Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU UNTUK KAK VHIREL
Sebuah mobil sedan mewah yang asing bagi mereka terparkir apik, memakan sebagian ruang di pekarangan yang biasanya hanya diisi kendaraan keluarga.
Belum sempat mereka menebak siapa tamunya, sayup-sayup terdengar suara tawa dan percakapan hangat yang mengalir dari balik pintu kayu jati yang terbuka lebar.
"Ada tamu kayaknya, Kak?" Bisik Dea pelan, melirik Vhirel dengan dahi berkerut. Vhirel hanya mengedikkan bahu, lalu perlahan mengetuk pintu rumah pelaj.
"Masuk!"
Seru seseorang dari dalam.
"Papa." Bisik Vhirel.
Dea hanya mengangguk sambil mengekor di punggung Vhirel.
Dan, begitu melangkah ke dalam, suasana di ruang tamu membuat keduanya terpaku seketika. Di sana, Surya, sang ayah, tampak sedang duduk santai menghadapi tamu-tamunya.
Mata Vhirel langsung tertuju pada sesosok gadis yang duduk di sofa seberang ayahnya. Usianya tampak tak jauh darinya, mungkin sepadan. Di sisi lain, Dea merasa jantungnya mencelos kecil. Ia tertegun, matanya tak lepas memandangi gadis itu yang memiliki kecantikan begitu tenang dan berkelas—jauh di atas apa yang Dea bayangkan tentang seorang tamu asing.
Surya menoleh menyadari kehadiran mereka, begitu juga seorang pria paruh baya yang duduk di samping gadis itu. Pria itu tampak berwibawa, usianya mungkin sepadan dengan Surya.
"Kalian sudah pulang rupanya," ucap Surya dengan nada ringan, memecah kecanggungan yang menggantung di udara.
Surya kemudian bangkit berdiri, lalu memberi isyarat agar Vhirel mendekat. "Vhirel, kenalkan, ini Om Dirga, rekan kerja Papa. Dan ini anaknya, Luna."
Melihat Vhirel yang masih mematung di ambang pintu masuk ruang tamu, Surya kembali memanggil, "Vhirel, bisa kamu ke sini sebentar? Kenalan dulu."
Tanpa mengeluarkan suara, Vhirel mengangguk patuh. Ia melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Vhirel," ucapnya singkat.
Luna, gadis cantik dengan taburan Make-Up soft itu menyambut uluran tangan Vhirel. Saat itu juga, sebuah senyum manis mengembang di wajahnya, tatapannya ramah namun menyimpan binar yang sulit diartikan. Di sudut ruangan, Dea yang menyaksikan momen itu merasa ada sesuatu yang menggelitik dadanya—sedikit rasa cemburu yang tiba-tiba saja muncul melihat keakraban instan itu.
"Dan ini adiknya, Dea," tambah Surya sambil menunjuk ke arah Dea.
Dea berusaha menarik napas dalam, menyembunyikan rasa tidak nyamannya di balik sebuah senyuman tipis yang dipaksakan. Ia hanya mengangguk kecil, berharap debaran aneh di hatinya tidak terbaca oleh siapa pun di ruangan itu.
“Andrea,” kata Dea singkat sambil mengulurkan tangan.
“Aku Luna. Senang bertemu denganmu,” ujar Luna lembut, menyambut uluran itu. “Kamu cantik sekali,” tambahnya, sebelum akhirnya melepaskan genggaman.
“Terima kasih,” jawab Dea pendek.
"Oh ya, umur kamu berapa?" Sambung Luna. Matanya bergantian menatap Vhirel, Surya dan Maudi secara bergantian. Lalu setelah itu tertuju pada Dea lagi yang tak lepas mengunci geraknya. "Kayaknya umur kita hampir sama, deh!"
"Andrea ini lulusan S2 design Amerika." Jelas Surya sebelum Dea sendiri yang jawab. "Soal usia... gak jauh beda dengan Nak Luna, kok."
"S2 design di Amerika, Om?" Ucap Luna, matanya berdecak kagum memandang Dea sekarang. "Waw!" Lirihnya.
"Ya ampun... Nak Luna juga keren, kok." Sela Maudi. "Lulusan S2 Jepang bisnis manajemen, dan sekarang udah punya usaha sendiri..."
Mata Maudi kemudian tertuju pada Vhirel.
“… sama dong seperti jurusan yang diambil Vhirel," lanjut Maudi dengan nada suara yang melunak, nyaris seperti bisikan yang disengaja. "Kalau Luna bekerja di kantor ayahnya, Vhirel pun demikian. Kalian berdua memang... jodoh."
Deg.
Jantung Dea seakan berhenti berdetak sesaat. Ia menelan saliva dengan susah payah, merasa tenggorokannya mendadak kering.
Jodoh?
Kata itu menggema di kepala Dea, menghantam dadanya dengan rasa sesak yang tak kasat mata. Apa maksud Mama sebenarnya dengan pilihan kata itu?
Berbanding terbalik dengan Dea, kalimat Maudi justru menjadi pupuk bagi binar di mata Luna. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang perlahan merekah, seolah baru saja mendapat validasi yang selama ini ia tunggu. "Tante bisa saja," sahut Luna tersipu, berusaha tetap rendah hati meski binar kemenangan terpancar jelas dari wajahnya. "Aku cuma berniat bantu Papa saja, kok. Kebetulan bidangnya sama," ujar Luna tenang. Ia menjeda sejenak, beralih menatap ayahnya dengan sorot mata yang sungguh-sungguh. "Dan nanti setelah menikah... aku memutuskan untuk resign. Aku ingin menghargai suami dan memilih untuk buka usaha sendiri saja, seperti buka toko, resto... atau semacamnya."
Dirga hanya mengangguk bijak, senyum kecil tersungging di bibirnya diselipi tawa renyah yang seolah merestui kedewasaan putrinya. Ia kemudian mengalihkan pandangan, menatap Surya dan Maudi bergantian, seolah melempar bola ke arah mereka.
"Bagus, itu." Sambut Surya. "Dan setelah Luna menikah dengan Vhirel nanti... setidaknya Luna ada kegiatan di luar supaya tidak bosan dan jenuh di rumah."
Menikah?
Dea semakin membeku. Jantungnya berdegup tidak beraturan, sementara pandangannya mengeras—seolah kata itu baru saja dijatuhkan terlalu keras di hadapannya.
Sementara, di tengah keriuhan kecil itu, Vhirel hanya terpaku. Ia membisu, mematung dalam keheningan yang membingungkan. Ada kegelisahan yang merayap di bawah kulitnya, namun ia kehilangan kata-kata. Apa maksud dari semua ini?
Sudut matanya melirik Dea yang masih terpaku. Keheningan di antara mereka mendadak terasa lebih bising daripada keriuhan orang-orang di sekitar. Vhirel bisa melihat jemari Dea yang sedikit gemetar, kontras dengan tatapan matanya yang tajam dan tak berpaling dari satu titik kosong di depannya.
Ada dorongan dalam diri Vhirel untuk meraih bahu gadis itu, sekadar memastikan bahwa ia masih bernapas. Namun, ego dan kebingungan menahan kakinya di tempat. Ia merasa seperti sedang membaca sebuah buku yang beberapa halamannya sengaja disobek—ia tahu ada sesuatu yang hilang, tapi ia tidak tahu seberapa fatal bagian yang hilang itu.
"Hm... Ma, Pa. Aku boleh pergi duluan, nggak?" Tanya Dea.
Maudi mengangguk kecil. "Boleh, dong. Kamu mandi dulu sana, ya."
"Aku juga, Ma!" Sahut Vhirel ikut-ikutan. Ia melirik Dea yang sudah melengos pergi bahkan sebelum ucapan Maudi selesai. "Vhirel mandi dulu juga, ya, gerah banget soalnya."
"Vhirel, sebentar. Di sini dulu," cegat Surya dengan nada tenang namun tegas.
"Tapi, Pa—"
"Enggak apa-apa, sebentar saja," potong Surya. "Temani Om Dirga dan Luna disini."
Dirga tertawa kecil. "Nak Vhirel... lagipula.. Om dan Luna sebentar lagi mau pamit pulang, kok."
"Tuh, denger kan?" Surya melirik putranya, mengisyaratkan agar Vhirel mulai duduk.
Vhirel akhirnya menghela napas pasrah secara diam-diam. Dengan gerakan enggan, ia pun mendarat di tepi sofa—tepat di samping gadis cantik bernama Luna itu. Suasana mendadak terasa sedikit lebih sempit bagi Vhirel, sementara Luna hanya memberikan senyum simpul yang sopan sekaligus memancarkan binar bahagia yang sulit untuk Vhirel sendiri pahami.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,