Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Sudut Pandang Naya
Saat jam istirahat tiba, aku kembali duduk di bangku halaman yang biasa. Aku sudah lama mengejar Rian dan mengabaikan lingkungan sekitarku, jadi wajar saja kalau aku tidak punya teman. Itu adalah konsekuensi dari pilihanku sendiri.
"Ah... Kak Rina benar-benar datang."
Tapi hari ini berbeda. Beberapa saat kemudian, sosok Rina muncul. Kupikir dia akan terlalu sibuk untuk menemuiku lagi, tapi ternyata dia menepati janjinya. Aku merasa sedikit canggung karena kami sangat berbeda, tapi jauh di dalam hati, aku sangat senang. Aku terus berpikir, apa yang harus kukatakan agar dia senang?
Setiap kali melihat wajahnya, hatiku terasa tenang. Mungkin karena dia sangat mirip dengan Rian? Ditambah lagi, dia memiliki aura yang sangat berwibawa dan menawan.
"Aku memang payah... aku tidak pandai dalam hal ini. Aku gadis buruk yang tidak mengerti perasaan orang lain," gumamku meratapi diri.
"Hei, aku bisa mendengarmu bicara sendiri dengan nada kasar begitu. Bisa tenang sedikit?" tegur Rina yang tiba-tiba sudah di dekatku.
"Oh, apa suaraku terlalu keras? Ahahaha..." aku tertawa malu.
"Ya sudah. Boleh aku bergabung hari ini?"
"Tentu saja!" jawabku antusias sambil menunjukkan tempat yang sudah kupersiapkan untuknya. Rina tersenyum tipis melihat kesiapanku.
Aku mencoba mencari topik pembicaraan. Karena adiknya sangat tangguh, kupikir Rina suka hal-hal yang berbau kekerasan.
"Kak, apakah Kakak suka memukul orang?" tanyaku polos.
"Hah? Ada apa tiba-tiba?" Rina tampak terkejut.
"M-maaf... aku pikir Kakak tipe berandal, jadi aku langsung tanya begitu."
"Jadi begitu persepsimu tentangku... Naya, aku lebih suka dipanggil 'Kak' saja. Dan maaf aku agak telat, tadi ada urusan sebentar."
"Benarkah? Kakak tidak apa-apa?" tanyaku ragu. Dia datang jauh-jauh menemuiku meski sibuk... apakah aku malah menjadi beban baginya? "Umm... kalau boleh tahu, kenapa Kakak repot-repot datang menemuiku?"
Rina menggaruk pipinya dengan telunjuk, tampak sedikit salah tingkah. "Hmm? Ah... itu... karena kejadian dua hari yang lalu."
Mendengar itu, aku menundukkan kepala dengan sedih. Aku mengerti maksudnya. Sebagai kakak yang baik, dia pasti melihat betapa hancurnya aku saat berinteraksi dengan Rian hari itu.
"Apa Kakak tidak marah padaku karena sudah membuat suasana menjadi sedih?"
"Kalau Rian membencimu, mungkin aku akan marah. Tapi kemarin dia tidak terlihat membencimu. Dia hanya tampak... sulit untuk menolakmu."
"Jadi, Kakak tidak marah padaku sedikit pun?"
"Yah... begitulah."
"......... Terima kasih, Kak."
Percakapan terhenti di sana. Masalah ini memang sangat serius bagiku, dan keheningan ini terasa menyesakkan. Tak lama kemudian, bel berbunyi.
"Baiklah, sampai jumpa besok," pamit Rina.
Aku melambaikan tangan menatap punggungnya. Meski waktu bersamanya menyenangkan, hatiku terasa berat. Aku tidak ingin menyusahkan Rian, juga kakaknya. Haruskah besok aku menyuruhnya berhenti datang? Aku tidak ingin dia membuang waktu istirahatnya hanya karena kasihan pada orang sepertiku.
Perubahan di Kelas
"N-Naya!! Kami minta maaf atas segalanya!!"
Begitu aku masuk ke kelas, gadis-gadis yang biasanya merundungku langsung menundukkan kepala serentak. Padahal pagi tadi sepatu sekolahku disembunyikan. Aku bingung, rencana jahat apa lagi ini?
"Kami tidak akan mengganggumu lagi! Kami tidak tahu kalau kamu kenal dengan kakak kelas yang mengerikan itu!"
"Hah? Kakak kelas yang mengerikan?"
"Dia bilang... kalau kami menyentuhmu lagi, dia tidak akan melepaskan kami. Dia mengancam akan membawa sekelompok berandal jika kami macam-macam..."
Itu pasti Rina. Aku yakin sekali. Ternyata itu alasan kenapa dia tadi datang terlambat. Dia membelaku di belakang layar.
"..."
"J-Jangan menangis!! Tolong, kami benar-benar akan dibunuh kalau kamu menangis!" teriak mereka ketakutan.
Ah, aku menangis lagi. Akhir-akhir ini aku memang jadi cengeng, tapi ini bukan air mata kesedihan. Ini air mata kebahagiaan.
"Aku memaafkan kalian, tapi tolong... berhentilah menggangguku."
"Kami janji! Bahkan mulai hari ini, kami akan jadi pengawalmu!"
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Rina benar-benar menyelamatkanku. Jika perundungan itu berlanjut, aku mungkin akan putus sekolah. Aku sangat tersentuh, padahal kami baru bertemu dua kali, tapi dia sudah melindungiku sedalam ini.
Aku harus membalas budi, tapi aku juga tidak boleh terus-terusan bergantung padanya.
Keesokan Harinya
Waktu makan siang tiba, dan Rina datang tepat waktu. Saat mata kami bertemu, dia melambaikan tangan dengan riang. Aku bisa melihat ketulusan di matanya. Dia membantuku murni karena niat baik.
"Terima kasih untuk bantuan Kakak kemarin," ucapku tulus.
"Hah? Oh, orang-orang itu memang menyebalkan, jadi aku hanya memberi sedikit teguran. Jangan dipikirkan."
Rina persis seperti Rian; selalu mengalihkan pembicaraan atau pura-pura cuek saat merasa malu.
"Um... Kak, sebenarnya Kakak tidak perlu datang lagi mulai besok."
"Hah?! Kenapa tiba-tiba? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?!" Rina tampak panik.
"Ah, bukan begitu! Maksudku, aku tidak ingin merepotkan Kakak! Kakak pasti punya teman-teman sendiri untuk diajak makan siang!"
"Apa-apaan... jadi kamu bosan melihat wajahku?"
"Bukan!! Mana mungkin!!"
"Syukurlah... Fiuh, aku benar-benar khawatir," Rina menghela napas lega.
Tanpa disadari, Rina juga mulai menyukaiku sebagai adik kelas. Ini pertama kalinya dia memiliki junior yang bisa diajak bicara jujur tanpa terpengaruh rumor buruknya. Bahkan teman dekatnya, Tina, terkadang masih sungkan padanya.
"Oh, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu... ini." Rina mengeluarkan sebuah amplop.
Begitu kubuka, ada selembar kertas A4 dengan tulisan spidol hitam besar:
"Aku belum bisa bertemu atau bicara langsung dengannya, tapi kalau hanya lewat pesan singkat, kurasa tidak apa-apa." — Rian
Tanganku gemetar. "K-Kak... ini benar dari Rian?"
"Iya. Itu pertama kalinya dia menulis surat, dia terinspirasi dari Ketua OSIS kita yang kaku itu," canda Rina sambil merangkul bahuku.
Ternyata Rina-lah yang membujuk Rian. Dia meyakinkan adiknya bahwa tidak ada salahnya mulai berkomunikasi lagi secara perlahan.
"Dia bilang mungkin bisa dimulai dari pesan teks. Kamu masih menyimpan kontaknya, kan?"
"Iya... tidak akan pernah kuhapus selamanya!"
Saking bahagianya, aku tiba-tiba memeluk Rina dengan kencang. Rina tersentak kaget.
"Terima kasih banyak, Kak! Aku hampir saja menyerah! Terima kasih sudah melindungiku dari perundungan juga! Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Kak Rina!!"
Aku menangis sesenggukan di pelukannya. Melihatku begitu, mata Rina ikut berkaca-kaca.
"Kalau kamu menangis, aku juga jadi ingin menangis... Dasar cengeng. Tapi berjanjilah, jangan ulangi kesalahan yang sama lagi, oke?"
"Iya! Aku berjanji!!"
Aku mengangkat surat itu ke arah langit dengan senyum lebar. Aku kembali terhubung dengan Rian. Memang ini baru permulaan, dan masih banyak tantangan di depan, tapi aku akan berjuang sekuat tenaga.
Sudut Pandang Rina
Sepulang sekolah, aku berjalan bersama Tina yang baru saja menyelesaikan tugas OSIS-nya. Di sepanjang jalan, aku menceritakan semua yang terjadi pada Naya.
"Begitulah ceritanya... aku harap anak itu bisa kembali ceria."
"..."
"Kenapa diam saja? Kamu marah?" tanyaku heran.
"Hmmh! Dasar Rina. Kamu pasti akan membantu gadis mana pun yang terlihat malang seperti itu, kan?!"
"Hah? Kamu benar-benar marah? Kenapa?"
"Kupikir aku ini spesial bagimu! Ternyata kamu perhatian ke semua orang!" seru Tina sambil memalingkan muka.
"Apa kamu yakin ingin bersikap seperti itu sebagai Ketua OSIS?" godaku.
Dia memang Ketua OSIS yang sangat pencemburu.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰