NovelToon NovelToon
Script Of Love: The Secret Identity

Script Of Love: The Secret Identity

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:691
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"

Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.

Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Tamu Tak Diundang

[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 13.00 PM]

[Lokasi: Restoran Deep Sea Pearl, Distrik Nanshan, Shenzhen]

Suasana di meja makan yang tadinya penuh dengan godaan Yanran berubah menjadi kepanikan bagi Lin Xia. Ia berdiri dengan terburu-buru, merapikan tasnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Yanran, maafkan aku. Aku benar-benar harus pergi sekarang. Orang tuaku sudah menunggu di apartemen dan aku tidak ingin mereka menunggu terlalu lama," ucap Lin Xia dengan nada memohon. "Pekerjaan naskah dan data itu... kita lanjutkan besok, ya?"

Lin Xia hendak melangkah pergi, namun sebuah tangan yang kuat namun lembut menahan pergelangan tangannya. Gu Yanran berdiri, menatap Lin Xia dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekhawatiran dan keinginan untuk tidak membiarkan wanita itu pergi begitu saja.

"Tunggu, Xia. Kau tidak bisa pergi sendirian dalam keadaan panik seperti ini," ujar Yanran.

Di sudut restoran, Lin Feng hampir menjatuhkan ponselnya. Momen emas! pikirnya. Dengan gerakan lihai seperti fotografer profesional, ia mengambil foto saat tangan Yanran menggenggam tangan Lin Xia dengan latar belakang restoran yang romantis.

Klik. Foto terkirim.

[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 13.05 PM]

[Lokasi: Jalanan Menuju Distrik Bao'an, Shenzhen]

Di dalam mobilnya, Gu Jingshen sedang marah seperti membelah kemacetan Shenzhen. Ponselnya bergetar di atas dasbor. Ia melirik layar dan melihat foto terbaru dari Lin Feng.

"Berani-beraninya dia!" Jingshen memukul kemudi mobilnya. Urat-urat di lehernya menegang. Melihat tangan Yanran pada Lin Xia membuat darahnya mendidih melampaui logika bisnis mana pun. "Ah Cheng! Terobos kemacetan ini! Aku tidak peduli bagaimana caranya, kita harus sampai di apartemen Lin Xia sebelum bocah itu melakukan hal yang lebih jauh!"

"Baik, Tuan! Saya akan mencari jalan pintas!" jawab Ah Cheng, yang juga mulai ikut tegang.

[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 13.15 PM]

[Lokasi: Parkiran Restoran, Shenzhen]

Kembali ke restoran, Lin Xia mencoba melepaskan tangannya. "Yanran, tidak perlu. Aku bisa naik taksi. Ini urusan keluargaku."

"Tidak," tegas Yanran. "Aku yang membawamu ke sini, maka aku yang harus mengantarmu pulang dengan selamat. Lagipula, jika orang tuamu datang, bukankah lebih baik ada seseorang yang membantumu membawakan barang-barang mereka?"

"Tapi—"

"Tidak ada tapi-tapi. Ayo." Yanran menarik pelan tangan Lin Xia menuju mobil birunya. Lin Xia terpaksa ikut karena ia memang tidak punya waktu lagi untuk berdebat.

Lin Feng, yang melihat mereka masuk ke mobil, segera berlari menuju kendaraannya sendiri. "Aduh, Jingshen... kau benar-benar membuatku bekerja keras hari ini," gumamnya sambil membuntuti mobil biru itu dari jarak aman.

[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 13.45 PM]

[Lokasi: Depan Gedung Apartemen Lin Xia, Distrik Bao'an, Shenzhen]

Mobil biru Yanran berhenti tepat di depan lobi. Lin Xia keluar dengan tergesa-gesa. "Terima kasih, Yanran. Sekarang kau bisa kembali ke kantor. Sungguh, aku bisa mengatasinya."

Yanran mematikan mesin mobilnya dan keluar. "Aku ingin mampir sebentar. Aku ingin menyapa orang tuamu. Sebagai rekan kerja yang baik, tentu itu sopan, bukan?"

"Yanran, jangan bercanda! Ayahku sangat galak!" Lin Xia mencoba menghalangi jalan Yanran, namun pemuda itu justru melangkah masuk ke dalam gedung apartemen dengan percaya diri.

"Kau bahkan tidak tahu di lantai berapa apartemenku!" teriak Lin Xia sambil mengejarnya.

Yanran berhenti tepat di depan lift dan berbalik sambil tersenyum miring. Lin Xia yang berlari kencang tidak sempat mengerem dan—BUK!—ia menabrak punggung Yanran yang kokoh.

"Aduh..." Lin Xia memegangi hidungnya.

Yanran tertawa kecil, ia memegang bahu Lin Xia untuk menyeimbangkannya. "Nah, karena kau sudah menabrak ku, sekarang beri tahu aku: Lantai berapa dan nomor berapa?"

Lin Xia menghela napas pasrah, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal. "Lantai 12, nomor 1208. Puas?"

[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 13.55 PM]

[Lokasi: Koridor Lantai 12, Gedung Apartemen, Shenzhen]

Pintu lift terbuka. Lin Xia hampir berlari keluar. Di ujung lorong, di depan pintu nomor 1208, berdiri dua orang paruh baya yang membawa kardus-kardus berisi makanan. Itu adalah orang tua Lin Xia.

"Papa! Mama!" seru Lin Xia sambil mendahului Yanran.

Ayah Lin Xia, Tuan Lin, yang sedang bersandar di tembok, langsung menegakkan tubuhnya. Senyumnya saat melihat anaknya mendadak memudar saat ia melihat seorang pria tampan berjas modis berjalan tepat di belakang Lin Xia.

Yanran berjalan dengan santai, namun ia bisa merasakan aura intimidasi yang sangat kuat terpancar dari Tuan Lin. Ayah Lin Xia adalah seorang pensiunan guru yang memiliki tatapan mata setajam elang.

"Xia," suara Tuan Lin terdengar berat dan dalam. "Siapa pria ini? Kenapa kau pulang bersamanya di jam kerja?"

Lin Xia mendadak gagap. "Ah, ini... ini Gu Yanran, Pa. Dia... dia atasanku. Maksudku, rekan kerja dari proyek yang sedang dikerjakan."

Tuan Lin menyipitkan mata, menatap Yanran dari ujung rambut hingga ujung sepatu. "Atasan? Sejak kapan atasan mengantar bawahannya sampai ke depan pintu apartemen di siang bolong?"

Yanran membungkuk sopan. "Selamat siang, Paman, Bibi. Saya Gu Yanran. Saya hanya ingin memastikan Lin Xia sampai dengan aman karena tadi dia tampak sangat terburu-buru."

Suasana di lorong itu menjadi sangat canggung. Mama Lin mencoba mencairkan suasana. "Ah, sudahlah Pak, jangan galak-galak. Ayo masuk dulu, tidak enak bicara di lorong."

[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 14.05 PM]

[Lokasi: Depan Gedung Apartemen (Bawah), Shenzhen]

Lin Feng masih memarkir mobilnya di pinggir jalan, memantau pintu masuk. Ia segera menelepon Jingshen lagi.

"Jingshen! Kau di mana?! Yanran sudah masuk ke dalam gedung bersama Lin Xia! Mereka naik ke lantai 12!"

"Aku sudah di belokan jalan! Tiga menit lagi sampai!" suara Jingshen terdengar sangat gusar di telepon. "Jangan biarkan mereka berduaan di dalam!"

"Sudah terlambat, mereka sudah di atas! Dan tadi aku melihat orang tua Lin Xia sudah menunggu di sana. Situasinya akan sangat panas, kawan!" Lin Feng memberikan laporan dengan nada dramatis.

Jingshen menutup telepon. Ia melihat gedung apartemen itu di depan matanya. Pikirannya dipenuhi gambaran Yanran yang mencoba menarik hati orang tua Lin Xia dengan pesonanya yang licik.

"Ah Cheng, parkir di mana saja! Aku harus ke atas sekarang!"

Gu Jingshen keluar dari mobil bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna. Ia berlari menuju lobi dengan satu tujuan: Menghentikan "invasi" adiknya dan menyelamatkan posisinya di depan orang tua Lin Xia.

Lantai 12 akan menjadi saksi pertempuran paling konyol namun emosional antara dua bersaudara Gu yang memperebutkan restu dari keluarga Lin.

...****************...

1
Celine
Keren Author
Ika Anggriani
serem juga😭
Agry
/Hey/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!