"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Rahasia di Balik Server
Malam di Seoul tidak pernah benar-benar gelap, namun bagi Suga, kegelapan adalah teman terbaiknya. Di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter yang dipenuhi dengan deru kipas pendingin dari tumpukan server, Suga duduk terdiam. Hanya cahaya biru dari tiga monitor besar yang menerangi wajah pucatnya. Matanya yang tajam, yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini menyiratkan kegelisahan yang mendalam.
Jemari Suga bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi di atas mechanical keyboard-nya. Suara ketikan itu terdengar seperti hujan yang menghantam atap seng—monoton namun mendesak. Ia sedang masuk ke dalam lapisan terdalam dari dark web, meretas jalur komunikasi terenkripsi yang digunakan oleh sindikat yang sedang dikejar RM.
"Sial," umpatnya pelan.
Suga menemukan sebuah log aktivitas. Sebuah nomor telepon satelit yang tidak terdaftar mengirimkan koordinat lokasi setiap pukul dua pagi. Dan yang membuat jantung Suga seakan berhenti adalah alamat IP pengirimnya. Titik koordinat itu berasal dari router Wi-Fi pribadi di apartemen Jungkook.
Suga bersandar pada kursinya, memijat pangkal hidungnya. Ia mencintai Sheril—dengan cara yang tenang, dari jauh, dan penuh perlindungan. Baginya, Sheril adalah satu-satunya alasan mengapa ia masih bertahan di departemen kepolisian yang korup dan melelahkan ini. Melihat Sheril bahagia adalah tujuannya, bahkan jika kebahagiaan itu bukan bersamanya. Namun sekarang, ia memegang bukti bahwa pria yang dicintai Sheril, pria yang selalu dipuji Sheril sebagai "malaikat pelindungnya", kemungkinan besar adalah bagian dari kegelapan yang sedang mereka selidiki.
Di sisi lain kota, di apartemen Jungkook, suasana terasa sangat berbeda. Suara bising server di markas polisi digantikan oleh alunan musik jazz lembut yang keluar dari turntable tua di sudut ruangan.
Jungkook sedang berlutut di depan sofa, memijat kaki Sheril dengan sangat lembut. Sheril baru saja pulang dari shift malam yang melelahkan, dan kepalanya bersandar pada bantal sofa dengan mata terpejam.
"Masih sakit?" tanya Jungkook pelan. Suaranya rendah, menenangkan seperti belaian angin malam.
"Sedikit," gumam Sheril tanpa membuka mata. "Hari ini sangat berat, Kook. V dan aku harus memeriksa tiga tubuh sekaligus. capeknya" suara Sheril seperti rengekan manja di telinga Jungkook.
Jungkook menghentikan pijatannya sejenak. Ia menatap wajah Sheril yang tampak sangat rapuh dan lelah di bawah cahaya lampu ruang tamu yang kuning hangat. Ada rasa bersalah yang berkilat di mata Jungkook, namun ia segera menutupinya dengan senyuman manis. Ia bangkit, duduk di samping Sheril, dan menarik kepala wanita itu agar bersandar di bahunya.
"Aku benci melihatmu kelelahan seperti ini," ucap Jungkook sambil membelai rambut Sheril, menyelipkan helai-helai rambut ke belakang telinganya dengan gerakan yang sangat protektif.
"Kadang aku berharap kau berhenti saja jadi dokter forensik. Dunia itu terlalu melelahkan untukmu, Sheril. Aku ingin kamu hanya ada di sini, di dapur, membantuku mencicipi saus, atau sekadar tidur di pelukanku."
Sheril membuka matanya, menatap rahang tegas Jungkook dari samping.
"Tapi aku mencintai pekerjaanku, Kook. Sama seperti kau mencintai restoranmu. Kita berdua bekerja untuk mencari kebenaran, kan? Aku mencari kebenaran dari mayat, kau menciptakan kebenaran dari rasa."
Jungkook tertegun. Ia mengecup dahi Sheril cukup lama.
"Ya... kebenaran."
Jungkook kemudian bangkit dan mengambil sebuah kotak beludru kecil dari laci meja. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk sayap kecil yang dihiasi berlian mungil.
"Ini untuk apa?" tanya Sheril terkejut.
"Hanya karena aku ingin memberikannya padamu," Jungkook memasangkan kalung itu di leher Sheril. Jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Sheril, menciptakan sensasi elektrik yang membuat Sheril meremang.
"Sayap ini... agar kamu ingat bahwa jika dunia ini menjadi terlalu berat untuk di lewati, kamu selalu bisa terbang kembali padaku. Aku akan selalu menjadi tempatmu mendarat sayang."
Sheril membalikkan badan, memeluk leher Jungkook dengan erat. "Kenapa kamu romantis sekali malam ini? Kamu membuatku takut kalau ini hanya mimpi."
Jungkook membalas pelukan itu dengan kekuatan yang hampir terasa seperti ia takut Sheril akan ditarik paksa darinya. "Bukan mimpi. Ini sangat nyata. Aku selalu nyata, Sheril."
Keesokan paginya, Sheril sedang berjalan menuju ruang forensik ketika sebuah tangan menariknya masuk ke dalam ruang arsip yang gelap. Sheril hampir berteriak sebelum ia mencium aroma kopi hitam dan rokok mentol yang sangat ia kenal.
"Suga Oppa? Kamu mengagetkanku!" seru Sheril sambil mengelus dadanya.
Suga tidak tersenyum. Wajahnya lebih dingin dari biasanya. Ia tidak membuang waktu dan langsung menyodorkan sebuah tablet ke tangan Sheril.
"Apa ini?"
"Lihat sendiri," jawab Suga pendek.
Sheril melihat layar itu. Di sana ada transkrip pesan singkat yang sudah dipecahkan kode-kodenya.
Pengirim (Nomor Tersembunyi): "Paket di Meja 7 sudah siap untuk dipindahkan."
Penerima (IP Apartemen Jungkook): "Jangan di sini. Sheril ada di rumah. Lakukan di dermaga."
Sheril merasa dunianya seolah berputar. "Ini... ini pasti salah paham. Apartemen kami... Wi-Fi-nya bisa saja diretas orang lain, kan? Kau sendiri yang bilang kalau peretas bisa memalsukan IP."
Suga menatap Sheril dengan tatapan kasihan yang paling dibenci wanita itu. "Sheril, aku sudah memeriksa jalur backdoor-nya. Komunikasi ini terjadi lewat perangkat yang terdaftar atas nama Jeon Jungkook. Dan ini bukan yang pertama."
Suga menggeser layar, memperlihatkan foto-foto satelit buram yang menunjukkan mobil pengantar bahan makanan dari restoran Jungkook berada di lokasi penemuan mayat kedua, hanya tiga puluh menit sebelum jasad itu ditemukan oleh warga.
"Kenapa Kamu memberitahuku?" tanya Sheril, suaranya gemetar. "Kenapa tidak langsung memberitahu RM Oppa atau Jin Oppa?"
Suga terdiam. Ia melangkah maju, memperkecil jarak antara mereka hingga Sheril bisa melihat bayangan dirinya di mata Suga yang kelam.
"Karena aku tahu jika Jin tahu, dia akan langsung menghancurkan Jungkook tanpa bertanya. Dan itu akan menghancurkanmu," bisik Suga.
Suaranya yang biasanya datar kini terdengar penuh luka. "Aku memberimu waktu, Sheril. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika kamu bisa membuktikan dia tidak bersalah, aku akan menghapus semua jejak digital ini dari server kepolisian. Aku akan mengkhianati negaraku demi kamu."
Sheril menatap Suga dengan mata berkaca-kaca.
"Oppa..."
"Tapi jika dia benar-benar terlibat," lanjut Suga, suaranya mengeras, "kamu harus meninggalkannya sebelum aku yang menarik pelatuknya sendiri. Aku tidak akan membiarkan seorang pembunuh menyentuhmu lebih lama lagi."
Suga kemudian pergi meninggalkan ruang arsip tanpa menoleh lagi, meninggalkan Sheril yang berdiri gemetar di tengah kegelapan, menggenggam kalung pemberian Jungkook yang kini terasa seberat rantai besi di lehernya.
Sore harinya, Sheril pulang dengan perasaan mati rasa. Di meja makan, Jungkook sudah menunggu dengan dua gelas wine merah dan hidangan penutup berupa lava cake cokelat yang masih mengepulkan uap.
"Selamat datang, Sayang. Kamu terlihat pucat sekali," Jungkook menghampirinya, hendak mengambil tas kerja Sheril.
Sheril mundur selangkah secara insting. Gerakannya kecil, tapi cukup untuk membuat senyum di wajah Jungkook membeku.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Jungkook, suaranya berubah menjadi sangat lembut—terlalu lembut, hingga terdengar berbahaya.
Sheril menatap mata Jungkook, mencoba mencari jejak monster yang dibicarakan Suga, namun yang ia temukan hanyalah binar kasih sayang yang begitu dalam. Sheril memaksakan diri untuk tersenyum, meski air mata hampir tumpah.
"Hanya... hanya pusing karena terlalu banyak pekerjaan dan bau kimia di lab tadi," bohong Sheril.
Jungkook mendekat perlahan, memegang kedua bahu Sheril dan menariknya ke dalam pelukan. Ia mengusap punggung Sheril dengan gerakan memutar yang menenangkan. "Sshh... sudah, lupakan soal lab itu. Kamu sudah di rumah sekarang. Kamu aman di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu."
Di dalam pelukan itu, Sheril memejamkan matanya rapat-rapat. Ia bisa mencium aroma parfum maskulin Jungkook yang bercampur dengan bau cokelat manis. Namun, di sudut pikirannya, ia terus mendengar suara Suga tadi sore di ruang arsip.
Sheril meremas baju belakang Jungkook, menangis tanpa suara. Ia terjebak di antara dua pria yang mencintainya dengan cara yang ekstrem—seorang detektif yang bersedia menjadi penjahat demi melindunginya, dan seorang koki yang mungkin adalah penjahat yang bersembunyi di balik apron cinta.
"Aku mencintaimu, Jungkook," bisik Sheril, seolah itu adalah mantra untuk mengusir kenyataan.
"Aku lebih mencintaimu, Sheril. Sampai mati," jawab Jungkook, dan saat ia mengatakan itu, ia menatap ke arah laptopnya di atas meja yang layarnya baru saja padam, menyembunyikan sebuah notifikasi pesan baru yang baru saja masuk.
...****************...