Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri Dalam Daging
Bagas harus kembali ke Jakarta secara rahasia untuk menangkap sang pengkhianat sebelum purwarupa mesin itu diledakkan sebagai upaya terakhir untuk mencoreng nama baik penemuan Bapak. Ternyata, pengkhianatnya adalah salah satu anak SMK yang paling Bagas percaya!.
Kali ini, luka yang dirasakan Bagas bukan berasal dari serangan luar, melainkan dari "tusukan" orang terdekat. Sebuah ujian tentang kepemimpinan dan kepercayaan.
Malam yang seharusnya menjadi momen rekonsiliasi keluarga di pulau terpencil itu mendadak berubah menjadi operasi darurat. Bagas tidak bisa menunggu helikopter jemputan resmi. Menggunakan kapal cepat milik Pak Baron, ia membelah lautan menuju daratan Jakarta dengan satu nama di pikirannya Rian.
Rian adalah anak SMK yang dulu ia temukan di sebuah bengkel kecil di pinggiran Jakarta. Bagas melihat potensi besar dalam diri anak itu, memberinya beasiswa penuh, dan menjadikannya asisten kepercayaan di laboratorium Badan Energi Nasional. Namun, data log masuk sistem keamanan menunjukkan bahwa kode akses Rian-lah yang digunakan untuk menyabotase sistem pendingin generator utama.
"Gas, jangan pakai emosi. Orang kalau sudah terdesak uang atau diancam, bisa melakukan apa saja," pesan Pak Baron sebelum Bagas melompat ke dermaga.
Bagas sampai di Laboratorium Nasional pukul dua pagi. Suasana sunyi, hanya suara sirene peringatan tekanan tinggi yang meraung rendah. Ia masuk lewat pintu teknisi, menghindari penjaga depan yang mungkin sudah dikompromi. Di ruang kendali utama, ia melihat sosok Rian sedang gemetar di depan layar monitor, tangannya memegang sebuah alat transmisi ilegal.
"Kenapa, Yan?" suara Bagas bergema di ruangan yang dingin itu.
Rian tersentak. Ia berbalik dengan wajah pucat dan mata sembab. "Mas Bagas... saya... saya tidak punya pilihan. Mereka menyandera adik saya di kampung. Kalau saya tidak meledakkan mesin ini malam ini, adik saya tidak akan selamat."
Bagas berjalan mendekat perlahan, tidak menunjukkan kemarahan, hanya kesedihan yang mendalam. "Mereka siapa, Yan? Sisa-sisa Nexus Group atau orang-orangnya Arman?"
"Saya tidak tahu namanya, Mas. Tapi mereka tahu semua tentang yayasan kita. Mereka bilang teknologi ini tidak boleh ada, karena akan menghancurkan tatanan ekonomi mereka," tangis Rian pecah. Ia memegang tombol overload. Jika ia menekannya, generator itu akan mengalami thermal runaway dan meledak, menghancurkan laboratorium sekaligus reputasi penemuan Bapak sebagai teknologi yang berbahaya.
Bagas berhenti tepat tiga langkah di depan Rian. "Yan, kamu ingat apa yang saya katakan saat kamu lulus SMK dulu? Saya bilang, ijazahmu itu tiket, tapi integritasmu itu kemudi. Kalau kamu tekan tombol itu, kamu bukan cuma membunuh mesin ini, kamu membunuh harapan ribuan anak SMK lain yang ingin hidup jujur seperti kita."
"Tapi adik saya, Mas!" teriak Rian putus asa.
"Bapak dan Ibu saya juga diancam nyawanya kemarin, Yan. Tapi saya tidak mengkhianati kamu. Saya melawan," sahut Bagas dengan nada tegas namun penuh empati. "Sekarang, kasih saya alat itu. Biar tim Pak Baron yang urus adikmu. Saya janji, sebelum matahari terbit, adikmu sudah aman."
Rian ragu. Jarinya gemetar di atas tombol maut. Dalam momen krusial itu, Bagas menunjukkan keberanian seorang pemimpin sejati. Ia melangkah maju dan meletakkan tangannya di atas tangan Rian yang sedang memegang tombol.
"Kalau kamu mau ledakkan ini, kita mati sama-sama di sini. Karena saya tidak akan membiarkan karya Bapak hancur tanpa saya ada di dalamnya," ujar Bagas tanpa keraguan sedikit pun.
Keberanian Bagas meruntuhkan mental Rian. Anak muda itu jatuh terduduk dan menyerahkan alat transmisi tersebut sambil terisak. Bagas segera mengambil alih kendali, menstabilkan suhu generator yang sudah mencapai titik kritis. Hanya berselisih sepuluh detik sebelum ledakan otomatis terjadi.
Bagas segera menghubungi Pak Baron. Dalam waktu satu jam, lokasi penyanderaan adik Rian di sebuah kontrakan di Bekasi berhasil dilacak dan tim Pak Baron melakukan penyelamatan kilat. Adik Rian aman.
Namun, hukum tetaplah hukum. Bagas harus menyerahkan Rian kepada pihak kepolisian. Saat Rian dibawa pergi, Bagas memegang bahunya. "Saya akan siapkan pengacara terbaik buat kamu. Kamu melakukan ini karena terpaksa, tapi kamu harus belajar bahwa pengkhianatan bukan solusi untuk ancaman."
Bagas berdiri sendirian di tengah laboratorium yang kini kembali tenang. Ia merasa sangat lelah. Pengkhianatan Rian menyadarkannya bahwa musuh terbesarnya kini bukan lagi korporasi global, melainkan kemiskinan dan rasa takut yang membuat orang-orang baik melakukan hal-hal buruk.
Ia menatap purwarupa generator yang terus berputar dengan cahaya biru pucat yang stabil. Bagas menyadari satu hal: selama teknologi ini masih dianggap sebagai "senjata" untuk menguasai pasar, ia akan terus memicu pertumpahan darah.
"Mesin ini harus segera diberikan kepada dunia secara cuma-cuma," gumam Bagas. "Tidak boleh ada yang memiliki hak eksklusifnya, bahkan pemerintah sekalipun."
Bagas memutuskan untuk melakukan langkah radikal Menjadikan desain mesin ini sebagai Open Source di internet agar setiap desa di dunia bisa membangunnya sendiri tanpa harus membeli dari siapa pun.