Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RASA YANG TERTAHAN
"Kamu tidur ya, sekarang."
Vhirel menghela napas pelan, suaranya melunak sambil menuntun Dea keluar dari balkon. Angin malam yang tadi menggigit perlahan tertinggal di belakang, digantikan kehangatan lampu kamar yang temaram.
Dea menurut. Langkahnya ringan namun ragu, seperti ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Pernyataan bahwa aku akan memperjuangkan kamu tidak sepenuhnya membuat hati Dea lega. Kenapa harus ada Luna yang datang secara tiba-tiba, atau kenapa harus ada hubungan ini dalam cintanya kepada Vhirel?
Dea mulai merebahkan tubuhnya di ranjang, membiarkan rasa pilu perlahan mengambil alih kesadarannya. Di sampingnya, Vhirel duduk di tepi tempat tidur sambil menyandarkan punggung pada dipan kayu yang kokoh.
Dengan gerakan yang sangat pelan, Vhirel meraih ujung selimut, lalu menariknya perlahan hingga menutupi tubuh Dea. Jari-jarinya sempat tidak sengaja bersentuhan dengan kulit Dea saat merapikan selimut itu, sehingga menciptakan getaran kecil yang membuat wanita itu sedikit mengerjapkan mata.
Juga, sentuhan tak sengaja itu ternyata meninggalkan jejak listrik yang lebih kuat dari yang Vhirel bayangkan. Begitu jarinya bersentuhan dengan kulit lembut Dea, ada desir aneh yang mendadak merambat naik ke dadanya dan membuat napasnya tertahan sejenak.
Vhirel tidak segera menarik tangannya. Alih-alih menjauh, matanya justru terpaku pada bulu mata Dea yang bergetar halus saat wanita itu mengerjapkan mata. Dalam keremangan lampu kamar, wajah Dea tampak jauh lebih tenang, namun di mata Vhirel, itu adalah sebuah undangan yang berbahaya bagi pertahanannya.
Vhirel kemudian menelan ludah dengan susah payah. Pandangannya turun ke bibir Dea yang sedikit terbuka, menciptakan dorongan yang perlahan menariknya tuk mendekat.
Alih-alih melanjutkan merapikan selimut, jemarinya justru tertahan di sana, perlahan beralih mengusap garis rahang Dea dengan ibu jarinya—sebuah gerakan yang sangat hati-hati namun penuh keinginan.
Hingga, detik berikutnya, ia memajukan wajahnya sedikit demi sedikit, menghirup aroma sabun dan keharuman khas dari rambut Dea yang memenuhi indranya yang sedikit demi sedikit membuat akal sehatnya perlahan mengabur.
Vhirel mencondongkan tubuhnya. Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh pemujaan, ia akhirnya kembali mendaratkan kecupan di kening Dea dan membiarkan bibirnya menetap di sana selama beberapa detik, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu yang menenangkan, seolah ingin merekam momen ini dalam ingatannya, selamanya.
Setelah kening, Vhirel perlahan mengalihkan kecupannya ke pelipis, lalu turun ke pipi dan leher Dea dengan sangat hati-hati. Sementara, tangannya yang tadinya hanya memegang selimut, kini memberanikan diri menyelipkan helai rambut Dea ke belakang telinga, membiarkan jemarinya membelai setiap inci kulit Dea dengan sentuhan yang semakin dalam.
"Mas..." Lenguh Dea akhirnya lolos.
Panggilan lirih itu seketika menghentikan pergerakan Vhirel. Suara Dea yang serak itu terdengar seperti melodi yang berbahaya di telinganya.
Vhirel kemudian sedikit menjauh dan meninggalkan reaksi Dea yang masih dalam keadaan setengah sadar dengan mengulas senyum tipisnya.
"Kenapa, Mas?" Lirih Dea meraih rahang Vhirel lembut.
"Uhm." Vhirel menelan saliva dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering seketika. Kesadarannya seolah ditarik paksa kembali ke realita saat melihat bagaimana selimut yang ia rapikan tadi tersingkap, mengekspos lekuk tubuh Dea yang nyaris terbuka di bawah temaram lampu.
Ada gejolak hebat yang menyerang pertahanannya, namun Vhirel memilih untuk menarik diri. Ia bergerak mundur, memposisikan duduknya lebih tegak di tepi ranjang dengan napas yang sedikit memburu.
"Ti-tidurlah." Ucapnya tergagap. "I-Ini bukan saatnya..."
"Kenapa?" Sela Dea segera.
"Sayang, aku belum bisa memiliki kamu seutuhnya." Jelas Vhirel lembut. "Dan aku gak mau Mama dan Papa curiga tentang kita."
"Tapi, Mas..."
Vhirel meraih kedua jemari Dea, menggenggamnya dengan saksama seolah tangan mungil itu adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki. Ia pun mengusap punggung tangan Dea perlahan menggunakan ibu jarinya, menciptakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh wanita itu.
Matanya yang dalam menatap lurus ke manik mata Dea, memberikan janji yang tak terucapkan namun sangat nyata. "Akan ada saatnya... aku memiliki kamu, seutuhnya... sayang," bisiknya dengan suara berat yang sarat akan keyakinan.
Vhirel kemudian kembali bergerak dan memberikan satu kecupan terakhir yang dalam di punggung tangan Dea sebelum perlahan melepaskannya. "Sekarang kamu tidur, ya. Selamat malam. Mimpi indah."
"Mas..."
Vhirel beranjak dari tepi ranjang. Ia sempat berdiri sejenak, mematung di sisi ranjang, lalu tersenyum tipis menatap Dea—senyum yang lebih baik menyimpan daripada mengungkapkan. Setelah itu, ia melangkah pergi, meninggalkan kamar tidur itu perlahan.
Kamar yang hampir menyeretnya ke pusaran perasaan yang menguat, keinginan yang berdenyut sunyi namun ia paksa jinakkan. Ia menutup pintu dengan hati-hati, seolah dengan begitu ia juga menutup satu bagian dari dirinya yang belum boleh terlepas malam ini.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,