Damian, lelaki yang dikenal dengan julukan "mafia kejam" karena sikapnya bengis dan dingin serta dapat membunuh tanpa ampun.
Namun segalanya berubah ketika dia bertemu dengan Talia, seorang gadis somplak nan ceria yang mengubah dunianya.
Damian yang pernah gagal di masa lalunya perlahan-lahan membuka hati kepada Talia. Keduanya bahkan terlibat dalam permainan-permainan panas yang tak terduga. Yang membuat Damian mampu melupakan mantan istrinya sepenuhnya dan ingin memiliki Talia seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Zaka membuka tasnya dan mengeluarkan sarung tangan lateks, lalu mengangkat kaos Damian untuk melihat lebih jelas lukanya. Wajahnya semakin serius. Luka itu dalam, dan darah yang merembes membuat situasinya semakin buruk.
"Kita harus hentikan pendarahannya sebelum aku cabut pisaunya," kata Zaka sambil mengeluarkan kain kasa steril dan larutan antiseptik.
"Talia, kamu punya air hangat dan handuk bersih?"
"Ada, aku ambil sekarang!" Talia bergegas ke dapur, menuangkan air hangat ke dalam baskom, lalu meraih beberapa handuk bersih dari lemari. Saat kembali, dia melihat Zaka sudah menekan luka Damian dengan kain kasa.
Talia meletakkan baskom di samping Zaka dan berjongkok.
"Aku harus bantu apa kak?"
"Tahan dia. Kalau dia sadar dan tiba-tiba bergerak, bisa berbahaya," jawab Zaka.
"Aku akan coba menghentikan pendarahan dulu." ia melanjutkan.
Talia mengangguk dan meraih lengan Damian. Pria itu masih setengah sadar, wajahnya pucat pasi dan penuh keringat. Ketika Zaka mulai bekerja, Damian menggeram kesakitan, matanya sedikit terbuka.
"Jangan bergerak," bisik Talia, menekan lengannya agar tetap diam.
"Rasanya memang sakit, tapi kalau kamu mau tetap hidup, dengarkan dia. Biar aku juga tetap hidup."
Damian tidak menjawab, hanya mengerang pelan. Zaka bekerja dengan cepat, menekan luka Damian dengan hati-hati sambil menilai seberapa dalam luka itu. Setelah beberapa menit, dia akhirnya menghela napas berat.
"Oke, aku harus cabut pisaunya," kata Zaka dengan suara tegas.
Talia membelalak.
"Tapi tadi kak Zaka bilang jangan dicabut? Kalo dia mati gimana? Aku juga nggak mungkin hidup. Dia hidup aku hidup, dia mati aku mati. Kak Zaka ngerti maksud aku kan? Almarhum, almarhumah." gadis itu menunjuk Damian dan dirinya sendiri bergantian.
Zaka mengangkat kepalanya menatap Talia heran.
"Kamu itu ngomong apa sih? Gak usah ngawur. Sekarang kita usahain dulu selamatin nyawanya."
"Tapi kan kata kak Zaka kalau pisaunya di cabut bisa bahaya."
"Itu tadi karena aku tidak ada di sini. Kalau dibiarkan lebih lama, infeksi bisa menyebar lebih parah, dan aku butuh lebih banyak akses untuk menghentikan pendarahannya," jelas Zaka.
"Tapi ini pasti akan sangat menyakitkan, kasian dianya."
Talia menggigit bibirnya, menatap Damian yang masih terbaring lemah.
"Bisa kita bius dulu?"
Zaka menggeleng.
"Aku tidak punya anestesi sekuat itu di sini. Aku akan memberinya obat pereda nyeri, tapi itu tidak akan cukup. Ini harus cepat."
Talia menelan ludah.
"Oke … aku siap."
Zaka mengambil beberapa napas dalam, lalu meraih gagang pisau dengan hati-hati.
"Satu … dua … tiga!"
Dengan gerakan cepat dan teliti, Zaka mencabut pisau dari tubuh Damian. Pria itu langsung tersentak, mengeluarkan jeritan tertahan yang membuat Talia merinding. Tangannya mencengkeram lengan Damian lebih erat, memastikan dia tidak bergerak liar.
Darah mengalir lebih deras, tapi Zaka sudah siap. Dia segera menekan luka dengan kain kasa tebal, menghentikan pendarahan sebisa mungkin. Tangannya bekerja dengan cekatan, membalut luka itu dengan perban ketat.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan menegangkan. Damian mulai melemah, napasnya pendek dan tersengal. Talia menatapnya dengan cemas, berharap dia tidak kehilangan kesadaran sepenuhnya.
"Sudah?" tanyanya pelan.
Zaka mengangguk, meski wajahnya tetap tegang.
"Untuk sementara dia tidak akan apa-apa. Tapi dia butuh transfusi darah dan perawatan lebih lanjut. Kita tidak bisa biarkan dia begini terlalu lama. Dia harus segera dipindahkan ke rumah sakit.
Talia terlihat khawatir.
"Aku nggak bisa bawa dia ke rumah sakit kak. Dia bilang itu bahaya."
Zaka menatap gadis itu tajam.
"Talia, kau bahkan tidak tahu siapa dia. Bagaimana kalau dia kriminal? Bagaimana kalau,"
"Aku nggak tahu! Aku cuma … sudah terlanjur janji sama dia. Masa aku harus ingkar janji sih? Kan seorang Talia bukan tipe perempuan yang suka ingkar janji. Aku juga sudah bilang kek kak kalo Zaka kan kalau dia sampai kenapa-napa, aku juga pasti kenapa-napa. Biarin dia di rawat di sini aja ya kak? Pleasee, kakak ajarin aku, biar aku tahu caranya ngerawat dia." potong Talia, lalu meminta dengan dengan nada memohon.
Zaka menghela napas panjang, mengusap wajahnya.
"Astaga, Talia. Kau benar-benar cari masalah. Kalau orang tuamu dan kakakmu tahu ..."
"Mereka nggak akan tahu kalau kak Zaka gak bilang."
Zaka tidak tahu mau ngomong apalagi ke gadis keras kepala ini.
"Ya sudah. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Jangan lakukan sembarangan." kata pria itu lagi.
"Kak Zaka memang terbaik. Kenapa gak kakak aja yang jadi kakak kandung aku daripada sih Jason sakti itu."
Zaka tertawa kecil menggeleng-geleng kepalanya, kemudian ia memeriksa Damian lagi. Setelah memastikan perban cukup ketat, Zaka duduk bersandar di dinding.
"Aku bisa kembali besok dengan peralatan lebih lengkap. Untuk malam ini, pastikan dia tetap terhidrasi dan tidak banyak bergerak."
Talia mengangguk cepat.
"Baik dokter ganteng."
Zaka menatapnya tajam.
"Dan kau harus cari tahu siapa dia, Talia. Kau tidak bisa menyelamatkan seseorang yang malah akan mencelakaimu nantinya."
Talia terdiam. Kata-kata Zaka membuatnya berpikir. Dia menatap Damian. Kira-kira siapa pria ini ya? Kenapa dia sampai terluka begitu parah? Dan lebih penting lagi, siapa yang mencoba membunuhnya?
"Aku masih ada shift malam, harus segera kembali ke rumah sakit. Ingat, kalau ada apa-apa langsung telpon aku."
"Iya bosku, siap!"
Zaka terkekeh melihat kelakuan adik dari sahabat baiknya itu yang selalu bikin gemas. Sesaat kemudian ia pamit keluar. Talia tidak mengantarnya karena ia tidak bisa meninggalkan lelaki yang kini sudah berbaring di kasurnya.
Gadis itu menatap lurus ke pria itu. Wajah pucatnya tak menutupi wajah tampannya yang hampir sempurna. Talia sendiri sudah terbiasa melihat pria tampan, karena orang-orang di sekitarnya rata-rata memang tampan, contohnya si dokter yang baru keluar tadi. Tetapi ia mengakui kalau wajah tampannya lelaki yang terbaring lemah dan sudah tak sadarkan diri ini memiliki daya tarik sendiri. Membuat siapapun tertarik untuk melihatnya terus.
"Sayang banget. Wajahnya tampan begitu, tapi asal-asulnya gak jelas. Galak dan nakutin juga. Terluka parah aja masih nakutin apalagi kalau sudah sembuh, hiihh!"
Talia langsung duduk tegak setelah mengatakan kalimat itu. Otaknya berpikir keras.
"Sembuh? Kalau dia sudah sembuh dan makin galak sama aku gimana? Ah, semoga gak. Aku kan bisa dibilang penyelamat hidupnya. Tega bener dia kalau jahatin aku." ia terus berbicara sendiri sambil menatap Damian.
Sesaat kemudian ia melihat pria itu bergerak tak leluasa dalam tidurnya. Keningnya berkerut dan tampak kesakitan. Talia berdiri mendekatinya. Ia duduk di tepi ranjang menatap pria itu dari dekat.
"A ... A r ..." suaranya tidak terlalu jelas. Talia mendekatkan telinganya di wajah pria itu.
"Apa?"
"A- air," suaranya jauh lebih jelas dari yang tadi.
"Oh air, oke, aku akan ambilin buat kamu!"
dobel up