NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 - Pencapaian Kecil

Di dalam perjalanan panjang seorang kultivator menembus batas fana, cara memperoleh energi merupakan dasar dari segala dasar. Bagi Lin Zhantian, yang telah menapaki jalur latihan dengan tekad baja dan kesunyian sebagai sahabatnya, sumber kekuatan yang ia ketahui tidaklah banyak. Setidaknya, sejauh pemahamannya saat itu, hanya ada dua jalan untuk menyerap dan menumbuhkan daya di dalam tubuhnya.

Yang pertama adalah energi yang terkandung di dalam obat-obatan spiritual—ramuan dan tumbuhan langka yang menyerap esensi langit dan bumi selama puluhan bahkan ratusan tahun. Yang kedua adalah Yuan Li, kekuatan murni yang lahir dari pengolahan tubuh dan jiwa, dari pengasahan daging dan tulang melalui latihan tanpa henti.

Namun jika ditimbang dengan saksama, kemungkinan pertama tampak kecil. Jimat batu misterius yang selama ini menemaninya jelas memiliki kemampuan luar biasa: ia mampu memurnikan obat spiritual menjadi pil-pil murni yang khasiatnya jauh melampaui bentuk aslinya. Akan tetapi, dari gejala yang pernah Lin Zhantian amati, jimat itu seolah tidak begitu “tertarik” pada energi yang terkandung di dalam ramuan. Ia lebih seperti seorang pengrajin agung yang hanya menggunakan obat sebagai bahan mentah, bukan sebagai santapan utama.

Jika demikian, maka tinggal satu kemungkinan—Yuan Li.

Kesimpulan itu membuat dada Lin Zhantian bergetar samar. Ia terdiam beberapa saat, keraguan dan tekad saling beradu dalam batinnya. Yuan Li yang ia miliki bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. Itu adalah hasil setengah tahun lebih penderitaan dan peluh, hasil dari tubuh yang ditempa hingga batasnya, dari tulang yang nyaris remuk, dari malam-malam sunyi yang hanya ditemani napas beratnya sendiri.

Namun rasa ingin tahu dan kehausan akan kekuatan jauh lebih kuat daripada ketakutan kehilangan.

Perlahan, Lin Zhantian memejamkan mata.

Kesadarannya tenggelam ke dalam tubuhnya sendiri. Ia menggerakkan benaknya, menuntun benih Yuan Li di dalam meridian agar berputar perlahan. Seberkas cahaya redup mulai berkilau di telapak tangannya. Yuan Li yang masih lemah itu berkelana di bawah kulit, seperti aliran sungai kecil yang belum menemukan jalannya menuju lautan.

Namun ia belum mampu menembus keluar dari tubuhnya. Dengan tingkat kekuatan yang dimilikinya saat itu, mengendalikan Yuan Li hingga keluar dari pori-pori adalah sesuatu yang mustahil.

Alisnya sedikit berkerut.

Dan tepat pada saat itulah—

“Ciiit!”

Jimat batu misterius yang tergenggam di telapak tangannya tiba-tiba bergetar.

Getaran itu halus, tetapi membawa aura yang membuat jantungnya berdegup kencang. Seketika, sebuah daya isap yang kuat meledak keluar dari dalam jimat!

Yuan Li yang berkelana di bawah kulit telapak tangannya seolah menemukan pusaran tak kasatmata. Tanpa sempat ia kendalikan, aliran energi tipis itu langsung tersedot masuk ke dalam jimat.

Bukan hanya itu.

Setelah menelan seberkas Yuan Li tadi, jimat tersebut tampak belum puas. Daya isapnya menembus lebih dalam, langsung menuju sumbernya—benih Yuan Li di dalam tubuh Lin Zhantian. Seakan-akan seekor binatang purba yang baru terbangun dari tidur panjangnya, jimat itu mulai menyedot energi dari inti kekuatannya.

Wajah Lin Zhantian berubah drastis.

Benih Yuan Li itu adalah fondasi hidupnya sebagai kultivator. Jika seluruhnya tersedot habis, maka kerja kerasnya selama berbulan-bulan akan menjadi sia-sia. Ia akan kembali menjadi manusia biasa yang lemah!

Panik menyergap, tetapi sebelum ia sempat bereaksi—

Rasa sakit yang tajam meledak di telapak tangannya.

Ia menunduk dengan napas tertahan.

Pemandangan yang terlihat membuat darahnya seakan membeku.

Jimat batu itu… perlahan-lahan menembus masuk ke dalam daging telapak tangannya!

Awalnya gerakannya lambat, seolah menyusup dengan hati-hati. Namun dalam sekejap, kecepatannya meningkat. Saat Lin Zhantian hendak mencabutnya, jimat itu sudah meluncur masuk sepenuhnya ke dalam daging dan menghilang dari pandangan.

Anehnya, tidak ada darah.

Tidak ada luka.

Telapak tangannya tetap halus seperti giok yang dipoles, seakan tidak pernah terjadi apa pun.

Seiring jimat itu tertanam, daya isap yang sebelumnya ganas pun melemah, lalu perlahan lenyap sama sekali.

Ruangan kembali sunyi.

Hanya napas Lin Zhantian yang terdengar berat.

Ia menelan ludah, menekan rasa gentar di dalam dadanya, lalu menatap telapak tangannya dengan saksama. Di bawah kulitnya, samar-samar tampak sebuah pola simbol kuno—sebuah rune yang nyaris tak terlihat kecuali diperhatikan dengan teliti.

Rune itu tidak asing baginya.

Itulah simbol yang terukir di permukaan jimat batu misterius.

Kini, simbol itu bersemayam di dalam tubuhnya.

Perasaan aneh menyelimutinya. Ketakutan belum sepenuhnya hilang, tetapi di saat yang sama, ia merasakan sesuatu yang lain—sebuah keterhubungan. Seolah jimat itu bukan lagi benda asing, melainkan bagian dari dirinya sendiri. Seperti darah dan dagingnya sendiri.

Ia menarik napas dalam, lalu memejamkan mata sekali lagi.

Dengan satu gerakan niat, kesadarannya bergeser—

Dan dunia di sekelilingnya lenyap.

Ia muncul di dalam ruang mental yang gelap dan sunyi.

Di sana, tiga bayangan cahaya berdiri. Dua di antaranya bersinar stabil, mewakili teknik yang telah ia kuasai. Yang ketiga—bayangan yang mewakili Seni Segel Gerbang Ajaib—kini tampak sedikit lebih terang daripada sebelumnya.

Kilau itu belum sempurna, namun jelas menunjukkan perubahan.

Tatapan Lin Zhantian menjadi dalam.

“Jadi begitu… Untuk menyempurnakan teknik bela diri, jimat ini memang membutuhkan dukungan Yuan Li.”

Kesimpulan itu lahir secara alami di dalam benaknya.

Ia menggerakkan niatnya dan kembali ke dunia nyata. Kini, setelah jimat menyatu dengan tubuhnya, ia dapat memasuki ruang mental itu dengan lebih mudah, hampir seperti bernapas.

Namun kesadaran itu juga membawa kenyataan pahit.

Yuan Li di dalam tubuhnya masih terlalu lemah.

Jumlahnya belum cukup untuk memungkinkan jimat menyempurnakan Seni Segel Gerbang Ajaib secara utuh. Teknik itu jelas jauh lebih rumit dibandingkan Tinju Tongbei atau teknik tingkat pertama lainnya yang pernah ia pelajari.

Semakin tinggi tingkat suatu teknik, semakin besar pula kebutuhan energinya.

Lin Zhantian mengepalkan tangan.

“Jika ingin melangkah lebih jauh… maka kekuatanku harus meningkat.”

Desahan pelan keluar dari bibirnya. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa jimat batu itu bukanlah alat tanpa batas. Ia adalah senjata, tetapi juga beban. Ia memberi peluang besar, tetapi menuntut harga yang setimpal.

Ia menekan hasratnya untuk segera menyempurnakan Seni Segel Gerbang Ajaib. Keserakahan dalam kultivasi sering kali berujung pada kehancuran.

Dengan tenang, ia duduk bersila di atas ranjang.

Dari sampingnya, ia mengambil sebotol kecil cairan spiritual hasil pemurnian jimat. Cairan itu bening seperti kristal, memancarkan aura lembut namun murni.

Beberapa tetes ia jatuhkan ke dalam mulutnya.

Cairan itu mengalir turun ke tenggorokan, lalu menyebar seperti aliran hangat ke seluruh tubuhnya. Setiap tetes membawa energi yang murni dan lembut, tanpa kotoran sedikit pun.

Benih Yuan Li di dalam dirinya mulai bergetar.

Sedikit demi sedikit, ia menyerap energi itu. Yuan Li bertambah setitik demi setitik, seperti tunas yang tumbuh di tanah subur.

Waktu berlalu tanpa suara.

Di dalam keheningan malam, seorang pemuda duduk tegak, wajahnya tenang namun tekadnya sekeras baja. Setiap tarikan napas adalah langkah menuju kekuatan. Setiap denyut jantung adalah janji untuk tidak kembali menjadi lemah.

Rune samar di telapak tangannya berkilau redup, seakan merespons pertumbuhan energi di dalam tubuhnya.

Perjalanan masih panjang.

Namun malam itu, fondasi kecil bagi masa depan yang gemilang telah diletakkan.

Dan di dalam kesunyian itu, tanpa diketahui siapa pun, roda takdir perlahan mulai berputar lebih cepat di sekitar Lin Zhantian.

Dalam satu bulan berikutnya, Lin Zhantian kembali menghilang dari hiruk-pikuk keluarga. Sosoknya nyaris tak pernah terlihat berjalan di halaman utama atau berlatih bersama para pemuda lain. Ia seakan mengurung diri di sudut sunyi dunia, menjauh dari percakapan dan tatapan, memusatkan seluruh waktunya hanya pada satu hal—kultivasi.

Setiap hari, sejak fajar belum sepenuhnya membuka tirainya hingga malam menenggelamkan cahaya terakhir, Lin Zhantian menempuh latihan tanpa henti. Ia makan seadanya, tidur sekadarnya, bahkan sering kali melupakan rasa lelah yang merayapi tubuhnya. Baginya, waktu bukanlah sesuatu yang boleh terbuang. Setiap tarikan napas harus bernilai, setiap detak jantung harus membawa kemajuan.

Di bawah latihan yang nyaris melampaui batas kewajaran itu—ditambah dengan bantuan cairan spiritual dari jimat batu misterius serta pil-pil obat spiritual tingkat tiga—hasil yang diperoleh pun sangat nyata.

Dalam waktu sekitar satu bulan, benih Yuan Li di dalam tubuhnya telah membesar hingga beberapa kali lipat dibandingkan sebelumnya. Energi yang terkandung di dalamnya jauh lebih kuat daripada saat ia mengikuti pertarungan keluarga tempo hari. Meski belum benar-benar menembus Tingkat Kedelapan Penempaan Tubuh, jaraknya sudah sangat dekat—sedekat bayangan yang menempel pada kaki saat matahari tepat di atas kepala.

Adapun untuk tingkat pertama dari Seni Segel Gerbang Ajaib, melalui siang dan malam tanpa jeda, Lin Zhantian akhirnya berhasil menguasainya secara awal. Koordinasi antara segel tangan dan aliran Yuan Li dalam meridian semakin selaras. Setiap gerakan jari membawa resonansi energi yang semakin mantap.

Namun, tingkat kedua dari teknik itu tetap seperti gerbang besi yang tertutup rapat. Betapa pun kerasnya ia berlatih, tak ada sedikit pun riak Yuan Li yang terpancing untuk mengikuti pola segel kedua. Jelas bahwa kekuatannya saat ini masih belum cukup untuk menyentuh ranah tersebut.

Meski demikian, secara keseluruhan, hasil dari sebulan latihan pahit itu sungguh tidak kecil.

Di dalam hutan lebat yang rimbun dan sunyi, Lin Zhantian duduk bersila di atas sebuah bongkahan batu. Matanya terpejam, napasnya panjang dan berat. Tubuhnya masih dilapisi keringat tipis—jejak dari latihan fisik keras yang baru saja ia selesaikan.

Angin tipis berembus, menggoyangkan dedaunan, sementara di sekelilingnya, energi langit dan bumi bergetar samar.

Di sekitar tubuhnya, benang-benang Yuan Li yang halus mengalir pelan di udara, mengikuti irama napasnya sebelum masuk ke dalam tubuhnya, membasahi daging, kulit, dan tulangnya seperti gerimis yang menyirami tanah kering.

Namun aliran itu terlalu kecil.

Bagi seseorang dengan ambisi sebesar gunung, aliran seperti anak sungai jelas tidak memadai.

Tanpa ragu, Lin Zhantian menelan pil berwarna merah menyala yang sejak tadi ia tahan di dalam mulutnya.

Begitu pil itu masuk ke dalam tubuhnya—

Ledakan energi murni pun terjadi.

Kekuatan obat yang pekat dan bergelora menyebar seperti ombak samudra, menghantam tulang dan organ dalamnya. Rasa hangat yang kuat menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat setiap inci darah dan sumsum terasa dipeluk oleh kekuatan agung.

Energi obat itu tidak hanya memperkuat tulang dan jeroannya, tetapi juga berubah menjadi aliran Yuan Li yang murni, mengalir menuju benih Yuan Li di dalam tubuhnya.

“Dengung…”

Tiba-tiba, benih Yuan Li yang selama ini tenang mulai bergetar.

Kabut tipis yang sebelumnya melingkupinya perlahan berubah bentuk. Ia tidak lagi menyebar samar, melainkan memadat menjadi lingkaran cahaya redup yang mengitari benih tersebut, seperti cincin cahaya yang melindungi inti kekuatan itu.

Saat transformasi itu terjadi, Lin Zhantian merasakan dengan sangat jelas—benih Yuan Li mulai bergerak.

Ia mengalir mengikuti meridian, perlahan menuju bagian bawah perut.

Namun tepat ketika gerakan itu hampir mencapai ujung salah satu jalur meridian—

Sebuah hambatan tak kasatmata muncul.

Seolah-olah terdapat dinding transparan yang menghalangi jalannya. Benih Yuan Li menabrak penghalang itu beberapa kali, tetapi hasilnya nihil. Dinding itu kokoh, tak tergoyahkan.

Setelah beberapa upaya yang sia-sia, benih Yuan Li pun terpaksa kembali.

Saat itulah Lin Zhantian membuka matanya.

Ia mengembuskan napas panjang, tetapi di balik wajahnya yang memerah karena tekanan energi, seberkas kegembiraan tak tertahan bersinar di matanya.

“Tingkat Kedelapan Penempaan Tubuh…”

Suara batinnya bergetar.

Ukuran dan kepadatan benih Yuan Li kini telah mencapai tingkat yang menandakan ranah kedelapan. Energinya jauh lebih kuat, lebih padat, lebih stabil dibandingkan sebelumnya.

“Dinding itu… pasti yang disebut sebagai Penghalang Dantian.”

Ia bergumam pelan.

Dalam teori kultivasi, tanda memasuki Tingkat Kesembilan Penempaan Tubuh adalah ketika benih Yuan Li berhasil menembus penghalang dan berakar di dalam Dantian, membentuk fondasi sejati bagi jalur kultivasi selanjutnya.

Namun jelas, ia belum sampai ke sana.

Ia masih membutuhkan waktu. Masih membutuhkan penempaan.

Meski begitu, dalam waktu satu setengah bulan, melangkah dari Tingkat Ketujuh ke Tingkat Kedelapan sudah termasuk kecepatan yang mencengangkan. Berangan-angan tentang tingkat kesembilan saat ini hanya akan menjadi beban yang tak perlu.

Langkah demi langkah. Seperti makan, harus satu suap demi satu suap.

Lin Zhantian melompat turun dari batu.

Tubuhnya berdiri tegak seperti tombak panjang yang menusuk langit. Wajahnya serius, kedua tangannya perlahan membentuk segel yang rumit di depan dada.

Begitu segel pertama terbentuk—

Udara di sekelilingnya seakan berubah.

Aura yang berbeda mulai menyebar, berat dan misterius.

Tangannya bergerak cepat, membentuk beberapa pola segel dalam waktu singkat. Setiap perubahan posisi jari diiringi dengan aliran Yuan Li dari dalam meridian, yang kini deras seperti sungai musim semi, mengalir menuju telapak tangannya.

Cahaya di telapak tangannya semakin terang.

“Ha!”

Dengan teriakan tajam yang memecah kesunyian hutan, ia membalikkan tubuhnya dan menghantamkan telapak tangannya yang membentuk segel rumit itu ke atas bongkahan batu keras di hadapannya.

“BOOM!”

Ledakan menggema.

Bongkahan batu itu hancur seketika, pecah berkeping-keping. Serpihan batu beterbangan ke segala arah seperti hujan kerikil.

Lin Zhantian terengah-engah.

Wajahnya memerah, dadanya naik turun dengan cepat. Namun tatapannya terpaku pada batu yang kini hampir sepenuhnya hancur.

Kegembiraan membuncah tak terbendung.

Setelah mencapai Tingkat Kedelapan Penempaan Tubuh, akhirnya ia berhasil sepenuhnya mengeluarkan kekuatan tingkat pertama Seni Segel Gerbang Ajaib!

Kekuatan yang barusan ia lepaskan jauh melampaui Sepuluh Dentuman Tinju Tongbei yang pernah menjadi kebanggaannya.

Inilah perbedaan teknik bela diri tingkat tiga.

Inilah jurang antara yang biasa dan yang luar biasa.

Di bawah sinar matahari yang menembus celah dedaunan, serpihan batu berkilau seperti bintang-bintang kecil. Dan di tengah hutan sunyi itu, seorang pemuda berdiri dengan napas berat, namun dengan keyakinan yang semakin kokoh.

Langkahnya menuju puncak mungkin masih panjang.

Namun hari ini, ia telah menorehkan satu capaian kecil—sebuah pijakan yang akan menjadi fondasi bagi lompatan yang lebih besar di masa depan.

Dan jauh di dalam telapak tangannya, rune samar itu kembali berdenyut halus, seakan menyaksikan dengan diam kebangkitan perlahan Lin Zhantian menuju takdir yang lebih agung.

1
alex kawun
jangan gitu lah thor demi u memenuhi target tulisan & chapter harus nulis ber ulang2 poin yg sama
mbosenin thor
Eko
ayoooo tambah kuat
Eko
alur cerita yang bagus
Joe Maggot Curvanord
lin dong
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
Dian Pravita Sari
liat ajakl gak tamat lagi faj gak guns ada komentar gak ada tindak lanjut dah sangat kecewa duanya cerita gak da yg tamatrenjijikkam pengarangnya hy mikir duit tp nol tanggung jawab alur cerita dan penyelesaian cerita gak bermutu blas
gak
REY ASMODEUS
up 10 eps
Jullsr red: okee bossskuuu
total 1 replies
REY ASMODEUS
lnjut
REY ASMODEUS
💪💪💪💪
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!