NovelToon NovelToon
Asisten Magang TUAN MESUM

Asisten Magang TUAN MESUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Balas Dendam
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,

Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.

Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,

"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,

Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.

Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu yang tak diharapkan

Tampak seorang gadis yang masih meringkuk lemas di bawah selimut tebal.

Dengan penuh usaha dan kerja keras, Ana dapat kembali ke dalam kamarnya tanpa membuat keributan.

Dia langsung bebersih diri dan mengganti baju, melipat rapi baju pria yang dicuri, menyimpan rapi di tumpukan pakaian paling bawah.

3 jam yang lalu dia berhasil menyelinap lewat pintu yang sering dibuka dan dipakai para ART terdahulu ketika hendak belanja di pagi hari.

Tapi dari mana Ana tahu? Tentu dari ingatan tubuh asli.

CEKLEK.

Terdengar suara, pembatas kayu terbuka, terlihat Citra yang berjalan masuk menghampiri putrinya.

"Sayang..." panggil Citra lirih, mengusap lembut pipi tirus putrinya.

Tubuh Ana terasa lelah karena tragedi semalam, sampai begitu malas menjawab panggilan ibunya.

"Bangun yuk. Udah waktunya sarapan,"

"Ng, aku masih ngantuk. Biarin aku tidur setengah jam lagi," sanggah Ana, beralih posisi.

Seketika wanita itu terdiam, menatap punggung yang terbalut piyama merah muda. Sejak kapan Ana berani menolak? Padahal dulu dia adalah gadis yang tak suka mengulur waktu,

Namun perubahan Ana justru membuat Citra senang, sudah lama dia berharap putrinya berlagak seperti anak seumurannya.

Dia memeluk erat tubuh gadis tadi. Akhirnya Citra bisa melihat kesembuhan putri bungsunya,

"Ayo makan dulu! Lihat nih. Badan Ana kurus banget,"

Ditusuknya pelan perut rata Ana,

Toel...

Toel...

"Anak mama harus makan yang banyak, biar tambah sehat." seru Citra, membalikkan tubuh putrinya.

"Ng, iya iya! Ana bangun sekarang,"

Ana beranjak duduk dengan mata terpejam, bibirnya menekuk malas. Perlahan mulai bergerak ke tepi ranjang,

"Aw!" pekik Ana, reflek menyentuh perut.

Gerakan kecil membuat tubuh bawahnya terasa sakit, kutikulanya seakan teriris dan tertancap oleh sebilah pisau.

"Kenapa sayang?" ujar Citra, dengan raut cemas.

"His. Gapapa,"

"Kayaknya perut Ana laper banget," lugas Ana beralasan, tersenyum sepat dibalik usaha menahan diri agar terlihat tenang.

"Bajingan sialan. Ini pasti gara-gara semalam!" berteriak dalam hati,

"Beneran?"

Citra tampak risau, namun Ana segera mengangguk menerbitkan senyum lebar.

"Ya sudah. Ayo kita turun, sarapannya udah siap semua."

"Ng, Mama duluan aja. Ana mau ke kamar mandi dulu," sanggah Ana,

Dia terdiam menatap punggung yang semakin menjauh, setelah itu mulai melangkah turun.

"Bajingan bangs*t!" bentak Ana, melayangkan pukulan secara asal.

Sambil membayangkan pelaku yang membuatnya menderita.

"Aduh, sakit banget."

"Gimana mau turun tangga! dibuat jalan gini aja susah," gerutu Ana menekuk bibir.

"Bentar. Kayaknya, di kamar ini ada kotak obat."

"Pasti ada pil pereda nyeri!"

Setelah selesai mengatasi rasa sakitnya, gadis itu bergegas turun. Mendapati anggota keluarga lain telah mengisi meja makan.

"Besok Ana udah bisa lanjut kuliah," celetuk Wira nyaris membuat gadis itu tersedak.

"Kuliah?"

"Iya, nanti Ana bakal punya banyak temen baru." tambah Citra tersenyum cerah,

"Nanti malam kamu bisa ikut kakakmu keluar, buat belanja perlengkapan sambil jalan-jalan." ujar Wira menatap gadis yang tengah sibuk mengisi perut,

"Hm...oke," gadis itu mengangguk singkat.

Tak terlalu menghiraukan, tubuhnya terlalu lapar untuk berpikir.

Pukul 14.00

"Nyonya, di luar ada Nona Sarah dan Nona Mia." pekik seorang pelayan wanita,

Karena tak lagi harus membayar biaya pengobatan, mereka kembali mempekerjakan satu wanita paruh baya dan satu wanita muda yang sedari dulu bekerja di rumah ini.

"Suruh masuk, beri tahu Rima untuk menyiapkan tempat di taman belakang. Setelah itu pergilah ke atas dan panggil Ana," ujar Citra menjelaskan.

Segera pelayan itu mengangguk, langsung berlari ke depan pintu. Menundukkan kepala sebagai rasa hormat sebelum mempersilahkan para tamu masuk ke dalam.

Klotak...

Klotak...

Klotak...

Terdengar suara hentakan heels yang berasal dari arah lain, terlihat tiga gadis tengah berjalan menuju sofa.

"Selamat siang, Tante..." sapa Sarah tersenyum ramah.

"Selamat siang," jawab Citra,

Sorot matanya mengarah pada bingkisan yang baru saja disodorkan kepadanya.

"Apa ini? kenapa repot-repot..."

"Tidak Tante. Terimalah, ini salam dari Mama." sanggah Sarah, merendahkan suara.

"Ya sudah. Lain kali katakan kepada ibumu itu,"

"Kalau mau ke sini, datang saja! Tidak usah membawa apapun." lugas Citra terpaksa menerima bingkisan berisi buah dan beberapa roti,

"Oh iya. Mama bilang, Ana sudah sembuh..."

"Makanya, kami datang kemari buat menjenguk Ana."

"Iya, itu benar. Kalian bisa langsung ke taman belakang. Biar aku panggilkan Ana,"

"Baiklah..." sahut Sarah, mengangguk paham.

Mereka serentak pergi ke belakang.

Di sisi lain,

Ana tengah sibuk mengotak atik layar ponsel sambil berbaring di atas ranjang.

Dia tampak antusias melihat online store yang menjual baju-baju model terbaru.

Tiba-tiba saja Ana ingin sekali membuang dan mengganti semua baju di lemarinya dengan setelan baru,

Kedua manik Ana asik mencari tanpa berpikir dengan apa dia akan membayar.

"Kayaknya aku harus nyari sepatu juga!" gumam Ana, menggeser cepat layar ponsel.

TOK!

TOK!

TOK!

Suara ketukan pintu membuatnya tersentak kaget, reflek menatap pembatas kayu yang masih tertutup rapat.

"Siapa?" tanya Ana mengeraskan suara.

"Ini saya Non..." sahut suara wanita di luar.

"Bibi?" benak Ana mengangkat alis, segera beralih posisi sebelum melangkah turun.

Gadis itu berjalan meraih knop pintu, hingga mendapati pelayan yang tak lagi asing.

"...?" Ana terdiam menatap lekat dengan raut penuh tanda tanya.

"Nona Sarah dan juga Nona Mia datang berkunjung. Mereka sedang menunggu di taman belakang"

"Ha?" sontak Ana berpikir keras, berusaha mengingat beberapa nama yang baru saja didengar.

"Sarah dan Mia...Hh?!"

"Ngapain mereka kesini?" ungkapnya malas,

Ingatan tubuh Ana hanya meninggalkan kenangan buruk tentang dua gadis itu.

"Sepertinya mau menjenguk Nona. Apa perlu saya bantu memilih baju?" tambah Bibi dengan raut antusias.

"Pilih baju? Ngapain harus milih baju segala..."

"Bukankah, Nona selalu ingin berdandan rapi saat bertemu dengan mereka." sahutnya menjelaskan hal yang tak lagi penting bagi Ana,

"Benarkah? Apa dulu aku selalu begitu?"

"Tentu saja! Nona bilang, jika Nona berdandan cantik dan berpakaian rapi. Maka semua orang akan senang berteman dengan Nona,"

Gadis itu terdiam, berhasil mengingat ucapan yang sempat diucapkan. Entah bagaimana Ana yang asli memiliki sifat lemah dan mudah ditindas,

Kakak kandung ayahnya, memiliki dua istri. Sarah adalah anak pertama dari istri kedua yang dulunya adalah sahabat baik Ibu Ana.

Namun persahabatan mereka mulai retak dan hancur begitu saja, karena ibu Sarah yang berani menggoda kakak iparnya bahkan rela menjadi istri kedua.

Sejak itu ibu Ana mulai bersikap dingin, selayaknya keluarga jauh.

Meski begitu, Sarah sangat pandai mengakrabkan diri. Dia bahkan berhubungan baik dengan Mia, anak dari istri pertama ayahnya.

"Tidak berlu berdandan lagi, aku akan turun seperti ini saja. Tidak baik membuat mereka lama menunggu,"

1
Lili
Untung cuma om tiri naa😍🤣
Anonymous
Tuan Maxime😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!