Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan pilihan
Arka sedang menandatangani dokumen terakhir ketika jarum jam di dinding bergerak pelan melewati pukul empat sore. Tangannya berhenti di udara, pena menggantung sejenak.
Entah kenapa, dadanya terasa tidak tenang.
Ia melirik ponsel yang tergeletak di sisi meja. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab. Hening. Terlalu hening.
Sejak pagi ia sudah melakukan hal yang menurutnya cukup berani—menawarkan jemput, menawarkan bantuan, menawarkan dirinya untuk sekadar ada. Lara mengiyakan semuanya dengan senyum yang… hangat. Dan itu membuat Arka merasa, untuk pertama kalinya, ia mungkin tidak sepenuhnya terlambat.
Namun sekarang, ada sesuatu yang mengganjal.
Arka menghela napas pelan, lalu mengambil ponselnya. Jarinya menekan nama Lara tanpa ragu kali ini.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tepat saat Arka hendak menutup telepon, sambungan itu tersambung.
“Paman?”
Suara Lara terdengar… jauh. Berisik. Ada musik. Ada suara orang-orang tertawa. Dan itu cukup membuat alis Aka mengernyit.
“Kamu di mana?” tanyanya, berusaha terdengar biasa.
Di seberang sana, Lara mendekatkan ponsel ke telinganya. Musik live yang tadi menggema kini sedikit meredam.
“Di luar, Paman,” jawabnya jujur, nada suaranya ceria. “Lagi di festival jajanan.”
Arka diam sesaat. Festival?
“Festival?” ulangnya. “Di mana?”
“Di area taman kota dekat pusat perbelanjaan,” jawab Lara cepat, seolah itu bukan hal besar. “Banyak jajanan Korea, lucu-lucu banget.”
Arka memejamkan mata sejenak. Ia ingat jelas pagi tadi—Lara bilang kelasnya hanya sampai jam satu. Dan setelah itu… tidak ada kabar.
“Dengan siapa?” tanyanya kemudian.
Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan.
Di ujung sana, Lara tidak ragu sedikit pun. Tidak ada kebohongan.
“Sama Axel.”
Satu kata itu jatuh seperti batu.
Arka tidak langsung menjawab. Dadanya mengeras, seperti ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam.
Axel.
Nama itu lagi.
“Axel?” ulangnya, kali ini lebih pelan. Terlalu pelan.
“Iya,” kata Lara santai. “Kami kebetulan sama-sama free.”
Bisa-bisanya kau bilang kebetulan.
Arka menggenggam ponselnya lebih erat. Di ruang kerjanya yang sunyi dan dingin, suara musik dari ponsel Lara terdengar samar—ceria, hidup, penuh tawa. Dunia yang tidak ia masuki.
“Kamu tidak bilang apa-apa tadi,” ucap Arka akhirnya. Nada suaranya terkendali, tapi dingin.
“Oh…” Lara terdengar baru sadar. “Maaf, Paman. Aku kira nggak perlu bilang. Lagian kan cuma sebentar.”
Cuma sebentar.
Kata-kata itu entah kenapa menyulut sesuatu.
“Pagi tadi,” kata Arka, menahan nada suaranya agar tidak meninggi, “aku bilang kalau kamu mau ke mana pun, bilang saja.”
“Iya, Paman. Aku ingat.”
“Lalu kenapa tidak?”
Hening di seberang sana. Lara tidak langsung menjawab. Bukan karena takut—lebih karena bingung.
“Karena… aku diajak Axel duluan,” katanya polos. “Dan aku pikir—”
Pikirannya apa?
Bahwa Arka hanya opsi kedua?
Bahwa Arka sekadar paman yang boleh tahu, tapi tidak perlu dipilih?
Arka menghembuskan napas berat. Ia berdiri dari kursinya tanpa sadar, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap kota.
“Apa kamu pulang sebelum jam 6?” tanyanya, memotong kalimat Lara.
“Iya. Nanti kok,” jawab Lara cepat. “Kami cuma makan sama nonton bentar.”
Kami. kata itu seperti menohok kerongkongan Arka.
Arka menutup matanya.
“Jangan pulang terlalu malam,” katanya akhirnya. “Hati-hati.”
“Iya, Paman.”
Telepon ditutup.
Arka menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ruangan terasa semakin sempit. Nafasnya terasa berat, bukan karena marah semata—tapi karena satu kesadaran pahit yang menamparnya tanpa ampun.
Lara punya pilihan sekarang.
Dan hari ini, pilihan itu bukan dirinya.
Ia bukan marah pada Axel. Bahkan bukan sepenuhnya pada Lara.
Ia marah pada dirinya sendiri—karena baru sekarang merasa kehilangan, saat Lara sudah belajar melangkah tanpa menunggunya lagi.
Arka meremas ponselnya perlahan.
“Sejak kapan aku harus bersaing?” gumamnya lirih.
Dan yang lebih menakutkan—
sejak kapan ia tidak rela kalah?
Setelah menutup telepon dari Arka, Lara berdiri mematung beberapa detik. Suara musik dari panggung utama masih menggema, lampu-lampu kecil masih berkelip, tapi hatinya mendadak terasa tidak di tempat.
“Ayo pulang aja, Axel,” ucapnya akhirnya, ringan tapi tegas.
Axel menoleh. Ia menangkap perubahan kecil itu—cara Lara menarik napas, senyum yang masih ada tapi tidak secerah tadi.
“Kenapa? Karena telepon tadi?” tanyanya hati-hati.
Lara mengangguk pelan. “Bukan apa-apa, kok. Aku cuma… nggak enak aja.”
Axel tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil dan mengangguk. “Oke. Kita pulang.”
Dalam perjalanan menuju apartemen, motor Axel melaju lebih tenang dari sebelumnya. Tidak ada obrolan absurd, tidak ada tawa lepas. Tapi juga tidak canggung. Hening yang nyaman—atau mungkin, hening yang sedang belajar menampung perasaan masing-masing.
Axel sempat melirik Lara lewat kaca spion.
“Paman kamu marah?” tanyanya pelan.
Lara menggeleng. “Nggak. Dia orangnya baik. Cuma… khawatir aja.”
Jawaban itu membuat Axel lega.Entah kenapa dia merasa tidak rela jika Lara akan dimarahi meski oleh pamannya sendiri.
Sampai di depan gedung apartemen, Axel mematikan mesin. Seperti biasa, Lara turun lebih dulu.
“Makasih ya, hari ini,” kata Lara sambil tersenyum. “Seru.”
Axel membalas senyum itu. “Iya. Aku juga senang.”
Mereka berdiri canggung beberapa detik. Tidak ada alasan lagi untuk menunda pulang, tapi juga terasa sayang jika langsung berpisah.
Lara lalu merogoh tasnya, mengeluarkan sesuatu dari sana.
“Eh… ini,” katanya.
Dua buah gantungan kunci kecil berbentuk karakter anime dari manhwa yang mereka lihat di mal lalu. Satu versi cowok, satu versi cewek. Sederhana, lucu, dan… entah kenapa terasa personal.
Lara menyerahkan yang versi cewek pada Axel.
“Yang ini buat kamu,” katanya santai. “Biar kalau kamu lihat, inget aku.”
Axel membeku.
Bukan karena gantungan kuncinya. Tapi karena kalimat itu.
Biar kalau lihat, inget aku.
“Oh,” katanya bodoh, lalu tertawa kecil untuk menutupi sesuatu yang tiba-tiba menghangat di dadanya. “Terus yang satunya?”
“Yang cowok buat aku,” jawab Lara. “Biar adil.”
Adil. Kata itu terdengar sederhana, tapi di telinga Axel, rasanya seperti janji kecil yang tidak sengaja dibuat.
Axel menerima gantungan kunci itu dengan hati-hati, seolah benda kecil itu bisa pecah jika ia menggenggamnya terlalu kuat.
“Makasih,” katanya sungguh-sungguh.
Lara melambaikan tangan. “Hati-hati di jalan.”
Saat Lara melangkah masuk ke gedung, Axel masih berdiri di tempatnya. Ia menatap gantungan kunci itu lama, lalu tersenyum—senyum yang berbeda dari biasanya.
.
senyum seseorang yang baru sadar… perasaannya sudah lewat dari batas aman.
“Bahaya,” gumamnya pelan pada diri sendiri. “Kayaknya mulai berbahaya nih.”
Lara tiba di depan pintu apartemennya dengan langkah pelan. Setelah pintu terbuka, hal pertama yang ia sadari adalah kesunyian. Lampu ruang tengah menyala, tapi tidak ada sosok Arka di sana.
Padahal Paman sudah pulang… batinnya.
Ia melepas sepatu, berniat langsung masuk ke kamar. Baru beberapa langkah, pintu ruang kerja terbuka.
Arka keluar.
Mereka berpapasan begitu saja.
Lara sempat terkejut, tapi segera tersenyum kecil. “Paman sudah pulang?”
“Iya,” jawab Arka singkat, lalu menatap Lara sejenak—terlalu lama untuk disebut biasa.
Ada jeda yang menggantung.
“Festival tadi…” Arka membuka suara, nadanya terdengar datar tapi matanya tidak. “Kamu senang?”
Lara mengangguk ringan. “Lumayan. Ramai. Makanannya enak.”
Jawaban yang jujur, tanpa embel-embel. Tanpa sadar bahwa bagi Arka, kata senang itu terasa seperti sesuatu yang seharusnya ia tahu lebih dulu.
Arka menarik napas pelan. “Kenapa kamu nggak hubungi Paman saja?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tidak tinggi nadanya, tidak menuduh—justru terdengar seperti orang yang menahan sesuatu terlalu lama.
Lara sedikit mengernyit, lalu menjawab apa adanya.
“Soalnya… kejadiannya tiba-tiba, Paman. Nggak direncanakan,” katanya pelan. “Bukan nggak mau ngasih tahu. Cuma… nggak kepikiran.”
Ia menunduk sebentar, lalu menatap Arka lagi.
“Selama ini aku terbiasa melakukan hal-hal kecil kayak gitu sendiri. Jadi mungkin aku belum terbiasa… minta hal-hal seperti itu ke Paman.”
Kata-katanya lembut. Tidak menyalahkan. Tidak membela diri berlebihan.
Justru itu yang membuat Arka terdiam.
Ia tidak membantah.Tidak bisa.Karena Lara benar.
Selama ini, ia yang membiarkan Lara tumbuh dengan kebiasaan tidak bergantung. Ia yang menghilang, menjauh, dan tanpa sadar mengajarkan Lara untuk tidak berharap.
Arka menurunkan pandangannya sesaat. Ada sesuatu yang terasa berat di dadanya—bukan marah, bukan cemburu semata, tapi penyesalan yang pelan-pelan menemukan bentuknya.
“Oh…” hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Lara tersenyum kecil, seolah ingin meringankan suasana. “Aku masuk kamar dulu ya, Paman.”
Arka mengangguk pelan.
Saat Lara melangkah pergi, Arka masih berdiri di tempatnya. Kata-kata Lara berputar ulang di kepalanya, sederhana tapi menampar dengan cara yang tidak kejam.
Untuk pertama kalinya, ia sadar—
Bukan Lara yang terlalu bebas. Tapi dirinya yang terlalu lama absen.
Sementara itu, di balkon kamarnya, Axel duduk santai dengan satu kaki dilipat ke atas kursi. Udara malam menyentuh wajahnya, tapi pikirannya sepenuhnya tertambat pada benda kecil di tangannya.
Gantungan kunci.
Ia memutarnya pelan, memperhatikan detailnya—tokoh perempuan dengan rambut dikuncir sederhana dan ekspresi polos. Axel menyipitkan mata, lalu tanpa sadar tersenyum sendiri.
“Mirip kamu juga, ya…” gumamnya lirih, entah ditujukan pada benda itu atau pada seseorang yang wajahnya tiba-tiba terasa dekat di benaknya.
Ia masih memainkan gantungan kunci itu ketika ponselnya tiba-tiba bergetar.
Axel refleks mengangkatnya tanpa melihat layar. Terlalu cepat. Terlalu yakin.
“Halo, Lara—”
Kalimat itu terputus.
Karena suara di seberang bukan suara yang ia harapkan.
“Halo, Axel. Ini aku, Anita.”
Axel membeku.
Nada suara itu—tajam, manis palsu, dan terlalu familiar—membuat dadanya mengeras seketika. Sudah lama sekali ia tidak mendengarnya, dan jujur saja, ia tidak pernah berniat mendengar lagi.
“Apa?” Axel menjawab, nada suaranya otomatis naik. “Kamu dari mana dapat nomor ini?”
Terdengar tawa kecil di seberang. Tawa yang dulu pernah membuatnya jatuh, dan kemudian belajar bangkit dengan cara yang tidak menyenangkan.
“Itu nggak penting,” jawab Anita ringan. “Yang penting… siapa itu Lara?”
Axel menghela napas tajam. Rahangnya mengeras.
Ia tahu betul pola ini.
Pertanyaan polos yang akan berujung pada rasa ingin tahu berlebihan.
Rasa ingin tahu yang berubah jadi intervensi. Dan akhirnya, drama.
“Lara bukan siapa-siapa,” jawab Axel dingin. Terlalu cepat. Terlalu tegas.
“Ah, masa?” Anita terdengar tertarik. “Tadi kamu manggil namanya dengan cepat sekali.”
Axel berdiri dari kursinya. Senyum tipis yang tadi ada di wajahnya menghilang begitu saja.
“Dengar, Anita,” katanya, kali ini tanpa basa-basi. “Apa pun yang kamu dengar, lihat, atau pikirkan—itu bukan urusan kamu. Jangan hubungi aku lagi.”
“Axel—”
Ia tidak menunggu. Panggilan itu diputus.
Axel menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menguncinya dan meletakkannya di atas meja. Dadanya naik turun pelan. Ada rasa kesal, tapi juga sesuatu yang lain—rasa protektif yang bahkan belum sepenuhnya ia sadari.
Tangannya kembali meraih gantungan kunci itu.
Kali ini, ia menggenggamnya lebih erat.
Dalam hati, Axel tahu satu hal dengan pasti—
ia tidak ingin masa lalu yang salah itu menyentuh sesuatu yang saat ini terasa… benar.