NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19

Sore itu, langit Los Angeles berwarna jingga kemerahan, memantulkan cahaya hangat ke dinding kaca apartemen Edgar. Bagi Edgar, rasa ini mengalir begitu saja, seperti sungai yang akhirnya menemukan muara. Ia tidak lagi menganalisis saham, tidak lagi memikirkan proyeksi laba, atau harga dirinya sebagai seorang Martinez. Pikirannya hanya terisi oleh satu siluet, Leonor.

Begitu urusan di kampus selesai, Edgar tidak mampir ke mana pun. Ia langsung meluncur menuju apartemennya. Ia tahu, di balik pintu itu, ada seorang gadis yang mungkin sedang berkutat dengan tumpukan kain, jarum pentul, dan mesin jahit yang berisik.

Rasa canggung yang dulu menjadi benteng di antara mereka kini telah runtuh, digantikan oleh naluri purba yang tak terucapkan, keinginan untuk memiliki dan dimiliki.

Edgar membuka pintu apartemen dengan pelan. Suara mesin jahit tidak terdengar, hanya semilir angin yang masuk dari pintu balkon yang terbuka. Ia melihat Leonor di sana, sedang berdiri membelakanginya, menatap matahari terbenam dengan secangkir kopi di tangan. Rambutnya diikat asal, memperlihatkan tengkuknya yang indah.

Tanpa suara, Edgar melangkah mendekat. Ia tidak menyapa, tidak memanggil nama. Ia langsung melingkarkan lengannya di pinggang ramping Leonor dari belakang, menarik punggung gadis itu untuk menempel sempurna di dadanya.

Leonor tidak terkejut. Ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Edgar, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi favoritnya. "Kau pulang cepat," gumamnya lembut.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sedetik karena mode gila Edgar kembali bangkit. Edgar menurunkan tangannya, mengelus perut rata Leonor dengan gerakan memutar yang provokatif.

"Selamat sore, anak-anak Daddy... Bagaimana kabar kalian di dalam sana hari ini?" bisik Edgar dengan nada suara yang sengaja dibuat dramatis.

Plak!

Leonor memukul tangan Edgar dengan cukup keras hingga pria itu tertawa. "Anak-anak? Apa maksudmu, Edgar? Anak-anak itu jamak! Kau menginginkan anak kembar, hah?" Leonor berbalik dalam pelukan Edgar, menatapnya dengan mata melotot yang menggemaskan. "Cukup satu anak, oke? Itupun kalau benar ada!"

Edgar justru semakin melebarkan senyum gilanya, matanya berkilat penuh canda. "Satu saja tidak cukup untuk mewarisi ketampananku dan kegalakanmu, Leonor. Kita butuh pasukan kecil!" Ia tertawa lepas, lalu mengecup kening Leonor dengan gemas.

"Astaga, ini drama yang luar biasa, Leonor. Kenapa sejak mengenalmu aku makin gila? Aku merasa seperti kehilangan seluruh logika bisnisku hanya untuk menggoda seorang desainer galak."

Leonor mencibir, meski wajahnya merona merah. "Kau memang sudah gila dari sananya, Edgar. Uangmu terlalu banyak sampai otakmu bergeser."

"Oh, begitu? Kau berani menghina suamimu?" tantang Edgar sambil mulai menggelitik pinggang Leonor.

"Edgar! Berhenti!" Leonor memekik, mencoba melepaskan diri. Ia berputar dan mulai berlari masuk ke dalam area ruang tamu, menghindari tangan Edgar yang panjang.

"Kemari kau, Nyonya Martinez!" seru Edgar sambil mengejarnya dengan tawa yang memenuhi seluruh ruangan.

Apartemen mewah yang biasanya sunyi dan dingin itu kini berubah menjadi arena bermain. Leonor berlari lincah melewati sofa, sementara Edgar sengaja memperlambat langkahnya hanya untuk menikmati pemandangan Leonor yang tertawa lepas, sesuatu yang sangat jarang ia lihat sebelumnya.

Leonor berlari menuju arah kamar tidur, berharap bisa mengunci pintu, namun Edgar terlalu cepat. Tepat saat Leonor melompat masuk ke dalam kamar, Edgar berhasil menangkap pergelangan tangannya. Dengan satu sentakan lembut, Edgar menarik Leonor masuk ke dalam pelukannya lagi, hingga mereka berdua jatuh terduduk di tepi ranjang.

Tawa mereka perlahan mereda. Napas mereka memburu, silih berganti mengisi keheningan kamar yang kini hanya diterangi cahaya remang sore. Jarak di antara mereka hilang. Leonor menatap mata Edgar, dan untuk pertama kalinya, ia tidak melihat kesombongan. Ia melihat kerinduan, rasa takut kehilangan, dan cinta yang tumbuh tanpa permisi.

Edgar perlahan memajukan wajahnya. Matanya tertuju pada bibir Leonor yang sedikit terbuka. Leonor tidak menjauh, ia justru memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam tarikan magnet pria di depannya.

Dan itu terjadi.

Ciuman pertama mereka. Lembut, ragu-ragu pada awalnya, seolah mereka berdua sedang mencicipi sesuatu yang sangat berharga dan rapuh. Namun, dalam hitungan detik, ciuman itu berubah menjadi dalam dan menuntut, sebuah ungkapan dari semua kata yang tak pernah berani mereka ucapkan. Semua rasa sakit, semua hinaan di kantin, semua tangis di halte bus, seolah melebur dalam sentuhan itu.

Dunia seakan berhenti berputar. Tidak ada Gonzales, tidak ada Martinez, tidak ada fashion show. Hanya ada mereka berdua.

Beberapa saat kemudian, Edgar perlahan menarik diri. Ia menatap Leonor yang napasnya masih belum teratur, dengan bibir yang sedikit bengkak dan wajah yang merah padam.

Tiba-tiba, keheningan yang tadi terasa magis berubah menjadi sangat canggung.

Leonor segera menunduk, merapikan kausnya yang sedikit berantakan, sementara Edgar berdehem keras dan menggarap tengkuknya yang tidak gatal. Mereka berdua mendadak seperti remaja yang baru pertama kali berkencan, kehilangan semua keberanian yang tadi mereka pamerkan saat kejar-kejaran.

"Ehem... itu... bibirmu... ada sisa lipstik yang berantakan," ucap Edgar dengan suara yang tiba-tiba menjadi kaku.

Leonor segera mengusap bibirnya dengan punggung tangan, tidak berani menatap mata Edgar. "Oh, ya. Maaf. Aku... aku harus kembali menjahit. Masih ada satu lengan baju yang belum selesai."

"Ah, ya. Benar. Lengan baju itu penting," sahut Edgar dengan nada bicara yang sangat formal, seolah-olah ia sedang membahas laporan tahunan. "Aku akan... di depan. Menonton berita atau semacamnya."

Edgar berdiri dan berjalan keluar kamar dengan langkah yang sedikit kaku, sementara Leonor tetap duduk di tepi ranjang, jantungnya masih berdegup kencang seperti genderang perang.

Ia menyentuh bibirnya dengan ujung jari. Ciuman itu mengubah segalanya. Sumpah untuk mencampakkan Edgar kini terasa seperti debu yang tertiup angin.

Di sisi lain, Edgar yang duduk di sofa ruang tamu hanya menatap televisi yang mati, tangannya menyentuh bibirnya sendiri dengan senyum bodoh yang tak bisa ia hapus.

Kecanggungan itu nyata, namun di balik itu semua, mereka berdua tahu bahwa mereka telah melewati garis yang tak bisa lagi ditarik kembali. Mereka bukan lagi musuh, bukan lagi sekadar rekan kolaborasi. Mereka adalah dua orang yang sedang jatuh cinta, di tengah drama dunia yang mencoba memisahkan mereka.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

1
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!