Kiana Elvaretta tidak butuh pangeran. Di usia tiga puluh, dia sudah memiliki kerajaan bisnis logistiknya sendiri. Baginya, laki-laki hanyalah gangguan—terutama setelah mantan suaminya mencoba menghancurkan hidupnya.
Namun, demi mengamankan warisan sang kakek, Kiana harus menikah lagi dalam 30 hari. Pilihannya jatuh pada Gavin Ardiman, duda beranak satu yang juga rival bisnis paling dingin di ibu kota.
"Aku tidak butuh uangmu, Gavin. Aku hanya butuh statusmu selama satu tahun," cetus Kiana sambil menyodorkan kontrak pra-nikah setebal sepuluh halaman.
Gavin setuju, berpikir bahwa memiliki istri yang tidak menuntut cinta akan mempermudah hidupnya. Namun, dia salah besar. Kiana tidak datang untuk menjadi ibu rumah tangga yang penurut. Dia datang untuk menguasai rumah, memenangkan hati putrinya yang pemberontak dengan cara yang tak terduga, dan perlahan... meruntuhkan tembok es di hati Gavin.
Saat g4irah mulai merusak klausul kontrak, siapakah yang akan menyerah lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Jebakan Tiket & Satu Kamar
Resepsionis itu tampak gugup, matanya melirik ke kiri dan kanan, keringat dingin muncul di pelipisnya. "Bu-bukan, Bu. Ini murni glitch sistem... Sumpah..."
"Kiana, udahlah," potong Gavin sebelum Kiana mengamuk dan bikin keributan. "Kita ambil aja. Alea sudah capek. Lihat tuh dia udah nguap terus."
"Tapi villa bulan madu itu pasti kamarnya cuma satu, Gavin!" protes Kiana frustrasi.
"Benar, Bu. Satu kamar utama dengan ranjang King Size dan pemandangan infinity pool pribadi," jelas resepsionis itu cepat-cepat, mencoba menjual fasilitasnya. "Sangat privat dan intim."
"Tuh kan!" Kiana menunjuk Gavin. "Gimana cara kita tidur? Kita bertiga! Masa empet-empetan kayak sarden?"
"Di sana ada daybed besar di ruang tengah kok, Bu. Bisa disulap jadi kasur tambahan buat si kecil," tambah resepsionis itu mencoba menolong (atau menyelamatkan diri dari amukan Kiana).
"Pa, Alea mau liat kolam renangnya! Ayo dong, Pa! Panas nih!" rengek Alea sambil menarik-narik celana Gavin. Wajah anak itu sudah merah karena kepanasan dan lelah perjalanan.
Gavin menghela napas. Dia mengambil kunci kartu yang disodorkan resepsionis.
"Kami ambil. Tolong antarkan barang-barang kami sekarang," putus Gavin tegas, mengakhiri perdebatan.
Kiana mendengus kesal, tapi dia tidak tega melihat Alea yang sudah lemas. Dia menyambar tas tangannya dan berjalan menghentak-hentak mengikuti bellboy yang membawa koper-koper "kiriman" Kakek itu.
"Awas aja kalau Kakek nelpon. Nggak bakal aku angkat," gumam Kiana penuh dendam sepanjang jalan setapak.
Villa itu memang luar biasa indah, Kiana harus akui itu meskipun hatinya dongkol.
Begitu pintu kayu jati yang berat dibuka, mereka disambut oleh ruang tamu luas berkonsep open-air yang langsung menghadap ke kolam renang pribadi di bibir tebing. Langit senja berwarna ungu kemerahan menjadi latar belakang yang cantik.
Tapi masalahnya bukan di pemandangan. Masalahnya ada di kamar tidur.
Lantai kamar itu dipenuhi kelopak mawar merah yang dibentuk hati. Di atas ranjang King Size yang seprai-nya putih bersih, ada sepasang angsa dari handuk yang saling berciuman—lehernya membentuk simbol hati. Di meja nakas, ada sebotol wine mahal dan sekotak cokelat.
"Wow! Angsanya ciuman!" seru Alea polos, langsung berlari masuk dan menusuk kepala angsa handuk itu dengan jarinya.
Kiana berdiri kaku di ambang pintu, menatap horor pemandangan itu. "Ini jebakan batman level dewa."
"Setidaknya kolamnya bagus," komentar Gavin santai, meletakkan tas laptop di meja kerja. Dia berjalan ke pintu kaca, membukanya, membiarkan angin laut masuk. "Alea, kamu tidur di daybed depan TV ya? Nanti Papa mintain selimut ekstra. Kasurnya empuk kok."
"Oke! Asal boleh nonton kartun sampai malam!" tawar Alea cerdik, langsung melompat ke daybed di ruang tengah yang terpisah pintu geser dari kamar utama.
"Deal," jawab Gavin.
Kiana berjalan masuk ke kamar utama, menendang kelopak mawar di lantai dengan ujung sepatunya seolah itu adalah ranjau darat yang siap meledak.
"Kamu kok santai banget sih?" tanya Kiana pada Gavin yang mulai melepas jam tangannya. "Kita harus tidur satu kasur, Gavin. Satu kasur. Kamu tahu kan pasal 7 kontrak kita? Dilarang melakukan kontak fisik yang tidak perlu di area privat."
Gavin menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Ini keadaan darurat, Kiana. Anggap saja force majeure. Lagian, kasurnya ukurannya dua kali dua meter. Kita bisa tidur berjauhan tanpa bersentuhan sedikit pun. Kecuali kamu yang tidurnya lasak dan suka nendang."
"Enak aja! Aku kalau tidur anteng ya, kayak putri salju," bela Kiana tidak terima.
"Bagus kalau begitu. Masalah selesai," Gavin mengambil handuk bersih dari lemari. "Saya mau mandi duluan. Badan saya lengket. Kamu urus Alea dulu."
Gavin menghilang ke dalam kamar mandi semi-outdoor yang pintunya terbuat dari kaca buram.
Kiana mendengus, menjatuhkan tubuhnya ke sofa di ujung kamar. Dia menatap kasur besar itu dengan horor.
Malam ini akan panjang. Sangat panjang.
Malam semakin larut.
Setelah makan malam layanan kamar (karena Kiana menolak keluar villa, takut ketemu orang suruhan Kakek lagi), Alea akhirnya tertidur pulas di daybed empuk di ruang tengah.
Suara deburan ombak di kejauhan terdengar menenangkan, tapi tidak bagi jantung Kiana.
Dia baru saja selesai mandi.
Di dalam kamar mandi yang mewah—yang sialnya punya bathtub besar penuh bunga kamboja—Kiana berdiri di depan cermin wastafel dengan wajah panik.
Dia membongkar isi kopernya.
"Bi Inah..." rintih Kiana frustrasi. "Kenapa isinya baju dinas malam semua?!"
Kiana mengangkat sehelai gaun tidur berbahan sutra tipis berwarna champagne. Talinya kecil (spaghetti strap), potongannya rendah di dada, dan panjangnya hanya selutut.
Tidak ada piyama katun bergambar beruang atau kaos oblong gombrong miliknya. Semua baju tidurnya diganti dengan koleksi lingerie "pancingan suami" yang mungkin diselundupkan atas instruksi Kakek ke Bi Inah.
"Mereka bener-bener konspirasi global buat ngejebak aku," gumam Kiana.
Dia tidak punya pilihan. Baju kotornya sudah bau keringat dan asap Jakarta. Dia tidak mungkin tidur pakai blazer kerja.
Dengan tangan gemetar, Kiana memakai gaun tidur tipis itu. Bahannya dingin dan lembut di kulit, tapi rasanya seperti telanjang. Dia mencoba mencari jubah atau robe, tapi tidak ada.
"Oke, Kiana. Tenang. Gavin pasti udah tidur. Lampu pasti udah dimatiin. Tinggal lari ke kasur, tarik selimut sampai leher, aman," Kiana menyusun strategi.
Dia menarik napas panjang, memutar kunci pintu kamar mandi, dan melangkah keluar.
Udara dingin dari AC sentral langsung menerpa kulitnya yang terbuka.
Lampu kamar ternyata belum mati total. Lampu tidur di nakas menyala redup, menciptakan suasana warm yang berbahaya.
Dan Gavin... dia belum tidur.
Pria itu berbaring bersandar di kepala ranjang (headboard). Dia memakai kacamata baca berbingkai tipis yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih cerdas dan seksi. Satu tangannya memegang buku tebal tentang Business Strategy.
Tapi yang membuat napas Kiana tercekat adalah... Gavin tidak pakai baju atasan.
Dia bertelanjang dada. Otot perutnya tercetak jelas di bawah sorotan lampu baca, bukan tipe otot binaragawan yang berlebihan, tapi otot lean dan padat hasil olahraga rutin. Kulitnya terlihat sehat dan tan. Dia hanya mengenakan celana tidur panjang berbahan katun abu-abu yang menggantung rendah di pinggangnya.
Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Gavin tidak langsung menoleh. Dia membalik halaman bukunya dengan tenang.
"Alea sudah tidur?" tanya Gavin tanpa melihat.
"Su-sudah," jawab Kiana terbata. Suaranya terdengar cicit.
Gavin menutup bukunya perlahan. Dia meletakkan buku itu di nakas, melepas kacamatanya, lalu akhirnya menoleh ke arah Kiana.
Mata Gavin terkunci.
Dia menatap Kiana yang berdiri kaku di depan pintu kamar mandi. Tatapannya menyapu dari ujung kaki Kiana yang jenjang, naik ke paha, pinggang, lalu berhenti di dada Kiana yang terekspos jelas oleh potongan gaun sutra itu, dan akhirnya mendarat di wajah Kiana yang merah padam.
Ada jeda hening selama lima detik yang terasa seperti lima abad.
Kiana ingin lari balik ke kamar mandi, tapi kakinya dipaku ke lantai. Dia menyilangkan tangan di depan dada secara refleks, mencoba menutupi diri.
Sudut bibir Gavin terangkat sedikit. Bukan senyum mengejek, tapi senyum yang... gelap. Senyum seorang pria dewasa yang sedang melihat sesuatu yang dia sukai.
"AC-nya disetel 18 derajat," suara Gavin terdengar lebih berat dan serak dari biasanya. Matanya kembali menelusuri lekuk tubuh istrinya yang dibalut kain tipis itu.
"Kamu yakin cuma mau pakai itu?"
Pertanyaan sederhana itu terdengar seperti tantangan. Atau undangan.
Kiana menelan ludah, tenggorokannya kering. "A-aku... Bi Inah salah masukin baju. Nggak ada yang lain."
Gavin menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang kosong di sebelahnya. Dia menepuk bagian kasur yang kosong itu dengan telapak tangannya.
"Ya sudah," kata Gavin santai, tapi tatapannya tetap intens. "Sini. Selimutnya tebal kok. Atau... kamu butuh penghangat lain?"
Wajah Kiana rasanya mau meledak.
Sialan.
Ini baru malam pertama. Bagaimana dia bisa bertahan dua malam lagi tanpa melanggar kontrak? Atau lebih parah... tanpa melanggar pertahanan hatinya sendiri?
trimakasih ya sudah buat cerita ini
ditunggu karya selanjutnya⚘️⚘️⚘️