahnya."
Qais tersenyum. Dia mengeluarkan buku dari kantong plastik hitam yang dibawanya, lalu memberikannya pada Aiza.
"Tadinya ini akan saya berikan nanti sebagai kejutan, tapi sepertinya takdir tak membawa kisah kita terlalu jauh.” Qais tertawa getir. "Buku ini untukmu, Aiza.”
Aiza menerima buku itu dengan bahu yang bergetar karena tangis. Ia hanya menunduk, menatap judul buku itu dengan tulisan yang terlihat kabur karena matanya yang tertutup air mata.
Aiza mengusap pelan air matanya. Dia dengan jelas membaca judul buku tersebut yang berjudul: "Sabar Tanpa Batas”
Aiza tersenyum dalam tangisnya. "Terimakasih, Gus…. terima kasih untuk buku dan waktu yang singkat ini. Semoga Gus segera mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Aiza," ucapnya perih.
Qais menunduk dengan senyumnya yang paling tulus. “Aamiin. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."
Qais berdiri dengan tertatih. Bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi batinnya lebih sakit. Meskipun seorang Gus, dia hanya seorang manusia. Mengikhlaskan tak semudah mencintai.
“ Waalaikumsalam, Gus….."
Suara Aiza bergetar lirih, seiring air mata yang membasahi cadar krem-nya. Ia lemah, bahkan untuk sekedar menyebut nama Qais.
Sementara Qais, pria itu mulai berjalan menjauh menuju mobilnya. Beruntung seorang tetangga sudi mengantarnya sampai ke pesantren. Dia kasihan melihat kondisi Qais yang terluka luar dan dalam, hingga tak membiarkannya menyetir sendiri.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍