Gurial Tempest
Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.
Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.
Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.
Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.
Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.
Inilah awal kisah Gurial Tempest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Prolog.
prolog – hari yang terlalu cerah
Siang itu terlalu cerah untuk sebuah hari kelulusan.
Langit di atas Istana Gurial Tempest membentang biru tanpa noda, matahari menggantung tinggi seolah ingin memastikan semua orang menyaksikan momen sakral tersebut. Kilau cahaya memantul dari dinding marmer putih, dari jendela-jendela tinggi yang dihiasi kaca patri, dan terutama—dari deretan armor perak yang berbaris rapi di halaman utama.
Clink… clink…
Suara logam beradu pelan setiap kali seorang knight menggeser posisi berdirinya.
Lebih dari sepuluh knight berdiri tegak, bahu lurus, dada membusung, wajah serius penuh kebanggaan. Mereka adalah para lulusan ujian terberat kerajaan—ujian yang hanya diadakan sekali dalam beberapa tahun.
Keringat menetes di pelipis, namun tak seorang pun bergerak.
Kecuali satu.
Di ujung barisan, sedikit menyamping dari formasi sempurna itu, seorang knight wanita duduk di tangga batu istana. Helmnya miring sedikit. Kakinya disilangkan seenaknya. Pedangnya diletakkan begitu saja di sampingnya.
Rambut blonde pucatnya panjang, sebagian kecil dikepang tipis di sisi kepala. Helaian-helaian lembut itu memantulkan cahaya matahari seperti benang emas.
Ia menguap panjang.
“Huahhhh…”
Tangannya terangkat malas menutup mulut. “Emila di mana sih… Aku masih capek…”
Beberapa knight menoleh serempak.
“Dia masih bermalas-malasan…” bisik seorang knight pria dengan alis terangkat.
“Serius… dia juga lulus?” sahut yang lain, nada suaranya antara heran dan tersinggung.
Knight wanita itu sama sekali tidak terganggu. Ia mendongak, menatap langit biru yang menyilaukan, menyipitkan mata hijau mudanya yang besar dan terlalu polos untuk ukuran seorang ksatria.
“Panas banget…” gumamnya lirih, sambil menarik sedikit kerah armor dadanya. Ceklek… suara kecil terdengar ketika ia mencoba mengendurkan pengaitnya.
“Pengen lepas pakaian baja aneh ini…”
“Yap. Fix.”
Seorang knight di belakang berdehem kering.
“Dia bodoh.”
“Lihat saja senyumannya,” tambah yang lain.
Seolah sadar sedang dibicarakan, knight wanita itu menoleh pelan.
Ia tersenyum.
Senyumnya bukan senyum percaya diri. Bukan pula senyum angkuh.
Itu senyum yang terlalu jujur.
Terlalu ringan.
Terlalu… tidak menyadari dunia.
Ia mengangkat tangan, memainkan bulu merah yang tertempel di atas helmnya. Bulu itu bergoyang pelan tertiup angin. Ia mengikutinya dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang menemukan hiburan dari hal paling sederhana.
“Hehehe…”
Ia meniup bulu itu pelan. Fuuuh—
Bulu merah itu bergetar.
Beberapa knight saling pandang.
“Senyumnya saja sudah sangat bodoh…”
“Kau yakin dia salah satu yang lulus ujian strategi tingkat tinggi itu?”
“Sepertinya Kapten Emila salah pilih…”
Knight wanita itu tiba-tiba berdiri.
CLANG!
Armor kakinya berbunyi keras ketika ia melangkah turun dari tangga.
Para knight refleks menegakkan badan.
Ia berjalan santai melewati mereka, tangan di belakang kepala, wajahnya masih menengadah ke langit.
“Kalian tegang banget sih…” katanya ringan. “Ini cuma upacara, bukan perang.”
“Justru karena ini upacara resmi!” seorang knight pria membalas dengan nada tertahan. “Kita mewakili kehormatan kerajaan!”
Ia berhenti.
Menoleh perlahan.
Tatapan hijau mudanya menatap pria itu tanpa kedipan.
Untuk sesaat, ekspresinya berubah.
Bukan lagi kosong.
Bukan lagi malas.
Ada sesuatu yang tenang dan dalam di sana.
“Kehormatan itu bukan dari berdiri kaku,” katanya pelan. “Tapi dari apa yang kita lakukan nanti.”
Sunyi.
Angin berhenti sejenak.
Lalu—
“Ah, tapi tetap panas banget,” lanjutnya tiba-tiba, menarik sarung tangannya sedikit dan mengipasinya ke wajah sendiri. “Siapa sih yang desain armor ini? Berat banget.”
THUD.
Seorang knight hampir kehilangan keseimbangan karena perubahan suasana yang terlalu cepat.
“Aku serius barusan…” gumam knight wanita itu, cemberut tipis.
“Barusan kau terlihat berbeda,” bisik salah satu knight wanita, nyaris tak sadar.
Knight blonde itu memiringkan kepala. “Berbeda?”
“Seperti… ksatria sungguhan.”
Ia berkedip dua kali.
Lalu tertawa kecil. “Memangnya aku apa? Tukang roti?”
Beberapa knight menahan tawa. Yang lain makin kesal.
Suara langkah kaki terdengar dari lorong istana.
Tak… tak… tak…
Semua langsung tegak sempurna.
Kecuali dia.
Knight wanita itu justru berjinjit sedikit, mencoba melihat siapa yang datang, helmnya hampir jatuh karena gerakan berlebihan.
“Emila?” panggilnya dengan nada setengah berharap.
Tidak ada jawaban.
Angin kembali berhembus.
Bulu merah di helmnya bergetar lagi.
Ia tersenyum kecil.
Hari itu terasa terlalu cerah.
Terlalu damai.
Dan entah kenapa, jauh di balik mata hijau mudanya yang tampak kosong, ada sesuatu yang tak seorang pun di sana mampu baca.
Sebuah ketenangan yang aneh.
Seolah-olah—
Jika langit runtuh hari itu,
dialah satu-satunya yang akan tetap berdiri…
sambil mengeluh tentang panasnya armor.
Dan tanpa satu pun dari mereka sadari,
itulah hari terakhir Gurial Tempest berdiri utuh.
Tak… tak… tak…
Langkah sepatu baja terdengar mantap dari lorong utama istana. Suasana yang tadi penuh bisik-bisik langsung berubah tegang.
Semua knight berdiri lebih lurus.
Dada membusung.
Dagu terangkat.
Kecuali satu.
Knight blonde itu masih memiringkan kepala, berusaha mengintip ke arah suara sambil berjinjit kecil. Helmnya hampir terlepas lagi.
Sosok itu muncul.
Rambut biru tua terpotong pendek rapi. Mata emasnya tajam namun tenang. Jubah kapten berkibar pelan di belakang armor yang jauh lebih gelap dan kokoh dari milik para lulusan.
Kapten Knight Kerajaan Gurial Tempest.
Emila.
Ia menaiki mimbar batu dengan langkah tenang. Clang. Suara pelindung kakinya menyentuh anak tangga terakhir.
Ia berdiri tegak, menatap barisan para knight muda.
“Selamat siang,” ucapnya. Suaranya tegas namun tidak keras. “Para knight pemula yang telah lulus ujian.”
Angin berhembus pelan. Bendera kerajaan berkibar. Cahaya matahari menyilaukan bagian tepi armor mereka.
“Aku ucapkan selamat atas prestasi kalian,” lanjut Emila. “Kalian berdiri di sini… sebagai orang-orang yang akan selalu berdiri di depan bahaya yang menerjang Kerajaan Gurial Tempest.”
Suasana khidmat.
Beberapa knight menelan ludah. Beberapa menahan haru.
Lalu—
“Eh? Udah siang ya?”
Semua kepala menoleh.
Knight blonde itu sedang menatap matahari dengan tangan menaungi dahi.
“Oh iya pantes panas banget…”
Beberapa knight langsung menutup wajah mereka sendiri.
Emila terdiam.
Mata emasnya perlahan bergeser ke arah sumber suara.
Sunyi.
Knight blonde itu akhirnya sadar. Ia membeku.
Emila menatapnya lama.
Lalu—alih-alih marah—
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kamu,” katanya tenang. “Berdiri di depan.”
Barisan knight langsung gempar.
“Hah?!”
“Oi! Dia kapten, kau bodoh!” bisik salah satu knight keras-keras.
Knight blonde itu menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”
Emila mengangguk pelan.
Knight itu langsung tersenyum lebar. “Baiklah, Emila!”
“Kapten!” serentak beberapa knight membetulkan dengan wajah pucat.
Ia melangkah maju. Clink—clink—clink. Langkahnya tidak rapi, sedikit terlalu ringan untuk upacara resmi.
Ia berhenti tepat di bawah mimbar, mendongak.
Cahaya matahari membuat rambut blonde pucatnya berkilau. Mata hijau mudanya memantulkan warna langit.
Emila menatapnya dalam.
“Kau,” ucapnya pelan, namun suaranya tetap terdengar oleh semua orang. “Adalah peserta dengan nilai tertinggi dari seluruh yang lulus.”
Suara napas tertahan terdengar di barisan belakang.
“Apa?!”
“Dia?!”
“Yang duduk-duduk tadi?!”
Emila melanjutkan, nada suaranya sedikit berubah menjadi lebih pribadi. “Walaupun tingkahmu seperti orang lupa diberi makan.”
Knight blonde itu berkedip.
“Hah? Aku makan kok tadi pagi.”
Beberapa knight hampir tersedak.
Emila menghela napas pelan. Namun ada kilau lembut di matanya.
“Kau dengar itu?” lanjut Emila. “Bahkan namamu tidak tercatat seperti yang lain.”
Bisikan makin riuh.
“Iya… benar… daftar nama peserta posisi satu kosong…”
“Namanya cuma tertulis ‘Knight’…”
Emila menatapnya dengan tatapan yang tidak lagi sekadar sebagai kapten.
“Tahukah kau,” katanya lebih pelan, “bahkan sampai hari ini… kau belum memiliki nama.”
Sunyi.
Angin berhembus lagi.
Rambut blonde itu bergerak pelan.
“Kau dibesarkan olehku,” lanjut Emila, suaranya melembut tanpa ia sadari. “Namun aku… belum pernah memberimu nama.”
Knight blonde itu menggaruk pipinya dengan jari telunjuk, wajahnya berubah canggung.
“Oh iya ya…” gumamnya polos.
Emila menatapnya. “Jadi, katakan padaku. Apakah kau ingin memilih namamu sendiri… Knight?”
Knight blonde itu membeku.
Ia memiringkan kepala ke kiri. Lalu ke kanan.
“Hmmm…”
Ia menoleh ke kiri, melihat tong kayu besar di sudut halaman.
“Tong?”
Semua knight: “…”
Ia menggeleng pelan. “Bukan itu.”
Ia mendongak ke langit. “Langit? Terlalu luas…”
Ia melihat ke batu pijakan di bawahnya. “Batu? Terlalu keras…”
Ia bergumam pelan, hampir seperti anak kecil yang sedang bermain tebak-tebakan dengan dirinya sendiri.
Emila mengernyit.
“Oi… kau sedang apa sebenarnya?”
Knight blonde itu tertawa kecil. “Mwehehehe… Maaf ya, Emila. Aku nggak tahu.”
Ia menatap Emila dengan wajah benar-benar tulus.
“Bagaimana kalau kamu saja yang beri aku nama?”
Barisan knight kembali gempar.
“Oi! Nama itu identitas!”
“Dia menyerah begitu saja?!”
Emila terdiam.
Ia menatap wajah itu.
Rambut pucat yang bersinar.
Mata hijau besar yang terlalu jujur.
Senyum yang sama seperti bertahun-tahun lalu—saat seorang anak kecil memegang pedang kayu terbalik dan berkata ingin melindungi semua orang.
Emila menghela napas pelan.
“Dilihat dari penampilanmu…” katanya perlahan. “Rambutmu lembut. Wajahmu cantik. Matamu besar… polos.”
Knight blonde itu tersenyum bangga.
“Dan sikapmu… bodoh.”
“Eh?” Ia tertawa kecil. “Hehe… aku memang bodoh ya?”
“MEMANG!” teriak beberapa knight tanpa sadar.
Emila hampir tersenyum lebih lebar.
“Bagaimana kalau…” ia berpikir sejenak. “Chika.”
Sunyi.
Knight blonde itu berkedip.
“Chika…” ia mengulang pelan.
Wajahnya perlahan bersinar.
“Imut banget!!”
Ia bertepuk tangan kecil. Clink!
“Baiklah! Namaku sekarang Chika!”
Ia membungkuk cepat—terlalu cepat—helmnya hampir jatuh lagi.
“Terima kasih, Emila!”
Barisan knight terdiam.
Nama posisi satu akhirnya terisi.
Emila menatapnya.
Dalam hati, ia berbisik.
Kau dari dulu tidak pernah berubah…
Nak…
Aku harap…
Setelah kau menjadi knight sungguhan…
Setelah kau naik pangkat…
Setelah dunia menunjukkan wajah aslinya…
Kau masih bisa tersenyum seperti itu.
Karena senyuman itulah
yang selalu membuat Princess ingin bermain bersamamu.
Angin kembali berhembus.
Bulu merah di helm Chika bergoyang lembut.
Dan di bawah langit yang terlalu cerah itu,
sebuah nama akhirnya lahir.
Tanpa seorang pun menyadari—
Langit yang sama itu…
tak lama lagi akan runtuh.
Emila masih berdiri tegak di atas mimbar.
Chika berdiri di depannya dengan senyum puas karena baru saja memiliki nama.
Angin berhembus pelan. Bendera kerajaan berkibar lembut.
“Untuk itu…” suara Emila kembali tegas, resmi. “Tugas kalian sebagai knight resmi Kerajaan Gurial Tempest—”
Langit berbunyi.
KRRAAAAK—
Suara seperti kain raksasa yang disobek dari ujung dunia terdengar menggema.
Semua kepala terangkat serempak.
Warna biru cerah itu… berubah.
Perlahan.
Lalu cepat.
Ungu pekat merayap seperti tinta tumpah di kanvas langit. Awan berputar. Udara terasa berat. Cahaya matahari seperti ditelan sesuatu.
Chika berkedip dua kali.
“Eh…” gumamnya pelan. “Tadi nggak gini…”
Di atas mereka, ruang itu retak.
Sebuah lingkaran hitam-ungu membesar, berdenyut seperti jantung. Kilatan petir hitam menyambar di dalamnya.
BOOOOM—
Suara tekanan udara menghantam halaman istana.
Para knight panik.
“Apa itu?!”
“Semua naik ke benteng!”
“Cepat!!”
Emila langsung turun dari mimbar dengan satu lompatan. CLANG! Sepatu bajanya menghantam batu.
Ia meraih pergelangan tangan Chika yang masih berdiri mematung, menatap portal raksasa itu dengan mata membesar—bukan karena takut.
Karena takjub.
“Chika!” bentak Emila. “Jangan bermenung!”
“Hah? Oh!” Chika tersentak.
Emila menariknya. Mereka berlari menaiki tangga benteng spiral. Tak! Tak! Tak! Denting armor bergema di lorong batu.
Angin dari portal di langit mulai berputar liar. Debu dan serpihan genteng beterbangan.
Mereka sampai di atas benteng.
Pemandangan itu membuat napas siapa pun tercekat.
Dari dalam portal, siluet-siluet hitam bergerak.
Makhluk dengan armor gelap, mata menyala merah di balik topeng tak dikenal.
Seorang knight senior berdiri gemetar.
“Kapten Emila…” suaranya kering. “Makhluk aneh muncul dari langit…”
Emila menatap mereka dengan rahang mengeras.
“…Invader.”
Kata itu jatuh berat.
Seolah langit menunggu.
Portal itu berdenyut sekali lagi.
Lalu—
WHOOM—
Sesuatu jatuh.
Sebuah meteor raksasa, membara merah-oranye, memotong langit ungu itu.
Udara bergetar.
Tanah bergetar.
Para knight membeku.
Chika mencondongkan tubuh ke depan sedikit.
“Wah…” matanya berbinar. “Ada meteor—”
“CHIKA!!” suara Emila mengguncang udara. “INI BUKAN HAL YANG BAGUS!!”
Meteor itu membesar di pandangan mereka.
Suara gesekan api memekakkan telinga. SHHHHHHHRRRRRAAAAAA—
Emila mengangkat pedangnya.
“SEMUANYA!! CARI POSISI AMAN!! KITA AKAN TERBENTUR DAN—”
Kata-katanya tak selesai.
Meteor menghantam benteng.
BOOOOOOOOOMMMMM—
Dunia meledak dalam cahaya dan api.
Batu pecah. Logam terpelintir. Tubuh-tubuh terpental seperti boneka.
Emila berusaha meraih tangan Chika.
Ujung jari mereka hampir bersentuhan.
Hampir.
“CHIKA—!!”
Ledakan kedua menghantam.
Gelombang panas menyapu mereka.
Chika terlempar ke udara.
Semua suara menghilang.
—
Angin meraung di telinga Chika.
Tubuhnya terombang-ambing di udara, serpihan batu dan kayu berputar di sekelilingnya. Di bawahnya—kastil Gurial Tempest sudah dilalap api.
Menara runtuh.
Asap hitam naik ke langit ungu.
“Hei!!” teriak Chika panik. “Aku nggak bisa terbang!!”
Ia memutar tubuhnya tak terkendali. Helmnya hampir terlepas.
Di bawah sana, ia melihat sesuatu berkilau.
Sebuah pedang.
Tertancap tegak di tanah batu yang retak.
Tepat di jalur jatuhnya.
Waktu terasa melambat.
“Yah…” gumamnya, wajahnya anehnya tenang. “Padahal baru lulus…”
Api memantul di matanya.
“…udah mati aja.”
Matanya melebar.
“AKU NGGAK MAU MATI!!!”
Tiba-tiba—
Cahaya.
Kuning keemasan.
Muncul dari dadanya.
Chika terdiam.
“Eh?”
Cahaya itu meledak keluar seperti matahari kecil.
Dari langit—rantai emas turun.
CLINK—CLINK—CLINK—
Rantai bercahaya itu melingkari tubuhnya, membentuk lingkaran transparan seperti perisai kubah.
Tubuhnya berhenti jatuh.
Udara di sekelilingnya bergetar lembut.
Ia melayang.
“Eh? Eh? Eh?!”
Rantai emas itu perlahan menurunkannya.
Ia mendarat di atas benteng bagian dalam, tepat di jalur menuju kastil utama.
Tap.
Perisai emas menghilang.
Rantai lenyap.
Langit tetap ungu.
Api membakar di mana-mana.
Chika berdiri terdiam beberapa detik.
Lalu ia mengipas wajahnya.
“Nah kan…” gumamnya polos. “Sekarang lebih panas lagi dari tadi.”
Di kejauhan, ia melihat sosok berambut biru tua berlari menuju kastil utama.
“Emila…”
Wajahnya berubah.
Tidak lagi kosong.
Tidak lagi heran.
Ada sesuatu yang menegang di dadanya.
“Dia pasti mau menyelamatkan Ratu Vexana… dan Princess…”
Tangannya mengepal.
“Aku harus—”
WHOOSH.
Lima kilatan hitam-merah muncul di depannya.
VRRRT—
Lima sosok berdiri menghalangi jalan.
Armor hitam berurat merah menyala. Topeng berbeda-beda—ada yang seperti tengkorak, ada yang seperti wajah tanpa mata.
Aura mereka berat.
Dingin.
Mencekik.
Chika mundur satu langkah kecil.
“Eh…”
Salah satu Invader menggerakkan bahunya. Armor berderit.
Yang lain memutar lehernya pelan.
Crack.
“Mereka…” Chika menelan ludah. “Mau mukul aku ya?”
Ia mengangguk kecil pada dirinya sendiri.
“Tenang… aku knight.”
Ia mencoba terlihat gagah.
“Aku akan mengalahkan mereka.”
Tangannya bergerak ke pinggang.
Mencari gagang pedang.
Tangannya meraba kosong.
Ia berhenti.
Mencoba lagi.
Kosong.
Ia menunduk cepat.
Sarung pedangnya… kosong.
Pedangnya hilang.
Wajahnya memucat.
“Eh…”
Kelima Invader mulai melangkah maju perlahan.
Tak… tak… tak…
Aura merah mereka menyala.
Chika mundur lagi.
“Pedangku…”
Tangannya gemetar.
“Aku… aku…”
Senyumnya yang tadi selalu ada—retak.
Untuk pertama kalinya, ketakutan murni muncul di mata hijaunya.
“Aku… akan…”
Langkah Invader makin dekat.
Udara terasa berat.
“Aku… akan mati?”
Api menyala di belakangnya.
Langit ungu berdenyut.
Dan Chika berdiri tanpa pedang—
untuk pertama kalinya,
benar-benar sendirian.
Chika terus mundur.
Langkahnya goyah. Napasnya pendek-pendek. Tangannya terangkat setengah, seperti ingin menolak kenyataan yang berdiri di depannya.
“Keajaiban…” gumamnya pelan. “Tolong… sekali lagi aja…”
Ia melirik langit ungu.
Tidak ada cahaya emas.
Tidak ada rantai.
Hanya asap hitam dan kilat ungu yang menyambar di dalam portal.
Kelima Invader itu terus mendekat. Langkah mereka berat dan teratur.
Tak… tak… tak…
Chika mundur lagi.
Tumitnya menyentuh sesuatu yang rapuh.
Ia menoleh.
Di belakangnya—jurang. Sisa tembok kastil yang hancur terbakar, batu-batu runtuh membentuk lubang besar menganga ke dalam kobaran api.
Panasnya menyengat wajahnya.
“Eh…” suaranya mengecil. “Belakangnya udah buntu…”
Ia tertawa kecil, tapi suaranya gemetar.
“Jadi… kali ini aku nggak selamat ya…”
Salah satu Invader tiba-tiba menekuk lututnya.
VRRRT—
Ia melompat.
Langsung ke arah Chika.
Refleks.
Chika menutup mata dan mengangkat kedua tangan di depan wajahnya.
“AKU—”
Suara tajam membelah udara.
SHRRAAAAAK—
Sebuah bilah energi merah terang berputar dari samping seperti bulan sabit raksasa.
Sebuah scythe.
Bilahnya menyala merah menyilaukan, berputar sekali di udara—
dan menghantam kelima Invader itu dalam satu tebasan melingkar.
BOOOM—!
Ledakan energi merah menyapu benteng.
Tubuh-tubuh hitam itu hancur menjadi serpihan cahaya gelap yang terlempar ke udara.
Gelombang energi menghantam Chika.
Angin berputar liar, membentuk kubah lingkaran cahaya merah-putih di sekelilingnya.
WHOOSH—
Rambut blonde Chika terangkat, matanya terbuka lebar.
Di tengah pusaran cahaya itu, berdiri satu sosok.
Wanita.
Rambut pendek kuning cerah.
Punggungnya menghadap Chika.
Siluetnya elegan, tapi aura yang memancar darinya berat… seperti seseorang yang sudah melihat terlalu banyak peperangan.
Scythe besar itu melayang kembali ke tangannya.
Chika terdiam.
“Princess…?” suaranya nyaris tak terdengar.
Rambut itu…
Mirip.
Sangat mirip dengan rambut Princess kecil yang selalu ia ajak bermain di taman istana.
Namun sosok itu tidak menoleh.
Ia berdiri tegak, bahunya sedikit miring, memandang ke arah kastil yang terbakar.
Suaranya keluar.
Berat.
Dewasa.
Penuh luka yang tak terlihat.
“Perjuanganmu tidak berakhir di sini… Chika.”
Chika membeku.
“Kamu… tahu namaku?”
Ia berdiri perlahan, masih gemetar.
“Kamu Princess kan? Rambutmu mirip banget…”
Sosok itu tetap tak menoleh.
Angin berputar pelan di sekelilingnya, serpihan cahaya merah berkilauan seperti bara api kecil.
Ia mengangkat tangan kirinya.
Cahaya emas terkumpul.
Dalam sekejap—
Sebuah pedang besar terbentuk.
Gagangnya emas, berukir simbol kilat. Bilahnya baja bersih, memantulkan cahaya api di sekitarnya. Perisai putih berlapis emas muncul bersamanya, lambang kerajaan terukir di tengahnya.
Tanpa melihat ke belakang, sosok itu melemparkan keduanya ke arah Chika.
THUD—CLANG.
Pedang dan perisai jatuh tepat di depan Chika.
Chika terduduk lemas, menatapnya.
“Ini… senjata…”
Jarinya menyentuh gagang emas itu.
Dingin.
Berat.
Nyata.
Sosok itu berkata pelan,
“Aku mengembalikan senjatamu.”
Chika mengernyit bingung.
“Senjataku?” Ia tertawa kecil gugup. “Aku aja nggak pernah punya senjata sebagus ini… Ini punya siapa? Kamu nyuri ya?”
Sosok itu tidak menjawab pertanyaan konyol itu.
Ia hanya menggenggam kembali scythe merahnya.
Energinya berdenyut pelan.
“Chika,” katanya sekali lagi. “Teruslah berjuang.”
Angin menguat.
Cahaya merah berputar.
Sosok itu perlahan memudar, seperti bayangan yang ditarik kembali ke dimensi lain.
“Eh—tunggu!” Chika mengulurkan tangan.
Terlambat.
Gelombang merah itu lenyap.
Sunyi kembali menyisakan suara api dan reruntuhan.
Chika berdiri pelan.
Tangannya meraih pedang itu.
Begitu ia menggenggamnya—
BZZZT—
Petir kecil meloncat di sepanjang bilahnya.
Matanya melebar.
“Ini…”
Ia mengangkat pedang itu dengan kedua tangan.
Berat.
Tapi anehnya terasa pas.
Perisai ia kaitkan di tangan kiri.
“Lumina…”
Ia pernah mendengar nama itu di kelas teori senjata tingkat tinggi.
“Senjata petir… tingkat elit…”
Jantungnya berdetak keras.
“Tapi… aku nggak pernah punya Lumina…”
Napasnya bergetar.
Namun matanya berubah.
Tidak lagi kosong.
Tidak lagi hanya polos.
Ada tekad.
Di kejauhan—
BOOOM—
Sebuah tubuh raksasa mengaum.
Chika menoleh.
Di halaman kastil utama, Emila sedang bertarung.
Di depannya berdiri Minotaur raksasa berarmor hitam, kapaknya sebesar gerbang istana.
Emila meluncur cepat, pedangnya berkilat emas, namun Minotaur itu memukul tanah—
DOOOM—
Gelombang kejut memecah batu.
Chika mengepal gagang pedang Lumina.
“Aku…”
Tangannya gemetar.
Tapi kali ini bukan karena takut.
“Aku harus bantu Emila.”
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Dan menyelamatkan Ratu Vexana… dan Princess.”
Petir kecil menyambar di sekitar kakinya.
BZZZT.
Chika melangkah.
Lalu berlari.
Ia menerobos bebatuan yang runtuh, kayu terbakar yang jatuh dari atas.
Api menyambar hampir mengenai wajahnya.
Ia menunduk, berguling melewati puing yang roboh.
Perisainya menahan serpihan batu yang beterbangan.
“Panas banget…!” teriaknya sambil tetap berlari. “Kenapa setiap kali lulus ujian langsung begini sih?!”
Minotaur itu mengaum lagi.
Emila terdorong mundur beberapa meter.
Chika mempercepat langkahnya.
Petir mulai mengalir di sepanjang bilah Lumina.
Wajah polosnya kini dipenuhi tekad mentah.
Seorang knight yang baru diberi nama.
Yang bahkan belum sempat menikmati hari kelulusannya.
Kini berlari menembus neraka—
untuk melindungi kerajaannya.
To Be **Continued**...