NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit 2

Gerhana Sembilan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur / Transmigrasi
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)

Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.

Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni dengan Wajah Baru

Di dalam Kamar Penginapan:

Pilar cahaya hijau itu mulai memudar saat Han Luo akhirnya berhasil menyerap sisa energi terakhir ke dalam Inti Emas-nya.

Han Luo terengah-engah, jatuh terduduk dengan lutut bertumpu di lantai kayu.

Dia menatap tangannya. Kulitnya kembali muda. Dia menyentuh wajahnya. Tidak ada lagi keriput. Dia telah mendapatkan kembali masa mudanya. Vitalitasnya berada di puncak mutlak.

Namun, saat dia melirik ke bahu kirinya, tatapannya meredup. Lengan kirinya tidak tumbuh kembali. Teratai Penambah Umur mengembalikan waktu pada sel yang masih ada, bukan menumbuhkan anggota tubuh yang hilang.

Bilah pedang rongsokan itu masih tertanam menembus tulang selangkanya, meski kini jaringannya menyatu lebih sempurna tanpa infeksi.

Setidaknya aku tidak akan mati tua besok pagi, pikirnya pragmatis.

Han Luo mendengar suara gemuruh dari luar. Ratusan langkah kaki, kuda, dan pedang terbang sedang menuju ke arah penginapannya. Langit di luar jendela dipenuhi siluet para kultivator tingkat tinggi.

"Satu kota sedang menuju kemari untuk membedah perutku dan mengambil sisa energi teratai itu," Han Luo berdiri, matanya berkilat dingin.

Dia tidak bisa lari dengan wajah asli pemudanya. Jika dia terlihat, identitasnya akan ketahuan dan akan dicocokkan dengan buronan dari Benua Selatan.

Dia juga tidak bisa lari sebagai pria tua "Tabib Tangan Hantu" yang baru saja melakukan pemerasan terhadap Klan Ye.

Han Luo memejamkan mata. Sutra Seribu Wajah diaktifkan seketika.

Ini adalah harga dari menjadi seorang penipu. Bahkan ketika dia baru saja mendapatkan kembali masa mudanya, dia harus menguburnya lagi.

Dalam hitungan detik, kulit mudanya mengerut. Rambut hitamnya dia paksa memutih kembali. Tulang punggungnya dia bungkukkan. Dia menciptakan wajah baru, bukan Tabib Hantu, tapi wajah seorang Kakek Pemabuk biasa yang bau arak.

Lengan kirinya (pedang) dia sembunyikan di balik jubah longgar yang kotor.

BRAAAAK!

Dinding depan penginapan hancur lebur diterjang oleh Patriark Ye dan puluhan kultivator lainnya yang tiba bersamaan.

Kamar itu dipenuhi debu dan pecahan kayu.

Para ahli Inti Emas dan Jiwa Baru Lahir saling menatap dengan penuh permusuhan di udara, sementara anak buah mereka mengepung penginapan di bawah.

Patriark Ye menerobos masuk ke dalam kamar Han Luo yang setengah hancur.

"Mana Tabib itu?! Mana Teratainya?!" raung Patriark Ye, mengayunkan pedangnya.

Namun, di dalam kamar itu, tidak ada Tabib Tangan Hantu. Tidak ada kotak teratai.

Yang ada hanyalah seorang Kakek Pemabuk yang sedang bersembunyi di sudut ruangan sambil memeluk botol arak kosong, gemetar ketakutan, dan mengompol di celananya.

"J-Jangan bunuh saya, Tuan-Tuan Dewa!" teriak kakek itu (Han Luo) dengan suara parau dan menyedihkan. "S-Saya cuma numpang tidur di sini!"

Seorang Tetua dari Sekte Pedang Kilat turun dari pedang terbangnya, mencengkeram kerah kakek itu, dan mengangkatnya ke udara.

"Tua bangka! Siapa yang ada di kamar ini tadi?! Kemana cahaya hijau itu pergi?!"

"S-Saya tidak tahu! Tadi ada ledakan dari kamar sebelah, atapnya hancur, lalu ada bayangan hitam terbang ke arah Barat! Cepat sekali seperti petir!" jawab Han Luo, menunjuk asal-asalan ke arah Barat sambil memancarkan aura ketakutan layaknya manusia fana.

Tetua itu mendengus jijik, melemparkan Han Luo ke tumpukan kayu rusak. "Cih, manusia sampah."

"Ke Barat! Jangan biarkan orang itu lolos!" teriak salah satu kultivator.

Dalam sekejap, ratusan kultivator itu melesat ke arah Barat seperti sekawanan belalang yang mengejar mangsa, saling berlomba untuk mendapatkan harta yang sebenarnya sudah aman di dalam perut Han Luo.

Kamar itu kembali sepi, hanya menyisakan Patriark Ye yang mengamuk menghancurkan perabotan karena merasa ditipu.

Di sudut ruangan, Kakek Pemabuk (Han Luo) yang meringkuk ketakutan itu perlahan menyeringai dalam bayang-bayang.

Bodoh, batin Han Luo. Harta yang sesungguhnya ada tepat di depan mata kalian, tertutup oleh topeng dan sedikit kotoran.

Han Luo merangkak keluar dari puing-puing, berpura-pura lari menyelamatkan diri dari penginapan yang mau runtuh.

Namun, saat dia melangkah ke gang gelap di belakang penginapan, bersiap untuk menghilang ke dalam malam, sebuah bayangan panjang memblokir jalan keluarnya.

Dari atas tembok gang, sosok berjubah hitam melompat turun tanpa suara. Wanita itu melepas topi bambunya, membiarkan rambut peraknya terurai di bawah sinar bulan. Mata merah iblisnya menatap tajam ke arah Kakek Pemabuk yang gemetar di depannya.

Su Qingxue.

Han Luo segera memainkan perannya. Dia mundur hingga punggungnya menabrak dinding basah, memeluk botol araknya erat-erat.

"A-Ampun, Nona Pendekar! S-Saya tidak punya uang! Saya cuma kakek tua yang mau buang air!" ratap Han Luo dengan suara parau yang menyedihkan.

Su Qingxue tidak tersenyum. Dia berjalan mendekat, langkahnya pelan seperti kucing pemangsa.

"Akting yang bagus, Kek," suara Su Qingxue sedingin es. "Tapi kau kebetulan berada di pusat ledakan energi Teratai. Saat ratusan kultivator bodoh itu mengejar bayangan ke arah Barat, insting iblisku mengatakan... aura rakus yang menelan teratai itu tidak pernah meninggalkan penginapan ini."

"S-Saya tidak mengerti maksud Nona!"

"Kau tidak perlu mengerti," Su Qingxue mencabut belati bayangannya. "Aku akan membelah perutmu. Jika ada sisa energi teratai di sana, aku akan mengambilnya. Jika tidak... anggap saja kau sedang sial."

Tanpa peringatan, Su Qingxue menerjang maju. Belatinya melesat lurus mengincar ulu hati Han Luo. Kecepatannya adalah kecepatan murni Ranah Pondasi Puncak. Seorang kakek biasa pasti akan mati sebelum bisa berkedip.

Han Luo mengutuk dalam hati. Gadis gila ini benar-benar tidak peduli nyawa orang.

Jika Han Luo diam, dia mati. Jika dia menghindar dengan memamerkan kelincahan bela diri, penyamarannya terbongkar. Dia harus melawan seperti seorang ahli racun dan medis, bukan petarung.

Di sepersekian detik itu, tangan kanan Han Luo yang memegang botol arak kosong bergerak. Dia meremukkan botol itu, dan dari dalam lengan jubahnya, dia menjentikkan sebuah bubuk tak kasat mata bercampur pecahan kaca langsung ke wajah Su Qingxue.

WUSH!

Su Qingxue, yang instingnya sangat tajam, merasakan ancaman mematikan dari bubuk itu. Dia langsung menghentikan serangannya, melompat mundur, dan mengibaskan lengan bajunya untuk menciptakan angin puyuh penangkal.

Namun, beberapa butir bubuk itu menyentuh ujung lengan bajunya.

Cesssss!

Kain sutra pelindung tingkat tinggi milik Su Qingxue mendesis dan berlubang seketika, terkorosi oleh racun yang sangat pekat.

Mata Su Qingxue terbelalak. Dia menatap lubang di bajunya, lalu menatap pria tua bungkuk di depannya.

"Racun Korosi Jiwa?" Su Qingxue mendesis, sikap meremehkannya hilang total. "Itu racun kelas master yang bahkan ahli alkimia Kekaisaran tidak bisa racik dengan mudah. Siapa kau sebenarnya, Pak Tua?"

Di depan dinding, Han Luo menegakkan punggungnya yang bungkuk perlahan-lahan. Kepanikan di wajahnya lenyap, digantikan oleh aura tenang, sinis, dan mendominasi.

Dia menepuk-nepuk debu di jubah lusuhnya dengan tangan kanannya, sementara lengan kirinya tetap tersembunyi kaku di balik jubah.

"Tangan yang bisa menyelamatkan nyawa, adalah tangan yang sama yang paling tahu cara mencabutnya, Nona," suara Han Luo tidak lagi parau, melainkan berat dan serak—suara asli persona Tabib Tangan Hantu.

Mata Su Qingxue menyipit. Dia mengingat rumor yang baru saja mengguncang Kota Jinling sore tadi.

"Klan Ye kacau balau karena seorang tabib misterius... Kau... Kau adalah Tabib Tangan Hantu itu?"

"Sebutan yang dilebih-lebihkan oleh orang awam," Han Luo menyeringai tipis. "Tapi ya, aku yang mengurus Tuan Muda Ye. Dan kebetulan, aku yang menikmati hadiah Teratai-nya."

Su Qingxue menyimpan belatinya. Dia tahu pertarungan fisik dengan seorang ahli racun misterius di gang sempit adalah tindakan bodoh. Master racun bisa membunuhmu bahkan saat kau memenggal kepala mereka.

Namun, alih-alih marah karena kehilangan Teratai, bibir Su Qingxue melengkung membentuk senyum iblis yang penuh ketertarikan.

"Menarik," Su Qingxue menepuk tangannya pelan. "Sangat menarik. Seorang tabib dengan kemampuan manipulasi setingkat ini... mengingatkanku pada seorang bajingan yang baru saja mati di Benua Selatan."

Han Luo menatapnya datar. "Aku tidak kenal orang mati. Aku hanya berurusan dengan yang hidup dan yang hampir mati."

"Bagus. Karena aku lebih suka rekan kerja yang hidup," Su Qingxue berjalan mendekat, tidak lagi dengan niat membunuh, melainkan dengan aura negosiasi.

"Kau punya otak, keahlian racun, dan nyali untuk menipu satu kota. Aku punya jaringan, kekayaan, dan ambisi untuk menguasai dunia bawah Benua Tengah. Pria yang dulu bekerja denganku (Tuan Mo) hancur karena keangkuhannya sendiri. Tapi kau... kau sepertinya tahu cara bertahan hidup."

Su Qingxue mengulurkan tangan putihnya yang mulus.

"Tuan Tabib, apakah kau tertarik pada aliansi? Aku butuh seseorang dengan keahlianmu untuk membereskan beberapa 'hama'. Dan sebagai gantinya, aku bisa memberimu perlindungan dan sumber daya yang jauh lebih besar dari sekadar satu bunga teratai."

Han Luo menatap tangan yang terulur itu.

Di balik topeng mentalnya, Han Luo tertawa terbahak-bahak. Gadis iblis ini berpikir dia sedang merekrut pion baru untuk menggantikan Tuan Mo, tanpa tahu bahwa dia baru saja mengundang iblis yang sama dengan wajah berbeda.

Han Luo tidak menjabat tangan itu. Dia mengulurkan tangan kanannya dan hanya menepuk pelan telapak tangan Su Qingxue dengan ujung jarinya.

"Aku tidak butuh perlindungan, Nona," jawab Han Luo serak. "Tapi aku suka kekayaan. Jika bayarannya cocok... hantu ini bersedia bekerja untukmu."

Di gang gelap yang dipenuhi bau racun dan konspirasi itu, sebuah kontrak baru terbentuk. Papan catur Benua Tengah resmi dibuka untuk Sang Dalang.

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Dpt budak pertama 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Ceritanya muantebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🌽🔥
Irman
mantap banget
Irman
kasih bonus besok Thor... 🙏🙏🙏
alexander
bagus ceritanya rekomen untuk di baca
Budi Wahyono
jahat juga han luo...
tpi gw demen....
Budi Wahyono
good
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
Dianrp
secangkir kopi nikmat
Budi Wahyono
vote minggu ini untuk tabib qiu
izar
mntpp
Mamat Stone
tetap semangat dan terus berkarya
Mamat Stone
sehat dan sukses selalu Thor
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤭
Mamat Stone
/Casual/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!