"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Taruhan Jimin
Angin laut di Dermaga 7 malam itu terasa seperti sembilu yang menyayat kulit. Bau garam yang tajam bercampur dengan aroma minyak solar yang mengapung di atas air hitam pekat. Jeon Jungkook berdiri di balik bayangan tumpukan kontainer karat, napasnya keluar sebagai uap tipis di udara malam yang membeku. Di tangannya, sebuah pisau koki dengan gagang kayu hitam—pusaka yang selalu ia asah hingga bisa membelah sehelai rambut—terasa lebih berat dari biasanya.
Ponsel di saku jaketnya bergetar. Sebuah notifikasi panggilan video masuk. Jungkook menekannya dengan ibu jari yang gemetar.
Layar itu menyala, menampilkan wajah yang sangat ia benci sekaligus ia takuti. Park Jimin duduk di sebuah sofa kulit mewah, menyesap segelas wine merah dengan keanggunan seorang bangsawan, namun matanya memancarkan kegilaan yang tak tertandingi.
"Permainan dimulai, Koki kecil," ujar Jimin. Suaranya terdengar merdu melalui speaker ponsel, kontras dengan kengerian yang ia tawarkan.
Jimin memutar kamera ponselnya. Di layar, Jungkook melihat sebuah rekaman siaran langsung yang diambil dari jarak jauh. Di sana, Sheril sedang berjalan sendirian di trotoar menuju apartemen mereka. Ia tampak lelah, bahunya sedikit merosot, dan wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa trauma dari autopsi di laboratorium. Ia tidak tahu bahwa dari kegelapan sebuah mobil yang terparkir, seseorang sedang membidiknya dengan lensa kamera—atau mungkin moncong senjata.
"Lihat betapa cantiknya dia malam ini, Kook. Gaun kremnya sangat cocok dengan kulit pucatnya," bisik Jimin, suaranya kini selembut desisan ular. "Pilih satu: kau bunuh detektif yang membuntutimu sekarang, atau aku akan memastikan Sheril berakhir di meja autopsinya sendiri sebagai subjek. Aku selalu ingin tahu bagaimana perasaanmu saat harus 'membersihkan' wajah yang kau cintai itu."
Jungkook mencengkeram ponselnya begitu kuat hingga layarnya nyaris retak. Matanya berkilat penuh dendam, urat-urat di lehernya menegang. Di depannya, sekitar dua puluh meter di dekat lampu jalan yang berkedip, seorang polisi muda berpakaian preman sedang bersembunyi di balik tiang listrik. Polisi itu adalah rekan junior RM, yang ditugaskan untuk mengawasi Jungkook tanpa menimbulkan kecurigaan.
Polisi muda itu tidak tahu bahwa ajalnya sedang dipertaruhkan dalam sebuah taruhan gila. Ia hanya menjalankan tugas, memegang buku catatan kecil, sesekali melirik ke arah tumpukan kontainer tempat Jungkook bersembunyi.
"Waktumu tiga menit, Jungkook-ah. Jangan membuatku bosan," ucap Jimin, lalu layar menjadi gelap.
Jungkook menunduk menatap pisau di tangannya. Logam titanium itu memantulkan cahaya lampu dermaga yang pucat. Otaknya berputar cepat. Jika ia membunuh polisi ini, ia akan menjadi pembunuh yang sesungguhnya—bukan lagi sekadar 'pembersih'. Ia akan kehilangan haknya untuk menyentuh Sheril. Namun jika ia diam, Jimin tidak akan segan-segan menarik pelatuk melalui anak buahnya di kota.
Ia merasa terjepit di antara dua tebing yang runtuh.
Namun, di tengah keputusasaan itu, mata Jungkook menangkap sesuatu di kejauhan dermaga. Sebuah truk tangki air sedang melakukan pembersihan rutin di area bongkar muat. Sebuah ide gila muncul di benaknya. Ia tidak boleh membunuh, tapi ia harus memberikan 'pertunjukan' bagi Jimin yang mungkin sedang memantau melalui CCTV dermaga.
Jungkook bergerak dengan kecepatan predator. Ia tidak mendekati sang polisi, melainkan memutar melalui tumpukan kayu palet.
Di kota, Sheril baru saja hendak menyeberang jalan. Sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap perlahan bergerak mendekatinya. Sheril tidak menyadari bahaya itu; ia terlalu sibuk memikirkan mutiara yang ia temukan di perut mayat.
Kembali ke dermaga, Jungkook tiba-tiba muncul di belakang sang polisi muda. Ia tidak menggunakan pisaunya. Dengan gerakan bela diri yang cepat dan presisi—hasil latihan bertahun-tahun demi bertahan hidup di bawah tekanan Jimin—ia memukul titik saraf di tengkuk polisi itu.
Bugh.
Polisi muda itu jatuh pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan suara. Jungkook dengan cepat menarik tubuhnya ke balik kegelapan. Ia mengambil pisau kokinya, namun alih-alih menikam sang polisi, ia menyayat lengan kirinya sendiri. Darah segar mengucur, membasahi lantai dermaga dan seragam sang polisi yang pingsan.
Jungkook kemudian membalurkan darahnya ke wajah polisi itu, membuatnya tampak seolah-olah baru saja mengalami luka fatal di leher. Dari kejauhan, melalui kamera pengawas yang kualitasnya rendah, genangan darah itu akan terlihat seperti eksekusi yang sempurna.
Ia meraih ponselnya, mengambil foto 'mayat' sang polisi yang bersimbah darah miliknya sendiri, lalu mengirimkannya pada Jimin.
"Selesai. Jangan sentuh dia," tulis Jungkook dalam pesan singkat.
Tanpa menunggu balasan, Jungkook berlari menuju motor besarnya yang tersembunyi di bawah terpal. Ia harus sampai ke apartemen sebelum Jimin menyadari tipu muslihat ini. Mesin motor meraung, membelah kesunyian dermaga. Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan gila, melompati lampu merah, jantungnya berdebu seirama dengan deru mesin.
Sementara itu, di depan apartemen Sheril, mobil sedan hitam itu sudah berhenti tepat di sampingnya. Kaca jendela belakang mulai turun perlahan. Sheril menoleh, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia melihat seorang pria bermasker di dalam mobil memegang sebuah botol semprotan kecil.
"Nona Sheril?" pria itu memanggil.
Sheril membeku. Insting forensiknya berteriak bahwa ia harus lari. Namun, tepat sebelum pria itu bisa menyemprotkan cairan bius, sebuah raungan mesin motor memekakkan telinga.
Jungkook muncul bagaikan bayangan dari ujung jalan. Ia tidak menghentikan motornya dengan normal; ia melakukan sliding miring yang membuat debu dan kerikil beterbangan, menghalangi pandangan orang-orang di dalam mobil.
Jungkook melompat dari motornya bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti. Ia menarik Sheril ke belakang punggungnya dengan satu sentakan kuat.
"Masuk ke lobi, Sheril! Sekarang!" teriak Jungkook. Suaranya tidak lagi lembut; itu adalah suara seorang pria yang siap membantai siapa saja.
"Jungkook? Kau berdarah!" Sheril menjerit melihat lengan Jungkook yang tersayat lebar.
"MASUK!"
Orang-orang di dalam mobil sedan itu ragu-ragu. Mereka melihat Jungkook memegang pisau kokinya dengan posisi siap tempur. Mereka tahu perintah Jimin adalah menculik atau membunuh jika Jungkook gagal, tapi Jungkook baru saja mengirimkan bukti eksekusi. Ada kebingungan di antara para eksekutor itu.
"Beritahu Jimin," desis Jungkook ke arah mobil itu, matanya berkilat mengerikan, "permainan ini sudah cukup untuk malam ini. Jika kalian mendekat satu inci lagi, aku akan memastikan tidak ada dari kalian yang bisa dikubur secara utuh."
Melihat intensitas di mata Jungkook—mata seorang pria yang sudah tidak takut mati—mobil sedan itu perlahan menaikkan kacanya dan melaju pergi menghilang di tikungan jalan.
Jungkook jatuh berlutut, napasnya tersengal. Rasa perih di lengannya mulai terasa, namun rasa perih di hatinya jauh lebih hebat. Ia menoleh ke belakang dan melihat Sheril berdiri di pintu lobi, menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan. Ada ketakutan, ada kecurigaan, namun ada juga kekhawatiran yang mendalam.
Sheril mendekat perlahan. Ia melihat darah di tangan Jungkook, lalu melihat pisau yang masih digenggam pria itu.
"Kook... apa yang kau lakukan di dermaga?" bisik Sheril. Suaranya gemetar. "Kenapa kau terluka? Dan pria-pria itu... siapa mereka?"
Jungkook menatap Sheril, mencoba mengembalikan topeng 'koki lembut' miliknya, namun kali ini topeng itu retak. Ia menyembunyikan pisaunya di balik jaket.
"Hanya... masalah pemasok daging yang tidak puas, Sayang," bohong Jungkook. Suaranya serak. "Aku sudah membereskannya. Aku mengkhawatirkanmu, jadi aku pulang secepat mungkin."
Sheril terdiam. Ia melihat luka sayatan di lengan Jungkook. Sebagai seorang dokter, ia tahu itu bukan luka akibat perkelahian. Itu adalah sayatan yang disengaja. Sayatan yang bersih, sama seperti sayatan di leher mayat-mayat yang ia bedah.
"Kau berbohong padaku," ujar Sheril pelan. Air mata mulai menggenang di matanya. "Ada polisi yang mengikutimu malam ini, Kook. Suga Oppa mengatakannya padaku. Di mana dia?"
Jungkook tertegun. Ia tidak menyangka Sheril tahu soal pengintaian itu. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya.
"Dia baik-baik saja, Sheril. Aku bersumpah. Aku hanya... aku hanya harus melakukan sesuatu agar mereka tidak menyentuhmu."
Jungkook mencoba menyentuh pipi Sheril, namun Sheril menghindar. Kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi hubungan mereka kini terasa seperti kaca yang retak seribu.
"Jangan menyentuhku dengan tangan itu," bisik Sheril. "Setidaknya sampai kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi di ruang bawah tanah restoranmu, dan kenapa antingku ada di dalam perut mayat itu."
Dunia seakan berhenti berputar bagi Jungkook. Rahasianya telah bocor. Ruang bawah tanah, pesan di dalam perut—Sheril sudah tahu lebih banyak dari yang ia duga.
Di bawah lampu jalan yang temaram, di depan apartemen mereka yang seharusnya menjadi tempat paling aman, mereka berdiri sebagai dua orang asing. Jungkook, sang pelindung yang berlumuran darah, dan Sheril, sang pencari kebenaran yang kini ketakutan pada kebenaran itu sendiri.
Jungkook menunduk, air mata jatuh dari matanya yang besar. "Aku melakukannya untukmu, Sheril. Segalanya. Setiap hal buruk yang kulakukan, itu agar kau tetap bisa tersenyum di pagi hari. Dunia ini jauh lebih gelap dari yang kau tahu, dan aku hanya ingin menjadi dinding yang menghalangi kegelapan itu menyentuhmu."
"Tapi kau menjadi bagian dari kegelapan itu, Jungkook-ah," balas Sheril pedih.
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan. Polisi muda di dermaga pasti sudah ditemukan atau sudah sadar. Tim RM sedang menuju ke sini.
Jungkook menatap Sheril untuk terakhir kalinya malam itu. "Pergilah ke atas. Kunci pintunya. Jangan biarkan siapapun masuk, termasuk aku, sampai polisi datang. Aku harus menyelesaikan taruhan ini dengan caraku sendiri."
Jungkook naik ke motornya dan memacu kendaraannya menghilang ke dalam kegelapan kota, meninggalkan Sheril yang menangis sendirian di depan lobi.
Malam itu, Jungkook tidak membunuh polisi itu, dan ia berhasil menyelamatkan Sheril. Namun, ia menyadari satu hal yang lebih menyakitkan: dalam upayanya menyelamatkan nyawa Sheril, ia mungkin baru saja membunuh cinta wanita itu padanya. Dan bagi Jungkook, itu adalah hukuman yang jauh lebih berat daripada kematian.
Di tempat persembunyiannya, Jimin melihat foto kiriman Jungkook dan tersenyum. Ia tahu itu darah Jungkook, bukan darah polisi. Ia tahu Jungkook sedang bermain-main.
"Kau sangat menghibur, Koki kecil," gumam Jimin sambil mematikan gelas wine-nya. "Mari kita lihat berapa lama kau bisa menari di atas mata pisau sebelum kau jatuh dan membelah dirimu sendiri."