Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPOILER TAKDIR DI GERBANG
Bel pulang sekolah akhirnya bunyi dengan nada "ting ting" yang khas, langsung memicu sorak-sorai riuh dari seluruh penjuru SMA Tunas Bangsa.
Lorong sekolah yang tadinya tenang mendadak penuh sesak sama lautan manusia yang berhamburan keluar kelas, seolah-olah baru aja dapet remisi bebas dari penjara ilmu.
"Rin, gue duluan ya! Udah dijemput nih. Dah!" seru Siska sambil melambaikan tangan, langkahnya gercep menghilang di balik kerumunan.
Arini senyum tipis dan balas melambaikan tangan. "Dah, Sis! Hati-hati!"
Arini menghela napas panjang, ngerapiin tali tasnya, dan mulai melangkah menuju gerbang.
Tapi, baru aja kakinya injek aspal depan gerbang, tiba-tiba... Bruk! Sebuah benturan keras terjadi. Tubuh mungil Arini oleng.
"Aw!" rintih Arini spontan. Dia nunduk, ngusap lengannya yang nyut-nyutan karena hantaman bahu seseorang yang keras.
"Sorry, nggak liat. Sini, ikut aku bentar," sebuah suara berat yang familiar terdengar di atas kepalanya.
Pas Arini dongak, matanya langsung melotot. Jantungnya mendadak party nggak karuan. "Hah? Rian?"
Tanpa nunggu persetujuan, Rian narik lembut lengan Arini, ngebawa dia sedikit menjauh dari kerumunan biar nggak ke-distrak sama arus anak-anak lain. Mereka berdiri di pinggir gerbang, tepat di bawah pohon peneduh yang adem.
Rian natap Arini dengan tatapan intens yang susah diartiin. Senyum tipis terukir di wajahnya"Bener kan ramalan aku? aku bilang kita bakal ketemu tepat di depan gerbang pas bel pulang bunyi," ucapnya tenang, seolah dia baru aja baca spoiler masa depan.
Arini mendengus, berusaha nutupin rasa saltingnya. "Yeuu... itu mah kebetulan aja kali, Lagian ya, hari gini masih percaya ramalan? Kuno banget, no cap!"
Rian nggak tersinggung sama sekali. Dia justru majuin wajahnya, bikin Arini refleks mundur selangkah. "Suatu saat, kamu bakal akuin kalau ramalan aku nggak pernah salah Arini," bisiknya.
"Ih, nggak ya! kamu pasti sengaja kan nabrak aku tadi biar ramalan kamu kelihatan bener?" tuduh Arini sambil berkacak pinggang.
"Nggak, Rin. Sumpah," Rian terkekeh pelan.
"Yeuu... bohong!"
Wajah Rian mendadak berubah serius. "Beneran, aku nggak sengaja. aku cuma dapet vision jernih di pikiran aku... bayangan tentang kita yang berdiri di sini, saat ini, tepat setelah bel itu bunyi."
Arini tertawa, meski hatinya sedikit bergetar denger suara cowok itu yang deep banget. "Vision? Lucu banget sih kamu, kamu pikir kamu superhero yang punya kekuatan precognition?"
Rian cuma angkat bahu, ngebiarin misteri itu menggantung gitu aja. "Mau balik bareng? aku bawa motor di parkiran," tawar Rian.
"Nggak usah, makasih. aku bisa balik sendiri naik angkot," tolak Arini cepet
Rian ngangguk santai, terus naik ke atas motor sport hitam legamnya yang kelihatan gahar banget. Sebelum pakai helm, dia nengok sekali lagi. "aku ramal... suatu saat kamu bakal duduk di jok belakang motor ini. Kalau gitu, aku duluan ya, Rin!"
Arini cuma terpaku liat knalpot motor Rian yang menderu menjauh. "Apa sih, cowok itu aneh banget. Dikit-dikit ngeramal. Dikira gue ini target operasi apa?" gerutunya, meski sudut bibirnya nggak bisa berhenti senyum.
Arini akhirnya naik angkot. Suasana sore itu cukup sepi. Dia nyenderin kepala di jendela, liatin jalanan yang mulai macet. Tapi pas dia nengok ke jendela belakang, jantungnya hampir copot.
"Rian?" gumamnya nggak percaya.
Di belakang angkot, motor Rian melaju stabil. Dia nggak nyalip, cuma ngikutin angkot itu dengan jarak yang pas. "Kok dia bisa tiba-tiba ada di belakang gitu?"
Arini senyum tipis, ngerasa sedikit aman karena ngerasa ada yang "ngejagain" dari belakang. "Dasar cowok aneh."
Rian yang sadar Arini lagi liatin dia, langsung angkat tangan dan melambaikan jarinya ke arah jendela. Arini cuma merhatiin dengan tatapan bingung. Tiba-tiba, Rian belokin setirnya dengan gesit, nyalip angkot itu dan menghilang di persimpangan.
"Bener-bener freak. Tapi kalau dipikir-pikir... lucu juga," batin Arini. Tawa kecil meledak di hatinya.
Keesokan harinya, hari Minggu. Arini habisin waktunya di rumah buat bed rotting alias malas-malasan di kasur.
Tapi di tempat lain, Rian lagi muter otak. Dia nggak tahan kalau harus ngelewatin hari Minggu tanpa liat mukanya Arini.
Rian langsung grab ponselnya dan telpon Gery, sohibnya yang paling update soal gosip satu sekolah.
"Ger, lo tau rumah Arini di mana?" tanya Rian to the point.
Gery di seberang telepon ketawa ngakak. "Mau ngapain lo tanya rumah Arini, Yan? Mau ngelamar? Gercep amat!"
"Gue mau kasih jadwal IPA Kimia sama dia," jawab Rian datar.
Tawa Gery makin pecah. "Hah? Jadwal IPA Kimia? Lucu banget lo, Yan! Lo kan anak Fisika, beda jurusan Lagian Arini itu anak rajin, dia pasti udah punya jadwalnya sendiri"
"Jadwal yang mau gue kasih ini beda, Ger. Udah cepet, di mana rumahnya?" desak Rian.
"Lo nggak coba terawang aja pakai kekuatan dukun lo itu? Katanya peramal sakti," goda Gery.
Rian mendengus. "Gue belum ahli buat nerawang alamat lengkap, Ger. Itu butuh energi lebih."
"Gokil emang, Gue nggak tau pasti, tapi Siska kayaknya tau. Mereka kan bestie-an," saran Gery.
Rian langsung tutup telepon dan beralih hubungi Siska. Setelah sedikit debat karena Siska nuduh dia modus, akhirnya Rian dapet apa yang dia mau.
"Jalan Kenangan nomor 2, Yan. Jangan aneh-aneh ya lo di sana!" pesan Siska sebelum nutup telpon.
Rian senyum natap layar ponselnya. "Pas banget nama jalannya. Jalan Kenangan... jalan yang nanti bakal jadi memori indah antara gue dan Arini selamanya," gumamnya puitis.
Rian jemput Gery buat nemenin. Sesampainya di depan rumah asri dengan taman bunga kecil, Rian ngetok pintu dengan penuh percaya diri.
Tok! Tok! Tok! "Permisi..."
Bukan Arini yang muncul, melainkan seorang pria paruh baya dengan wajah tegas tapi ramah. Ayah Arini.
"Siapa ya?" tanya beliau.
Rian langsung membungkuk dan salaman . "Saya Rian, Pak. Dan ini Gery. Kami temen sekolah Arini di SMA Tunas Bangsa. Kedatangan kami ke sini mau kasih jadwal tambahan buat mata pelajaran IPA Kimia buat Arini, Pak," ucap Rian dengan wajah super sopan, seolah dia murid teladan nasional.
Gery cuma bisa melongo liat akting Rian yang bener-bener clean.
"Oh, temennya Arin. Mari masuk dulu?" tawar Ayah Arini.
"Terima kasih, Pak, tapi nggak usah. Oh ya, Pak... boleh saya meramal Bapak sebentar?" tanya Rian tiba-tiba.
"Meramal? Maksudnya?" Ayah Arini tampak bingung tapi tertarik.
Rian memejamkan mata sejenak, terus bukanya dengan kilatan mata yang tajam. "Saya terawang... Bapak suka banget makan soto babat, ya? Terutama yang kuahnya kental dan santannya mantap,"
Mata Ayah Arini melotot. "Wah! Kok kamu bisa tau? Bapak baru aja pesan soto babat buat makan siang"
"Dari terawangan saya, Pak. Insting peramal," jawab Rian sambil senyum misterius.
Ayah Arini ketawa keras sambil nepuk bahu Rian. "Wah, hebat ya anak zaman sekarang! Ternyata SMA Tunas Bangsa punya peramal sakti. hebat²"
"Kalau gitu kami pamit dulu, Pak. Assalamualaikum."
Setelah menjauh dari pagar, Gery langsung nyenggol Rian. "Lo apa-apaan sih, Yan? Nerawang makanan kesukaan bokapnya segala. Cringe tau nggak"
"Itu baru starter pack, Ger. Gue ramal lagi nih... suatu saat beliau bakal jadi calon mertua gue" ucap Rian penuh confidence.
Gery ketawa kencang. "kacau emang beneran"