Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari Hitam
Setelah memastikan Saeko dan Shizuka berada di bawah perawatan Ravel dan Yubelluna, Riser tidak lantas beristirahat. Baginya, setiap detik yang terbuang adalah celah bagi takdir lama untuk menariknya kembali ke jurang kegagalan. Dia berjalan menjauh dari kastel utama, menuju sebuah kawah vulkanik mati di ujung wilayah keluarga Phenex yang jarang dikunjungi siapa pun—tempat di mana panas bumi paling pekat dan gangguan suara paling minim.
Riser berdiri di bibir kawah. Angin yang berhembus di sini membawa hawa panas yang sanggup mengelupas kulit iblis kelas rendah, namun baginya, ini hanyalah kehangatan yang akrab.
"Yui, isolasi area ini. Aku tidak ingin ada mata-mata dari klan lain atau bahkan keluargaku sendiri yang melihat apa yang akan kulakukan," ucap Riser dalam hati.
[ Protokol Isolasi Aktif. ]
[ Menciptakan distorsi ruang dan panas dalam radius 500 meter. ]
[ Status: Aman. Kamu bisa mulai sekarang, Pemalas. Tapi ingat, jangan sampai menghancurkan kawah ini, aku malas mengatur ulang koordinatnya. ]
Riser mendengus geli, lalu melepaskan kaos hitamnya, menyisakan tubuh atletisnya yang kini mulai dihiasi oleh garis-garis samar yang berpendar ungu gelap—tanda dari kekuatan Meliodas yang mulai beresonansi dengan jiwanya.
"Mari kita mulai dari dasar. Tori Tori no Mi... versi sempurna."
Riser memejamkan mata. Dia tidak lagi memanggil api Phenex yang berwarna oranye kemerahan. Alih-alih, dia memfokuskan pikirannya pada konsep regenerasi yang jauh lebih kuno dan absolut. Tiba-tiba, api biru kobalt yang sangat terang meledak dari bahunya, membentuk sepasang sayap raksasa yang terlihat lebih cair dan bercahaya daripada api biasa.
[ Transformasi: Tori Tori no Mi (Model Phoenix) - Tahap 1. ]
[ Keunggulan: Kecepatan regenerasi meningkat 10x lipat dari kemampuan asli Phenex. ]
[ Efek Samping: Nol. Kerentanan terhadap air dan api telah dihapus oleh sistem. ]
Riser merasakan setiap sel dalam tubuhnya bernapas. Jika dulu Riser yang asli bangga karena sulit dibunuh, Riser yang sekarang merasa bahwa kematian bahkan tidak berani mendekatinya. Dia mengepakkan sayap birunya, menciptakan gelombang kejut yang meretakkan dinding kawah.
"Bagus. Tapi ini belum cukup," gumam Riser. Tatapannya menjadi sangat dingin. "Sekarang... sinkronkan dengan Power of Darkness."
Ini adalah bagian yang paling berbahaya. Menggabungkan api Phoenix yang melambangkan kehidupan abadi dengan kegelapan Meliodas yang melambangkan kehancuran murni.
[ Peringatan: Beban pada jalur energi meningkat tajam. ]
[ Sinkronisasi Jiwa: 32%. ]
[ Memulai penggabungan variabel... ]
Seketika, api biru yang menyelimuti tubuh Riser mulai terkontaminasi oleh sulur-sulur hitam yang pekat. Warna apinya berubah menjadi biru gelap yang menyeramkan, hampir mendekati hitam. Di dahinya, muncul simbol tanda kegelapan milik klan iblis dari dunia Nanatsu no Taizai.
"Ugh...!"
Riser berlutut, tangannya mencengkeram tanah hingga hancur menjadi debu. Rasa sakitnya seperti ditusuk ribuan jarum yang membara, namun dia menolak untuk melepaskan transformasinya. Dia mengatur napasnya menggunakan teknik pernapasan Re-Taekwondo, mencoba menyeimbangkan dua kutub kekuatan yang bertolak belakang di dalam dadanya.
[ Tekanan Mental: Tinggi. ]
[ Saran: Jangan melawan kegelapannya. Biarkan api Phoenix-mu 'memakan' kegelapan itu dan menjadikannya bahan bakar. ]
Aku tahu, Yui! Jangan terus menceramahiku! Riser memaksakan dirinya untuk berdiri. Setiap inci ototnya bergetar. Dia mengepalkan tangan, dan di sana, api biru-hitam itu berkumpul menjadi sebuah bola energi yang sangat padat. Dia tidak menembakkannya, melainkan menekan energi itu masuk kembali ke dalam tubuhnya—sebuah teknik manipulasi energi tingkat Master yang dia dapatkan dari hadiah sistem.
Perlahan, gejolak itu mereda. Api biru-hitam itu kini tidak lagi meledak-ledak, melainkan menyelimuti tubuhnya seperti jubah yang tipis namun sangat padat.
"Full Counter," bisik Riser.
Dia menjentikkan jarinya ke arah dinding kawah yang jauh. Sebuah ledakan api kecil yang dia tembakkan sendiri, saat kembali memantul karena mengenai pembatas ruang Yui, langsung dia sambut dengan telapak tangannya.
BOOM!
Ledakan itu kembali dengan kekuatan empat kali lipat, menghancurkan sebagian besar dinding kawah hingga menjadi lava cair.
Riser menatap tangannya yang tetap mulus tanpa luka sedikit pun. Senyum tipis yang nakal muncul di wajahnya. "Ini... ini baru namanya kekuatan. Issei, kau pikir dengan 'Boost' berulang kali kau bisa mengalahkanku? Aku akan mengembalikan semua seranganmu sebelum kau sempat berkedip."
[ Analisis Hasil: ]
* Kekuatan Penghancur: Meningkat drastis.
* Kontrol Variabel: Stabil pada tingkat Senior.
* Catatan Yui: Kamu baru saja menghabiskan energi yang cukup untuk menghidupi sebuah kota kecil selama setahun. Tapi harus kuakui... kamu terlihat sedikit kurang 'bodoh' dengan tanda di dahimu itu.
Riser duduk bersila di tengah panasnya kawah, membiarkan tubuhnya menyerap sisa-sisa energi di udara untuk mempercepat pemulihan. Dia tahu bahwa Rating Game hanyalah sebuah panggung kecil. Pertunjukan yang sebenarnya adalah apa yang akan dia bangun setelah itu.
Dia teringat pada anggota-anggota Peerage-nya yang lain dalam daftar rencana. Rei Miyamoto, Nezuko, Mitsuri... dia harus memastikan dirinya cukup kuat untuk menjadi tempat mereka bernaung. Seorang King tidak hanya butuh mahkota; dia butuh kekuatan untuk memastikan mahkota itu tidak pernah jatuh.
"Yui, tunjukkan padaku progres anggota yang lain," perintah Riser sambil menatap langit yang mulai menggelap.
[ Saeko sedang bermeditasi dengan pedangnya di paviliun. ]
[ Shizuka sedang... tertidur di bak mandi air panas. ]
[ Yubelluna sedang mengawasi mereka dengan tingkat kecemburuan ringan yang terdeteksi. ]
Riser tertawa pelan. "Kehidupan baruku ini benar-benar tidak pernah membosankan."
Dia bangkit, mengenakan kembali kaosnya. Meskipun dia lelah, matanya memancarkan semangat yang membara. Sembilan hari lagi. Dunia bawah akan segera tahu bahwa burung Phoenix yang baru saja lahir kembali ini tidak hanya membawa api yang menghangatkan, tapi juga kegelapan yang akan melahap siapa pun yang berani menantangnya.
Malam telah sepenuhnya menyelimuti wilayah Phenex. Setelah sesi latihan mandiri yang melelahkan di kawah vulkanik, Riser kembali ke kastel utama dengan langkah yang lebih ringan namun penuh wibawa. Aroma belerang yang menempel di tubuhnya perlahan memudar, digantikan oleh aroma dingin dari sisa energi kegelapan yang masih tersisa di pori-pori kulitnya.
Bukannya langsung beristirahat, Riser melangkah menuju ruang kerja pribadinya—sebuah ruangan luas yang dipenuhi oleh rak buku kuno dan meja mahoni besar yang di atasnya terletak sebuah papan catur sihir yang memproyeksikan peta akademi Kuoh dalam bentuk tiga dimensi.
"Yui, aktifkan mode simulasi taktis. Masukkan variabel Peerage Gremory berdasarkan data canon yang kita miliki," perintah Riser sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi empuk.
[ Simulasi Diaktifkan. ]
[ Memetakan Kekuatan Musuh: ]
* King: Rias Gremory (Sihir Kehancuran - Tinggi)
* Queen: Akeno Himejima (Petir & Suci - Menengah ke Atas)
* Knight: Kiba Yuuto (Sword Birth - Kecepatan Tinggi)
* Rook: Koneko Toujou (Kekuatan Fisik & Senjutsu - Menengah)
* Pawn: Hyoudou Issei (Boosted Gear - Variabel Tidak Terprediksi)
"Issei adalah satu-satunya variabel yang bisa merusak rencana jika dibiarkan terlalu lama," gumam Riser, matanya menatap tajam pada proyeksi hologram Issei yang berpendar merah. "Rias akan menggunakannya sebagai kartu truf di saat-saat terakhir."
Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya diketuk perlahan. "Tuanku? Ini Yubelluna. Bolehkah saya masuk?"
"Masuklah."
Yubelluna melangkah masuk dengan nampan berisi kopi hitam pekat. Dia meletakkannya di samping Riser, matanya sempat melirik pada peta hologram di meja. Ada sedikit kerutan di dahinya saat melihat bidak-bidak baru yang ditandai dengan nama 'Saeko' dan 'Shizuka' berada di posisi yang sangat krusial.
"Anda masih bekerja, Tuanku. Tubuh Anda butuh istirahat setelah apa yang Anda lakukan di kawah tadi," ucap Yubelluna dengan nada khawatir yang tulus.
Riser menyesap kopinya, membiarkan rasa pahit itu mempertajam fokusnya. "Istirahat adalah kemewahan yang belum bisa kunikmati, Yubelluna. Katakan padaku, bagaimana kondisi kedua orang baru itu?"
Yubelluna menghela napas. "Saeko Busujima adalah seorang pejuang sejati. Dia menolak untuk tidur sebelum membersihkan katananya sebanyak sepuluh kali. Namun, Shizuka... dia agak sulit diatur. Dia hampir menenggelamkan dirinya sendiri di pemandian karena tertidur saat berendam."
Riser tertawa kecil. "Itu sudah kuduga. Panggil mereka berdua ke sini. Ada sesuatu yang harus kubagikan sebelum latihan besok."
Beberapa menit kemudian, Saeko dan Shizuka masuk. Saeko tampak sudah kembali segar dengan pakaian rumah yang sederhana namun rapi, sementara Shizuka masih mengenakan jubah mandi yang longgar, rambut pirangnya masih sedikit basah dan berantakan.
"Duduklah," Riser menunjuk ke kursi di depan mejanya.
Saat mereka duduk, Riser memutar papan catur sihir itu sehingga mereka bisa melihatnya dengan jelas. "Dengar, Rating Game ini bukan sekadar tentang siapa yang lebih kuat. Rias Gremory memiliki tim yang sangat seimbang. Kiba memiliki kecepatan, Koneko memiliki pertahanan, dan Issei... dia punya potensi ledakan. Jika kita bertarung secara konvensional, kita mungkin akan menang karena keabadian darah Phenex, tapi itu bukan caraku."
Riser menunjuk bidak Saeko. "Saeko, tugas utamamu bukan untuk mengalahkan Kiba Yuuto dalam adu kecepatan. Aku ingin kau menghancurkan mentalnya. Gunakan Crimson Edge-mu untuk memotong setiap pedang buatannya sebelum dia sempat menyerang. Aku ingin dia merasakan keputusasaan di depan teknik pedang yang lebih murni."
Saeko mengangguk tajam, matanya berkilat haus darah. "Dengan senang hati, Tuanku."
"Dan Shizuka," Riser menatap sang perawat yang tampak mulai mengantuk lagi. "Kau adalah jantung dari tim ini. Di arena nanti, Rias akan mencoba mengincar penyembuh terlebih dahulu. Aku ingin kau tetap berada di belakang Yubelluna. Jangan pernah melepaskan Miracle Pulse kecuali aku memberikan komando. Kau adalah cadangan energi kita yang paling berharga."
Shizuka mengerjap, mencoba fokus. "Ehh... jadi aku harus jadi pengawal Kakak Queen yang cantik ini? Oke, aku akan berusaha tidak tertidur!"
Yubelluna hanya bisa memutar matanya mendengar jawaban Shizuka.
"Yubelluna," suara Riser menjadi lebih berat. "Kau adalah Queen-ku. Fokusmu adalah menekan Akeno Himejima. Jangan biarkan dia menggunakan sihir petirnya secara bebas. Gunakan unit Pawn lama kita sebagai umpan untuk menarik perhatian Issei."
"Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri, Tuanku?" tanya Saeko penasaran. "Siapa yang akan Anda hadapi?"
Riser menyandarkan punggungnya, sebuah seringai nakal muncul di wajahnya. "Aku? Aku akan menunggu di tengah arena. Aku ingin melihat ekspresi Rias saat dia menyadari bahwa semua rencananya hancur berantakan. Dan saat Issei merasa dia sudah cukup kuat dengan 'Boost'-nya... aku akan menunjukkan padanya apa arti sebenarnya dari keputusasaan."
[ Sinkronisasi Strategi: Selesai. ]
[ Tingkat Keberhasilan Estimasi: 94%. ]
[ Catatan Yui: Rencana yang cukup licik. Tapi ingat, Rias punya kebiasaan bertindak berdasarkan emosi, yang terkadang menciptakan variabel yang tidak logis. ]
"Emosi adalah kelemahan yang akan kumanfaatkan, Yui," batin Riser.
Riser berdiri, menandakan pertemuan singkat itu berakhir. "Pergilah istirahat. Besok adalah hari di mana kita akan melatih sinkronisasi energi kolektif. Saeko, aku ingin kau belajar mengalirkan energi iblis ke katanamu tanpa menghancurkannya. Shizuka, kau akan belajar cara mengobati luka dari jarak jauh."
Saat Saeko dan Shizuka berjalan keluar, Riser menahan Yubelluna sejenak.
"Ada apa, Tuanku?"
Riser mendekat, tangannya mengusap pipi Yubelluna dengan lembut, membuat Queen-nya itu sedikit tersipu. "Terima kasih sudah menjaga mereka. Aku tahu ini sulit bagimu melihatku membawa orang baru, tapi percayalah... kau tetaplah orang kepercayaanku yang paling utama."
Yubelluna menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona merah. "Saya... saya mengerti, Tuanku. Saya akan melakukan yang terbaik."
Setelah semua orang pergi, Riser kembali menatap peta hologram Kuoh. Pikirannya melayang pada sosok-sosok lain yang belum dia temui. Rei Miyamoto, Nezuko... dia harus segera memenangkan Rating Game ini agar bisa bergerak lebih bebas di dunia manusia.
"Sepuluh hari... waktu yang singkat untuk mengubah dunia, tapi cukup untuk memulai sebuah legenda," gumam Riser.
[ Sinkronisasi Jiwa: 34%. ]
[ Komentar Yui: Akhirnya kamu bicara seperti protagonis sungguhan. Sekarang, tidurlah sebelum aku memaksa sistem sarafmu untuk 'shutdown'. ]
Riser tertawa pelan, mematikan lampu ruang kerjanya, dan berjalan menuju kamarnya dengan hati yang dipenuhi ambisi yang membara.