Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Tawaran Bantuan dari Sahabat
Langit di atas panti asuhan perlahan berubah menjadi kelabu pekat, membawa embusan angin dingin yang menusuk hingga ke sela-sela pori-pori kulit. Suasana di sekitar gudang yang tadinya benderang oleh matahari pagi, kini mendadak berubah menjadi temaram dan penuh dengan aroma tanah basah yang menyengat.
Fahmi menyadari perubahan cuaca yang ekstrem itu sembari memperhatikan Nayla yang mulai mendekap lengannya sendiri karena kedinginan. Ia menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menatap langit sembari memperkirakan kapan tetesan hujan pertama akan jatuh membasahi bumi desa yang gersang.
"Bay, gue rasa kita harus percepat kerjaan di dalem gudang ini sebelum hujan bener-bener turun lebat," ujar Fahmi sembari menoleh ke arah Bayu yang masih mematung.
Fahmi menawarkan diri untuk membantu Bayu mengangkat barang-barang yang jauh lebih berat di dalam gudang agar akses menuju rak utama menjadi lebih terbuka.
Tanpa menunggu persetujuan, Fahmi segera melepaskan jaket kulit hitamnya yang nampak sangat kokoh namun memiliki lapisan dalam yang hangat. Ia melangkah mendekati Nayla, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyampirkan jaket besar itu di atas bahu wanita yang sedang menggigil tersebut.
"Pakai ini, Nay. Udara makin dingin karena mau hujan, aku nggak mau kamu jatuh sakit cuma karena nemenin kami di sini," ucap Fahmi dengan nada suara yang begitu tenang dan tulus.
Nayla nampak sedikit terkejut, namun ia segera merapatkan jaket tersebut ke tubuhnya sembari memberikan tatapan penuh rasa terima kasih yang mendalam.
Nayla memakai jaket tersebut dan tanpa sengaja menghirup aroma maskulin yang tertinggal pada kain jaket milik pria yang selama ini menjaganya. Bau parfum kayu yang bercampur dengan aroma perjalanan itu seolah memberikan rasa aman yang instan bagi batin Nayla di tengah cuaca yang kian memburuk.
Bayu melihat pemandangan itu dari sudut matanya, merasakan sebuah hantaman telak yang tepat mengenai ulu hatinya yang paling dalam. Ia segera membuang muka ke arah tumpukan kardus yang sudah lapuk, mencoba menelan pahitnya rasa cemburu yang kembali membakar kewarasannya tanpa ampun.
'Gue bahkan nggak kepikiran kalau dia kedinginan,' batin Bayu sembari merutuki ketidakpekaannya yang terasa sangat kontras dengan kesigapan Fahmi.
Ia merasa seperti seorang pecundang yang hanya bisa menonton dari kejauhan, sementara pria lain memberikan perlindungan nyata yang sangat dibutuhkan oleh wanita itu.
Fahmi mulai melangkah masuk lebih jauh ke dalam gudang, ia mengamati sebuah rak besi tua yang nampak sangat berat karena dipenuhi tumpukan onderdil mesin. Tanpa meminta bantuan Bayu sama sekali, Fahmi mulai memindahkan rak besi tersebut dengan mengandalkan tenaga tangannya yang besar dan terlatih oleh kerja lapangan.
Otot-otot di lengan Fahmi nampak menegang hebat saat ia menggeser beban logam itu hingga menimbulkan suara derit nyaring yang memilukan telinga. Bayu hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan bagaimana rak yang tadinya ia kira harus dipindahkan berdua, ternyata sanggup ditaklukkan oleh Fahmi sendirian dengan sangat mudah.
Rasa tidak berdaya merayap di dalam jiwa Bayu, membuatnya merasa dirinya semakin tidak dibutuhkan lagi di dalam ruangan sempit yang penuh kenangan ini. Ia merasa keberadaannya di panti ini hanya sebagai beban tambahan, bukan sebagai solusi yang ia banggakan saat ia masih berada di Jakarta dulu.
"Gue bisa bantu sisi sebelah situ, Mi," tawar Bayu dengan suara yang terdengar sangat ragu dan kehilangan kepercayaan dirinya yang biasanya meluap-luap.
Fahmi hanya menoleh sekilas sembari terus mengatur posisi rak besi itu agar tidak menghalangi jalan masuk menuju meja kerja kayu yang reyot.
"Nggak usah, Bay. Lo mending simpen tenaga lo buat benerin struktur yang lebih kecil aja, ini bagian gue yang udah biasa kerja kasar," jawab Fahmi tanpa bermaksud meremehkan.
Namun bagi Bayu, jawaban itu terasa seperti sebuah penegasan bahwa statusnya di tempat ini masih belum lebih dari sekadar tamu yang sedang mencoba beradaptasi.
Nayla berdiri di ambang pintu sembari terus mendekap jaket Fahmi. Matanya bergerak mengikuti setiap gerakan cekatan yang dilakukan oleh pria berjaket kulit tersebut.
Bayu merasa ruang di dalam gudang itu semakin menyempit, bukan karena barang-barang yang menumpuk, melainkan karena kedekatan alami yang terpancar dari arah Fahmi dan Nayla.
Ia segera mengambil sebuah sapu lidi tua yang tergeletak di pojok ruangan, mencoba mencari kesibukan agar tidak nampak terlalu menganggur di depan mata mereka. Bayu mulai menyapu lantai di sisi lain gudang yang jauh dari jangkauan Fahmi dan Nayla, mencoba menciptakan jarak fisik guna menenangkan gejolak batinnya yang kian kacau.
Setiap gesekan sapu di atas lantai semen yang berdebu itu terdengar seperti bisikan penyesalan yang terus-menerus menghantui pikiran Bayu sepanjang pagi ini. Ia menyapu dengan gerakan yang sangat kencang, seolah-olah sedang mencoba mengusir rasa malu dan cemburu yang kini sudah berakar kuat di dalam lubang hatinya.
Debu-debu halus terbang ke udara, membuat Bayu terbatuk beberapa kali namun ia tetap tidak mau menghentikan aktivitasnya yang nampak sangat sia-sia tersebut. Ia ingin membuktikan bahwa ia masih bisa berguna bagi panti ini, meskipun itu hanya melalui pekerjaan paling sederhana seperti menyapu lantai gudang yang kotor.
Fahmi tertawa kecil saat ia berhasil meletakkan rak besi itu di posisi barunya, ia menyeka keringat di dahinya sembari menatap ke arah Nayla yang masih setia menunggu. "Nah, sekarang jalan ke rak perkakas udah plong. Besok kalau mau ambil palu atau obeng, kamu nggak perlu manjat-manjat lagi kayak kemarin, Nay."
Nayla tersenyum mendengar penjelasan itu, ia nampak sangat puas dengan hasil kerja keras Fahmi yang sangat efisien dalam waktu yang sangat singkat. "Makasih banyak ya, Mi. Kamu bener-bener tahu apa yang sering bikin aku kesulitan tiap kali mau beresin barang-barang di gudang panti ini."
Bayu tetap diam di pojok gudang yang gelap, ia terus menyapu tumpukan debu yang sebenarnya sudah bersih sejak beberapa menit yang lalu karena ia menyapunya berulang kali. Ia merasa seperti bayangan yang tidak terlihat, terperangkap dalam dunianya sendiri sementara kehidupan yang sesungguhnya sedang berjalan dengan penuh kebahagiaan di depannya.
'Gue harus kerja lebih keras lagi. Gue nggak boleh cuma jadi penonton kalau emang gue beneran sayang sama tempat ini,' bisik Bayu sembari mencengkeram gagang sapu lidinya. Ia menyadari bahwa penebusan dosanya tidak akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan, apalagi dengan adanya sosok Fahmi yang selalu selangkah lebih maju darinya.
Guntur pertama terdengar menggelegar di kejauhan, getarannya terasa hingga ke lantai gudang tempat Bayu berdiri dengan perasaan yang hancur lebur berkeping-keping. Udara di dalam ruangan itu terasa semakin dingin, namun hati Bayu justru terasa semakin panas karena bara api kecemburuan yang belum juga mau padam.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰