Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Perkenalkan pacarku
Ganesha
Matanya bolak balik melihat sejumlah angka, sejumlah data yang masuk dan diterimanya dari beberapa divisi, menghasilkan kata, sukses dan laku...
Feedback baik para pelanggan, meski tak sedikit pula manusia manusia iri mencolek iman dan ketahanan banting Jilo corp. itu sudah biasa.
Yahya membawa sejumlah berkas ke ruangannya, bersiap untuk mendapatkan tanda tangannya, setelah sebelumnya didapatkan pengesahan dari Sadewa.
"Kontrak kerjasama kita sama Imaginary sudah hampir berakhir, pak. Pemasaran Imaginary juga sudah bisa memenuhi target penjualan." Lirih Yahya masih dalam posisi berdirinya.
Ganesha mendongak, wajahnya itu meski tak begitu terlihat effortnya tapi bisa Yahya pastikan jika atasannya itu pun cukup terkejut sebab baru menyadari, "oh...." ada jeda panjang untuk kemudian, "ya. Kalo gitu mesti dikasih reward, anggap aja bukti penghargaan Jilo corp buat kerja bagus mereka, sekaligus salam perpisahan."
Tak repot-repot mengirimkan undangan itu dengan usaha sendiri, Ganesha menyampaikan itu melalui Yahya, hanya perayaan kecil di salah satu hotel berbintang milik Jilo corp dengan fasilitas ballroom dan private room. Beberapanya diikut sertakan dimana ada pak Yaris, beberapa staf pemasaran dan keuangan, pihak bank yang terkait, karyawan Imaginary, bahkan Sadewa--Zahra, Lendra pun ada.
/
"Bu," Desti memperlihatkan itu membuat Anyelir mengangguk, "boleh, list karyawan kita yang mau datang. Kita penuhi undangan perayaan kecil sekaligus tanda perpisahan ...." jawab Anye tak berekspektasi apapun. Ia juga terlihat biasa saja lebih terkesan tak mau fokusnya saat ini terganggu.
Desti mengiyakan kemudian keluar dari ruangan Anye, "oke Bu." Jawabnya lebih antusias.
Sepeninggal Desti, ada helaan nafas yang Anye buang lirih untuk kemudian ia menghentikan kerjanya sejenak, entahlah....seperti ada rasa, yeeee! Tapi tak bersemangat. Karena itu artinya, setelah ini....kehidupannya akan normal kembali. Tak ada Ganesha, tak ada permintaan yang merepotkan dan bikin geram darinya. Perlahan tapi pasti, bayangan Ganesha memang akan hilang, ia tak dapat memungkiri hal itu. Terlebih, Anye menghela nafasnya....Ganesha sudah memilih move on dengan Afiqah.
Anye menaruh punggungnya di sandaran kursi.
Ting!
Ganesha
Jangan lupa datang. Ada momy juga nanti, beliau yang pesan begitu sekaligus simbolis berakhirnya kerjasama Jilo dan Imaginary.
Anye mendengus sumbang, "momy ya.." yang ia lakukan hanya menaruh kembali ponsel tanpa mau membalas pesan itu. Ia memilih melanjutkan kembali pekerjaannya saat itu.
Ayunan kakinya itu seolah tak lagi bisa dikontrol oleh otak sebab....langkahnya tiba-tiba membawa Anye mendatangi salah satu butik pakaian.
"Silahkan, mau cari baju untuk acara atau hanya casual? Kami punya catalog terbaru..."
Dan senyuman tipis Anye membawanya menyusuri deretan gantungan dengan koleksi gaun semi formal. Pandangannya jatuh pada dress sederhana bahan nyaman berwarna royal blue.
Anye meraih helaian gaun formal selutut itu dan membawanya ke ruang ganti.
Hari itu, selepas jam makan siang ...Anye mengajak sebagian karyawannya yang berjumlah 14 orang itu untuk memenuhi perayaan kecil dari Jilo corp. 2 mobil melaju ke kawasan puncak.
"Grand Jilo Hotel and resort, kan?" Lana melirik kembali map ponsel yang ia taruh di dashboard mobil. Sementara mobil kantor mengikuti di belakang.
"Iya." Desti mengiyakan. Bukan tanpa sebab, hari ini beberapa dari mereka sengaja tak makan siang yang terlalu kenyang demi makan di tempat.
"Kalo jam segini kayanya ngga akan terlalu macet, selain bukan weekend, tapi jam makan siang udah kelewat dari tadi."
Anye menghela nafasnya sejak tadi, entahlah...tidak biasanya, sejak perpisahan belakangan ini hatinya selalu nervous jika akan bertemu Ganesha. Tidak seperti saat masih menikah, apakah perasaan berdebar itu datang terlambat dan di waktu yang salah?
Jarak yang semakin terpangkas, membuatnya berulang kali membuka cermin kecil tanpa disadari demi mengecek tampilan wajah.
Poni jarang-jarang sealis masih melengkung manis, membuat bingkai wajahnya semakin cantik tak kalah cantik dari prawan terlebih profesi, gelar dan apa yang melekat di badan membuat kadar kharismatik tersendiri, rambut yang ia gerai lurus itu rapi dijepit jepitan mutiara di sisi kanan dan kiri. Anye akhirnya turun di parkiran hotel setelah laju mobil mereka digiring oleh karyawan.
Ada ribut excited di belakangnya, ada candaan receh para karyawannya yang mengisi jeda waktu dan detakan nervous.
Bukan apa-apa, di dalam sana...mungkin mantan keluarganya akan kembali hadir, menghantam langkahnya yang sudah berhasil terayun beberapa meter untuk meninggalkan masa lalu.
Seolah, kini mereka hadir kembali demi mengingatkan rasa kehilangan, rasa-----
"Imaginary agency?" salah satu karyawan dengan name tag manager hotel menyapa Anye.
"Pak Yahya bilang di Ballroom...mari, Bu...rekan-rekan." Pria dengan kemeja khas warna maroon dan dasi ciri khas Grand Jilo hotel and resort menggiring dan menuntun mereka. Anye dan yang lain cukup mengernyit, ballroom? Meskipun mereka tak akan heran dengan perayaan kecil versi Jilo corp.
Hotel bintang 5 yang terletak di kawasan strategis dan view menakjubkan ini dikelilingi bangunan resort dan lapang golf di belakangnya.
"Wanjayyy, nginep sehari disini berapa ya?" bisik Lana pada Eko.
Sementara Anye, ia memilih fokus mengukur langkahnya mengikuti manager hotel di paling depan disusul Desti dan Angel.
"Pihak Jilo, sudah datang pak?" tanya Anye pada manager itu.
Ia melemparkan senyumnya, "sudah beberapa Bu, termasuk keluarga pak Jihad. Pak Ganesha...pak Yahya, pak Sadewa."
Dan semakin saja, fyuhhhh! Hampir saja bibir itu maju meniup poni yang sudah ia tata berkali-kali dan berjam-jam itu jika tak ingat usahanya.
Tak ada buku tamu yang harus ia isi layaknya undangan hajatan. Namun, ketika mereka memasuki ballroom berkelas ini, Anye cukup terhenyak, yang benar saja! Ia tak bisa lagi memasang tampang bossy lagi setelah melihat keluarga Ganesha.
"Nahhh, Anye." Prokkk-prookk--prokk....
"Wah sudah rame."
Langkah anggun Anye itu, tetap menjadi perhatian keluarga Ganesha, terlebih ia yang diekori oleh para karyawannya.
Sadewa, ia yang memulai keriuhan dengan bertepuk tangan yang langsung digeplaki Zahra. Lalu mereka berbaur, baik itu Imaginary agency ataupun Anye yang sudah mendaratkan salim takzimnya pada para orangtua, "daddy, sehat?" Anye menyapa Jihad yang merangkul Anye tak kaku. Ia cukup kebingungan memanggil Jihad dan Ica yang notabenenya bukan lagi orangtuanya itu, tapi----lidahnya itu seolah sudah terbiasa dengan panggilan itu.
"Hay tante..." sapa Anye pada Kara yang semakin cantik di usia tak lagi mudanya itu, "Anyeeee! Janda semakin terdepan!" Kelakar Kara membuat Anye tertawa.
"Om..."
"Congrats Anyelir, Imaginary and you deserve for it..." itu Armilo.
"Thanks om.." jawab Anye merasa terhormat.
"Bang," Anye menyalami Dewa dan Lendra.
Terlebih momy dan Zahra. Bahkan, keduanya seperti remaja perempuan yang bersahabat dan baru bertemu kembali saling peluk gemas lalu cipika-cipiki.
"Kangennn deh! Kamu kurusan ya sekarang, apa diet?!" tanya Zahra dengan masih memakai baju dinasnya yang serba putih itu, "pake poni?" tunjuk Zahra ke arah rambut diangguki Anye, "iya, cocok ngga?"
"Cantik banget! Banget!" puji Zahra.
Lalu, Ganesh rugi banget! Bisiknya di telinga Anye ketika mereka berpelukan.
Anye tertawa, ngomongin Ganesha, dimana lelaki itu?
Tap---tap---tap...
Ia baru kembali ke dalam room. Namun, ada senyum yang mendadak luntur berubah jadi mendung entah itu dari Zahra, Tante Kara, terlebih momy Ica, sebab---
"Adek Lo tuh bawa mendung kesini. Yahh....bikin ulahnya ngga lucu." Bisik Lendra meneguk minum yang ia ambil tadi, Dewa terkekeh, "emang an jing banget, candanya ngga lucu. Garing..."
Namun Dewa dan Lendra tertawa.
"Nesh, ini beneran ngga apa-apa aku hadir?" tanya Afiqah di gandengan Ganesha. Lelaki itu melirik datar terkesan menarik alisnya tengil, "ngga apa-apa, kan aku yang bawa." Ia melangkah lebih dalam lagi.
Wajah sumringah, suasana hangat disana, terkhusus area dimana Anye berada bersama keluarga Ganesha.
Kini Lendra yang bersiul, "woww! Udah gandeng aja mas...kenalin dong!" godanya.
Anye berdehem, ia berusaha untuk menyunggingkan senyuman, dan memastikan bahwa ia tak terpengaruh. Yaahhh, memang apapun yang Ganesha lakukan tak lagi berpengaruh apapun terhadapnya.
Apa sakit? Cemburu? Entahlah, Anye hanya merasa kasihan pada dirinya sendiri, sebab takut mengira bahwa orang-orang melihat perubahannya itu semata-mata untuk Ganesha.
Langkahnya semakin dekat menggandeng Afiqah, wajahnya tak bereaksi apapun selain dari.
"Anyelir, kenalkan ini pacar saya..." lirih Ganesha, bukan Anye, melainkan Afiqah sendiri yang terkejut, momy Ica, Zahra dan Sadewa yang tertawa kecil.
"Apa pacar?" lagi-lagi bukan Anye, melainkan momy Ica.
.
.
.
diam diam menenggelamkan ternyata