Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Penolakan.
"Aku mau cerai!"
Deg.
Rangga terkesiap, matanya terbelalak lebar, rahangnya mengeras, wajahnya memucat saat mendengar kata cerai lolos dari mulut istrinya.
"Ka-kau mau apa?" tanyanya dengan gemetar, merasa syok dan tidak percaya.
Rania diam sejenak, mencoba untuk mengatur napas. Kemudian dia kembali menatap Rangga, tidak tajam, tetapi penuh dengan keyakinan yang telah dia putuskan.
"Aku mau cerai," ulang Rania. Tidak dengan nada tinggi seperti sebelumnya, tapi justru itulah yang terasa paling menakutkan—karena keputusan ini jelas bukan emosi sesaat.
Rangga mengusap wajahnya kasar, merasa benar-benar frustasi. "Sayang... " Dia menatap Rania, kalimatnya menggantung. "Jangan katakan itu." suaranya lemah, memohon dengan sangat.
Rania kembali menggeleng, menegaskan bahwa keputusannya untuk berpisah sudah bulat. Dia tidak mau lagi membina rumah tangga bersama dengan Rangga, bersama dengan laki-laki yang telah mengkhianati cinta sucinya.
"Sayang... " Rangga kembali mendekat, hampir bersimpuh dikaki Rania, tapi wanita itu kembali mundur dan menghindar. "Kamu lagi emosi, kita bisa bicarain ini baik-baik," ucapnya pelan, penuh harap yang nyaris tak terlihat diwajah Rania.
Rania tertawa, merasa sangat lucu mendengar ucapan suaminya. "Kenapa harus di bicarain lagi? Kamu saja, tidak bicara dulu sama aku saat bercinta dengan dia." Sambungnya dengan tajam dan menusuk.
Rangga mengigit bibir, tidak tahu lagi harus berkata apa untuk meredakan emosi istrinya. Sudah berulang kali dia meminta maaf, tetapi Rania malah mengajak untuk berpisah.
"Aku janji akan berubah, aku janji akan memperbaiki semuanya, aku janji-"
"Enggak, semua udah selesai," potong Rania, tidak mau lagi mendengar janji-janji busuk yang Rangga ucapkan. "Keputusanku udah final, aku mau pisah sama kamu, Mas."
Wajah Rangga berubah, dia yang sejak tadi memohon dengan deraian air mata, berharap Rania memaafkan, digantikan dengan tatapan tajam dan kemarahan yang nyata.
"Kamu gak serius,"
"Aku serius!" balas Rania, cepat dan lugas.
Jawaban singkat itu seperti memukul sesuatu di dalam diri Rangga. Dia melangkah mendekat, suaranya mulai naik tanpa dia sadari. “Enggak! Sampai kapanpun aku gak akan mau pisah sama kamu!" tolaknya, seolah kata cerai tidak akan pernah ada dalam hidupnya. "Kamu istriku, dan sampai mati pun akan tetap jadi istriku!" lanjutnya dengan penuh penekanan.
Rania merasakan sesuatu dingin merayap di dadanya. Bukan takut—lebih seperti kesadaran baru bahwa perpisahan ini tidak akan mudah.
"Terserah. Yang jelas aku tidak mau lagi bersama denganmu," ucap Rania, pelan tapi penuh dengan tekad kuat.
Rangga menatap Rania dengan mata yang mulai memerah. Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, dia benar-benar terlihat kehilangan kendali.
"Baiklah, kau coba saja," ujar Rangga seraya menyeringai penuh kelicikan. Kesabarannya telah habis, dia tidak bisa lagi menahan diri melihat kelancangan Rania. "Tapi harap kau ingat, aku bisa melakukan apapun untuk membuatmu tetap menjadi istriku." katanya dengan penuh ancaman.
Rania mengepalkan kedua tangan, merasa geram dan kesal melihat sikap Rangga. Padahal laki-laki itu yang berselingkuh, tapi laki-laki itu juga yang tidak mau berpisah darinya.
"Aku akan memberimu waktu untuk menenangkan diri," sambung Rangga. "Pikirkan baik-baik tentang putra kita, tentang rumah tangga kita." Katanya tenang seolah Rania yang telah menghancurkan rumah tangga mereka. Kemudian dia berbalik, lalu berjalan ke arah pintu untuk membiarkan Rania sendirian.
Kedua mata Rania memerah, merasakan gelora amarah yang benar-benar membakar dada. "Aku tidak butuh waktu! Kau yang mengkhianatiku, mengkhianati Dafa, kau yang menghancurkan rumah tangga kita." Katanya tajam.
Rangga menghentikan langkahnya, kemudian kembali melihat ke arah Rania. "Aku tau, dan aku sudah meminta maaf. Tapi bukan berarti kau bisa dengan lancang meminta perceraian." suaranya terdengar tegas, penuh dengan intimidasi.
"Itu hakku, aku punya hak untuk berpisah denganmu!" teriak Rania.
Rangga tersenyum tipis, merasa tidak peduli dengan keputusan apapun yang Rania ambil. "Dan aku punya hak untuk melakukan apapun yang aku mau." katanya dingin. Dia kemudian kembali berjalan keluar, tapi tiba-tiba kembali menoleh ke arah Rania yang terlihat sangat murka sekali sekarang.
"Dan jangan coba-coba untuk pergi dari rumah ini, Rania. Aku bisa mencarimu walau ke lubang semut sekali pun," ancamnya.
Rania menggigit bibir sampai membuat darah segar mengalir dari sana. Sungguh dia tidak menduga jika Rangga akan bersikap seperti ini padanya.
"Aku akan datang lagi nanti," ucap Rangga kemudian sebelum benar-benar pergi dari sana.
Bruk.
Tubuh Rania langsung terjatuh membentur lantai karena benar-benar sudah tidak tahan lagi merasakan neraka yang Rangga ciptakan untuknya.
"Kenapa? Kenapa Kau lakukan ini padaku, Tuhan? Kenapa?" Rania memukul-mukul lantai dengan keras sampai membuat punggung tangannya memerah. Dia menekan dada, berharap sesak ini bisa reda. Tapi tidak. Rasanya seperti ada lubang besar di dalam dirinya, menganga, dingin, dan tak bisa ditutup dengan apa pun.
Di tengah sunyi kamar itu, Rania sadar satu hal yang paling menyakitkan. Luka ini tidak akan sembuh cepat. Tidak akan hilang dengan maaf.
Tidak akan pulih hanya dengan waktu. Karena yang dihancurkan bukan sekadar cinta—melainkan seluruh hidup yang selama ini ia bangun dengan penuh keyakinan.
Dan di detik itulah, sesuatu berubah tanpa bisa dikembalikan.
Bukan lagi soal perselingkuhan.
Bukan lagi soal marah atau sedih.
Melainkan awal dari perang yang diam-diam akan menentukan siapa yang benar-benar kehilangan segalanya.
Sementara itu, Rangga yang sudah berada di dalam mobil berniat untuk pegi ke rumah orangtuanya. Namun, sebelum itu dia ingin menelepon pengacara pribadinya agar segera datang untuk menemuinya.
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pengacara pribadi Rangga saat panggilannya sudah tersambung.
"Aku punya tugas penting untukmu, jadi segera datang ke rumah orangtuaku sekarang juga," perintahnya. Kemudian dia mematikan panggilan telepon itu saat pengacaranya sudah menjawab iya.
Rangga mengusap wajahnya dengan kasar sembari menghela napas berat karena masalah yang sedang terjadi sekarang. Dia benar-benar tidak percaya jika Rania ingin berpisah darinya, wanita itu bahkan sudah bersiap pergi dari rumah mereka.
"S*ialan!" umpatnya kesal. Beberapa kali dia memukul-mukul setir mobilnya karena benar-benar frustasi.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan Rania pergi. Dia akan tetap menjadi istriku untuk selamanya."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda