NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 Bus Pagi Itu

Pagi itu dingin. Aku berdiri di halte, tangan menggenggam tas yang rasanya berat banget. Kepala cenat-cenut. Kaki pegal. Rasanya dari malam kemarin semua tubuhku masih capek. Tapi nggak bisa diem. Harus ke sekolah, harus siapin semuanya lagi. Tara datang sambil nafas ngos-ngosan. Aku liat dia senyum tipis. Aku cuma angguk, nggak bisa senyum balik. Rasanya semua energi habis. Kepala cenat-cenut. Greget di dada masih ada. Aku tarik napas panjang, nyoba ngeredain sedikit greget itu.

Bus datang, remnya berbunyi kasar. Tara nyelonong duluan, aku ikut. Duduk di belakang, tas masih di pangku. Kepala cenat-cenut makin berat, tangan pegal, kaki capek. Rasanya pengin teriak, tapi nggak bisa. Semua orang kayak biasa aja, tapi aku nggak.

Rara lewat sambil senyum tipis. Aku cuma ngelirik, nggak jawab. Rasanya pengin ngomong, tapi nggak ada energi. Capek mental lebih berat daripada fisik. Semua tanggung jawab masih nempel di pundak aku. Greget nggak hilang. Aku liat Tara di depan. Dia nyoba ngobrol, tapi aku cuma jawab seadanya. Kepala cenat-cenut makin terasa. Rasanya kayak semua orang bisa santai, aku nggak. Semua harus kelar hari ini.

Rara tiba-tiba duduk di samping kami. Aku kaget. Dia nolak boncengan sama Tara, jadi duduk sendiri. Aku liat dia senyum tipis, tapi aku nggak balas. Capek mental masih nempel. Kepala cenat-cenut makin berat. Rasanya semua orang bisa santai, aku nggak. Bus jalan pelan. Aku liat keluar jendela, tapi nggak fokus. Kepala cenat-cenut. Kaki pegal. Tangan pegal. Greget masih ada. Bingung nggak hilang. Rasanya semua bergerak lambat, tapi aku nggak bisa berhenti mikir. Tara nanya sesuatu, aku cuma jawab seadanya. Rasanya pengin ngomong panjang, tapi semua energi habis. Kepala cenat-cenut makin berat. Greget di dada masih ada. Bingung nggak hilang. Semua harus kelar hari ini.

Beberapa teman masuk, liat aku, liat Rara. Mereka senyum, nyapa. Aku cuma angguk. Capek mental numpuk. Kepala cenat-cenut makin terasa. Rasanya kayak mereka nggak paham apa yang aku rasain. Semua bisa santai, aku nggak. Aku liat jam tangan. Masih terlalu pagi. Rasanya pengin mundur, tapi nggak bisa. Semua tanggung jawab masih di pundak aku. Greget tetap nempel. Bingung nggak hilang. Kepala cenat-cenut makin berat.

Bus berhenti di beberapa halte. Beberapa orang turun. Aku liat Tara liat aku, senyum tipis. Aku angguk. Rasanya nggak ada energi buat senyum balik. Capek mental lebih berat daripada fisik. Semua tanggung jawab masih nempel. Greget masih ada. Rara diam aja. Aku liat dia, liat senyum tipisnya. Rasanya kayak semuanya biasa aja buat dia, tapi buat aku kayak beban berat. Kepala cenat-cenut makin terasa. Tangan pegal. Kaki capek. Greget tetap ada. Semua harus kelar. Aku tarik napas panjang, nyoba ngeredain sedikit greget. Tapi semua masih nempel di dada. Rasanya kayak ada yang terus menekan. Kepala cenat-cenut makin berat. Capek mental numpuk. Greget tetap ada.

Bus berhenti lagi. Tara siap turun. Aku juga siap. Aku liat Rara. Dia senyum tipis lagi, tapi aku cuma balas angguk. Rasanya kayak semuanya cuma kelihatan santai di luar, tapi aku capeknya nggak kelihatan. Kepala cenat-cenut makin terasa. Greget tetap ada. Bingung nggak hilang. Keluar dari bus, angin pagi menyengat. Aku kaget sama dinginnya, tapi nggak peduli. Semua kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget tetap nempel. Rasanya kayak semua orang bisa santai, aku nggak. Semua harus kelar.

Kami jalan ke sekolah. Tara di depan, aku di belakang. Rara menyusul di samping. Aku cuma diam. Rasanya pengin teriak, tapi nggak bisa. Capek mental numpuk. Kepala cenat-cenut makin berat. Greget di dada masih ada.

Kami sampai di sekolah. Semua orang mulai sibuk. Aku liat teman-teman lain nyiapin hal-hal kecil. Tapi aku nggak peduli. Capek mental lebih berat daripada fisik. Kepala cenat-cenut makin terasa. Greget tetap ada. Bingung nggak hilang. Aku liat Tara lagi nyiapin beberapa snack. Aku bantu sebentar, tangan pegal, kaki capek, kepala cenat-cenut makin berat. Greget tetap ada.

Semua harus kelar hari ini. Rara liat aku. Senyum tipis. Aku cuma balas angguk. Rasanya kayak semua biasa aja buat dia, tapi buat aku kayak semua berat. Capek mental numpuk. Kepala cenat-cenut makin terasa. Greget tetap ada. Bingung nggak hilang. Beberapa menit kemudian, semua perlengkapan udah kelar. Aku duduk di tangga, tarik napas panjang. Kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget tetap ada. Tapi lega satu hal: semua kelar. Rasanya kayak menang kecil di tengah kekacauan besar.

Aku liat Tara, dia senyum tipis lagi. Aku balas angguk. Senyum aku nggak hangat. Capek mental lebih berat daripada capek fisik. Semua tanggung jawab masih nempel di pundak aku. Greget tetap ada. Bingung nggak hilang. Aku tarik napas panjang, siapin diri buat sesi berikutnya. Kepala cenat-cenut makin terasa, tangan pegal, kaki capek, greget tetap nempel. Tapi aku tahu: semua harus kelar. Semua tanggung jawab masih jatuh ke aku. Semua orang bisa santai, aku nggak.

Malam itu, aku sadar satu hal: capek mental lebih berat daripada capek fisik. Greget tetap nempel, bingung nggak hilang. Tapi semua harus kelar. Aku cuma duduk sebentar, ngerasain semua capek sendiri. Besok semua bakal mulai lagi, tapi malam ini aku biarin kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget, dan bingung numpuk di pundak aku sendiri.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!