NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21: benteng darah

Dunia sedang berada dalam kondisi guncangan syok pasca "Keajaiban Gwangyang". Meskipun ingatan massal warga Seoul telah dimanipulasi, bekas luka di tanah dan hilangnya energi Abyss tingkat SSS dalam sekejap tidak bisa dihapus dari instrumen ilmiah para ilmuwan global. Di markas besar World Hunter Association (WHA), foto-foto satelit menunjukkan satu hal yang mustahil: sebuah titik energi merah yang begitu padat hingga melubangi lapisan atmosfer tepat di atas SMA Gwangyang. Namun, saat tim investigasi tiba di sekolah tersebut, mereka hanya menemukan gedung yang utuh dan siswa-siswa yang bingung.

Dan yang paling misterius dari semuanya adalah hilangnya satu nama dari daftar absensi: Arkan.

Liora duduk di bangku taman sekolah yang kini terasa begitu sepi. Di tangannya, ia menggenggam bingkai kacamata hitam yang retak—satu-satunya bukti fisik bahwa pemuda yang duduk di sampingnya selama ini bukanlah manusia biasa. Alice Pendragon berdiri di dekatnya, matanya yang biru menatap langit dengan tatapan kosong.

"Dia pergi, Liora," ucap Alice datar. "Dia menghapus jejaknya dari memori semua orang, kecuali kita. Itu bukan kecerobohan. Itu adalah pesan. Dia ingin kita tahu bahwa dia mengawasi kita."

Liora tidak menjawab. Ia hanya menatap bangku kosong di sampingnya di dalam kelas yang terlihat melalui jendela. Di sana, di meja Arkan, tidak ada lagi buku catatan atau pulpen murah. Hanya ada keheningan yang menyesakkan.

Sementara itu, jauh dari jangkauan satelit manusia, di sebuah dimensi saku yang tersembunyi di antara lipatan ruang di atas Pegunungan Himalaya, sebuah konstruksi megah sedang terbentuk.

Arkan berdiri di tengah udara kosong. Ia tidak lagi memakai seragam sekolah yang lusuh. Ia mengenakan jubah Sovereign yang panjangnya menyapu awan, dengan mahkota tipis terbuat dari kristal darah yang melingkar di kepalanya. Di sekelilingnya, kelima bawahannya bekerja dengan kecepatan yang melampaui logika.

"Vanguard, tancapkan pilar fondasinya sekarang!" perintah Arkan.

Bastian, yang kini ukurannya tampak lebih perkasa, mengangkat pilar batu hitam raksasa seberat ratusan ribu ton. Dengan satu hantaman tangan kosong, ia menancapkan pilar itu ke dalam inti energi dimensi saku tersebut. BOOM! Gelombang kejutnya menyapu awan di bawah mereka.

Hana bergerak seperti kilat, menjalin benang-benang energi sanguine di antara pilar-pilar tersebut untuk membentuk dinding benteng. Rehan menyuntikkan uap mana murni ke dalam pondasi agar benteng itu memiliki ekosistemnya sendiri. Elara berdiri di titik tertinggi, memastikan koordinat benteng ini tetap tidak terdeteksi oleh radar dimensi mana pun di bumi.

"Julian, bagaimana status integrasi sistemnya?" tanya Arkan.

Julian, yang kini memiliki tubuh fisik yang atletis berkat regenerasi darah Arkan, berdiri di depan sebuah bola kristal raksasa yang berfungsi sebagai otak benteng. "Sistem operasional 'The Blood Fortress' sudah mencapai 90%, Ayah. Kami telah meretas seluruh jaringan satelit dunia. Mulai detik ini, tidak ada satu pun percakapan di gedung putih atau markas WHA yang tidak kita dengar."

"Bagus," Arkan melangkah masuk ke dalam aula utama benteng yang baru saja selesai.

Aula itu sangat luas, dengan lantai terbuat dari obsidian merah yang memantulkan bayangan langit. Di ujung aula, terdapat enam singgasana. Lima singgasana untuk para bawahannya, dan satu singgasana raksasa di tengah yang terbuat dari tulang belulang monster Abyss tingkat SSS yang pernah Arkan kalahkan.

Arkan duduk di takhta tersebut. Saat ia menyandarkan punggungnya, seluruh benteng itu bergetar seolah menyambut tuannya.

"Masa persembunyianku telah berakhir," suara Arkan bergema, terpancar ke dalam pikiran kelima bawahannya. "Selama ini, kita bergerak seperti pencuri di malam hari. Kita menyelamatkan dunia dari balik bayangan. Tapi sekarang, dunia telah menjadi terlalu kotor. Para Hunter lebih sibuk berpolitik daripada bertarung, dan Abyss mulai mengirimkan jenderal-jenderal mereka."

Arkan menatap satu per satu bawahannya. "Bastian, Hana, Rehan, Elara, Julian... kalian adalah anak-anakku. Kalian adalah penguasa benua. Mulai hari ini, aku membagi bumi menjadi lima sektor. Kalian akan memimpin pembersihan besar-besaran. Jangan sisakan satu pun monster, dan jangan biarkan satu pun Hunter korup menghalangi jalan kalian."

"KAMI SIAP, SOVEREIGN!" teriak mereka serempak, berlutut dengan satu kaki di hadapan takhta.

"Bastian, kau ke Amerika Utara. Hancurkan sindikat Hunter yang bekerja sama dengan Abyss di sana. Hana, kau ke Asia Timur dan Jepang. Bersihkan sisa-sisa keluarga Pendragon yang masih mencoba melacakku. Rehan, kau ke Eropa. Elara, kau ke Afrika. Dan Julian... kau tetap di sini bersamaku, mengatur koordinasi global."

Arkan mengangkat tangannya, dan lima lencana darah muncul di depan masing-masing bawahannya. Lencana itu adalah kunci portal menuju benteng ini dan sekaligus simbol kekuasaan mereka.

"Pergilah. Biarkan dunia melihat apa yang terjadi saat Crimson Eclipse benar-benar melepaskan taringnya."

Dalam lima kilatan cahaya merah, aula itu menjadi sepi, menyisakan Arkan dan Julian.

Dunia tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa badai telah datang.

Di Washington D.C., Amerika Serikat, sebuah gedung pencakar langit milik organisasi Hunter 'Black-Diamond' mendadak runtuh bukan karena ledakan, melainkan karena ditekan oleh gravitasi yang luar biasa. Di tengah reruntuhan, terlihat sosok Bastian yang sedang menyeret pemimpin organisasi tersebut yang terbukti menjual data pertahanan pada monster Abyss.

Di Tokyo, Jepang, seluruh kuil kuno yang menjadi sarang monster tipe bayangan mendadak bersih dalam satu malam. Warga hanya melihat sesosok gadis kecil yang melompat di antara atap gedung sebelum menghilang menjadi asap.

Di seluruh dunia, berita-berita tentang "Pembersihan Global" oleh Crimson Eclipse menjadi konsumsi harian. Mereka tidak lagi hanya menyelamatkan orang; mereka menghukum. Mereka menghancurkan sistem Hunter yang sudah busuk dan menggantinya dengan hukum Sovereign yang tegas.

Seoul, Malam Harinya.

Liora sedang berjalan pulang sendirian dari sekolah. Suasana Seoul terasa berbeda—lebih aman, namun lebih mencekam. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah kehadiran di belakangnya. Ia berbalik dan bersiap mengeluarkan mana-nya, namun ia membeku.

Seorang gadis kecil dengan mata merah silang berdiri di sana. Elara.

"Liora," suara Elara lembut namun dingin. "Tuan menitipkan ini padamu."

Elara memberikan sebuah botol kecil berisi cairan merah kristal. "Ini adalah perlindungan. Jika suatu hari kau merasa duniaku dan duniamu benar-benar bertabrakan, minumlah ini. Itu akan membangkitkan apa yang selama ini tersembunyi di dalam darahmu."

"Arkan... di mana dia?" tanya Liora dengan suara serak.

"Tuan sedang duduk di atas takhtanya, menatap dunia yang sedang ia perbaiki," jawab Elara sebelum menghilang menjadi partikel merah di bawah cahaya lampu jalan.

Liora menatap botol itu. Ia menyadari bahwa hidupnya sebagai siswa SMA biasa telah berakhir. Arkan tidak pergi untuk meninggalkannya; ia pergi untuk menjadi raja yang akan memastikan Liora tetap bisa tersenyum di dunia yang hancur ini.

Di atas Himalaya, di dalam Benteng Darah, Arkan menatap bola kristal Julian yang menampilkan wajah Liora.

"Satu per satu bidak catur mulai bergerak, Julian," ucap Arkan. "Pastikan Liora tidak terseret terlalu dalam... setidaknya sampai aku siap menjadikannya ratu di benteng ini."

Julian tersenyum penuh arti. "Semua sudah diatur, Ayah. Namun, ada satu gangguan. Alice Pendragon... dia baru saja menghubungi markas besar WHA. Dia melaporkan koordinat dimensi saku ini. Tampaknya dia menggunakan artefak terlarang keluarganya untuk melacak jejak Elara tadi."

Arkan berdiri dari takhtanya. Matanya berkilat merah yang sangat pekat. "Gadis pirang itu benar-benar keras kepala. Julian, siapkan penyambutan. Jika WHA ingin melihat bentengku... biarkan mereka datang. Aku ingin mereka melihat tempat di mana pahlawan mereka akan dimakamkan."

Babak baru telah dimulai. Pertarungan bukan lagi di ruang kelas, tapi di kancah politik dan perang antar dimensi. Sang Sovereign telah membangun bentengnya, dan ia tidak akan berhenti sampai seluruh dunia bersujud di bawah bendera Crimson Eclipse.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!