"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 5
"Apa kau akan terus berdiri disitu?" sindir seorang lelaki yang sedang duduk di kursi roda elektriknya. Sorot matanya menatap jijik dan tersirat penuh kebencian pada Yiyue.
Lelaki itu tak lain adalah He Qiaoyan, putra sulung dari keluarga He. Dulu, Qiaoyan adalah Tuan Muda yang paling disegani di keluarga besarnya. Semua orang mengelu-elukan namanya. Siapa yang tak suka pada pemuda kaya raya, pintar dan berkharisma seperti Qiaoyan?
Tapi nasib begitu kejam merenggut segalanya dari kehidupan Qiaoyan ketika lelaki itu mengalami kecelakaan dan lumpuh sejak tujuh tahun lalu. Masa depan Qiaoyan hancur begitu saja, bahkan semua wanita yang mendekati dirinya pun menghilang bagaikan ditelan bumi.
Sejak saat itu Qiaoyan berubah menjadi sosok lelaki yang begitu dingin dari sebelumnya. Jika dulu dia pernah tersenyum karena kekasih yang mampu menggaet hatinya, tapi tidak dengan sekarang. Tak ada senyuman sedikitpun dari lelaki itu, mengingat kekasih yang dicintainya pergi meninggalkan Qiaoyan saat mengetahui lelaki itu lumpuh.
"Ehh ... i- iya Tuan, maaf." Yiyue tersentak kaget mendengar suara bariton yang memekikkan telinganya. Kini tatapannya menunduk menatap lantai marmer ketika lelaki itu menatap ke arahnya.
"Baca dan tanda tangani ini!" seru lelaki itu sambil melayangkan sebuah map yang berisi sebuah berkas penting.
Yiyue memberanikan diri mengangkat wajahnya. Secepat kilat Yiyue menyambar map itu, jika tidak sudah dipastikan berkas-berkas itu akan berserakan di lantai.
Bola mata Yiyue bergerak kesana-kemari memperhatikan setiap kata yang tertulis di atas kertas putih itu. Tiba-tiba matanya membulat sempurna saat membaca isi dari surat itu. Tepat di atas halaman pertama tertulis surat perjanjian.
Kembali Yiyue mendongakkan wajahnya, memberanikan diri menatap wajah datar suaminya. "Tuan, apa maksudnya ini?" tanya Yiyue sambil mengerutkan alis.
"Kalau kau bisa membaca, pasti kau bisa memahami isinya."
"Oh ... atau jangan-jangan kau buta huruf? Ck, bodoh sekali orangtuaku memilih perempuan sepertimu. Sudah tidak cantik, tidak menarik, tidak bisa baca pula. Benar- benar paket komplit, pantas saja orangtuamu rela menjualmu pada keluargaku. Heh' ternyata kau tak ada gunanya bagi mereka." Lanjutnya dengan sorot mata elangnya menatap pada Yiyue.
DEG!
Seketika hati Yiyue mencelos, rasanya begitu sakit bagaikan tertusuk ribuan jarum. Sungguh dia tak menyangka jika lelaki yang baru saja menikahinya ternyata memiliki mulut tajam bak seperti pisau yang telah diasah.
Yiyue menghela napas pelan. "Dengar Tuan, kau tidak berhak menghinaku. Apapun itu, kau harus ingat kalau aku telah sah menjadi istrimu bukan pembantumu," bantah Yiyue tak terima dengan hinaan juga isi dari perjanjian dalam surat itu.
"Heh' kata siapa aku tidak berhak? Ingat, kau sudah dibeli oleh orangtuaku. Mau tidak mau kau harus tetap menuruti perintahku. Tugasmu disini adalah merawat dan mengikuti kemauanku. Apa kau mengerti?" sinis lelaki itu tanpa menatap Yiyue.
"Baiklah." Dengan berat hati Yiyue pun mengiyakan keinginan lelaki itu.
"Bagus." Lelaki itu tersenyum smirk mendengar jawaban Yiyue. Dia akan melihat sekuat apa gadis kecil itu mampu bertahan di sisinya dengan sikapnya yang dingin itu. Terlebih berbagai perintah yang akan dia berikan nantinya.
Lelaki itu akan menyiksa gadis kecil yang telah dibeli orangtuanya itu. Dia sangat yakin jika gadis itu menikah dengannya dibeli karena uang bukan karena cinta padanya. Mana mungkin ada perempuan yang mau menikah dan mencintai lelaki lumpuh sepertinya? Jelas itu tidak ada, kecuali hanya karena uang semata lah yang membuat mereka mau dan tergiur oleh semua itu.
"Ck, kaki sialan! Dasar tidak berguna!" pekik Qiaoyan menatap kesal pada kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan sama sekali.
Saat ini lelaki itu ingin duduk di atas ranjang king sizenya. Namun, seperti biasa lelaki itu mengalami kesulitan yang berujung dirinya tetap saja membutuhkan orang lain untuk membantunya.
Beruntung ada sosok Fan Zhi yang selalu ada untuknya. Lelaki itu merupakan asistennya yang begitu setia menemaninya disaat Qiaoyan berada di titik paling bawah. Fan Zhi memutuskan tinggal bersama dengan Qiaoyan di villa milik atasannya itu. Selain urusan pekerjaan yang setiap harinya akan dia laporkan pada lelaki itu, dia juga tidak tega melihat Qiaoyan hidup sendiri di sebuah villa yang cukup jauh dari kota.
Sejak Qiaoyan mengalami kelumpuhan, orangtuanya memutuskan untuk mengasingkan putranya. Qiaoyan sendiri memilih tinggal di sebuah villa, sebuah tempat yang telah dia bangun sesuai dengan impiannya selama ini.
"Mari saya bantu Tuan," ucap Yiyue yang reflek memegang tangan suaminya.
"Jangan sentuh aku! Jauhkan tangan kotormu itu dari tubuhku!" sentak Qiaoyan menepis tangan Yiyue dengan kasar. Sorot matanya menatap tajam pada Yiyue, terlihat jelas kilat kebencian yang tersirat dalam manik matanya.
Bukannya sedih, justru Yiyue menggelengkan kepala melihat sikap sombong suaminya itu. Sudah tahu lumpuh tapi masih saja merasa sok kuat.
"Pejamkan saja mata mu Tuan, jika kau tak ingin menatapku. Bukankah kau bilang kalau aku ini pelayanmu. Jadi, sudah tugasku untuk merawat dan membantumu. Berhenti, bersikap keras kepala Tuan!" sergah Yiyue yang kemudian membantu Qiaoyan duduk di atas ranjang king sizenya tanpa memedulikan tatapan tajam dari lelaki yang berstatus suaminya itu.
Tak hentinya Qiaoyan menyorot tajam pada gadis cantik di hadapannya itu. Dia merasa heran dengan gadis itu yang begitu telaten bahkan tidak ada rasa takut sedikitpun padanya. Justru gadis ini terlihat begitu santai saat menghadapi sifatnya yang keras kepala.
🥕🥕🥕
"Selamat pagi Nona," sapa para maid yang ada di villa mewah itu.
"Pagi Bi," sahut Yiyue sambil tersenyum manis pada wanita paruh baya yang sedang membersihkan ruang keluarga.
"Oh iya Bi, dimana dapurnya? Saya ingin memasak untuk suami kulkasku itu." Lanjutnya dengan antusias.
"Maaf Nona, sebaiknya anda tidak perlu repot menyiapkan sarapan untuk Tuan Muda karena Tuan tidak akan memakannya," jawab Bi An.
Yiyue berkerut alis mendengar penuturan Bi An barusan. Manusia macam apa yang tidak mau sarapan pagi yang dibuat oleh orang lain? Apa dia tidak tahu cara menghargai, pikir Yiyue.
"Nggak apa-apa Bibi tenang aja. Bibi tunjukkan saja dapurnya dimana, saya akan masak spesial untuk suami kulkasku. Mau tidak mau dia harus tetap sarapan, bagaimana bisa sembuh jika makan saja dia tidak mau," celetuk Yiyue memutar malas bola matanya.
Jujur saja dia sedikit kesal dengan tingkah suami kulkasnya itu. Sungguh merepotkan sekali, sudah tahu lumpuh tapi ego dan gengsinya sangat tinggi. Bagaimana bisa ada manusia seperti itu? Benar-benar aneh, ingin sembuh tapi selalu melewatkan makan.
"Baik Nona. Mari ikut saya," ucap Bi An mengiyakan keinginan istri Tuan Mudanya.
Yiyue mengekori Bi An dengan senyum mengembang. Disana sudah ada beberapa maid yang telah melakukan tugas mereka masing-masing. Entah mereka masak untuk siapa, sedangkan di villa hanya ada suami dan asistennya saja. Tentu saja kedua orang itu tidaklah mampu jika harua menghabiskan semua makanan itu hingga habis.
"Pagi Nona Muda." Mereka semua menyapa kedatangan Yiyue yang notabenenya istri dari Tuan Mudanya.
"Pagi juga Bi." Yiyue tersenyum ramah menatap para maid disana.
"Bi Nan, Nona muda ingin memasak untuk Tuan."
"Sebentar ya Nona, saya akan mengambil bahan-bahan masakannya dulu di kulkas," ucap Bi An yang kini beralih menatap Yiyue.
"Tidak usah Bi, biar saya saja yang mengambilnya dan memasaknya sendiri. Lebih baik Bibi lanjut saja tugas Bibi," tolak Yiyue dengan halus.
"Tapi Non ...."
"Nggak apa-apa Bi. Saya sudah biasa kok masak sendiri, malah di rumah saya yang selalu masak buat Mama dan Papa," sela Yiyue menjelaskan.
"Baiklah Non. Kalau Nona butuh apa-apa, bilang saja sama Bi Nan. Saya permisi dulu ya Non." Bi An mengangguk mengiyakan keinginan istri Tuan Mudanya, sebelum kemudian Bi An pamit undur diri untuk melanjutkan tugasnya yang belum sempat selesai.
🥕🥕🥕
BRAK!
"Arrrgghhhhh ...."
.
.
.
🥕Bersambung🥕