NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GERILYA DI BALIK DINDING KACA

Griya tawang Wei Jun yang biasanya terasa seperti puncak dunia, kini bagi Alya tak lebih dari sebuah akuarium raksasa. Ia tahu, di setiap sudut tersembunyi, mata digital Han Zhihao terus mengawasi detak jantungnya. Di luar pintu utama, pengawal Wei Jun berjaga dengan kewaspadaan seekor doberman. Dan di suatu tempat di kantor pusat Zhang Maritime, Liang mungkin sedang merencanakan cara untuk merebut kembali "asetnya".

Namun, ada satu hal yang mereka semua remehkan: keheningan seorang wanita yang telah kehilangan segalanya.

Pagi itu, Alya duduk di meja makan marmer, memotong buah apelnya dengan gerakan yang sangat pelan. Di hadapannya, sebuah laptop terbuka, menampilkan artikel-artikel umum tentang kesehatan kehamilan—setidaknya itulah yang tertangkap oleh kamera pengawas Zhihao. Padahal, di balik jendela incognito yang telah diajarkan Liyun cara membukanya, Alya sedang berkorespondensi dengan Saraswati, S.H., pengacara yang ia hubungi semalam.

"Alya, kau harus berhati-hati. Keluarga Zhang memiliki jaring hukum yang sangat kuat. Jika kita bergerak terlalu dini, mereka bisa menggunakan klausul 'ketidakstabilan mental' untuk merampas hak asuh anak-anakmu sesaat setelah lahir," tulis Saraswati dalam pesan enkripsi yang akan terhapus otomatis dalam sepuluh detik.

Alya mengetik dengan jemari gemetar namun mantap. "Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak punya bukti fisik kontrak itu. Liang menyimpannya di brankas pribadinya."

"Cari bukti transaksi pembayaran hutang ayahmu. Itu adalah bukti 'perdagangan orang' yang dibungkus kontrak pernikahan. Jika kita bisa membuktikan ada paksaan finansial, kontrak itu batal demi hukum," balas Saraswati.

Alya menutup laptopnya saat mendengar suara lift berdenting. Ia segera mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi gadis yang layu dan sedih—topeng yang selama ini menjadi pelindungnya.

Pintu terbuka, dan yang muncul bukan Wei Jun, melainkan Han Zhihao. Ini adalah kali pertama Zhihao datang secara fisik ke apartemen itu tanpa didampingi yang lain. Pria itu tampak pucat, dengan kantung mata hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih.

"Alya," sapa Zhihao. Suaranya datar, namun matanya memancarkan intensitas yang membuat Alya merinding.

"Tuan Zhihao... kenapa Anda di sini?" Alya berdiri, memegang pinggiran meja.

Zhihao berjalan mendekat, langkahnya sangat sunyi. Ia meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja. "Aku membawakanmu perangkat pemantau janin yang lebih canggih. Ini terhubung langsung ke ponselku. Jika ada anomali pada detak jantung si kembar, aku akan tahu sebelum dokter mana pun mengetahuinya."

Alya menatap kotak itu dengan ngeri. "Anda ingin memasang alat lagi pada saya?"

Zhihao terdiam sejenak, lalu ia menatap mata Alya dengan kejujuran yang menakutkan. "Aku tidak mempercayai Wei Jun. Aku juga tidak mempercayai Liang. Hanya aku yang bisa menjamin kau tidak akan 'menghilang' seperti rencana Mei Hua."

Zhihao mendekat, hingga Alya bisa mencium bau kopi yang kuat dari napasnya. "Kau tahu, Alya? Aku melihatmu setiap malam melalui kamera itu. Aku melihatmu menangis, aku melihatmu mengelus perutmu... dan aku ingin menjadi orang yang menghentikan air mata itu. Ikutlah denganku. Aku punya jet pribadi yang siap berangkat ke Swiss besok pagi."

Alya terpaku. Ini bukan lagi perlindungan. Ini adalah penculikan yang dibungkus dengan obsesi. "Saya tidak bisa pergi, Tuan Zhihao. Saya harus menyelesaikan ini secara hukum. Jika saya lari, saya akan selamanya menjadi buronan keluarga Zhang."

Zhihao mengepalkan tangannya. "Hukum? Hukum adalah milik mereka yang punya uang, Alya. Dan Liang punya lebih banyak uang daripada yang bisa kau bayangkan."

Alya menyadari bahwa ia butuh bukti di dalam brankas Liang. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan kembali ke "lubang singa" itu untuk satu jam saja. Ia harus memancing Liang untuk membawanya kembali dengan alasan yang masuk akal.

Maka, sore itu, Alya melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia menghubungi Zhang Liang.

"Mas Liang..." suara Alya terdengar sangat lemah di telepon. "Saya... saya merindukan kamar saya di rumah. Ada buku harian ibu saya yang tertinggal di sana. Bisakah Mas membawa saya pulang sebentar saja? Saya merasa sesak di apartemen ini."

Di seberang sana, Liang yang sedang frustrasi merasa mendapatkan angin segar. Ia mengira Alya mulai luluh. "Tentu, Alya. Aku akan menjemputmu satu jam lagi. Jangan beritahu Wei Jun."

Rencana Alya berhasil. Namun, ia tidak tahu bahwa setiap percakapannya telah disadap oleh Zhihao dan dipantau dari jauh oleh Wei Jun melalui laporan pengawalnya.

Saat mobil Liang tiba, suasana di lobi apartemen menjadi tegang. Pengawal Wei Jun mencoba menghalangi, namun Liang datang dengan pengacara dan surat perintah yang menyatakan bahwa ia memiliki hak asuh legal atas istrinya. Pertikaian hampir pecah, namun Alya melangkah keluar dan berkata, "Biarkan saya pergi. Saya hanya ingin mengambil barang saya."

Kediaman Zhang tampak seperti rumah hantu. Mei Hua sudah tidak ada, konon dikirim ke rumah sakit jiwa terpencil di luar pulau. Chen Yiren menghilang. Madam Liu Xian dikabarkan mengurung diri di paviliun tua.

"Aku akan menunggumu di ruang tengah, Alya. Ambil barangmu, lalu kita akan bicara soal masa depan kita," ucap Liang dengan nada yang mencoba melembut.

Alya mengangguk. Ia berlari menuju kamarnya, namun alih-alih mengambil buku harian, ia menyelinap menuju ruang kerja Liang melalui pintu penghubung pelayan yang pernah ditunjukkan Liyun.

Jantungnya berpacu secepat mesin jet. Ia tahu kode brankas Liang—ia pernah melihatnya tanpa sengaja saat Liang mabuk di bulan-bulan awal pernikahan mereka.

0-7-0-5-1-8. Tanggal kematian ibu kandung Liang.

Klik.

Pintu baja itu terbuka. Di dalamnya tumpukan emas, tumpukan uang tunai, dan sebuah map hitam bertuliskan: PROYEK PEWARIS.

Alya membukanya dengan tangan bergetar. Di sana ada kontrak aslinya. Ada kuitansi pembayaran hutang ayahnya sebesar 50 juta yang ditandatangani oleh rentenir Pak Toni. Dan yang paling mengejutkan, ada sebuah surat pernyataan dari Dr. Kelvin Huang yang menyatakan bahwa Alya "setuju" untuk menyerahkan bayinya dan "menghilang" dengan imbalan sejumlah uang—surat dengan tanda tangan Alya yang dipalsukan dengan sangat sempurna.

"Ternyata... sejak awal mereka memang ingin membunuh saya secara hukum," bisik Alya.

Ia segera memotret semua dokumen itu dengan ponsel rahasianya. Namun, tepat saat ia hendak menutup brankas, sebuah bayangan muncul di ambang pintu.

"Apa yang kau lakukan di ruang kerjaku, Alya?"

Itu Zhang Liang. Wajahnya gelap, dipenuhi kekecewaan yang mendalam. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Jadi... ini alasanmu ingin pulang? Untuk mencuri bukti melawanku?"

Alya berdiri tegak, memegang ponselnya erat-Irat. "Ini bukan mencuri, Mas. Ini mengambil kebenaran. Mas memalsukan tanda tangan saya untuk merampas anak-anak saya!"

Liang tertawa pahit, langkahnya mendekat hingga Alya terpojok ke meja kerja. "Kau pikir dengan foto-foto itu kau bisa menang? Aku bisa menghancurkan ponsel itu sekarang juga, dan tidak akan ada yang percaya pada gadis desa sepertimu."

"Sahabat-sahabat Mas akan percaya," balas Alya.

"Sahabat-sahabatku?!" Liang membentak, memukul meja kerja hingga vas bunga di atasnya bergetar. "Zhihao yang mengintipmu di kamar mandi lewat kamera? Wei Jun yang membeli tanah ayahmu untuk menjadikannya sandera? Mereka bukan sahabatmu, Alya! Mereka adalah serigala yang sedang menunggu gilirannya!"

Liang mencengkeram bahu Alya. "Satu-satunya alasan kau masih hidup adalah karena aku masih memiliki sisa-sisa rasa kemanusiaan untuk ibu dari anak-anakku. Berikan ponsel itu!"

Alya melawan. Terjadi pergulatan kecil. Di tengah kekacauan itu, Alya merasakan nyeri yang tajam di perutnya. "Ah... Mas... sakit..."

Liang seketika melepaskan cengkeramannya. Wajahnya berubah pucat saat melihat Alya memegangi perutnya dan perlahan luruh ke lantai. "Alya? Alya!"

Di saat itulah, pintu ruang kerja didobrak dari luar. Luo Cheng masuk seperti banteng yang mengamuk, diikuti oleh pasukan keamanan yang mengenakan seragam bertuliskan Zhihao Security.

"Lepaskan dia, Liang!" teriak Luo Cheng. Ia langsung menerjang Liang, memberikan bogem mentah tepat di rahang pria itu.

Zhihao masuk kemudian, wajahnya dingin seperti malaikat maut. Ia tidak melihat Liang atau Luo Cheng yang sedang berkelahi di lantai. Ia langsung berlutut di samping Alya. "Sensor detak jantung di ponselmu memberikan peringatan darurat, Alya. Aku di sini."

Alya menatap Zhihao, lalu menatap foto-foto dokumen di layar ponselnya yang masih menyala. "Ambil... kirim ke Saraswati..." bisiknya sebelum kegelapan kembali menelannya.

Alya dilarikan ke rumah sakit. Kali ini, penjagaannya bukan lagi dari satu pihak, melainkan sebuah gencatan senjata yang sangat rapuh antara Liang, Wei Jun, Luo Cheng, dan Zhihao. Mereka berempat berdiri di koridor rumah sakit, masing-masing di sudut yang berbeda, saling melempar tatapan membunuh.

Dokter keluar dengan wajah serius. "Nyonya Alya mengalami kontraksi dini akibat stres berat. Kami berhasil menghentikannya dengan tokolitik, tapi dia harus menjalani bed rest total sampai persalinan. Dan saya sarankan... jangan ada satu pun dari Anda yang menemuinya untuk sementara waktu. Kehadiran Anda adalah racun bagi kehamilannya."

Saraswati, sang pengacara, muncul dari ujung koridor dengan membawa map hukum. Ia menatap keempat pria paling berkuasa di kota itu dengan keberanian yang luar biasa.

"Tuan-tuan, saya telah menerima bukti-bukti dari klien saya. Foto-foto kontrak ilegal, pemalsuan tanda tangan, dan bukti perdagangan orang. Jika salah satu dari Anda mencoba mendekati Alya lagi sebelum persidangan, saya akan memastikan skandal ini meledak di seluruh media internasional. Zhang Maritime Group, Wei Properties, Zhihao Tech, dan aset pertambangan Luo... semuanya akan hancur dalam semalam."

Keempat pria itu terdiam. Untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa kelinci kecil yang mereka perebutkan telah menumbuhkan taring.

Di dalam kamar perawatan, Alya membuka matanya. Ia sendirian. Tidak ada kamera (Zhihao telah dipaksa mematikan aksesnya oleh Saraswati), tidak ada pengawal di dalam ruangan, dan tidak ada Liang.

Ia mengelus perutnya. "Tunggu sebentar lagi, Sayang. Ibu akan membawa kalian keluar dari sini. Kita tidak butuh naga... kita hanya butuh satu sama lain."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!